OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 131 Jangkar Kembar


__ADS_3

Keesokan paginya Agung bersama Bapaknya menyempatkan untuk menengok Budenya yang kini tengah dalam perawatan di RSUD. Awalnya Retno bersikeras memaksa untuk ikut namun setelah melihat Harno yang menangis pilu membuatnya mengurungkan niatnya.


Sampai di kamar kelas 2 dimana Sumarni di rawat, pemandangan menyedihkan langsung terlihat. Agung melihat budenya terlihat pucat dan kurus meskipun sudah mulai bisa berbicara dan bergerak meskipun dengan bantuan orang lain.


Tak disangka ternyata begitu melihat Agung datang menjenguknya, Sumarni menjadi menangis berlinang air mata. Namun raut mukanya yang menjadi perot perot itulah yang membuat siapapun yang melihatnya akan menjadi iba.


Dua minggu sudah wanita yang sudah hampir memasuki usia kepala enam itu di rawat dengan fasilitas kartu jaminan kesehatan gratis. Membuat progres penyembuhan penyakitnya itu menjadi sangat lambat.


"Maafkan Agung, bude karena baru bisa menjenguk bude sekarang." Ujar Agung sambil menggenggam jari jemari lemah budenya itu.


Dengan terbata bata dan pengucapan yang kurang jelas, Sumarni menangis dan meminta maaf atas segala kesalahannya pada kemenakannya yang dulu selalu di timang timangnya itu.


"Sudahlah bude nggak perlu minta maaf karena bude nggak salah, yang penting sekarang adalah bude harus lekas sembuh dan pulih seperti semula." Kata Agung.


Pak Sumarno baru saja akan menyahut ketika kemudian dari arah pintu seorang dokter yang diikuti oleh seorang suster datang untuk pemeriksaan pasien.


Agung pun langsung minggir untuk memberi tempat pada dokter muda yang berbadan cukup tambun itu, meskipun masih muda gayanya yang suka berkelakar dan ramah cukup menyenangkan.


"Pak dokter maaf sebenarnya sejauh mana progres penyembuhan bude saya ini ?" Tanya Agung.


Dokter itu mengamati Agung sejenak sebelum melambaikan tangannya pada Agung agar mendekat.


"Maaf saya harus bilang lambat yah, maaf mas ini ?" Ujar dokter muda bertitel spesialis syaraf itu.


"Saya kemenakannya Pak Dokter, boleh di bilang saya anak pasien juga." Jawab Agung.


"Oh gitu, baiklah saya akan bilang dari awal perawatan Ibu Sumarni ini akan sedikit lambat jika menggunakan jaminan kesehatan pemerintah karena apa karena obat yang harusnya di konsumsi penuh hanya di berikan setengah dosis." Ujar Dokter muda itu memberi penjelasan.


"Kalo gitu bisa nggak Pak Dokter kalo biaya untuk perawatan bude saya ini di pindah menggunakan biaya mandiri tapi tolong berikan perawatan yang memadai." Kata Agung dengan nada bicara yang ramah.


"Oh tentu bisa...sangat bisa bahkan sudah dari minggu lalu saya secara pribadi menyarankan hal tersebut pada Pak Joyo." Ujar Dokter muda itu.


"Baiklah Pak Dokter tolong di rekomendasikan saja soal ini, dan secepatnya saya akan mengurusnya ke bagian administrasi rumah sakit." Kata Agung.

__ADS_1


"Jadi Bapak sendiri yang akan menanggung jawab urusan biayanya kah ?" Kembali dokter muda itu bertanya.


"Benar Pak Dokter." Jawab Agung mantab.


"Tapi akan lebih baik jika ada kesepakatan dengan Pak Joyo juga Pak, sebab bagaimanapun pihak yang paling berwenang dalam perawatan Ibu Sumarni adalah suaminya sendiri." Kata Dokter muda itu cukup ramah.


"Baiklah Pak Dokter biar nanti kami bicara dulu." Ujar Agung kemudian.


"Oke kalo gitu kami pamit dulu Pak, tolong nanti setelah makan obatnya segera di berikan !" Ujar Dokter muda itu lagi dan tanpa menunggu jawaban segera melangkah diikuti oleh suster pengiringnya.


"Baik Dok !" Pak Sumarno lah yang menjawabnya.


Dalam pada itu dalam waktu yang sama di lobi RSUD, Irfan tengah menunggu dengan tegang Mamaknya yang tengah mendapat perawatan di ruang ICU.


Hari ini juga mereka telah memutuskan untuk mengambil jalan operasi sebagai satu satunya cara untuk mengeliminasi penyakit kista yang di derita Sarti.


Andaikan rumah sakit ini tak sanggup untuk melakukan tindakan yang mereka inginkan secepatnya, Irfan juga sudah akan menempuh cara yang lain yaitu memindahkan perawatan Mamaknya ke rumah sakit lain.


Bagaimanapun Sarti bagi Irfan bukan sekedar ibu kandungnya semata, tapi wanita itu juga telah melahirkan anak perempuan hasil buah cintanya dengan Irfan yang kini telah berusia 6 tahun itu.


Irfan berhasil merudapaksa Sarti setelah mencekoki wanita itu dengan obat perangsang yang ia dapatkan dari seorang teman premannya di terminal kota kabupaten.


Setelah kejadian itu Sarti sempat shock namun setelah beberapa saat akhirnya hatinya kemudian menerima peran Irfan yang kemudian menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja apapun mulai dari buruh bangunan kasar sampai akhirnya sekarang telah di percaya sebuah perusahaan jasa pemasangan kaca dan aluminium untuk menjadi pelaksana sebuah proyek mereka.


Sedangkan Agung bagi Irfan adalah sahabat sejati yang paling mengerti dirinya luar dalam, Agung adalah orang yang tak pernah iri dengan apapun yang di dapatkannya bahkan satu satunya teman yang tak pernah berkata tidak saat ia membutuhkan sebuah pertolongan dalam hal apapun.


Mereka tak pernah terpisahkan oleh apapun sebelum akhirnya Agung memutuskan untuk meniti karirnya dari Kota Subang tempat perantauan ibunya sedang Irfan berkelana dari satu kota ke kota lain demi ikut rombongan proyek bangunan.


Irfan bukannya tak pernah mengikuti perkembangan sahabat sejatinya itu, bahkan ia ikut senang mendengar kabar bahwa Agung akan bekerja di Jepang, dan pulang dengan segala kesuksesannya karena ia tau sahabatnya itu takkan pernah melupakan dirinya.


Bagi Irfan, Agung adalah kekuatan utamanya selama mereka kompak bahkan Preman Gareng penguasa kawasan pasar dan terminal kabupaten sangat segan pada mereka.


Pada masanya Irfan bersama Agung adalah penguasa grup undercover seluruh anak anak nakal hampir seluruh sekolah menengah kejuruan di kabupaten mereka meskipun Agung sendiri beda sekolah dengan Irfan, namun Agung membawa kekuatan lain dari padepokan karang sejagat yang sangat disegani.

__ADS_1


Tang..ting tung...tang ting tung.....


Hp android jadul Irfan berdering, sebuah panggilan dari Agung.


"Panjang umur kamu, baru saja aku memikirkan kamu cok." Ujar Irfan langsung nyerocos begitu ia menerima panggilan itu.


"Hehehe sa ae kamu dab..kamu dimana sekarang? jadi bawa Mamakmu ke rumah sakit?" Tanya Agung.


"La ini aku sekarang di depan ICU RSUD Cok... kamu dimana sekarang ?" Kata Irfan.


Tapi sebelum dapat jawaban dari Agung, panggilan itu telah di putus sepihak dari seberang, membuat Irfan terpaksa mengumpati sahabatnya itu.


Irfan kembali menyulut rokok yang telah mati karena lupa tak di hisapnya saat ia berbicara dengan Agung tadi. Namun baru saja ia menikmati rokoknya beberapa hisapan, Agung telah nongol di sebelahnya.


"Kamu kok masih jadi demit saja Cok...sudah lama juga masih suka bikin kaget orang saja." Kata Irfan.


"Mukamu itu dab, oh iya gimana kondisi bojomu sekarang sudah siap di operasi kah ?" Ujar Agung lirih.


Irfan agak terkejut mendengar pernyataan Agung barusan.


"Sudahlah bro nggak usah bingung, aku sudah tau kok dari dulu hubunganmu sama mamakmu bahkan aku pun yakin kalo Niken itu juga anakmu kan ?" Ujar Agung lirih namun dari wajahnya ia terlihat bukan bergurau.


Andai itu orang lain yang berkata mungkin ia akan segera terkapar karena di tempeleng oleh Irfan yang memang terkenal ringan tangan dari dulu, namun yang berkata itu adalah orang yang sangat tak ingin disakitinya.


"Sejak kapan kau tau soal itu bro ?" Tanya Irfan agak sedikit berubah raut mukanya pertanda hatinya sedang menahan gusar.


"Maaf bro, sejak lama sejak aku mendapati kamu lagi begituan sore sore sama mamakmu, maaf bro saat itu aku tak sengaja karena ingin ngajakin kamu ke tempat Yesi." Ujar Agung.


"Selain kamu tak ada yang tau hal itu kan ?" Tanya Irfan sekaligus mengakui kalo pernyataan Agung itu benar.


"Tentu saja tidak dab, seharusnya aku pun tidak karena itu urusan kamu pribadi, jadi kalo kau ingin tidak ada yang tau soal itu pintar pintarnya kalian saja dab." Ujar Agung sambil menepuk pundak Irfan yang terlihat tegang.


"Saudara Irfan !!!"

__ADS_1


Terdengar suara dari seorang suster perawat yang memanggil Irfan.


__ADS_2