
"Lalu kamu darimana?" Tanya Agung pada pemuda yang matanya melotot namun tak berdaya karena kedua tangannya di kunci oleh Riko.
"Aku dari Kampung Dugel, kalian pun bukan orang asli sini kan kenapa harus ikut campur urusan orang lain." Jawab pemuda yang mengaku dari kampung yang letaknya persis di sebelah barat Kampung Krajan itu agak sengak.
"Jadi kalian numpang bikin rusuh dengan berkelahi di kampung orang, maksud kalian apa ?" Tanya Agung dengan tatapan mata yang tajam pada kedua pemuda itu.
Baik pemuda yang ia banting maupun yang masih dipegangi Riko hanya terdiam membisu.
"Kalo kalian membisu semua gapapa tapi kupastikan kalian akan membayar segala kerusakan yang kalian timbulkan dan mungkin juga berurusan dengan pihak berwenang karena telah sengaja bikin huru hara. Dan kalo itu yang terjadi kalian bukan saja terancam hukuman di sekolahkan lembaga pemasyarakatan. Kalian ingin begitu?" Ujar Agung lagi namun terdengar tak sekeras tadi.
"Dia mengkhianati saya Ak." Kata pemuda yang tadi dia banting.
"Maksudnya mengkhianati dalam hal apa ?" Tanya Agung mulai lunak.
Tak berapa lama kemudian Suranto, Roni dan Dion datang di ikuti beberapa warga yang tadi sibuk di dekat perhelatan.
"Ada apa ini....ada apa ini ?" Tanya orang orang yang baru datang itu.
"Hai kunyuk siapa yang merusak jendela kaca rumahku bangsat....?!!!!" Ujar Roni berteriak.
Roni yang naik pitam segera di tenangkan oleh beberapa orang tua warga setempat juga, namun Dion yang ternyata kenal dengan anak anak baru gede justru lebih marah dan hampir menyerang pemuda yang tadi di banting Agung, meskipun kemudian Suranto berhasil memegang lengannya dengan kuat hingga Dion tak berhasil menghantamkan tangannya.
"Dion !!! kamu ini datang ga tau persoalannya saja mau bertindak anarki, mau kamu saya laporkan ke kepolisian juga ?!" Bentak Agung.
Setelah itu suasana semakin riuh karena orang orang yang terus berdatangan dan kemudian berkerumun dan berkasak kusuk.
"Sekarang gini saja saya tanya sekali lagi siapa yang tadi memecahkan kaca jendela rumah Teh Nenih?" Tanya Agung dengan nada yang penuh wibawa.
"Kang Maman Ak, dia kakaknya Alex." Jawab pemuda yang tadi di banting oleh Agung.
"Kamu yakin dengan tuduhan kamu itu?" Tanya Agung.
__ADS_1
"Yakin Ak, saya melihat sendiri tadi, Kang Maman melempar jendela kaca itu dengan batu yang di ambil dari situ !" Ujar Pemuda yang mengaku bernama Ryan itu.
"Baiklah silahkan Kang Maman maju ke depan ! cepat jangan sampai aku seret...!" Ujar Agung.
Akhirnya seorang pemuda dewasa yang sebaya dengan Agung sendiri yang bertampang seperti seorang preman maju ke depan dengan tatapan mata nyalang.
"Kamu Maman ?" Tanya Agung.
"Iyaaa !!! kenapa ?" Jawab lelaki itu seakan sama sekali tak menghormati Agung.
"Jadi benar kamu yang memecahkan jendela kaca rumah Teh Nenih." Tanya Agung lagi kali ini dengan penekanan yang dalam pada setiap ucapannya.
"Bukan urusanmu, kau siapa ? jangan sok ikut campur urusan orang jika umurmu pengin panjang !!" Ujar orang yang bernama Maman itu sambil mendekati Agung dan hendak menepuk pipi Agung.
Namun dengan gerakan yang sangat cepat tangan Maman berhasil di tangkap oleh Agung dan bahkan langsung dipelintir hingga Maman berteriak kesakitan.
"Aku memang bukan siapa pun disini, dan aku paham kau putra dari Pak Haji Oyok kan namun yang aku heran kenapa kelakuan kamu sama sekali tak mencerminkan watak Pak Haji sendiri." Kata Agung lalu menampar Maman dengan tenaga lemah saja namun Maman yang sudah tak berdaya karena tangannya dipelintir langsung jatuh nyungsep.
"Setan kamu ! sebenarnya apa yang kamu inginkan dasar anak setan !!" Ujar Maman dengan sorot mata penuh kebencian pada Agung.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan itu, pertama ganti seluruh kerugian keluarga Teh Nenih atas kerusakan rumahnya yang kamu sebabkan, lalu minta maaflah pada seluruh warga kampung ini khususnya melalui pengurus lingkungan setempat juga kepada keluarga Teh Nenih khususnya !" Ujar Agung serius.
"Oh jadi kamu biang keroknya ternyata, bagus ya Man." Ujar Teh Nenih yang tiba tiba muncul menyeruak dari belakang di ikuti Sari dan hampir semua anak buahnya juga Tyas yang sudah ikut bergabung bersama mereka lagi.
"Teh Nenih kenal sama dia ?" Tanya Agung sambil menunjuk Maman yang sekarang seperti kepiting rebus.
Suranto yang berstatus kekasih Nenih segera bertindak menenangkan wanita yang telah merenggut segenap hatinya itu.
"Mas ada apaan seh ?" Tanya Sari berbisik di dekat Agung.
"Sebentar Yank, semua belum jelas." Jawab Agung juga berbisik.
__ADS_1
Tanpa sadar Imas dan Tyas juga berdiri mengambil posisi di dekat Agung, meskipun saat itu Sari juga terlihat kurang suka dengan kondisi semacam itu.
"Gini saja sekarang kita batasi persoalannya saja, tolong bawa Maman ke rumah Pak Rt juga anak yang berkelahi tadi sedang yang lain suruh nunggu di bawah pohon mangga itu sebentar." Kata Agung.
Tanpa basa basi lagi beberapa orang segera membawa ketiga orang yang telah di ketahui jadi sumber kerusuhan itu.
Sementara kepada Sari, Agung berbisik.
"Yank, kamu dan kawan kawan tolong bantu membersihkan pecahan kaca di rumah Teh Nenih sebelum di ketahui aparat !" Kata Agung, Sari hanya tersenyum dan mengangguk saja.
Kemudian Agung segera menyusul orang orang yang membawa Maman dan kedua anak baru gede yang sudah terlibat masalah karena perempuan.
Ternyata setelah sampai di rumah pengurus lingkungan setempat, Maman langsung kehilangan nyalinya. Berkali kali ia memohon maaf dan ampunan baik pada Ketua Rt setempat maupun kepada Agung dengan menangis.
"Loh bukankah tadi gayamu seperti preman di Tanah Abang, kenapa sekarang kamu melow begitu ?" Tanya Agung pada Maman.
"Maafkan saya Ak, saya terpaksa melakukan itu karena sakit hati kepada Nenih yang menolak cinta saya." Ujar Maman tampaknya berkata jujur apa adanya.
"Perempuan lagi.." Gumam Agung
Pernyataan dari Maman itu jelas membuat kaget Suranto, karena seingatnya Nenih tak pernah mengatakan soal apapun tentang pria yang berada di hadapannya itu.
"Jadi karena itu kau merusak rumah keluarganya?" Tanya Ketua Rt.
"Iya Pak, tapi ternyata saya salah besar kini Nenih benar benar akan membenci saya seumur hidupnya." Ujar Maman.
"Kau salah besar kalo berkesimpulan seperti itu, tapi memang harus aku katakan bahwa Nenih kini sudah memiliki calon suami, kalo kau memang sayang sama Teh Nenih biarkan dia bahagia karena dia juga berhak untuk itu, toh dunia ini tak pernah kekurangan stok wanita." Ujar Agung.
"Iya Ak, sekarang aku menyesal, nanti setelah ini aku janji akan mengganti semua kerugian pada Nenih." Kata Maman yang kini terlihat segan kepada Agung.
"Baiklah kalo kamu mau bertanggung jawab, aku rasa kau sudah bertindak benar kali ini tapi apakah kau lepas dari jerat hukum nantinya itu juga tergantung keluarga Nenih memaafkan kamu atau tidak." Ujar Agung yang membuat Maman tertunduk lesu.
__ADS_1