OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 26 Mohon Izinkan Ibuk


__ADS_3

Mbak Sari tiba tiba saja menjadi pendiam, tak terlihat lagi sifat dominan dalam dirinya seperti yang biasa tunjukkan dalam setiap kebersamaan kami. Dia lebih terkesan diam dan pasrah saja saat aku terus mengecup dan menciumi bagian kepalanya yang biasanya dia akan segera terangsang.


"Mbak....?" Bisikku.


"Hemmm ...mulai sekarang aku ga mau dengar kau memanggilku mbak lagi...mas..." Jawabnya.


"Pernikahan aku dengan Farhan itu benar benar suatu kesalahan dan kebodohan ku yang fatal. Entah bagaimana bisa aku menikah dengan seorang pria yang sama sekali tak memiliki hasrat terhadap aku. Aku bodoh sekali....." Ujar Mbak Sari lirih, menumpahkan segenap perasaannya saat ini.


"Tapi bukankah kita bisa berjumpa gara gara kau menikah dengan dia sayank... seandainya kau tak menikah dengan Mas Farhan entah bagaimana caranya aku akan bisa menemukan bidadari seperti kamu." Ujarku.


Wanita berparas sempurna menurutku itu, mendongakkan kepalanya menatap wajahku, namun sama sekali tak beringsut dari dekapanku.


"Jadi mas tak merasa jijik padaku?" Tanyanya dengan sorot matanya yang mampu menembus kedalaman hatiku langsung


"Kenapa jijik? aku justru jijik dengan Mas Farhan dan kelakuannya yang menyimpang. Meski di sisi lain aku jadi bersyukur karenanya. Tau nggak sayank...kemarin aku sempat merasa jadi orang paling jahat dengan menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian, bahkan bapakku juga melaknat ku saat itu. Namun kini aku lega karena aku tak sepenuhnya bersalah." Ujarku.


"Farhan sendiri yang begitu bodoh dan tidak bersyukur karena telah membuang seorang bidadari yang justru aku sangat sangat bersyukur karena menemukannya." Ujarku lagi melanjutkan.


Mbak Sari hanya terdiam sesaat sebelum beringsut membalikkan badannya lalu merapat dan kemudian memelukku erat erat, membenamkan wajahnya di dadaku. Sempat kulihat air matanya sudah meleleh di pipinya.


"Trimakasih mas sudah hadir untuk menyelamatkan hidupku." Ucapnya melow sambil menatapku.


"Sama sama sayank...aku juga sangat trimakasih karena sudah menerimaku. Dulu itu hehehe andai kau tak menerimaku belum tentu kita berada dalam situasi dan kondisi seperti saat ini." Ujarku sambil mempererat pelukanku.


Sari kembali meletakkan kepalanya di dadaku.


"Yank....." Ujarku lirih.


"Iya mas cinta kenapa?" Jawabnya tanpa menatapku.


"Katanya Mas Riyan dan Mbak Wati mau kesini, kapan?" Tanyaku.


"Kenapa nanyain mereka, kemarin mereka baru saja dari sini." Jawabnya santai.

__ADS_1


"Kamu bilang Mas Riyan ingin bicara padaku, tentang apa kira kira?" Tanyaku.


"Ya nggak tau kan kan Mas Riyan yang mau ngomong bukan aku." Jawabnya cuek sambil mengeratkan pelukannya atas tubuhku.


"Ihh kamu ini pinter aza jawabnya ku pencet hidungmu nih...." Ujarku yang membuat Sari tertawa.


"Kalo mas penasaran samperin aza ke rumah mereka, mumpung mereka lagi libur." Ucap Sari kemudian.


"Baiklah ayolah kita berangkat !" Ujarku.


"Kenapa mas jadi terburu buru gitu...slow aza keles." Kata Sari menggemaskan.


"Bukan gitu sayank...soalnya aku ingin hari ini semua urusan bisa terjangkau semua, karena rencananya paling lambat lusa aku sudah harus berangkat ke Subang." Ujarku, kali ini sukses menyita perhatiannya hingga dia langsung menatapku serius.


"Beneran mas...tapi aku belum persiapan kok mendadak gitu." Ujarnya heboh, membuatku tertawa geli.


"Memang beneran yank kamu mau ikut?" Tanyaku pura pura belum paham keinginannya.


"Ibuk sudah tau belum kalo kamu ingin ikut aku ke Subang yank...?" Tanyaku.


"Sudah seh. Tapi biar lebih pas jika mas sendiri yang bilang sama mama, jika mas ingin membawaku bersama mas." Ujarnya ringan dan terkesan membalikkan fakta kalo justru akulah yang ingin membawanya bersamaku bukan sebaliknya dia yang ingin ikut bersamaku.


"Baiklah kalo gitu...ayo ngomong sekarang saja. Ini ibuk lagi ngapain seh yank kok dari tadi di dapur ga keluar keluar ?" Ujarku, namun langsung terdengar suara orang berdehem dari balik tembok ruang tamu tempat kami berdua.


Sari hanya tertawa geli melihat wajahku yang sedang terbengong. Tak lama kemudian beliau yang sedang kami bicarakan sudah hadir di hadapan kami. Aku berusaha buru buru melepaskan pelukan Sari yang hanya cuek saja dengan kehadiran mamahnya.


"Nduk...kamu kok ga kasihan sama kangmas mu? tempat duduk lega gitu kok ndusel ndusel." Ujar Ibu Lastri mama Mbak Sari, yang lalu meletakkan dua buah piring berisi pisang goreng di meja.


Sari lalu berdiri sejenak dari duduknya yang di pangkuan ku kemudian duduk di sebelahku namun tetap sangat rapat.


"Nduk tolong kamu siyapkan makan siang yah !" Ujar Ibu Lastri sembari duduk di kursi sofa seberang meja.


Beliau rupanya menyiratkan hendak bicara empat mata saja denganku. Tak banyak cakap, Sari melaksanakan perintah mamahnya sekaligus meninggalkan aku bersama mamahnya.

__ADS_1


"Ayo nak ..di cicipi goreng pisangnya ! Tadi Sari sendiri yang menggorengnya kok jadi sudah dingin." Ujar beliau, aku hanya tersenyum dan mengangguk.


"Trimakasih ibu...ehm maaf ibu bolehkah saya mohon ijin ibu untuk mengajak Sari ke Subang, karena saya sedang berusaha membuka usaha di sana, dan saya butuh bantuan Sari untuk mengaturnya." Ujarku langsung tanpa basa basi lagi karena aku yakin beliau sedikit banyak sudah paham apa yang aku dan Sari bicarakan tadi.


"Oh jadi anakmas punya usaha di Subang ?" Tanya beliau.


"Benar ibu...saya sedang merintis usaha yang dulu pernah almarhumah ibu saya jalankan berdagang jamu dan sandang, kali ini pun sama ibu seperti itu tapi mungkin sedikit lebih besar jadi saya berniat mengajak calon istri saya untuk menjalankan itu, tapi tentu saja dengan ijin dari ibuk." Ujarku.


"Tapi apa tidak lebih baik setelah kalian menikah dulu baru kau bawa istrimu kesana nak..." Jawab Ibu Lastri menanggapi.


"Tentu saja itu lebih baik ibu, namun sekarang ini saya benar benar membutuhkan seseorang yang akan menjadi pengatur pembukuan, dan saya berpikir tidak ada yang lebih tepat selain calon istri saya sendiri, karena saya dengar Sari juga ada pengalaman kerja di sebuah butik di Semarang." Ujarku.


"Disana nanti tinggalnya bagaimana nak, apa ngontrak atau gimana maafkan ibuk bertanya begitu?" Ujar Ibu Lastri.


"Kami nanti akan menempati rumah peninggalan dari almarhumah ibu saya ibuk, sementara teman teman yang lain nanti akan menempati rumah yang saya buat untuk akomodasi mereka." Ujarku.


"Kalo misalnya Ibuk atau kakaknya kangen Sari terus ingin kesana apakah boleh nak?" Tanya beliau entah bergurau atau serius.


"Tentu saja boleh ibuk, justru kami akan senang sekali menyambutnya bahkan jika ibuk kersa tinggal bersama kami itu akan lebih baik." Ujarku.


"Lalu Sari sendiri gimana kira kira...?" Tanya Ibu Lastri kemudian.


Aku bingung harus jawab apa karena pertanyaan ini sebenarnya bukan untukku.


"Tentu saja aku mau mamah, bukankah aku sudah bilang mamah kalo aku ingin ikut Mas Agung, bahkan kemanapun dia pergi aku akan ikut." Sahut Sari yang tiba tiba saja sudah berada di dekat kami.


"Tapi mamah nanti jadi kesepian?" Keluh Ibuk Lastri.


"Kan biasanya juga mamah di temani Bude Karto." Jawab Sari sambil nimbrung duduk kembali di sebelahku.


"Atau kalo nggak, bagaimana kalo ibuk ikut kami saja. Kami akan senang sekali ibuk." Ujarku menambahkan


Perubahan mood terlihat jelas di wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya itu.

__ADS_1


__ADS_2