OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab Tertarik Bisnis Properti


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya aku memergoki keakraban antara Doni dan Teh Yanah, aku sebenarnya sedang naik ke atas untuk makan siang setelah Aceng memburu buru aku untuk segera ke tempat Pak Somad.


Aku mencoba berpikir positif dengan menduga keakraban mereka hanya bentuk kenyamanan dari sebuah jalinan pertemanan saja, namun setelah melihat situasinya dimana mereka tak segan saling menyentuh satu sama lain akhirnya dengan sendirinya pikiranku berubah.


Beberapa saat kemudian aku masih mengintip dari balik sekat yang menjadi pengaman bagian pantry dengan tangga sebelum aku merasakan sebuah getar langkah halus seakan sengaja di atur tengah mendekatiku.


Rasti baru saja akan mengejutkan aku dengan menepuk punggungku sebelum dengan cepatnya aku berbalik menatapnya dan membuat gadis itu terkejut dan hampir berteriak karena kaget, sebelum ku bungkam mulutnya untuk menjaganya agar tidak teriak.


Naasnya dari bawah aku melihat Sari, memergokiku ketika tanganku sedang membungkam mulut Rasti.


Sari hampir berbalik lagi dan tak jadi naik ke atas sebelum aku dengan cepat menyusulnya dan menarik tangannya.


"Yank tunggu biar ku luruskan dulu yang kamu lihat barusan." Ujarku lirih.


Sari tampak mencoba tenang meskipun aku tau hatinya tengah bergejolak. Aku melambaikan tangan kepada Rasti yang masih terbengong mungkin merasa bersalah.


"Teteh boss maafkan saya...tadi saya sebenarnya berniat usil ingin mengejutkan boss dengan menepuk punggungnya namun ternyata boss mengetahui niat saya dan justru mengejutkan saya." Ujar Rasti jujur apa adanya.


"Dan sebelum dia berteriak aku membungkamnya, kalian ingin tau apa yang kulakukan sebelum itu ?" Ujarku menimpali.


Sari hanya terdiam namun matanya menatap tajam kepadaku.


"Aku ingin tau kenapa Doni sangat akrab dengan Teh Yanah." Ujarku sangat lirih karena hanya ingin mereka berdua saja yang mendengar.


"Oh itu toh hihihi ini boss silahkan lihat kalo ingin tau, boss dan Teteh boss adalah orang pertama yang saya kasih tau." Kata Rasti sambil merogoh hp dari saku celananya semi denim yang di pakainya.


Beberapa saat Rasti mengutak-atik hp sambil matanya menoleh kiri kanan sebelum menyerahkan hp nya padaku menunjukkan sebuah video yang saat aku play langsung menunjukkan aktivitas tak senonoh dari Doni dan Teh Yanah bertempat di kamar kecil dekat office.


Sari yang ikut melihatnya langsung membungkam mulutnya sendiri. Meskipun wajah kedua pelaku tak kelihatan dengan jelas karena pengambilan gambarnya dari atas dan dari belakang punggung keduanya, Namun gambar kamera itu cukup jelas untuk menunjukkan kalo aktor video itu adalah Doni dan Teh Yanah.


"Kapan ini terjadi ?" Sebuah pertanyaan dari Sari yang sebenarnya kurang teliti jika lebih berpikir situasinya karena baru tiga hari kami aktif bekerja bersama itupun sudah di hitung sama hari ini, sesudah video di buat.


"Kemarin malam Teteh boss." Jawab Rasti lirih.


Aku mengembalikan hp kembali pada Rasti.


"Usahakan jangan sampai tersebar tapi jangan di hapus, dan diam saja usahakan lebih sedikit orang yang tau akan lebih baik." Ujarku sangat lirih pada Rasti.

__ADS_1


Akhirnya kekhawatiran ku jadi kenyataan juga.


"Sudahlah silahkan kalo mau makan bukankah kalian tadi mau makan ?" Ujarku sedikit getir.


"Baik boss, saya pamit ke atas duluan boss..Teh..." Kata Rasti lalu melangkah ke atas dengan cepat.


Aku jelas kecewa karena belum apa apa saja tokoku sudah di jadikan sebagai tempat untuk kegiatan tak senonoh.


"Apa yang akan mas lakukan setelah ini ? maksudku setelah mengetahui video itu ?" Tanya Sari.


"Entahlah Yank bingung aku." Ujarku.


"Ya sudah yuk ke atas makan dulu." Ujar kekasihku itu kali ini sudah tak terlihat sorot matanya yang tajam.


"Duluan saja bareng Rasti, kurasa aku di tunggu Aceng sekarang takut dia ngambek kalo kelamaan." Ujarku.


"Jangan lupa makan tapinya !" Kata Sari lalu pergi naik ke atas menyusul Rasti yang sudah duluan.


"Baiklah." Jawabku singkat saja sebelum aku juga bergegas pergi.


Kulihat toko sudah mulai agak sepi meski ada beberapa pengunjung yang datang. Aku menyempatkan untuk melihat stok barang yang ada di etalase yang ternyata telah susut banyak di hampir semua gerai. Dengan begitu aku punya pertimbangan sendiri untuk porsi barang yang aku order ulang nantinya.


"Eh boss..." Ujar Farid ketika melihatku datang menghampiri mereka.


"Sudah silahkan santai saja, oh iya gimana kamar mandinya apakah ada kesulitan ?" Tanyaku basa basi.


"Sulit apanya itu lihat sudah jadi tinggal pasang keramik saja nanti sore juga kelar." Aceng lah yang berkata menjawab ku.


Aku kemudian menyempatkan untuk melihat pekerjaan dua orang yang terlihat lugu itu, ternyata mereka berhasil memanfaatkan ruang minimal itu sebaik baiknya dengan memaksimalkan ketinggian sehingga meskipun ruangan tiga kamar mandi yang di buat persegi dengan ukuran sisi sisinya masing masing 1,5 meter itu tetap tidak terlalu sumpek.


Secara umum pekerjaan mereka sangat rapi dan efisien terlihat dari minimnya sisa sisa bahan bahan adukan plesteran, intinya semuanya membuatku puas.


"Bro, kamu tertarik jadi pemborong dan pengembang bangunan nggak seperti yang kulakukan kemarin ?" Tanya Aceng tiba tiba.


"Maksudnya gimana ?" Tanyaku karena aku bingung dengan maksud Aceng.


"Gini saja kamu tertarik bisnis properti nggak ? aku ngomong gini karena aku tau kamu punya modalnya bro tidak seperti aku yang hanya modal dengkul saja." Ujar Aceng.

__ADS_1


"Misalnya aku tertarik lalu gimana ?" Tanyaku.


"Aku pastikan mereka mereka ini akan bergabung menjadi anak buah kamu, saat ini mereka sedang terlantar Bro karena aku memutuskan berhenti. Mereka bilang sama pemborong yang sekarang mereka banyak dicurangi yang akhirnya mereka memilih nyari proyek sendiri sendiri." Kata Aceng.


Aku menatap kedua orang itu yang menundukkan kepalanya yang berarti mereka tak menyanggah pernyataan Aceng barusan.


"Okey soal aku jadi pemborong atau nggak kita putuskan nanti tapi setelah ini aku bisa ngasih proyek dulu bikin gudang beras dan renovasi tempat penggilingan dalam waktu dekat ini bagaimana ?" Ujarku.


"Tentu Ak, dengan senang hati kami siyap akan melakukannya." Jawab Suhendi yang dari diantara berdua dia yang paling vokal bersuara.


"Baiklah nanti kumpulkan dulu berapa jumlah teman kalian semuanya sambil berjalan nanti biar aku bicarakan sama Aceng dulu untuk menjadi manajemen kalian. Anggap saja proyek yang kuberikan ini sebagai uji coba dulu." Ujarku.


"Iya Ak trimakasih banyak, kami memang sangat membutuhkan pekerjaan yang menjanjikan sekarang ini." Kata Suhendi.


"Baiklah sekarang Aceng aku pinjam dulu yah karena ada beberapa urusan yang harus kami kerjakan, tolong itu di selesaikan dulu kalo butuh bantuan hubungi saja teman kita yang bernama Trimo nanti kalo kurang paham bisa minta tolong teteh yang jaga kasir itu buat memanggilkan." Ujarku.


"Teh Dewi maksud Aak ?" Tanya Suhendi.


"Betul, mamang bisa minta tolong ke dia jika mamang berdua butuh apa apa." Ujarku.


"Baik Ak trimakasih." Ujar Suhendi sementara Farid hanya tersenyum dan mengangguk saja.


"Masih ada waktu seperempat jam lagi jika mamang berdua masih ingin beristirahat, tapi sekarang kami akan pamit dulu yah." Ujarku.


"Iya Ak silahkan hati hati !" Ujar Suhendi.


Beberapa saat kemudian Aceng sudah melajukan mobilku menyusuri jalan pinggiran kampung untuk sengaja melewati tempat penggilingan padi kami yang tepat berada di pinggir kampung sebelah.


Disana kulihat hanya ada Mang Darom saja mungkin Mang Ujang dan Mang Syarif belum kembali. Entah kenapa aku jadi trenyuh ketika berhadapan dengan Mang Darom yang juga suaminya Teh Yanah, mengingat baru saja aku mengetahui apa yang di lakukan istrinya di belakangnya.


"Mang sudah makan siang belum?" Tanyaku, sementara Aceng langsung melihat pembukuan.


"Sudah boss, kebetulan saya bawa bekal makanan sendiri dari rumah." Jawab Mang Darom sambil menunjukkan sebuah box nasi yang sudah kosong isinya dan sudah di cuci bersih.


"Oh gimana Mang kira kira betah tidak kerja seperti ini ?" Tanyaku.


"Betah tidak betah ya harus betah boss demi anak anak yang masih butuh di suapi nasi hehehe." Ujar Mang Darom tanpa menyebut istrinya, mungkinkah dia sudah mengetahui kelakuan istrinya.

__ADS_1


"Ahhh...." Keluhku dalam hati.


"Sabar dulu yah mang, sebentar lagi tempat ini akan jadi pabrik beras dan Mamang bertiga akan sangat kerepotan." Ujarku


__ADS_2