OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 16 Mbak Dimana Kamu


__ADS_3

Setelah beberapa saat aku terdiam dan terhenyak untuk mendengarkan suara isak tangis Mbak Sari yang entah mengapa membuat hatiku jadi seperti teriris sembilu, sakit dan perih rasanya.


"Ikutlah denganku saja mbak !" Ucapku lirih.


Tak kudengar lagi suara tangisnya namun tak kunjung bersuara untuk menjawab juga wanita yang berhasil merenggut segenap hatiku pada saat pertama kali aku memandangnya itu.


"Tapi mas... apakah bisa begitu?" Jawabnya setelah beberapa saat.


"Bisa mbak asalkan kau juga mencintaiku." Ujarku, keterlaluan sebenarnya mengingat aku seperti sedang merayu istri kakakku sendiri.


"Kalo tak cinta mana mau aku kamu bawa ke hotel." Ujarnya.


Hah kebalik kali bukankah dirinya yang memaksaku ke hotel kemarin itu. Wanita mah slalu gitu, hadeh.


"Tapi bagaimana mamaku klo aku tinggalkan mas? aku takut Mas Farhan benar benar membuktikan ancamannya untuk menyakiti mama." Lanjutnya.


"Percayalah mbak, kalo Mas Farhan hanya menggertak saja, aku tau benar sifatnya rasa gengsinya itu begitu tinggi. Aku tau dia merasa malu atas kegagalan cintanya namun yang dia tak terima itu karena aku terlibat dalam masalah kalian." Ujarku lirih, bagaimana juga aku berada dalam jangkauan telinga banyak orang saat ini.


"Menggertak gimana, orang dia bawa teman teman premannya kok, semuanya sangar sangar menakutkan." Balas Mbak Sari.


"Gini saja mbak, aku tanya sekali lagi yah apa benar mbak betul betul ingin cerai dari Mas Farhan, tolong pikirkan baik baik !" Tanyaku, aku ingin sebuah kepastian dari Mbak Sari atas hubungannya.


"Iya mas aku sudah tidak bisa bersama Farhan lagi." Ujarnya.


"Baiklah nanti aku bantu mbak untuk menggugat cerai Mas Farhan lewat seorang pengacara, mbak terima beres saja tapi tolong siapkan saja alasan yang sekiranya pantas untuk mengajukan gugatan." Ujarku. Mbak Sari terdiam.


"Menyewa jasa pengacara kan harus bayar mas, aku mana punya duit.." Ujarnya.


"Aku punya mbak...kan aku sudah bilang biar aku yang mengurusnya, lagipula nanti kan duitku duit mbak juga." Ujarku.


"Iya deh mas gimana kamu saja yang jelas aku sudah tak bisa melanjutkan hubungan rumah tangga dengan Farhan lagi. Ujar Mbak Sari terdengar sangat serius.


"Baiklah sekarang istirahatlah mbak, dan jangan berpikir apapun lagi. Secepatnya aku akan mengurusnya." Ujarku.


"Iya mas aku juga sudah lelah mas lelah hati dan pikiranku, kuharap kamu tak menarik kembali kata katamu ya mas, setelah ini selesai terserah akan kau bawa kemana aku pasti ikut." Ujarnya membuat hatiku kembali melambung tinggi ke awang awang.


"Iya mbak, kamu bisa pegang kata kataku. Eh tapi itu di rumah hanya ada mbak sama ibuk saja kah?" Tanyaku.


"Nggak kok ada Mbak Wati dan Mas Riyan suaminya juga Bayu anak mereka, sengaja ku suruh nginap disini tadi." Jawab Mbak Sari.


"Baguslah...ya sudah selamat istirahat ya mbak, asalamualaikum." Ujarku berniat menyudahi percakapan kami lewat panggilan aplikasi pesan instan gratis.


"walaikumsalam. sudah gitu aza..." Jawab Mbak Sari.

__ADS_1


"Maksudnya mbak?" Tanyaku bingung.


"Kaku amat hihihi ya sudah ya sayank met bobok smoga mimpiin aku yah, mmmuaaccchhh !!" Ujar Mbak Sari.


"Ohh iya mbak sayank...makasih mmmuaaccchhh." Jawabku lalu panggilan pun berakhir.


Dadaku tiba tiba saja berdebar kencang, gairahku melonjak naik, rasa ini terlalu dahsyat untuk di redam. Ah kembali aku teringat saat aku dan Mbak Sari melakukan di hotel, Ahhh....aku tak tahan lagi ingin segera bersamanya lagi.


"Sari aku sangat mencintaimu sayank..." Gumamku sendirian sambil meraba celanaku yang menggembung karena ada sesuatu di dalamnya yang membesar dan mengeras dengan sendirinya.


Keesokan harinya aku beraktivitas seperti biasa mengakomodasi kebutuhan bahan kerja yang di butuhkan oleh Kang Bejo dan anak buahnya, aku memang sengaja membeli bahan bahan untuk pembangunan rumah dengan menyimpan sejumlah uang dulu pada sebuah toko bangunan yang pengiriman bisa di atur sesuai kebutuhan.


"Gung kata budemu hari ini sampai seterusnya dia ngga bisa masak katanya." Ujar Kang Bejo yang baru saja dari tempat bude untuk mengambil jatah sarapan mereka.


"Hah gilaa.... keterlaluan urusannya jadi merembet kemana mana " Gumamku namun Kang Bejo tetap bisa mendengar nya.


"Urusan apa seh Gung?" Tanyanya.


"Oh kalo gitu aku pergi beli sarapan dulu ya Kang." Ujarku dengan penuh gusar, aku yakin semua orang yang melihatku akan melihat mukaku yang merah padam.


Aku langsung melajukan mobilku tanpa berucap apapun menuju desa sebelah yang aku tahu ada orang yang menjual nasi pecel di depan rumahnya.


Inilah sebabnya aku memilih memborongkan urusan konsumsi pada Bude Marni, karena males mondar mandir hanya untuk membeli makanan buat pekerja karena Kang Bejo sendiri dari awal memilih untuk tidak memborong pekerjaan secara lepas meski upahnya akan sedikit lebih rendah.


"La ini baru saja di taruh di sini nak." Jawabnya.


"Saya beli nasi pecel nya 30 bungkus komplit ya bude." Ujarku.


"Hahh kok banyak amat buat siapa nak, bisa bisa Alhamdulillah...." Jawabnya terlihat gembira.


Lalu dengan sigap beliau bergerak menyiapkan permintaanku.


"Nak tapi maaf loh yah adunya cuma sama goreng tempe saja." Ujarnya.


"Iya gapapa bude kasih saja masing masing dua potong tempe tiap bungkusnya." Jawabku.


Tak sampai 30 menit semua pesanan ku sudah di siapkan lengkap, bahkan semua gorengan yang tersedia aku borong semua.


"Semuanya jadi 240 ribu nak, nasi pecelnya 210 tambah gorengan 30 ribu." Ujar Ibu penjual nasi itu.


Aku segera memberikan sejumlah uang yang di minta beliau dan segera bergegas setelah berpamitan.


Sampai di rumah ternyata Kang Bejo dan anak buahnya sudah memulai pekerjaan mereka, meski kemudian berhenti setelah ku minta mereka mengambil sarapan lebih dulu.

__ADS_1


"Untung kamu dapat sarapannya nak. Dapat di mana tadi?" Tanya bapak sambil tersenyum.


"Dari desa sebelah pak...tapi kalo siang nanti gimana pak?" Jawabku.


"Ya nanti coba bapak ngomong sama Suminah, mau tidak bikinin konsumsinya." Ujar bapak.


"Kalo mau sekalian saja seterusnya pak, kita kasih duitnya juga sekalian, aku males mondar mandir pak." Ujarku mengeluh.


"Iya iya baiklah sekarang saja bapak ke tempat Suminah, kamu ikutlah sarapan dulu." Ujar bapak.


"Bapak juga belum sarapan kan?" Tanyaku.


"Tadi sudah minum teh panas segelas." Jawab bapak kemudian berlalu.


Baru saja aku hendak ikut bergabung untuk mengambil sarapan, tiba tiba hp ku berdering, kulihat nomor tak dikenal yang menghubungi ku.


"Hallo asalamualaikum, selamat pagi." Sapaku setelah ku terima panggilan itu


"Mas Agung...ini aku Mbak Wati kakaknya Sari." Kata seseorang yang memanggilku yang ternyata Mbak Wati.


"Iya mbak kenapa mbak ada yang bisa saya bantu?" Ujarku.


"Maaf mas Sari hilang, kata tetangga yang lihat adikku di culik orang mas...hi..iiii...iii..." Ujar Mbak Wati sambil menangis.


"Apa mbak...!!! di culik ...?" Tanyaku terkejut bukan kepalang.


"Iya mas di culik tiga orang berambut trus di bawa naik mobil kijang lawas. Sari sempat bisa hubungi aku dan kasih nomor Mas Agung tadi tapi kini sudah tak bisa di hubungi lagi." Jawab Mbak Wati.


"Baik mbak pasti ada hubungannya dengan Mas Farhan, mbak tenang saja aku akan berusaha menemukan Mbak Sari." Ujarku


"Iya mas tolong kami ya mas dia adikku satu satunya." Jawab Mbak Wati semakin terisak dalam tangisnya.


"Baik mbak. Nanti saya hubungi lagi tapi tolong jika ada informasi apapun segera hubungi saya ya mbak." Ujarku.


"Iya mas...tolong kami mas..." Ujar Mbak Wati semakin pilu.


"Iya mbak pasti, saya tutup dulu yah mbak asalamualaikum." Ujarku lalu menutup panggilan tanpa menunggu balasan dari Mbak Wati bukan apa apa tapi aku paling tak tega jika melihat atau mendengar seorang wanita yang menangis.


Setelah itu aku menelpon salah satu nomor dari empat tangan besi.


"Halo mas tolong ajak yang lain bertemu di tempat guru yah. kalo bisa sekarang, aku menunggu kalian semua." Ujarku.


"Baik boss siyap."

__ADS_1


__ADS_2