
Ketika hari sudah menginjak waktu setengahnya, urusanku lobi lobi dengan para relasi mendiang ibuku di pasar sandang yang konon merupakan yang terbesar di seluruh negara setelah Tanah Abang ini hampir selesai.
Beberapa vendor bahkan bersedia menjadi supplier eksklusif buat usahaku nantinya yang mana mereka telah berjanji akan memberikan kemudahan untuk membuat usahaku agar berkembang. Dengan beberapa insentif selain rabat dan diskon harga serta informasi seluasnya mengenai divisi kreatif mereka.
Sebelum makan siang aku sempatkan dulu untuk ikut sembahyang jamaah di masjid besar yang letaknya tepat di depan pasar sandang itu. Sekaligus mengenang kembali masa lalu di mana saat itu bapak dan ibuku mengajakku nonton festival sekaten keraton, kami transit di masjid besar ini setelah kami capek berkeliling sambil menunggu bapak yang numpang sembahyang.
"Ahhh ibu....betapa aku sangat merindukan sosok beliau." Ujar hatiku sesaat setelah aku selesai membasuh anggota tubuhku dengan air wudlu.
"Saat itu bahkan Anis masih bayi." Gumamku dalam hati saat melihat tempat di mana kami dahulu istirahat lalu menikmati jajanan yang ku beli sambil berlarian dengan bebasnya meski saat itu banyak sekali orang lalu lalang.
Jujur andai waktu bisa di putar, aku ingin kembali ke masa masa itu lagi. Masa di mana aku merasa hidup ini hanyalah tentang kebahagiaan karena curahan kasih sayang yang penuh.
Selesai sembahyang aku berjalan keluar beriringan dengan orang orang yang juga baru saja menunaikan kewajiban masing masing. Aku masih harus memutar cukup jauh karena mobilku ku parkir di area barat pasar. Beberapa saat berjalan, hp ku bergetar dan berdering saat kulihat ternyata sebuah panggilan dari nomor yang tak di kenal.
"Hallo selamat siang..." Sapa ku lirih setelah agak menepi dari lalu lalang orang
"Halo pak selamat siang, maaf apa benar dengan Bapak Sumarno." Jawab seorang wanita di hp.
"Benar ibu... kebetulan saya putranya...ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku.
"Iya pak gini, kami dari dealer TJ motor mau memberi tahukan bahwa motor yang anda indent sudah tersedia dan siyap di kirim nanti sore." Ujar wanita yang ternyata adalah customer service Tj motor.
"Oh iya mbak siyap, maaf kalo pelunasannya saya transfer saja gimana mbak, soalnya saya masih di luar kota." Ujarku.
"Baik mas, setelah ini saya kirim rekening resmi kami pak dan untuk pelunasan motornya yang anda pesan tipe xxx, masih kurang 18 juta 400 ribu lagi yah pak nanti tolong di kirim ke nomor rekening yang saya kirimkan, trimakasih." Ujar wanita itu sambil mengakhiri panggilan setelahnya.
Beberapa saat kemudian hp ku kembali berdering notif aplikasi pesan instan hijau alias WA, segera ku buka lalu menyalin nomor rekening itu ke memo dan setelah itu aku transfer sejumlah duit yang di minta ke nomor rekening itu lalu kuberikan bukti transfernya sebagai balasan chat.
Hanya beberapa detik berikutnya hp ku kembali berdering dan bergetar, kali kulihat Mbak Sari yang menelpon ku.
__ADS_1
"Mikum sayank...." Ujarku lirih.
"Walaikumsalam.. hayoo lagi online nan sama siapa?" Ujar perempuan yang sebentar lagi akan jadi wanitaku itu terdengar ketus.
"Loh kok tau aku baru saja buka wa mbak... hehehe." Ujarku tertawa geli.
"Jawab dulu tadi barusan online nan ma siapa??" Ujarnya memaksa.
"Dengan dealer mbak, kemarin Anis kan minta di beliin motor trus harus indent dulu nah hari ini motornya sudah ada jadi dealer nagih pelunasannya." Ujarku menjelaskan yang sebenarnya.
Dari dulu aku berpikir wanita adalah makhluk yang rumit dan slalu susah di tebak, jadi lebih baik main aman dengan menuruti maunya saja.
"Oh gitu... kamu sekarang lagi di mana mas kok kaya ramai gitu?" Tanya Mbak Sari mulai lembut.
"Di pasar sandang kotamadya sayank...aku lagi membuka koneksi dengan boss boss di sini untuk usaha kita nantinya." Jawabku.
"Uh sebulan lagi juga belum tentu sudah kelar tadi saja baru bikin atap." Jawabku.
"Mas aku ingin ikut kamu ke Subang..." Ujarnya.
"Ya boleh tapi urusan gugatan gimana? memang bisa di tinggal?" Kataku.
"Tadi Mas Riyan sudah bawa seorang pengacara, katanya seh bisa dan pasti gugatan ku akan di kabulkan karena buktinya sudah kuat. Apalagi..." Ujar Mbak Sari tanggung.
"Apalagi apa sayank...?" Tanyaku ga sabar.
"Sudah ah nanti mas pasti tau sendiri. Gini mas aku ingin minta tolong, kan biaya mengurus perceraian ini mungkin akan habis 5 jutaan lebih kata Mas Riyan."
"Kirimkan nomor rekening kamu yank...!" Ujarku langsung tanggap akan maksudnya.
__ADS_1
"Ihhh...aku ga punya mas...dulu punya tapi paling juga sudah hangus karena ga pernah di deposit. Lagipula memang kamu ga mau kesini...bilang apa kek sama Mas Riyan...dia tadi nanyain kamu terus loh mas." Ujarnya.
"Ya deh memang besok besok juga aku rencananya mau ke Ambarawa tapi khusus buat ketemu sama cintaku saja bukan buat ketemu Mas Riyan hehehe." Ujarku.
"Iya itu aku juga tau mas...tapi Mas Riyan dan Mbak Wati pengen ngobrol sama mas...kayanya memang mas ga mau nemuin mereka." Kata Mbak Sari.
"Iya sayank mau kok... pokoknya kalo yang ada hubungannya sama kamu aku mau mau mauu dan ga akan tawar menawar." Ujarku, Mbak Sari tertawa.
"Baiklah besok aku kesana sayank, mungkin sekalian pamitan sama camer sekaligus mohon ijin untuk menculik kamu gimana okey kan...?" Ujarku, lagi lagi Mbak Sari hanya tertawa renyah.
"Iya mas cintaku aku tunggu yah, jangan nggak loh ! awas bohong !!! " Ujar Mbak Sari kemudian.
"Iya nyonya iya...." Ujarku.
"Nyonya Agung kan...?" Ujarnya.
"Insyaallah.... Aminnn... eh yank kamu sudah makan belum?" Tanyaku.
"Sudah mas tadi...kamu belum yah? ya sudah buruan cari makan...kalo urusan sudah selesai terus pulang saja yah mas kasihan bapak repot di rumah." Ujarnya seperti manajer.
"Siyap Ndan..."
"Ya sudah aku tutup yah mas.. mmmuaaccchhh.." Ujar Mbak Sari yang terakhir selalu bikin aku melayang.
"mmmuaaccchhh..." Balasku, cuek dengan beberapa orang yang senyum senyum menatapku mungkin di sangka mereka aku hanya orang alay, tapi bodo amat lah yang jelas hatiku lagi penuh dengan bunga sekarang.
Tapi tadi kok masih ada yang ganjal di hati yah tapi apa....tadi Mbak Sari bilang apalagi....itu apalagi soal apa....hahhh bikin rungsing aza.
Kembali ku langkahkan kaki menyusuri trotoar sebelum menyeberang jalan lalu ke tempat parkiran barat di mana aku menempatkan mobilku, lalu ku lajukan mobilku setelah membayar retribusi parkir, menyusuri jalan kawasan keraton yang pernah menggoreskan sepenggal kenangan buatku.
__ADS_1