
Baru saja kami akan beranjak setelah berpamitan dengan Pak Haji Obi dan anak bungsunya yang jelita itu, terdengar suara dering hp ku.
"Iya yank ini sudah mau pulang kok.." Ujarku ketika melihat Sari lah yang menelpon.
"Mas mobil box nya sudah datang..." Kata Sari.
"Iya suruh menunggu sebentar kami segera sampai rumah." Jawabku sambil menutup panggilan tanpa ritual kecup kecup jauh seperti biasanya.
"Kenapa? ada apa katanya ?" Tanya Aceng kepo.
"Mobil box nya sudah datang." Jawabku.
"Ya sudah ayo pulang...!" Ujar Aceng sambil memasukkan beberapa sertifikat sawah Pak Haji Obi yang sudah aku beli itu ke dalam jaket kulitnya.
Kami benar benar pergi setelah sekali lagi berpamitan dengan sang tuan rumah beserta anaknya yang menawan itu. Dengan Aceng melajukan motor bebeknya pelan saja meski sudah di geber gasnya.
Sepanjang perjalanan pulang Aceng tak berhenti bersiul dan mengoceh ngalor ngidul. Aku pun maklum akan apa yang bergejolak di hati Aceng saat ini karena akupun pernah merasakannya beberapa waktu yang lalu.
Bahkan saat sampai di rumah, Aceng justru makin kesurupan dengan berjingkrak jingkrak dan bersenandung dengan riang.
"Heh ini apaan seh sinting tau nggak maneh...!" Ujarku sambil buru buru melepaskan tangan Aceng yang merangkulku. Gara gara ulahnya kami jadi bahan tertawaan kedua orang tua Aceng dan empat orang pria yang bersama mereka.
"Ah kamu mah asyik ah...." Ujar Aceng meradang.
"Klo mau rangkul rangkulan noh sono sama Nimas saja, aku masih normal." Ujarku pura pura menggerutu.
Meski begitu Aceng sama sekali tak ngambek justru makin gemas sama aku. Begitu mendengar suara kami, Sari dan Dewi juga bergegas keluar dari dalam rumah.
Beberapa saat kemudian setelah beramah tamah sekedarnya, keempat orang utusan dari sebuah perusahaan karoseri khusus kendaraan pengangkut itu mengutarakan niat kedatangan mereka, dan menjelaskan jika kami sangat beruntung membeli dua mobil box carry itu, karena kondisinya yang masih sangat bagus segalanya.
Terakhir mereka menyerahkan dokumen dokumen kendaraan itu padaku, sebelum mereka pamit undur diri setelah sebelumnya menikmati jamuan yang di sediakan Mih Onah lebih dahulu.
Di bawah penerangan lampu yang minim kami menyempatkan untuk memeriksa mobil mobil itu sejenak, dan dari suara mesin yang masih halus dan penampakan luar yang masih mulus itu memang bisa di pastikan, kedua kendaraan ini masih sangat baik kondisinya.
__ADS_1
"Gimana nak berhasil dapat sawahnya?" Tanya Pak Suryadi begitu kami menghampiri mereka lagi.
Aceng hanya diam saja sambil bersiul semringah, ia acuh tak acuh langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Alhamdulillah pak, sawah dapat calon mantu bapak juga insyaallah dapat..." Jawabku sambil tersenyum.
"Tunggu tunggu mantu..maksudnya bagaimana ya nak bapak kok kurang paham...?" Ujar beliau tampak serius dan tak sabar menunggu jawaban dariku begitu pula Mih Onah yang duduk di sebelah suaminya itu.
"Aceng tadi habis melamar anaknya Pak Haji Obi bapak..." Ujarku sambil tersenyum menjelaskan.
Bukan saja kedua orang tua paruh baya itu yang terkejut dan merasa surprise, tapi juga Dewi dan Sari pun tampak ikut gembira mendengar penjelasan dariku.
"Hah...masa seh? beneran nak ? berani betul anak itu." Kata Pak Suryadi dengan penuh kekaguman dalam nada bicaranya.
"Trus Imas nya gimana nerima enggak ?" Tanya Dewi ikut kepo.
"Ya kalo si borokokok itu tak mengacaukannya sendiri kayanya di terima." Jawabku.
"Enak aza borokokok orang kasep bin ganteng gini kok borokokok mana bisa..." Ujar Aceng yang tiba tiba muncul dari balik pintu dengan mulutnya yang basah dan tangannya memegang sebotol air dingin.
"Dan ada kabar baik satu lagi." Ujarku.
"Apaan ?" Tanya Dewi cepat.
"Nimas akan bergabung dengan kita." Ujarku sambil tersenyum.
"Wow... benarkah...dia sangat bagus loh selera fashionnya, juga pintar banget komputer. Bagus Gung bagus !!" Ujar Dewi begitu senang sambil mengacungkan jempolnya padaku.
Saat Dewi begitu semringah, aku melihat Sari tampak datar biasa saja meski tetap berusaha untuk tersenyum terutama ketika Dewi menatapnya.
"Tapi yang terpenting itu Dew, adalah Aceng jadi punya banyak waktu untuk mendekati Nimas kan." Ujarku.
"Jadi Imas belum menerima lamaran Ak Aceng sepenuhnya Gung ?" Tanya Dewi kritis.
__ADS_1
"Secara resmi memang belum tapi ia memberi kesempatan pada Aceng untuk menunjukkan keseriusannya tapi itu kan juga cuma formalitas saja karena aku lihat sebenarnya Nimas juga suka kok sama Aceng, dan jika Aceng tak mengacau maka kemungkinan besar mereka akan berakhir di pelaminan." Ujarku berkata yang sebenarnya.
Kami semua terdiam sesaat, mungkin mereka semua sedang mencerna penjelasan dariku. Aceng sendiri mendadak menjadi seolah sedang gelisah.
"Jangan cemas bro kita semua pasti dukung kamu kok." Ujarku sambil menepuk bahu Aceng yang mengambil duduk di dekatku.
"Iya Ak, pokoknya usahakan jangan bikin Imas kecewa yah soalnya sekali dia ilfill bakalan susah mendapatkan hatinya." Ujar Dewi menambahkan.
"Trus kalian sendiri kapan mau meresmikan pernikahan nak? Maksud Emih Nak Agung dan Nak Sari loh ini." Tanya Mih Onah mencoba mengalihkan topik, setelah beliau melihat anak sulungnya tampak menjadi gelisah.
"Insyaallah secepatnya Mih. Kami mohon doa restunya saja dari Emih sareng Bapak mudah mudahan urusan kami di lancarkan." Jawabku sambil menatap Sari yang hanya mengangguk dan tersenyum saja.
"Aminnnnnn....!!!!" Ujar mereka semua serempak dengan Aceng yang paling nyaring suaranya.
"Jadi besok acaranya ngapain nih boss ?" Ujar Aceng kemudian
"Kita mulai mengisi gudang dan mengumpulkan barang dagangan dulu, bukankah kau bilang PT. Eterna besok akan mulai mengerjakan pekerjaan pemasangan etalase nya kan ?" Jawabku.
"Misalnya ada konveksi lokal atau distro yang ingin ikut berjualan di tempat kita bagaimana Gung ?" Tanya Dewi.
"Kalo produknya bagus dan harganya juga kompetitif kenapa nggak, tapi fokus kita sebagai retailer dulu lah Dew, jadi kalo mereka punya produk bagus dan ingin memasok barang ke kita okey kita welcome tapi kalo mau berdagang sendiri trus nyewa tempat kita kaya gitu gitu entar dulu." Jawabku.
"Apakah kita perlu observasi dan survey permintaan pasar dulu ?" Tanya Dewi lagi.
"Ga perlu. Buang buang waktu...kalo kita menyediakan barang yang di butuhkan bukankah konsumen dengan sendirinya akan mendatangi kita." Ujarku lagi menjawab Dewi.
"Yang harus kita lakukan hanyalah untuk terus mengikuti trend yang di minati masyarakat sini, bisa lewat market place online ataupun fashion news." Ujarku menambahkan.
"Apakah kalian nanti juga menjual sepatu sandal dan sebangsanya nak ?" Tanya Pak Suryadi.
"Tentu Pak...bahkan tas dan segala pernak pernik aksesoris kado semacamnya kita akan sediakan semuanya." Jawabku.
"Rasanya jadi sudah nggak sabar euy..." Ujar Dewi sambil tersenyum penuh optimisme.
__ADS_1
"Ya Bapak dan Mih doakan smoga usaha kalian lancar dan menjadi keberkahan buat kalian semua." Tukas Pak Suryadi, yang semuanya mengamini.
Sebelum kami berpisah untuk melepas penat masing masing dan beristirahat di peraduan sambil menantikan hari esok akan seperti apa.