
"Sekarang aku minta penjelasannya mas, kuharap kau tak bertele-tele. Katakan bagaimana Mbak Retno bisa menghubungi kamu !" Ujar Sari kembali dingin.
Kali ini dia memaksa beranjak dari pangkuanku lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Kenapa bertanya seperti itu sayank tanpa bertanya pun nanti malam juga pasti akan kujelaskan." Ujarku
"Sudah jangan berbelit belit katakan saja bagaimana bisa Mbak Retno video call kamu ada apa, apa yang terjadi yang aku nggak tau?" Tanya Sari dengan keras.
"Tentu saja dia punya nomorku. Kan aku sering berhubungan dengan Mas Harno. Lagipula dia menghubungi aku terkait buy back sawah yang tadi sudah dilakukan bapak dengan Mas Harno tentu saja dengan perantaraan keluarganya, dan aku pun sudah mentransfer 30 juta untuk menggenapi duit yang Mas Harno curi untuk mengambil kembali sawah bapak." Ujarku.
"Jangan bohong mas, aku tau tadi Mbak Retno menghubungi kamu bukan untuk soal itu kan." Kata Sari begitu kritis.
"Mbak Retno sudah tau tentang hubungan kita sayank. Semula dia juga berpikir aku merebutmu dari Farhan tanpa alasan apapun, lalu aku terpaksa mengirim video Mas Farhan padanya." Ujarku, membuat Sari langsung tertegun.
"Dan tadi dia juga meminta pekerjaan juga padaku, namun aku bilang agar dia menunggu sebentar karena kita akan pulkam." Ujarku.
"Mbak Retno minta kerjaan sama mas dan dia juga akan kesini tinggal bersama kita nantinya begitu?" Kata Sari sangat tegas namun sinis.
"Lalu apa yang akan mas bilang pada keluarga bude kamu nantinya, bude biarlah aku bawa menantu bude selain mantan menantu bude, begitu ?" Ujar Sari lagi benar benar meledekku.
"Tadinya aku hanya berpikir untuk membantu keluarga Mas Harno saja Yank sama sekali nggak ada niat lain ngumpulin menantu menantu budeku di kamarku seperti pikiranmu itu, lagipula tadi Mbak Retno bilang dia di suruh cari kerjaan sama Bude Marni sedang anaknya mau di titipkan ke ibunya Mbak Retno di Wonogiri." Ujarku.
"Baiklah mas boleh ajak Mbak Retno kesini tapi aku tak mau tinggal serumah bersamanya." Ujar Sari sangat tegas.
"Baiklah Yank nanti biarlah kita bicarakan lagi soal itu, lagipula nanti mungkin kalo jadi aku tak akan nempatin Mbak Retno di toko tapi mungkin di apotik atau bahkan bisa juga di penggilingan, kalo nanti sudah bikin gudang beras kita butuh admin juga kan." Ujarku.
"Apa uang yang kita hasilkan tiap hari seperti ini masih belum cukup buat kamu mas ?" Tanya Sari agak bikin trenyuh perasaan.
"Cukup kok selama kamu bahagia dengan apa yang kita dapatkan aku juga senang toh semua yang kulakukan juga demi kita dan anak anak kita nantinya kan, masalahnya adalah kita sudah terlanjur punya aset yang harus di kelola juga Sayank, dan kita butuh bantuan orang untuk itu." Ujarku memberi penjelasan yang masuk akal.
Bagaimanapun juga aku tak mungkin mengatakan pada Sari jika Mbak Retno terlalu cantik untuk di sia siakan juga.
"Sudahlah Sayank kita nggak usah memikirkan hal yang aneh aneh dan membuat pikiran kita menjadi kurang nyaman, hubungan kita terlalu berharga untuk di campuri hal hal remeh semacam itu." Kataku lagi setelah Sari hanya diam saja.
"Aku mau pipis dulu." Ujar Sari sambil berlalu dan keluar dari office.
Jam dinding telah menunjukkan hampir pukul 12 tengah hari, dan kulihat di pelataran, kendaraan juga mulai berkurang secara signifikan. Namun beberapa orang masih mondar mandir membawa barang belanjaan mereka dari dalam toko ke kendaraan mereka hingga bahkan Riko ikut membantu.
__ADS_1
Kulihat dari dinding kaca yang berwarna hitam itu, Doni membawa dua kotak makan siang ke office.
"Boss !" Ujarnya cengar cengir sambil membuka pintu.
Aku hanya meliriknya sekilas selebihnya pura pura sibuk di depan layar komputer.
"Loh la bu boss mana boss, katanya tadi pindah ngantor kesini ?" Ujar Doni lagi sambil meletakkan dua tumpuk kotak makan siang aku dan Sari di meja sofa.
"Noh di belakangmu !" Ujarku.
Doni menoleh ke belakang dan mendapati Sari tengah berjalan mendekati kami.
"Halo bu boss, katanya sudah bosan ngitung duit yah hehehe?" Ujar Doni sambil tertawa.
"Oh bukan bosan Mas Doni tapi ngasih kesempatan yang lain buat nyoba posisi yang lain, kan sebentar lagi mau di tinggal pulkam." Ujar Sari sangat ramah.
"Lah trus nanti yang gantiin ngisi office siapa ?" Tanya Doni.
"Ya kamu sama Teh Yanah lah." Ujarku cuek dan mungkin terdengar nyelekit karena menyindirnya, Doni langsung terdiam dan raut wajahnya langsung berubah.
"Ney ney ney...maaf yah boss bukannya nolak tapi aku sudah nyaman di lantai dua bersama Dita dan Aliyah." Ujar Doni sambil terkekeh mencoba santai lagi.
"Menurutku hanya Imas boss yang pantas." Kata Doni tanpa basa basi.
"Hanya dia ?" Tanyaku lagi.
"Yah itu kan menurutku saja boss, kan dari kemarin kemarin juga dia kan yang ngisi office." Ujar Doni.
"Mas Doni saya mau tanya boleh nggak ?" Ujar Sari dengan tatapan mata malaikatnya yang tajam dan mengintimidasi.
"Bo..boleh bu boss tentu saja tanya apaan seh memangnya?" Balas Doni.
"Kemarin memang benar Mas Doni ngenalin tukang pijit tuna netra pada Mas Agung ?" Ujar Sari sambil tersenyum namun pandangan matanya menyiratkan sesuatu yang mengintimidasi.
"Eh anu bu boss memang benar, maaf soalnya kemarin itu boss terlihat lesu dan kurang semangat mungkin kelelahan karena tenaga terlalu diforsir siang malam jadi saya kenalkan teman saya tukang pijit tuna netra." Ujar Doni santai namun hampir tak bisa membuatku menahan tawa.
Untuk menahan tawa aku tak bisa pura pura cuek lagi, namun juga sengaja beraktivitas yang lain.
__ADS_1
"Tukang pijitnya cowok atau cewek ?" Tanya Sari lagi.
"Cowok bu boss." Jawab Doni lugas.
"Tapi katanya tukang pijitnya suami istri kan atau barangkali ada anak anaknya juga yang ikut mijit ?" Ujar Sari membuat Doni hanya bisa bengong, namun tawa yang telah lama tertahan akhirnya meledak juga.
"Sudah sudah, mas buruan makan siang saja dimana terserah mau gabung kita disini juga okey." Ujarku pada Doni untuk memberi kesempatan padanya untuk segera menyingkir.
"Oh oke boss saya mah sudah biasa maksi nya di pantry saja kok, tidak di tempat lain hehehe ya sudah permisi boss boss silahkan menikmati makan siangnya !" Ujar Doni sambil tersenyum ramah lalu segera beranjak dan bergegas pergi dari ruang office.
Sari akhirnya hanya bersungut sungut menatapku dengan perasaan kurang puas dan seakan masih ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Sudahlah Sayank tak perlulah secermat itu, kamu tau kan aku tak pernah ingin menyakitimu, yah meskipun ada banyak kekuranganku tapi yang jelas aku tak pernah ada niyat apapun untuk melakukan hal yang membuatmu sakit hati." Ujarku.
Sari hanya diam menghela napas lalu duduk di sofa.
"Tapi aku merasa kau sedang membohongi aku mas." Ujarnya lirih.
Aku mendekatinya lalu duduk di sampingnya.
"Seandainya itu aku lakukan Sayank, tapi tak ada niat untuk menyakiti hatimu tapi ini seandainya loh yah tapi untuk kasus pijit aku memang tak bohong kok aku memang pijat kemarin sama Doni juga." Ujarku.
"Tapi bukan pijat tuna netra kan ?" Tanya Sari.
"Pijat tuna netra kok Yank meski sebenarnya aku penginnya tukang pijatnya masih muda terus wanita yang agak cantik gitu tapi yah adanya itu ya mau gimana lagi." Ujarku terdengar sungguh sungguh dan kuberikan kesan jujur di raut wajahku.
"Masih mau macam macam...lagi !" Ujar Sari kembali menatapku tajam.
"Nggak Yank, aku nggak berani kalo ada kamu." Ujarku sambil tersenyum.
"Jadi kalo nggak ada aku, kamu mau semaunya gitu?" Ujarnya keras.
"Ya nggak juga gitu Sayank, aku mencintaimu dengan tulus mana mungkin aku punya niat begitu, tapi kalo kamu ijinkan beda ceritanya kan." Ujarku sambil terkekeh.
"Nggak akan, jangan pernah mimpi !!" Ujarnya sangat tegas.
"Iya sayank, iya aku juga nggak akan merugikan kamu kok karena begitu juga yang aku tuntut dari kamu Yank. Kita saling mencintai kan ?" Ujarku.
__ADS_1
Sari menatapku lalu hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah mari kita nikmati jatah makan siang kita Yank !" Kataku.