OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 66 Gelisah


__ADS_3

Malam ramah tamah yang penuh keceriaan yang di awali dengan pesta kembang api dan di akhiri dengan doa dan makan bersama yang penuh keakraban itu berakhir tepat tengah malam, setelah kami habiskan dengan serangkaian acara yang cukup membuat hati kami merasa senang dan puas.


Meskipun kuakui acara yang di komandoi Dewi ini sungguh sangat menarik dan atraktif dengan tujuan awal yaitu saling mengakrabkan diri dalam ikatan semangat persaudaraan berhasil. Semua tertawa dan ceria tapi bagiku tetap belum sepenuhnya berhasil menyingkirkan rasa gundah gulana hatiku meskipun aku juga ikut larut dalam keceriaan itu.


Apalagi sepertinya Sari juga bersikap sama sepertiku meski aku kurang paham apa yang membuatnya menjadi tidak mood. Dia seperti orang yang sedang cemburu, tapi apa yang membuatnya begitu aku juga kurang paham.


"Gung trimakasih yah telah membuat acara yang luar biasa seperti ini, sering sering aza mengadakan acara seperti ini lagi dan aku pasti dengan senang hati hadir jika ada undangan lagi." Ujar Ak Ahmad sambil tertawa setelahnya saat dia berpamitan padaku secara pribadi.


Baru saja dia berpamitan pada Pak Suryadi selaku tuan rumah dan pada yang lainnya juga, sebelum menghampiriku.


"Ini yang buat yah mereka mereka ini Ak, aku hanya sekedar numpang eksis saja kok Ak." Jawabku sambil tersenyum ramah.


"Apapun itu pokoknya the best lah, aku doakan usaha kalian ini lancar dan sukses yah." Ujarnya lagi sebelum membuka pintu mobilnya.


"Aminn makasih banyak doanya Ak, dan sebaliknya doa yang sama juga buat Ak Ahmad dan keluarga." Balasku dengan sopan.


"Sipp !! Yuk kami pamit yah...!" Ujarnya lagi.


"Siyap Ak !! hati hati !" Balasku.


Setelah kepergian keluarga Ak Ahmad dan juga Imas, aku langsung bergabung dengan empat tangan besi dan tuan rumah yang beres beres peralatan yang baru saja kami gunakan, sementara para perempuan sibuk di ****** untuk mencuci piring piring kotor bekas makan kami tadi.


Setelah selesai membereskan peralatan hajat, barulah satu persatu berpamitan untuk pulang, di mulai dari karyawan penggilingan padi yang rata rata memang sudah dewasa dan hadir bersama keluarga mereka, lalu Teh Yanah dan Mang Darom yang lagi lagi aku di buat tertegun saat melihat Teh Yanah dan Doni yang saling tersenyum dan menatap aneh.


Tinggal tujuh anak buah Dewi yang baru Rasti dan Maemunah saja yang sudah agak tidak canggung lagi ketika berhadapan denganku sementara yang lain masih canggung dan malu malu.


Yeyen, Nia, Fitri, Dita dan Aliyah berstatus lajang semua namun khusus Yeyen dan Rasti pernah menikah dan saat ini sedang berstatus janda muda yang masing masing sudah beranak satu.


Mereka bertujuh rata rata sahabat dekat teman satu smp, namun tinggal tersebar beda beda kampung, meskipun masih satu wilayah administrasi desa. Hanya Nia dan Dita saja yang tinggal dalam satu kampung.


"Mas malam ini kamu tidur di sofa yah karena kamar mau di pakai teman teman." Kata Sari agak ketus.


"Oh iya iya silahkan silahkan, siapa yang nginap di tempatku ?" Tanyaku.

__ADS_1


"Saya sama Yeyen boss." Jawab Maemunah sambil tersenyum.


"La yang lain gimana ?" Tanyaku lagi.


"Numpang tidur di tempat Dewi boss." Jawab Maemunah lagi.


"Iya deh silahkan istirahat kalo gitu, motor motor kalian masukin saja ke rumah..dulu !" Ujarku.


"Biarlah kami bawa ke toko saja boss." Ujar Suranto yang di setujui oleh gadis gadis itu dengan anggukan, sepertinya mereka sudah saling bersepakat tadi.


"Oh iya bener bener...ya sudah itu kalian bawa motor empat kan yah brarti pas yah kalian ga perlu bolak balik lagi hehehe ya sudah selamat istirahat ya semua, besok kita akan mulai kerja keras jadi gunakan waktu istirahat yang sudah telat ini dengan baik." Ujarku,


"Mari boss !" "kami duluan yah boss !" Ujar Maemunah dan Yeyen bareng, ketika Sari mengajak mereka ke rumah. Aku hanya mengangguk saja.


Aku sendiri juga sebenarnya sudah sangat lelah setelah seharian bolak balik Jakarta dan belum istirahat sama sekali sampai sekarang, di tambah pikiran penat gara gara info dari Pak Haji Obi tadi sudah merupakan akumulasi yang sempurna untuk membuatku memilih segera tepar.


Aceng sendiri sudah langsung menutup kamarnya begitu selesai beres beres tadi. Beberapa saat kemudian mereka semua benar benar pergi dan entah kenapa terasa meninggalkan lubang kesunyian dan keheningan di hatiku.


"Oh muhun pak, selamat beristirahat." Ujarku lalu menghampiri beliau dan menyalim tangannya lalu aku pergi melangkah ke rumahku sendiri.


Begitu masuk rumah, kulihat bantal dan selimut sudah tergeletak di atas sofa ruang tamu. Aku mencoba membuka pintu kamar namun sudah di kunci dari dalam. Sebenarnya niatku hanya ingin mengambil kunci mobil saja karena aku ingin tidur di dalam mobil seperti waktu di kampung.


Tapi ya sudahlah aku ngantuk, aku harus segera tidur karena aku benar benar butuh itu. Yang ngambek biarlah ngambek masa bodo, memang aku salah apa.


Aku mencoba memejamkan mata setelah berbaring di sofa yang panjangnya hanya separuh panjang tubuhku itu, namun pikiranku terus saja melayang kemana mana, bolak balik tubuh mencari posisi kenyamanan tetap saja tak membuat gelisah pikiran ini mereda.


"Brengsek !!! gini amat nasibku pengin tidur saja susah." Ujarku bergumam kasak kusuk sendirian.


Baru saja beruntung bisa sedikit terlena dan memejamkan mata, aku kembali terbangun ketika mendengar derit pintu kamar di buka, dengan kulihat Sari keluar dengan cueknya pergi ke kamar mandi.


Akupun buru buru masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil ku. Namun baru saja aku melangkah keluar, Sari telah berada di depan pintu kamar dan menatapku dengan tatapan tajam judes.


Aku gugup seperti layaknya seorang maling yang kepergok oleh sang pemilik barang yang ku curi.

__ADS_1


"Bobok lagi yank, aku hanya mengambil ini saja kok." Ujarku sambil menunjukkan kunci mobilku.


"Baguslah nyuruh orang tidur lalu kamu ingin menemui idaman barumu kan, ya sudah sana sana !" Ujar Sari sambil mendorong dorong aku mengusirku seperti orang yang sedang muak.


"Loh loh idaman apaan seh maksudnya yank? jadi dari tadi ini toh yang bikin kamu judesin aku." Ujarku lirih karena takut terdengar Yeyen dan Mumun yang hanya nginap di rumahku.


"Kok nggak ngomong dari tadi seh yank, rugi loh aku di begituin sama kamu." Kataku lebih lirih melanjutkan omonganku barusan.


"Memang kenyataannya gitu kan." Ujar Sari seperti orang bergumam.


"Ayo kita tidur di mobil saja." Kataku sambil menarik tangan kekasihku itu meski ia sebenarnya enggan.


Aku segera menyetel jok kabin penumpang posisi rebah datar mode bed rest. Lalu menarik tangan Sari agar ia masuk ke dalam juga.


"Jadi katakan yang membuatmu risau yank, supaya kita bisa lekas tidur." Ujarku.


"Tadi bapaknya Imas kok lebih memilih kamu dari pada Aceng untuk mengantarnya pulang mas ? bukankah dia ingin bicara padamu agar menikahi Imas kan ?" Ujar Sari membuatku terbengong, intuisi kekasihku ini ternyata luar biasa sekali.


"Kok bengong ? jadi benar begitu kan ?" Tanya Sari lagi dengan nada ketus.


"Salah besar, pikiranmu terlalu kemana mana Sayank. Pak Haji memang sedikit menyinggung Aceng dan Sari tadi tapi sama sekali tak ada kaitannya dengan kita, Pak Haji hanya meminta supaya aku ikut mengawasi hubungan Imas dan Aceng supaya tidak terlalu jauh sebelum benar benar resmi, gitu aza yank selebihnya hanya urusan sepele sepele saja." Jawabku modus tapi ku buat seolah serius.


Maafkan aku sayank kalo untuk urusan modus modusan aku memang ahlinya, tapi itu aku lakukan demi kebaikan kita saja, begitulah kataku dalam hati.


"Yakin begitu berani sumpah ?" Tanya Sari dengan cerdasnya.


Ampun ampun kupikir aku ini sudah pintar modus tapi wanita di sebelahku ini benar benar sesuatu yang amazing selalu membuatku tak berkutik.


"Ngapain sumpah sumpah segala seh yank, sumpah itu taruhannya berat tau, kalo sumpah mencintaimu aku mau tapi kalo sumpah sumpah kaya gitu malas aku yank." Ujarku.


"Sudahlah ayo kita tidur, nggak perlu ngurusin urusan orang lain, karena kita juga perlu fokus terutama karena sebentar lagi kita akan menikah kan." Ujarku lagi karena Sari hanya diam.


Namun saat aku merengkuh tubuhnya ia sudah tak menolak lagi.

__ADS_1


__ADS_2