OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 135 Jangan Dilayani


__ADS_3

"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, kau harus konsentrasi pada operasi nanti jangan sampai justru down sebelum operasi !" Ujar Irfan.


Sarti hanya menatap Irfan lalu meletakkan kepalanya di pundak pejantan mudanya itu, sedangkan Irfan kemudian merengkuh bahu Sarti dan memeluk tubuh bagian atas Sarti yang polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi.


Irfan yang sudah merasakan ketertarikan secara fisik atas tubuh Sarti bahkan sejak dari saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu segera mencium dan mengecup wajah manis Mamaknya itu.


"Bantu aku mengenakan pakaian lagi mas !" Bisik Sarti sesaat setelah Irfan selesai menciuminya.


Irfan hanya mengangguk dan cepat cepat memakaikan baju buat Sarti apalagi setelah mendengar kasak kusuk tukang servis makanan pagi telah datang.


Dalam pada itu, Agung yang telah melewati malam pertama pati geni dalam tujuh hari tujuh malam yang harus dilewatinya itu kini merasakan perubahan besar atas suhu tubuh yang di rasakannya kini semakin dingin serasa menusuk nusuk seluruh tubuhnya.


Meski tubuhnya hanya diam bagaikan sebuah arca namun dalam hati dan pikirannya Agung sama sekali tidak bisa tertidur sedikitpun meskipun kedua matanya terpejam erat karena harus fokus berkonsentrasi, namun mulutnya terus bergetar berkomat kamit membaca semua amalan yang dituntun kan oleh gurunya.


Suhu dingin terus menerus secara konstan seperti membalut tubuhnya, membuat Agung merasakan justru seakan tubuhnya tertimpa beban berat yang sangat membebaninya hingga pada suatu titik suhu dingin itu mereda dan lama kelamaan berubah menjadi hangat membuatnya merasa nyaman.


Namun kenyamanan itupun hanya sekejap saja karena setelah itu suhu yang semula telah hangat itu berubah menjadi semakin panas dan terik hingga seolah olah Agung merasa terpanggang di bawah teriknya matahari siang hari yang sangat menyengat.


Saat itulah Agung justru terus fokus pada amalannya dan menunjang energinya dengan mengatur pernafasan seefisien mungkin dengan setiap tarikan dan hembusan yang panjang dalam sekali mengambil nafas. Dan ternyata apa yang dilakukannya itu cukup efektif untuk membuat dirinya merasakan nyaman dengan suhu tubuh yang selalu berubah-ubah secara konstan dan terus menerus sepanjang waktu.


Sementara itu di kantor kabupaten Ungaran, Riyan yang baru saja diantarkan kembali oleh Rahmat langsung kena semprot salah seorang pejabat tingkat eselon atasannya yang kemarin memberinya job order. Riyan telat hampir sejam lamanya demi terlibat pembicaraan konspirasi dengan Rahmat yang berhasil mengiming imingi dirinya sebuah jabatan strategis dengan koneksi bapaknya.


Tak seperti biasanya Riyan yang mudah bermuka suram saat mendapatkan teguran, kini dia dengan tenangnya mendengar semua sumpah serapah seorang kepala bagian yang memberinya siraman rohani atas keterlambatannya.


Bahkan hari ini ia tetap bersikap tenang meskipun hatinya malu luar biasa saat atasannya hanya menjadikan dirinya sebagai pesuruh sementara tugasnya sehari hari kini di jalankan oleh salah seorang rekannya.


Riyan sebenarnya menahan rasa malu yang luar biasa apalagi saat harus mondar mandir di depan Ambarwati istrinya, saat ia harus mengambil dan mengantar berkas layaknya seorang office boy.

__ADS_1


Malam harinya Riyan yang terus gelisah terus mencoba merayu istrinya untuk menyetujui tentang rencananya untuk menjodohkan Ambarsari dengan Rahmat.


"Tidak. Apa kau sudah gila mas, kau pikir adikku hanya boneka yang bisa di atur ini itu semau kita." Jawab Ambarwati tegas sambil mengunyah makan malamnya.


"Ayolah Wati bukankah hanya makan malam biasa saja untuk melegakan Pak Rahmat masalah apakah nantinya Sari mau menerima Pak Rahmat atau tidak itu urusannya." Ujar Riyan tetap mencoba merayu istrinya itu.


"Apakah kau tak pernah berpikir mas, jika Sari akan mengatakan hal ini pada Agung bahwa kita berusaha menjodohkan Sari dengan pria lain lagi." Kata Ambarwati cuek.


"Persetan dengan Agung. Memangnya kenapa kalo dia sampai tau, aku juga mau tau apa yang akan dilakukannya." Balas Riyan sengit.


"Sekarang di balik persoalannya Sari yang menawarkan padaku untuk makan malam dengan seorang lelaki lain agar dia dapat imbalannya, bagaimana perasaanmu ?" Tanya Ambarwati


Riyan tiba tiba saja ngambek dan menggebrak meja makan lalu meninggalkan istrinya yang tetap tenang menyelesaikan makannya sampai selesai.


Ambarwati sendiri tak habis pikir darimana suaminya yang biasanya bijaksana itu memiliki pikiran semacam itu untuk mencoba merusak tatanan hubungan yang sudah di jalin adiknya.


Setelah membereskan piring piring kotor bekas makanan dan mencucinya, Ambarwati segera menengok anaknya yang sudah tertidur pulas sejak sore sambil mendekap robot mainan yang dibelikan oleh Sari kemarin.


Ambarwati segera mengambil handset android yang masih berada di tas kerjanya lalu segera menghubungi Sari.


"Nduk, kamu dimana?" Ujar Ambarwati lirih setelah panggilannya langsung di respon Sari.


"Di rumah mbak lagi makan bareng mamah dan Lik Tinem, ada apa mbak ?" Tanya Sari terdengar sambil mengunyah makanan.


"Tadi pagi bapaknya Bayu sama temannya kesitu ?" Tanya Ambarwati.


"Iya mbak, ada apa sih sebenarnya ?" Ganti Sari balik bertanya.

__ADS_1


Saat itu Ambarwati memperkirakan Sari telah beralih tempat karena terdengar suara derap langkah dan kemerisik selama beberapa saat.


"Nduk temannya Mas Riyan itu termasuk salah satu pengacara yang membantu urusan perceraian kamu kemarin." Kata Ambarwati.


"Ia mbak namanya Rahmat kan, aku sudah berterima kasih juga tadi memang ada apa sih mbak, ongkos yang kemarin masih kurang?" Tanya Sari.


"Bukan itu nduk, ternyata Pak Rahmat itu ada maksud lain, dia menginginkan kamu nduk dan mempengaruhi Mas Riyan agar bisa berkencan denganmu." Kata Ambarwati agak cemas.


"Lah tadi perasaan aku sudah bilang pada orang itu loh mbak kalo aku sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan nikah, memang dia belum jelas?" Ujar Sari agak keras nadanya.


"Syukurlah nduk, justru aku takut kamu akan melayani keinginan Rahmat, soalnya tadi Mas Riyan diminta untuk mengajakmu makan malam dan kau tau kan artinya apa?" Ujar Ambarwati.


"Nggak ah....aku sudah membayar ongkos yang mereka minta untuk mengurus perceraian ku jadi kurasa aku tak punya hutang apapun lagi kan." Sahut Sari tegas.


"Iya nduk iya. Oh iya Agung sudah datang lagi kesitu belum ?" Tanya Ambarwati.


"Ya belum lah mbak, kan masih ada urusan, mohon doanya yah mbak biar Mas Agung dilancarkan urusannya itu, aku sudah nggak betah di rumah soalnya mbak pengen segera ke Subang lagi hihihi." Kata Sari.


"Kamu itu, awas loh di dengar mamah !" Ujar Ambarwati.


"Lah memang kenapa kalo di dengar mamah? orang kenyataannya gitu kok." Kata Sari.


"Iya pokoknya mbak dukung kamu sama Agung, jadi jangan pernah tanggapi Rahmat yah !" Ujar Ambarwati lagi.


"Ya iyalah mbak, ngapain juga aku ngelayanin hal hal yang nggak jelas, dah ah aku mau makan nih masih lapar." Ujar Sari.


"Ya sudah...kamu itu di ajak bicara sebentar saja sama mbak ayunya sudah nggak kerasan aza." Kata Ambarwati yang sebenarnya masih ingin bicara namun di matikan sepihak oleh Sari.

__ADS_1


__ADS_2