OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 116 Kerusuhan Di Hari Pembukaan


__ADS_3

POV AUTHOR


Pagi menjelang siang, suasana semakin dipenuhi dengan kesibukan, mengingat acara hiburan tinggal beberapa saat lagi. Agung yang justru tak banyak kerjaan memilih pergi ke toko dan menghubungi beberapa relasinya sebelum hp nya berdering.


Di lihatnya sesaat panggilan video dari Sari.


"Iya Yank...gimana...?" Tanya Agung setelah menerima panggilan itu.


"Mas, kamu di office? Orang disini lagi repot begini malah di tinggal ke office." Ujar Sari agak menggerutu.


"Ini Yank, besok kan kita sudah libur jadi aku sempatin dulu hubungi beberapa relasi kita biar mereka nggak kaget nanti, soalnya yang di Tanah Abang dan Cipulir kemaren taunya cuma Doni." Ujar Agung sambil ngecek inventarisnya dari komputer.


"Ya sudahlah, aku tutup dulu yah Mas, ini lagi repot banget." Ujar Sari.


"Okey honey...." Jawab Agung sambil bergaya mencium kekasihnya itu.


Belum lama Sari menutup panggilan, dari pintu gerbang yang terbuka sedikit pintunya muncul, Agung melihat Tyas yang wajahnya semringah sambil melangkah mendekat ke arahnya, setelah menutup pintu gerbang rapat rapat.


Agung segera keluar dari office dan berlari ke arah Tyas yang melangkah menuju kepadanya.


"Kok Teteh bisa kesini, tau darimana aku disini?" Ujar Agung agak sedikit panik.


Ia jelas takut setengah mati, jika ada orang yang memergoki Tyas masuk ke komplek toko kemudian mengadukannya pada Sari.


"Santai Ak, ga ada yang tau kok aku kesini, karena tadi aku pamitnya mau ke pasar." Ujar Tyas sambil senyum senyum.


Pada akhirnya mereka saling mendekat berhadapan lalu saling tersenyum dan kemudian berpelukan.


"Kamu benar benar nekad, Tyas." Ujar Agung sambil membelai sedikit rambut kemerahan Tyas yang di sanggul rapi itu setelah beberapa lamanya mereka beradu bibir.

__ADS_1


"Aak tau nggak, setelah pertemuan kemarin di Artemis itu aku slalu teringat akan dirimu dan sama sekali tak dapat melupakanmu." Ujar Tyas.


"Ayo masuk ke mobil ! mobil kamu di tinggal di rumah Aceng kan ?" Ujar Agung.


"Iya Ak, aku parkir di bawah pohon mangga." Jawab Tyas.


"Ya sudah, aman kok ayo...!" Kata Agung sambil menarik tangan Tyas, namun baru beberapa langkah Agung teringat belum mengunci pintu office nya.


"Sebentar Sayank, aku kunci pintu office dulu yah, kamu ke mobil saja." Kata Agung, lalu berlari kecil kembali ke office untuk menshutdown layar komputernya, dan mematikan lampu ruangan lalu keluar dengan tak lupa mengunci pintu office.


Seperti orang yang sedang mabuk cinta mereka berdua lalu saling berangkulan dan melangkah ke mobil suv milik Agung.


"Kita akan kemana Ak?" Tanya Tyas setelah duduk di kabin depan samping kemudi, sementara Agung hanya tersenyum tak menjawabnya lalu melangkah dan membuka gerbang lebar lebar.


Setelah mengeluarkan mobil sejenak dan menutup gerbang dan menguncinya lagi Agung segera melajukan mobilnya ke penggilingan padi yang tentu saja saat ini sedang di tutup karena seluruh penghuninya sedang berkumpul di rumah Aceng.


"Tadi Sari, tau aku di toko takutnya ia datang dan memergoki kita." Kata Agung setelah sekian lama.


"Mumpung ada kesempatan kita pacaran sejenak yah di penggilingan, waktu tinggal sedikit banget soalnya jadi nggak bisa jauh." Kata Agung.


"Haduh Ak, tapi aku lagi dapat bulanan ku sekarang gimana donk...ini kalo Aak nggak percaya." Kata Tyas sambil meraih tangan kiri Agung lalu meletakkannya tepat di tengah selangkangannya yang masih terbalut celana semi denim tipis namun masih bisa merasakan kalo di balik itu ada beberapa lapisan empuk yang melindunginya.


"Ya nggak apa apa kok Sayank, cuma ingin sekedar romantisan saja sejenak, setelah itu kita kembali." Kata Agung yang dalam hatinya sangat lega karena terbebas dari semacam tuntutan yang membelenggu hatinya.


Agung sengaja lewat memutar untuk menghindari kerumunan orang di sekitar panggung untuk hiburan yang telah rampung di siapkan.


Kecantikan wajah Tyas yang mungkin selevel dengan kecantikan wajah seorang artis cantik ibukota yang sering nampang di tv tv berinisial WG jelas membuat Agung tak bisa mengabaikannya begitu saja.


"Ak itu penggilingan padi milik Aak juga?" Tanya Tyas.

__ADS_1


"Iya Sayank, sebentar lagi juga akan di renovasi sedikit kok, nambah gudang dan mess." Jawab Agung.


"Jangan kesana lah Ak, ribet harus buka tutup gerbang seperti tadi." Kata Tyas seakan enggan menyetujui rencana Agung yang ingin sedikit beromantis ria bersamanya di tempat yang di inginkan Agung.


"Jadi kita kemana Sayank bagusnya?" Tanya Agung menanggapi rasa enggan yang jelas di tunjukkan oleh Tyas


"Terserah Aak tapi jangan kesitu." Jawab Tyas.


Pada akhirnya Agung membawa Tyas menuju salah satu kebunnya yang ada di balik desa hadapan mereka yang kebetulan lokasinya di dekat daerah aliran sungai cijengkol yang cukup sunyi senyap jika sedang tak musim buah rambutan.


"Disini saja yah Sayank, kita nggak perlu keluar dari mobil takut kulitmu yang mulus bentol bentol di gigit nyamuk." Ujar Agung sambil tersenyum, lalu menghentikan laju mobilnya di atas tanggul pinggir sungai.


Tyas hanya tersenyum lalu menyambut Agung yang kemudian merapat dan merengkuh tubuhnya. Bibir mereka pun segera bertemu dan beradu.


Sementara itu urusan persiapan yang sudah hampir kelar di rumah keluarga Aceng membuat Sari agak bisa bersantai, namun pikirannya tiba tiba menjadi aneh saat mengingat Agung yang belum datang juga.


Ingin dia menelpon lagi kekasihnya itu namun ia paham lelaki yang di cintainya itu sangat tidak suka di ganggu saat ada kesibukan, akhirnya ia hanya bisa duduk diam dengan sedikit rasa gelisah bergabung dengan anak buahnya yang sangat lepas bercanda dan bergurau.


Dalam pada itu Eka yang kini telah resmi jadi kekasihnya Aceng juga ikut bergabung dengan Sari dan anak buahnya terutama dengan Dewi yang tiba tiba jadi ikut mengakrabi dirinya.


Doni yang sudah selesai mengawasi pemasangan dua kamera yang di pasang di depan bangunan yang sedianya akan di jadikan sebagai apotik oleh Agung itu, kemudian beralih mengawasi pemasangan kamera cctv digital yang di tempatkan di pojok luar timur utara komplek toko.


Namun belum juga usai pemasangan kamera intai itu, tiba tiba terdengar suara teriakan dan bentakan susul menyusul yang di ikuti suara riuh kerusuhan yang terjadi tak jauh dari tempat itu.


"Brakkk !!! Duarr....!!!"


Suara gemerosak dentuman yang di ikuti suara kaca pecah terdengar dari tempat sebelah, Doni paham itu dari rumah Teh Nenih kakaknya Roni, di sertai suara jeritan dan ratapan seorang wanita yang berusia paruh baya.


Terdengar oleh Doni pula ketika wanita itu berteriak dan mengumpat sejadi jadinya namun seolah sama sekali tak di gubris oleh orang orang yang di teriaki olehnya.

__ADS_1


Doni segera memanggil semua anggota empat tangan besi.


__ADS_2