OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 47 Suasana Baru Keluarga Baru


__ADS_3

Hari sudah sangat senja dan bahkan hampir telah menjadi gelap begitu aku sampai di Krajan. Hampir seluruh anggota keluarga Aceng Johana sahabatku menyambut kehadiran kami dengan semringah dan senang hati. Sepertinya mereka memang sudah menantikan kedatanganku karena mereka begitu mengelu elukan kami.


"Yank kenalkan beliau Bapak Suryadi tetua di kampung ini khususnya rt 37 sini. Dan beliau adalah ayah dari Aceng dan Dewi sahabatku dari sejak kanak kanak. Dan ini Mih Onah, beliau istri dari Bapak Suryadi mereka semua keluarga kita disini." Ujarku setelah kami semua selesai saling bersalam salaman begitu juga dengan Sari yang hampir tak berhenti memamerkan senyumannya yang ramah pada orang orang yang telah aku anggap sebagai keluarga keduaku itu.


"Bapak...Mih...Aceng...Dewi...kenalkan ini Sari calon istriku, Sari aku ajak kesini untuk ikut membangun pondasi usaha kita kedepannya, Dew..tolong bantu Sari agar cepat beradaptasi disini yah...!" Ujarku pada Aceng dan keluarganya.


"Siyap boss kebetulan juga kontrak kerjaku di pabrik garmen habis, jadi bolehkah aku ikut gabung denganmu Gung ?" Kata Dewi menanggapi aku.


"Tentu saja kenapa harus tanyakan itu." Jawabku yang membuat kedua orang tua Dewi tersenyum semringah apalagi setelah Dewi berteriak gembira sambil mengacungkan tangannya keatas.


"Aku bagaimana Gung ?" Sahut Aceng. Membuat aku tertegun sesaat.


"Maksudnya apakah aku juga akan kau berikan posisi di usaha kamu nanti ?" Ujar Aceng lagi sambil senyum senyum.


"Kenapa tanyakan itu juga tentu saja Aceng, bahkan mungkin peran kamu nanti akan sangat penting dan vital intinya kita bicarakan nanti saja." Jawabku.


"Ya sudah kalian bisa istirahat dulu sebentar nak setelah itu kita makan bersama yah, ini katanya ada yang mau bapak kalian omongin." Ujar Mih Onah sambil memberi kode pada Dewi.


"Iya Mih hatur nuhun." Jawabku.


"Gung ini kunci rumahmu !" Kata Dewi sambil memberikan kunci rumah yang sebelumnya memang aku titipkan pada mereka.


"Makasih Dew...oh iya maaf ngrepotin kamu lagi boleh nggak...?" Tanyaku malu malu.


"Boleh. Apaan ?" Jawab Dewi.


Aku lalu membuka bagasi mobil dan mengeluarkan hampir semua oleh oleh yang kubeli di pasar kabupaten tadi pagi. Sudah menjadi kebiasaan kami turun temurun untuk berbagi oleh oleh dengan kerabat dekat, dan tradisi itu tetap aku jaga tentunya selama aku mampu melakukannya.


"Mungkin ini terlalu sedikit untuk kalian Dew..tapi tolong tetangga tetangga dekat kita juga biar kebagian yah." Bisikku pada Dewi yang tentu saja Sari juga mendengarnya.


"Iya Gung siyap nanti biar Mih saja yang ngaturnya, oleh oleh sebanyak ini juga tentu saja kami akan kekenyangan jika menghabiskannya sendiri." Ujar Dewi sambil terkekeh.


Setelah itu kami berpamitan sejenak untuk masuk ke rumah peninggalan ibuku yang terlihat sangat terawat itu meski hampir sebulan penuh aku tinggalkan. Tentu saja aku sudah paham siapa yang berperan merawat rumah peninggalan ini.


"Mas mereka semua ramah ramah yah. Mereka siapa kamu seh mas ? Apakah masih ada hubungan saudara maksudnya ?" Bisik Sari.

__ADS_1


Sementara aku sibuk memandang sekeliling rumah yang sudah rapi bahkan plafon atap juga sudah di ganti dengan gypsum dari semula yang hanya terbuat dari anyaman bambu, itupun sudah usang. Dan kini rumah ini bahkan tampak lebih rapi dan cukup bersih.


"Sama sekali tidak yank, namun hubungan kami lebih dari saudara dalam hal apapun dan ini berlangsung dari sejak nenekku, ibunya ibuku yank. Beliaulah yang membuka jalan hingga kita sampai di tempat ini." Ujarku, sambil membuka pintu kamar yang saat aku nyalakan lampunya terlihat ruang kamar ini sudah sangat rapi sekali.


"Yank kamu bisa pilih kamar manapun yang kamu suka." Ujarku.


"Kenapa harus memilih bukankah kita akan berbagi tempat tidur juga." Jawab Sari sambil tersenyum licik.


"Please sayank, hanya sebulan saja kok." Ujarku sedikit keberatan dengan idenya.


"So what... bukankah kau bilang tak akan pernah meninggalkan aku meskipun hanya sejengkal saja ?" Ujar Sari lagi.


"Tapi yank takutnya nanti..." Kataku lirih.


"Tak akan terjadi apa apa asal kamu nggak mesum kok mas...kecuali..." Ujarnya sambil tersenyum manis sekali.


"Kecuali apa yank ?" Tanyaku.


"Kecuali aku yang pengin hehehe...." Ujar Sari sambil tertawa menggodaku.


Oh my God....andai saja aku sedang tidak berprihatin sekarang, tentu sudah aku terkam bidadariku ini dan takkan kubiarkan dia untuk bebas meskipun hanya sedetik saja.


"Iya sayank, biar aku siapkan dulu kamar mandinya." Ujarku.


Aku segera beranjak keluar dari kamar, lalu ke belakang dimana kamar mandi berada bersebelahan dengan dapur. Ku lihat semuanya sudah rapi dan bersih bahkan kamar mandi pun juga terlihat sangat bersih dan bagus karena dinding dan bak airnya sudah di pasang keramik dengan warna yang menarik cukup enak di pandang juga.


Bahkan saat aku menyalakan mesin pompa air pun suaranya sudah halus dan airnya mengalir dengan derasnya.


"Wow amazing..." Gumamku, diam diam aku semakin mengagumi Aceng sahabatku itu karena bisa dipastikan ini semua ulahnya.


"Mas sudah siap belum air nya?" Tanya Sari yang sudah di belakangku, dengan hanya melilitkan handuk saja untuk menutupi tubuh mulusnya.


"Sudah jangan di lihatin terus tar malah bosan." Bisiknya nakal sambil mengibaskan di depan mataku.


"Nyenggol nggak...lihatin mulu...." Ujarnya menggerutu bikin gemas saja.

__ADS_1


"Sudahlah ayo sayank...ga kuat aku klo gini caranya." Kataku sambil pura pura membuka kancing bajuku.


"Eits eit nggak usah mas... hihihi maaf maaf aku mau mandi dulu..." Ujarnya benar benar menggoda aku.


"Ya Allah berilah hamba sahaya Mu ini kekuatan..." Ujarku keras keras, ku dengar Sari tertawa riang.


Setelah Sari menyelesaikan mandinya giliranku untuk membersihkan diri, sementara dia ku biarkan untuk memulas diri ala kadarnya.


Setelah kami menyelesaikan semua aktivitas, kami berdua bergegas keluar rumah yang mana lagi lagi Aceng dan keluarganya sudah menunggu kami di teras rumah mereka yang hanya beberapa jengkal saja jaraknya di sebelah rumah kami.


Kulihat Aceng beberapa kali menatap Sari dengan pandangan yang terpesona, aku pun memakluminya karena aku paham sahabatku itu juga orang normal dan Sari juga punya kecantikan yang pantas untuk di kagumi.


"Mari nak...makan malam sudah siap." Ujar Mih Onah sembari tersenyum.


"Maaf jadi membuat Bapak sareng Mih menunggu lama." Ujarku basa basi yang semestinya.


Sebenarnya sebelum ini pun kami sudah beberapa kali transit untuk sekedar makan minum jika ada kuliner yang menarik bagi aku ataupun Sari, namun hari ini perut kami rasanya seperti melar saja dan minta di isi terus bawaannya.


Sari bahkan tak sungkan untuk menikmati makan malam yang di sediakan Mih Onah yang sebenarnya hanya sederhana saja nasi putih tempe tahu goreng sambal terasi yang pedasnya nendang serta lalapan dan ikan asin lengkap dengan sayur asam benar benar memanjakan perut kami.


Aku hanya tersenyum senang saat melihat kekasihku itu dengan cueknya terpaksa menyeka keringat yang keluar di keningnya karena efek pedas makanan yang ia makan. Aku tau ia sudah merasa nyaman dengan orang orang yang baru di kenalnya ini.


Setelah makan malam bahkan Sari langsung akrab dengan Dewi dan Mih Onah, bahkan tak sungkan berterimakasih atas suguhan makan malam enaknya.


"Aceng aku tau rasanya terima kasih saja tak cukup untuk dirimu dan atas semua kebaikan yang ada padaku. Meski kita ini lebih dari saudara kita tak perlu terlalu berlebihan bukan." Ujarku pada Aceng yang membuat semua orang memperhatikan kami.


"Maksudnya Gung..?" Ujar Aceng belum mengerti apa yang aku maksudkan.


"Aku hanya memberi sedikit uang tapi kau mengerjakan apapun semuanya lalu untung buat kamu apa, aku tentu saja ngga mau kamu rugi hanya karena kasihan sama aku." Ujarku.


Aceng lalu beranjak menuju kamarnya dan kembali sambil membawa beberapa tumpukan kertas.


"Ini laporan proyek yang aku kerjakan kemarin Gung, untuk dua proyek yang kamu minta aku kerjakan itu semuanya masih menyisakan 35 jutaan jadi apa salahnya aku gunakan untuk sedikit renovasi rumah kamu yang ini." Ujar Aceng sambil menyerahkan setumpuk kertas itu padaku.


"Apapun itu aku sangat menghargai dan berterima kasih padamu Ceng... karena itu sebagai hadiah dariku kamu boleh memilih hadiah yang harus kuberikan padamu, yah anggap saja sebagai bonus." Ujarku.

__ADS_1


"Wuih kawanku ini memang royal, tapi lihat dulu donk hasil kerjaannya masa ujug ujug langsung ngasih bonus." Ujar Aceng sambil terkekeh, ada sedikit kebanggaan dalam perkataannya.


"Iya besok kita akan lihat dan memulai semuanya kawan, setelah ini aku butuh kerja keras kita semua." Ujarku


__ADS_2