
Keesokan paginya kami memulai aktivitas seperti biasa, meskipun aku tidur lebih larut dari biasanya karena harus meluangkan waktu untuk melatih pernafasan setidaknya selama dua jam. Namun kurasakan justru tenagaku semakin terasa lebih besar dari biasanya.
Imbasnya pun membuat badanku penuh vitalitas dan energi meski waktu istirahat sangat jauh berkurang. Badanku rasanya lebih enteng dan segar, bahkan atau mungkin hanya perasaanku saja aku merasa ilmu sapta indra ku juga semakin tajam, yang membuatku kangen untuk pergi ke kasino lagi.
"Wuih si boss sudah selesai jogging saja hehehe." Ujar Aceng sambil tersenyum usil, dia terlihat baru bangun dari tidurnya dengan segelas kopi hitam tepat berada di hadapannya.
"Ya aku mah jiwa sport boss Aceng emang situ jiwa molor." Ujarku lalu duduk di dekatnya.
"Butuh ngopi elu...?" Ujarnya setelah melihat aku tengak tengok.
"Haus butuh air putih saja aku, dimana yah ?" Ujarku.
"Noh di sumur samping rumah hahahaha." Ujarnya sambil tertawa ngakak.
"Elu nggak kurang sajen kan semalam, kok tumben pagi pagi sudah banyak tawa aza kaya si Mamat gkgkgkk..." Ujarku sambil terkekeh setelah menyamakan sahabatku itu dengan seorang yang memiliki gangguan jiwa di kampung ini.
"Setan Lu...!!!" Ujarnya bersungut sungut.
"Bro, kita butuh nambah kamar kecil di toko kira kira bisa nggak ?" Tanyaku mulai serius.
Aceng terlihat diam seolah tengah berpikir.
"Bisa seh tapi cuma kamar mandi saja ga pake wc." Jawabnya.
"Gapapa lah yang penting bisa buat kencing kita." Ujarku.
"Okey nanti juga bisa di mulai lah." Kata Aceng.
"Suruh saja anak buah kamu ngerjainnya, kamu di perlukan di toko jadi nggak perlu ngurusin itu, kasih saja gambar dan alat alat yang diperlukan, sudah." Ujarku.
"Trus sawah Somad jadi di ambil...?" Tanyanya.
"Lah semalam katamu suruh ambil kan, ya sudah nurut." Ujarku.
"Terus ke tempat Somad nya kapan ?" Tanyanya.
"Menurut Lu kapan baiknya kita kesana siang ini apa nanti malam ?" Tanyaku.
"Siang lah, kita sudah kecapekan kalo malam, sudah malas ngapa ngapain." Jawabnya sambil lalu menyeruput kopi hitamnya.
"Ya sudah, dah ah aku mau mandi dulu." Ujarku sambil ngeloyor pergi meninggalkan Aceng.
Sampai di rumah ternyata Sari juga sudah selesai memasak sarapan buat kami.
"Sepagi ini sudah selesai bikin bakwan Yank, hebat bener kamu." Ujarku sambil mencomot sepotong goreng bakwan yang masih hangat karena belum lama di angkat dari penggorengan setelah selesai minum air mineral botol dingin dari kulkas.
"Abisnya bingung mas mau masak apa, kemarin nggak belanja soalnya." Ujarnya.
"Ya sudahlah Yank seadanya saja gapapa asal masakan kamu pasti istimewa kok." Kataku sambil mencomot sepotong bakwan yang Sari isi adonan tepungnya dengan beberapa jenis sayuran itu.
Sari kulihat hanya nyengir dan tersenyum, sebelum aku mencium pipinya dan berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
"Ihhh usil pipiku di kasih minyak." Ujarnya sambil pura pura cemberut.
"Yank nanti aku apa kamu yang ke bank nya ?" Tanyaku dari kamar mandi.
"Kamu saja mas." Jawabnya mantab.
"Mas ini bakwan nya kayaknya kebanyakan untuk kita saja, apa sebagian di kasih ke Dewi yah tapi kalo nggak enak rasanya gimana ?" Ujar Sari.
"Enak kok Yank itu enak banget malah sudah anterin saja ke mereka tapi sisain juga buat kita." Ujarku.
Sebentar kemudian sudah tak terdengar suara Sari beraktivitas, mungkin ia sudah keluar ke tempat Dewi.
Akupun segera menyelesaikan acara mandi pagiku yang memang tergolong lama.
Jam dinding baru pukul setengah tujuh ketika aku keluar dari kamar mandi, sementara Sari sudah selesai menyiapkan sarapan kami di meja makan.
"Sudah kamu antar Yank bakwannya ?" Tanyaku.
"Sudah, tapi aku malah di kasih ini mas." Jawabnya sambil menunjukkan sepiring kue awug yang terbuat dari tepung beras dan di kasih isian gula merah yang masih ngebul asapnya.
"Oh itu awug Sayank enak loh, dapat bikin Mih Onah apa beli itu ?" Tanyaku.
"Bikin mas katanya, tadi baru di angkat dari kukusan kok, sebenarnya mau di kasih parutan kelapa dulu tapi aku nggak mau." Ujar Sari.
Aku tersenyum dan mengacungkan jempol saja sebelum masuk ke kamar untuk berganti baju. Sari tiba tiba ikut masuk ke dalam kamar dan melihatku yang sedang telanjang bulat.
Sari hanya menatapku nanar.
Sari hanya diam tak berucap apapun namun jelas terlihat raut wajahnya yang memerah, seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya.
Aku segera memakai seluruh busanaku, barulah setelah itu Sari memberanikan diri untuk menyentuh bagian gundukan celana boxerku.
"Janji yah ini hanya khusus untukku." Ujarnya.
"Okey boss hanya ini sajakah boss ?" Tanyaku sambil tersenyum menatap wajah cantiknya.
"Semua donk... pokoknya aku tak mau mendengar ada kata perselingkuhan dalam hubungan kita." Ujarnya.
"Deal. Janji yang sama ku minta dari kamu sayank okey...?" Kataku.
"Okey...deal .." Jawabnya.
Kami pun berjabat tangan sambil saling tersenyum, namun saat aku hendak mencium bibirnya Sari menolak dengan langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Aku belum mandi mas, masih bau..." Ujarnya.
"Ahh gak pake" Ujarku sambil menyingkirkan tangan yang menutup bibirnya sebelum kemudian aku menciumnya.
Namun hanya sejenak saja karena kemudian Sari segera berlalu ke kamar mandi. Selama menunggu kekasihku yang sedang mandi aku gunakan waktu untuk menelpon bapakku di kampung.
Meskipun aku sering berhubungan dengan adikku di kampung tapi jarang sekali ikut mendengar suara bapakku langsung karena kebanyakan Anis saja yang berbicara itupun dalam durasi terbatas karena kesibukan.
__ADS_1
Hingga aku menyuruh Anis untuk membelikan hp sendiri buat bapak, yang kemudian hp jadul lah yang di beli Anis untuk bapak dengan alasan percuma di kasih smartphone jika hanya untuk di gunakan telponan saja.
"Bagaimana kabarnya Pak ?" Tanyaku.
"Baik nak, kamu sama Sari baik baik kan disana ?" Balas Bapak.
"Alhamdulillah pak, usaha kami juga sudah berjalan dan mulai mendapatkan hasil juga." Ujarku bercerita pada Bapakku.
"Alhamdulillah, bapak juga slalu berdoa smoga usaha kalian lancar terus kok nak." Ujar Bapak.
"Kemarin katanya Bude Marni sempat marah ke Bapak yah ?" Tanyaku.
"Iya tapi gapapa hanya sekedar melampiaskan kekecewaan saja." Jawab Bapak terdengar biasa saja.
"Rumah gimana Pak sudah rampung ?" Tanyaku.
"Iya kemarin rampung tapi hari ini mulai ngerjain pagar dan mlester halaman." Ujar beliau.
"Lah memang duitnya masih cukup Pak ?" Tanyaku.
"Iya nak sisanya masih cukup banyak, masih 200 jutaan lebih dikit, jadi Bapak sekalian bikinkan pagar dan mlester halaman biar rapi sekalian." Kata beliau.
"Brarti nambah ongkos tukang lagi yah pak ?" Tanyaku.
"Iya, tapi yang sekarang Bejo minta di bayar harian saja, soalnya kerjaannya tinggal sedikit, anak buahnya juga sebagian sudah di kurangi olehnya." Ujar Bapak.
"Kalo gitu nanti kalo duitnya kurang minta saja padaku pak, ini disini juga habis beli penggilingan padi dan sawah lagi kok pak, dan nanti juga malah ada yang mau gadein sawah ke kita juga." Ujarku.
"Walah...ya sudah yang garapnya masih Suryadi juga kan nak ?" Tanya beliau.
"Iya pak tapi kalo nanti ambil yang sawah gadean yang garap yang punya sawahnya sendiri." Jawabku.
"Terus kamu dapat hasilnya berapa ?" Tanya beliau.
"Katanya seh sepertiga an bagiannya pak." Jawabku.
"Lalu kalo gagal panen ?" Tanya beliau.
"Nah itu yang belum di sepakati pak, nanti baru mau di bicarakan sama yang punya sawahnya." Jawabku.
"Baiklah hati hatilah nak, jangan grusa grusu meskipun duit kita banyak tapi tetap pakai hitungan." Ujar beliau menasehati.
"Baiklah pak, nanti aku akan hati hati." Ujarku.
"Ya sudah kalo mau mulai aktivitas silahkan, oh iya Sari mana ?" Tanya beliau.
"Lagi mandi pak orangnya, bapak mau bicara sama Sari ?" Tanyaku.
"Ya sudah sampaikan salam bapak saja padanya, pesan bapak jaga hubungan kalian yah saling rukun kalo salah ya jangan segan untuk minta maaf." Ujar Bapak selalu rempong kalo soal itu.
"Baiklah pak, pokoknya semua nasehat bapak akan slalu aku ingat dan patuhi, kalo gitu Agung mohon diri dulu yah Pak, Bapak juga baik baik slalu di rumah dan jaga kesehatan nggak usah terlalu capek." Ujarku.
__ADS_1
"Ya nak...hati hati slalu yah jaga diri kalian !" Ujar Bapak sebelum aku mengakhiri panggilan.