OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 41 Ngopi Bareng Keluarga Baru


__ADS_3

Setelah Anis dan Sari masuk ke dalam rumah darurat, kini tinggal aku dan bapak saja yang berada di pelataran.


"Tadi Sriyanto dan Wiro kesini mencari kamu nak, memang ada urusan apa sama mereka?" Tanya Bapak tiba tiba.


"Ga ada urusan apa apa pak...emang urusan apa?" Jawabku.


"Bapak sudah mendengar bukan dari satu dua orang tapi banyak orang, kamu berjudi dan menang banyak semalam apa benar?" Tanya Bapak sambil menatap lekat padaku.


"Iya pak tapi jangan bilang keras keras....itu juga karena aku di tantang kalo nggak buat apa aku judi kecil kecilan gitu." Jawabku.


"Kamu ini pokoknya bapak minta jangan judi lagi, bisa miskin seumur hidup kamu nanti nak." Ujar Bapak lirih.


"Iya pak, tapi klo aku di tantang aku takkan mundur." Ujarku.


"Pak aku nemenin ke dalam rumah dulu ya pak." Kataku lagi.


"Baiklah aku mau ke Suminah dulu, minta dia nyiapin hidangan segera." Ujar Bapak.


Namun belum sempat Bapak beranjak dari tempat duduknya, dari gerbang pagar muncul Yu Suminah bersama anak perempuannya yang baru kelas 5 SD membawa bakul dan jinjingan berisi makanan yang di pesan Bapak.


"Wuih Mas Agung sudah pulang tow...!" Kata Yu Suminah menyapaku sembari tersenyum hingga deretan giginya kelihatan.


"Iya Yu dari tadi malahan, oh iya maaf yah Yu membuat repot Yu Suminah terus." Ujarku.


"Gapapa kok Mas Agung...lagian juga kalo masak kan kerjaan sehari hari." Jawab Yu Suminah sambil tersenyum.


"Eh nduk Eka kan yah, klas berapa kamu nduk ?" Tanyaku pada anak perempuan Yu Suminah yang sulung.


"Kelas 5 Mas Agung." Jawab anak itu lembut.


"Oh cepat gede yah kamu nduk hehehe, ini buat Eka yah lumayan buat beli permen." Kataku sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada gadis kecil itu.


Eka menoleh kepada mamahnya sesaat sebelum menerima pemberian dariku.


"Makasih Mas Agung." Ucap gadis kecil itu senang.


"Sama sama Eka." Jawabku sambil tersenyum.


"Makasih Mas Agung aneh aneh segala, bikin tuman loh nanti hihihi." Sambung Yu Suminah sembari tertawa renyah.


Kulihat Mas Riyan dan Mbak Wati melongok melihat kami dari lantai atas rumah.


"Sama sama Yu Suminah, oh iya Yu sekalian besok aku minta pamit yah, insyaallah mau berangkat ke perantauan lagi." Ujarku.


"Oh mau ke Jepang lagi kah mas? ya sudah hati hati ya mas smoga makin sukses dan lancar rezekinya." Jawab Yu Suminah.

__ADS_1


"Bukan ke Jepang kok Yu tapi ke Subang perantauan ibuku dulu." Jawabku.


"Oh iya mas pokoknya hati hati smoga lancar perjalanan dan selamat sampai tujuan berkah barokah rezekinya." Ujar Yu Suminah mendoakan aku lagi.


"Aminnn makasih yah Yu, tapi aku minta tolong Yu Suminah jangan bosan yah kalo bapakku slalu merepotkan Yu Suminah." Ujarku lagi.


"Iya mas gapapa kok justru kami malah senang." Jawabnya sembari tersenyum semringah.


"Baiklah Mas Agung saya pamit dulu mari Pakde Marno." Kata Yu Suminah mohon diri. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, nanti bakul sama tas jinjing biar aku saja yang mengembalikan ke rumahmu Sum." Ujar Bapak.


"Oh iya pakde makasih." Jawab Yu Suminah sebelum mengajak anaknya pulang ke rumahnya.


Setelah kepergian Yu Suminah, Sari muncul dari dalam rumah darurat dan menghampiri ku.


"Yank...Anis mana? Ini makanan sudah siap mau makan dimana, suruh dia nyiapin." Bisikku pada Sari.


"Nduk Sari....!" Sahut Bapak menyapa Sari.


"Iya Paklik." Jawab Sari dengan lembut dan halus.


"Tak nyangka yah kamu bakalan jadi mantu Paklik hehehe.." Ujar Bapak sembari tertawa terkekeh.


"Iya Paklik." Jawab Sari sambil tersenyum dan melirik. aku.


"Intinya pamit berpisah secara baik baik gitu, jadi mamahnya genduk Sari meminta kembali Sari untuk lepas dari Farhan." Ujar Bapak menjelaskan.


"lepas dari Farhan masuk ke mulut Agung gitu kan hahahaha." Kataku menyambung perkataan Bapak sambil tertawa ngakak. Sari melotot padaku.


"Aduh duh...sakit tow yow yank... cubitan kamu ini loh kok manteb bener.." Ujarku sambil menggenggam tangan kekasih hatiku yang sebentar lagi akan berstatus sebagai seorang janda kembang itu.


"Ya sudah nduk tolong panggil adikmu suruh nyiapin ini sebentar lagi maghrib soalnya." Ujar Bapak kepada Sari.


"Gung kamu panggil Ibu dan Mas Riyan serta Mbak Wati untuk makan dulu !" Ujar Bapak memberi perintah padaku.


"Siyap laksanakan boss....eh Pak gimana kira kira?" Ujarku.


"Apanya ?" Tanya Bapak.


"Ibu Lastri..." Bisikku di dekat telinga Bapak.


Bapak hanya menjawabnya dengan kepalan tangannya yang di arahkan kepadaku, membuat aku tertawa terbahak bahak.


Mereka sedang berkumpul di ruang dapur lantai bawah ketika aku menghampiri.

__ADS_1


"Ibuk...mas...mbak...makan malamnya sudah siyap." Ujarku.


"Kok repot repot segala seh nak." Jawab Ibu Lastri.


"Eh Gung, ini kamu bikin rumah ini habis berapa duit ini, dua lagi satunya aza lebih dari satu miliar ini." Ujar Mas Riyan menimpali.


"Dapurnya aza bagus gini..." Tambah Mbak Wati terlihat kagum.


Aku hanya tersenyum saja tanpa berucap apapun.


"Kamu jadi kan menikahi Sari ?" Bisik Mbak Wati di dekatku.


"Jadi donk mbak, mohon doanya ya mbak smoga tak ada halangan." Ujarku lirih, Mbak Wati mengangguk dan tersenyum.


"Itu tadi budemu yah Gung, judes bener nanti kira kira kau bisa melindungi Sari nggak kedepannya?" Ujar Mas Riyan yang sebenarnya terdengar menyakitkan hati.


"Aman mas, di sini di rumah ini Sari akan jadi ratu nantinya, aku akan membuatnya nyaman dan tak terganggu oleh apapun juga." Balasku agak jumawa sebenarnya namun untuk menghadapi seseorang seperti Mas Riyan kadang kadang kita harus over percaya diri.


"Baguslah kalo gitu." Jawab Mas Riyan.


Aku baru mau berucap ketika Sari dan Anis terlihat menghampiri kami.


"Lama bener...makan malam sudah siap tuh...!" Ujar Sari.


"Nduk sini sini...lihat dapurnya bagus banget...!" Ujar Mbak Wati sambil menarik tangan Sari membawanya ke ruang dapur.


Sekilas kulihat Sari juga tampak senang dan kagum. Dan kakak beradik itu segera sibuk berkasak kusuk berdua.


"Ya sudah Ibuk mari kita makan dulu, takut keburu dingin." Ujarku.


"Baiklah nak...Yan ajak itu istri dan adikmu !" Ujar Ibu Lastri.


Aku mengiringi mamah kekasihku itu keluar bersama Anis sementara di belakang kami menyusul Mas Riyan dan istrinya serta Sari yang berjalan sambil ngobrol dengan Mbak Wati.


"Nak, kamu jadi besok berangkat ke Subang nya?" Tanya Ibu Lastri padaku.


"Insyaallah jadi ibuk..." Jawabku.


"Sari juga ikut kan?" Tanya beliau lagi.


"Rencananya ikut ibuk." Jawabku.


"Apakah kamu perlu tambahan modal buat usahamu nak ?" Tanya beliau lagi sambil melangkah menuruni tangga masuk rumah.


"Mungkin belum perlu ibuk." Jawabku sopan.

__ADS_1


Ibu Lastri kemudian tersenyum menatap Bapak yang berdiri menyambutnya.


__ADS_2