OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 38 Pesona Yesi Yuliana


__ADS_3

Yesi meminta waktuku seharian untuk menemaninya sebagai hadiah yang dimintanya dariku.


"Kamu yakin soal ini ?" Tanyaku. Yesi hanya tersenyum.


"Maksudku kamu yakin tak ingin ku belikan sesuatu untukmu ?" Tanyaku lagi untuk meyakinkan dirinya.


"Yakin, tapi apa kau yakin kamu tak akan merasa rugi nantinya Gung, karena justru duit yang kamu keluarkan nanti lebih besar dari sekedar membelikan aku sebuah hadiah." Katanya menakutiku sambil senyum senyum.


"Ya tergantung permintaannya gimana kalo permintaan kamu aneh aneh dan membuatku miskin ya lebih baik kamu ku tinggalkan saja di tengah jalan." Ujarku membalas keusilan sikapnya.


"Hahaha emang kamu berani berbuat begitu, aku bahkan berani bertaruh apapun bahwa kamu takkan berani melakukan itu padaku." Ujarnya semakin merasa jumawa.


Bagaimanapun juga kami pernah bersama dan dia sudah paham betul sifatku luar dalam.


"Kamu yakin aku belum berubah?" Tanyaku.


"Yakin seribu persen." Jawabnya menantangku.


"Baiklah kalo gitu sekarang kau mau gimana?" Tanyaku mengalah.


"Baiklah kita ke GOR M dulu, aku juga ingin icip icip nasi rawon disana." Ujarnya.


"Setelah itu?" Tanyaku.


"Setelah itu biar aku pikirkan nanti bukankah sekarang aku bossnya hihihi." Jawabnya.


Yesi semakin tertawa semringah ketika aku hanya geleng geleng kepala saja. Sejujurnya aku lebih suka dia memilih ingin di belikan sebuah barang saja daripada seperti ini, tapi harus aku akui wanita ini memang lebih cerdas dari dugaan ku.


Setelah menempuh jalan berliku oleh tikungan dan padat kendaraan yang membuat kendaraan ku hanya bisa melaju merayap saja, akhirnya kami sampai juga di kawasan pusat olahraga yang juga terdapat bermacam kuliner khas yang menyajikan menu khas kota ini.


Aku memarkir kendaraan di dekat sebuah kolam renang yang kini di lengkapi dengan water boom itu.


"Setelah ini kita mau kemana ?" Tanyaku saat kita duduk di bawah rindangnya pohon setelah kami kenyang karena habis bersantap nasi rawon.


"Aku ingin renang." Jawab Yesi dengan pandangannya terarah ke sekelompok anak anak sekolah yang masuk ke kolam renang di depan kami itu.


"Memang kamu bawa baju renang?" Tanyaku.


"Gampang kok kan bisa sewa, di tempat itu pasti juga menyediakan sewa baju renang." Jawabnya santai.


"Memang kamu mau makai baju renang bekas orang lain? kalo baju itu habis di pakai orang berpenyakit kulit gimana?" Ujarku menakutinya.


"Kalo gitu belikan aku baju renang baru, yang jelas aku ingin renang." Ujar Yesi kukuh. Aku hanya diam.


"Kamu nggak keberatan kan beliin aku baju renang?" Tanyanya.

__ADS_1


"Apakah aku terlihat begitu ?" Jawabku sedikit gondok.


"Yeiii.....kamu memang the best sayank...!" Ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya lalu tiba tiba saja Yesi mengecup pipiku.


"Yes, berani benar kamu nggak takut di tangkap aparat gara gara porno aksi apa ?" Ujarku.


Yesi hanya senyum senyum saja tak memperdulikan perkataanku.


"Cuma ngecup pipi saja masa porno aksi." Ujarnya enteng.


"Sudah yuk ah...!" Ujarnya lagi sambil menarik tanganku untuk mengikutinya.


Ternyata memang benar tempat itu memang menjual dan menyewakan baju renang standar baik untuk cewek maupun cowok. Dan kami membeli satu set baju renang untuk Yesi dan satu celana renang biasa untukku.


Suasana riuh dari anak anak sekolah yang berlatih renang cukup membuat tempat itu semarak dan ramai, dan setidaknya tidak membosankan. Yesi sendiri terlihat cuek mencoba renang dengan berbaur dengan anak anak perempuan pelajar yang terlihat sebaya dengan Anis itu.


Sebelum kemudian sekelompok anak laki laki terlihat mengerumuni dirinya dan membuatnya merasa tidak nyaman. Seorang di antaranya bahkan mulai berani mendekati Yesi dan mengajaknya ngobrol sesuatu.


"Adik adik dia sedang bersamaku, apa cewek ini berbuat masalah ?" Ujarku sambil menceburkan diriku di dekat Yesi.


Anak anak baru gede itu tak menjawabnya namun memilih berbaur dan sedikit menjauh meski matanya sering melihat ke arah kami.


"Sebaiknya kita pindah ke sana saja jangan di sini !" Ujarku, dan Yesi hanya mengangguk.


Namun hanya beberapa saat saja kami menikmati aktivitas di kolam yang lebih dangkal, tiba tiba sekelompok anak lelaki mendatangi kami dan dua di antara mereka langsung menodongkan pisau ke tubuh kami.


"Diam saja dan menurut kami jika tak ingin mati !" Ujar lelaki tanggung yang tadi mencoba mengajak Yesi ngobrol.


"Kalian mau apa...?" Ujarku geram.


"Jangan banyak bacot segera ikuti kami !" Ujar lelaki tanggung yang sebenarnya parasnya cukup tampan dengan perawakan yang cukup bersih terawat itu.


Yesi mulai menggigil dan menangis namun tak berani berbuat apapun karena takut akan ancaman pisau yang menempel di tubuhnya. Akhirnya kami pasrah saat anak anak itu menggiring kami keluar dari tempat itu melalui celah tembok pagar yang rusak yang tersembunyi oleh semak semak.


Beberapa anak itu dengan ringannya memukul kepala dan punggung ku, sambil tertawa tawa. Sebelum dengan gerakan yang sangat cepat aku mencengkeram tangan lelaki yang menodongku lalu merebut pisaunya.


Anak anak itu kaget dengan sikapku lalu serempak melingkari aku yang telah menarik dan menempatkan Yesi di belakangku.


"Oh baguslah mari kita bantai dulu bedebah ini kawan kawan sebelum kita nikmati wanitanya bersama sama hahahaha." Ujar anak yang masih membawa pisau di tangannya.


Namun belum selesai tertawanya aku sudah menendang perutnya hingga terjungkal, pisau yang di pegangnya terlempar ke arahku yang segera aku pungut lalu pisau pisau itu aku buang ke tengah telaga kecil yang ada di sekitar semak semak itu.


Anak anak itu serempak menyerangku bertubi tubi namun jelas mereka hanya remahan kecil buatku yang tak butuh waktu lama buatku untuk melumpuhkan dan membuat mereka babak belur dan terkapar ku injak injak.


"Hanya berkemampuan seperti ini kok berani beraninya belajar jadi penyamun kalian." Ujarku sambil menginjak muka lelaki yang tadi menodongku dengan tumitku.

__ADS_1


"Ampun mas...ampuni kami !" Ujar mereka satu persatu namun aku masih menendang tubuh mereka satu persatu.


"Nah siapa diantara kalian yang ingin aku cekik lalu aku lempar ke telaga itu lebih dulu?" Tanyaku garang sambil menjambak rambut dari salah satu anak yang rambutnya gondrong.


"Ampun mas...ampun kami janji tak akan pernah mengulangi lagi." Ujar lelaki yang ku jambak itu.


Dia menjerit kesakitan saat aku menamparnya dengan cukup keras, sebelum mendorong tubuhnya terhempas menimpa temannya yang terkapar tak berdaya.


"Awas kalo ketemu aku lagi dan kalian masih menyamun, bukan hanya ku hajar tapi ku cekik leher kalian sampai patah, dasar sampah kalian." Ujarku berusaha terlihat garang meski sebenarnya aku tak tega menyiksa anak anak itu.


"Kita pergi !" Bisikku pada Yesi yang terlihat masih tegang dengan muka pucat pasi dan tampak lemas.


"Kita pergi mereka tak akan ganggu lagi." Ujarku, dan Yesi hanya mengangguk lalu memelukku dan menangis.


Kami segera menghampiri pakaian kami, dan Yesi langsung memakainya.


"Loh nggak bilas dulu...?" Tanyaku.


"Aku ingin pulang..!" Ujarnya sambil dengan cepat memakai bajunya tanpa melepas baju renangnya yang basah itu


Mau tak mau aku pun mengikutinya yang membuat celana panjangku juga langsung basah tak nyaman.


Yesi benar benar kukuh untuk mengajakku langsung pulang tanpa mampir mampir lagi meski aku sempat menawarkan untuk transit sejenak di toilet sebuah spbu untuk sekedar ganti pakaian. Lagipula efek dari khlorin air kolam renang tadi membuat kulit kami jadi kering dan kusam membuat tampang kami jadi terlihat berantakan.


"Maafkan aku Gung...maaf...maaf..!!" Ujar Yesi sambil menciumi tangan kiriku yang tadi kugunakan untuk mengusap punggungnya, berkali kali.


"Ga apa apa Yes bukankah kita ga apa apa? tapi lain kali berpikirlah lebih dulu sebelum memasuki tempat yang kita masih asing dengannya, bukan apa apa tapi kita tak tau yang kita masuki itu sarang ular atau taman yang menyenangkan." Ujarku sok bijak.


Yesi benar benar tak ingin mampir mampir lagi dalam perjalanan pulang, hingga sampai di kediaman kakaknya, mereka langsung bengong melihat keadaan kami yang terlihat benar benar membagongkan.


"Kalian habis panen padi dimana kok awut awutan gitu?" Tanya pria yang mungkin bernama Mas Toni yang juga kakak kandung Yesi.


Yesi tak menjawab namun memilih langsung menghambur masuk ke dalam rumah yang di depannya di buat sebuah counter fotocopy sebagai tempat usaha kakaknya itu.


Akupun sebenarnya sudah tak nyaman dengan keadaan tubuhku sendiri, namun jika langsung pergi begitu saja jelas akan menimbulkan stigma negatif padaku.


"Kami tadi ke kolam renang mas, karena Yesi menginginkan ke tempat itu, namun ada sedikit anak anak nakal yang kurang didikan mencoba menyamun kami, dan Yesi shock karena itu." Jawabku apa adanya.


"Tapi Yesi ga kenapa kenapa kan? ayo duduk dulu !" Ujar Mas Toni.


Beberapa saat kemudian dari dalam keluar Widya yang menggendong seorang anak kecil di ikuti seorang wanita dewasa berusia 30 tahunan di belakangnya.


"Kenapa Yesi mas?" Bisik wanita itu pada Mas Toni.


"Tidak apa apa, cuma tadi ada sedikit masalah yang membuatnya shock." Jawab Mas Toni.

__ADS_1


__ADS_2