OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 94 Kami Butuh Duit


__ADS_3

Beberapa saat kemudian gadis gadis itu bergiliran menggunakan kamar kecil untuk membersihkan diri sementara yang sudah selesai mandi mereka gunakan waktu menunggu kawan mereka dengan menyantap makan malam yang kalo sore sudah di kemas dalam wadah pembungkus makanan praktis oleh Teh Yanah.


"Mas Anto tadi gimana perjalanannya?" Tanyaku setelah mengambil duduk di dekat para pria.


"Lancar boss, oh iya tadi ada hadiah untuk boss dari batik unggul tapi sudah aku serahkan ke bu boss." Jawab Anto yang kini latah ikut memanggil Sari dengan sebutan bu boss.


"Oh ya hadiah apa ?" Tanyaku.


"Kurang tau boss, aku nggak berani membukanya jadi langsung ku serahkan sama bu boss." Jawab Anto.


Pemanggilan boss dan bu boss dari empat tangan besi sebenarnya terdengar aneh, bagaimanapun juga kami adalah sahabat rasanya jadi seperti ada jarak pemisah antara kami dengan penyebutan itu.


Sementara dari dalam toko terdengar suara gadis gadis tengah berpamitan pulang pada Sari dan Dewi yang masih sibuk menghitung pendapatan.


"Boss kami pamit yah !" Ujar gadis gadis itu sambil berdiri dan memakai jaket masing masing.


"Memang sudah selesai semua mandinya?" Tanyaku.


"Sudah boss, kan kita sudah wangi." Rasti lah yang menjawab dengan lagak centilnya, aku hanya tersenyum.


Sekilas aku menatap Suci yang juga menatapku, dia benar benar mengingatkanku pada Tyas karena memang ada garis kemiripan yang jelas.


"Suci...tunggu dulu !" Ujarku.


"Iya boss gimana apa ada yang bisa saya bantu ?" Jawab Suci.


"Eh nggak aku cuma mau tanya apakah kamu punya saudara perempuan kandung ?" Tanyaku.


"Ada boss teteh dan adik saya perempuan boss karena ibu saya punya anak tiga perempuan semua." Jawab Suci.


"Apakah teteh kamu tinggal di Talaga Bodas ?" Tanyaku.


"Loh kok boss tau ?" Ujar Suci sedikit heran.


"Hehehe aku gitu loh apa seh yang nggak tau." Ujarku berlagak jumawa.


"Idih narsis...!" Timpal Yeyen, Mumun dan Aliyah bareng setelah itu mereka bertiga tertawa.


Aku hanya tersenyum.


"Ini siapa yang butuh pengawalan ? ini cowok cowok pada nganggur." Ujarku merujuk pada Aceng, Anto, Riko dan Trimo yang duduk bersandar di dinding dan tiang teras sambil menyimak pembicaraan aku dan gadis gadis itu.


"Barangkali Yeyen jika ingin di kawal Mas Riko sudah siaga kok." Ujarku yang membuat Yeyen dan Riko tersentak, namun Riko hanya cuek karena dia memang sedingin es.

__ADS_1


"Oh aku ini aza boncengan sama Mumun boss." Ujar Yeyen sambil tersenyum malu sambil melirik Riko.


"Ya sudah hati hati yah, kalo ada apa apa langsung colling tangan besi." Ujarku.


"Siyap boss...!!!" Jawab mereka yang lalu mulai menstater motor mereka masing masing lalu pergi sambil melambaikan tangan pada kami.


Beberapa saat kemudian Aceng nyeletuk.


"Mandi dulu ahhh..." Ujarnya.


Namun ketiga tangan besi ternyata juga latah mengikuti Aceng berpamitan mandi. Sementara kulihat Sari dan Dewi masih sibuk menghitung uang yang mungkin terlalu banyak receh jadi sedikit menyulitkan.


Sementara kulihat Imas masih sibuk juga di ruang office.


"Masih lama nih ?" Ujarku sambil menghampiri Sari dan Dewi yang tampak sering bercanda di antara mereka.


"Hasilnya kayaknya turun boss." Ujar Dewi.


"Ya gapapa namanya juga dagang ada kala rame ada kala sepi, wajar lah." Ujarku.


"Dapatnya delapan ratus tujuh puluh juta pas." Kata Dewi.


"Yang indent sudah pada ambil belum itu ?" Tanyaku.


"Ini bu boss duitnya ! biasa nunda lima juta receh di laci." Ujar Dewi sambil memberikan duit yang sudah di kemas rapi olehnya kepada Sari.


"Okey makasih Ibu Dewi...mas, itu Teh Imas belum selesai kah ?" Ujar Sari.


"Belum kayaknya." Jawabku.


"Kok lama banget seh ini memang dapat berapa ?" Ujar Aceng sekonyong-konyong, sementara ia terlihat sudah lebih segar setelah mandi.


"Kamu sudah mandi Ak ?" Tanya Dewi pada kakaknya.


"Sudahlah orang sudah klimis begini gitu kok." Jawab Aceng.


"Ya sudah ayo pulang !" Kata Dewi kemudian.


"Nungguin Imas dulu lah." Ujarku.


"Sudah selesai kok boss, ini daftar belanjaan untuk besok boss kebanyakan dari Bandung, aku juga sudah order sekalian jadi begitu barang sampai tinggal bayar saja, dan ini salinan stok barang datang tadi dan yang masih ada di gudang." Kata Imas.


"Yang dari Tanah Abang sudah masuk inventaris belum ?" Tanyaku.

__ADS_1


"Sudah boss." Jawab Imas.


Tuing tuing tuing...bunyi dering hp ku.


Kulihat Anis melakukan panggilan video.


"Halo nduk gimana ?" Tanyaku langsung begitu aku menerima panggilan.


"Nih mas, bapak mau bicara sama mas." Ujar Anis.


"Ya Pak Asalamualaikum...gimana Pak ?" Tanyaku.


"Ini nak bude dan pakdemu ada di sini sekarang, mau nanyain sertifikat sawah kakakmu." Ujar bapak.


"Coba biar saya bicara langsung saja sama Bude Pak." Ujarku.


"Iya kalo gitu...nih De ngomong sama orangnya langsung." Ujar Bapak sambil memberikan hp pada Bude Marni.


"Hallo Gung...gimana kabarmu sehat sehat saja kan?" Tanya Bude Marni terdengar simpatik.


"Alhamdulillah Bude sehat." Jawabku.


"Gini nak, kemarin katanya kamu minta sertifikat sawahnya kakakmu kan, kalo bisa kamu kirimkan ya nak, soalnya kakakmu lagi butuh duit buat berobat." Ujar Bude Marni dalam bahasa dan dialek daerah kami.


"Memang Mas Harno dan Mbak Retno nggak bilang sama bude kalo batas waktu yang ku kasih ke mereka sudah limit, jadi bude sebenarnya setelah masa waktu selesai otomatis sawah akan kembali pada kami dengan catatan aku menambah keuntungan buat Mas Harno sebesar 25 juta, yang artinya setelah di kurangi sama duitku yang dia ambil aku akan nambah sepuluh jutaan lagi." Ujarku juga dalam bahasa kami.


"Kamu itu kok bisa kaya gitu sikapmu sama saudaramu sendiri...!" Ujar Pakde Joyo berteriak.


"Loh pakde gimana memang kenyataannya Mas Harno sudah korup duit bapakku yang aku kirim dari Jepang tiap bulannya dan jumlahnya 185 juta, lah kalo di suruh ngelupain ya gimana. Gini saja pakde silahkan transfer duit 185 juta itu ke rekening ku malam ini juga lalu sertifikat sawah akan ku kirim besok terserah kalo sawahnya mau di jual ke siapa saja." Ujarku.


"Nak tolonglah kakakmu, dia sedang sakit sekarang butuh untuk biaya berobat." Ujar Bude Marni sambil menangis.


"Tentu bude aku akan membantu itu pasti selama aku mampu tapi caranya bukan seperti cara Pakde Joyo. Kalo bude mau pinjem duit aku pinjemin kok berapa juga kalo ada aku kasih tentunya dengan aturan dan tata krama sewajarnya, kalo cara pakde langsung hajar kaya gitu yah hancur, bukannya simpatik malah muak jadinya, masa sawah yang bude paham sudah di pesan simbah jangan sampai lepas ke pihak lain justru mau di jual ke orang lain, kalo Pakde Joyo ya wajar orang dia bukan keturunan simbah, la bude sama bapak gimana mau di kutuk anak cucu." Ujarku panjang lebar.


"Bener kamu mau pinjemin duit nak ?" Tanya Bude Marni masih dengan isak tangisnya.


"Memang kapan aku bohong bude? tapi selesaikan urusan sawah dulu sesuai aturan, aku hargai sawah itu seperti Mas Harno yang menghargainya hanya 200 juta itupun di bayar dengan duitku juga, nah ini aku masih beri untung 10 juta jadi Mas Harno nanti masih akan terima duit dariku 25 juta kali itu masih kurang untuk biaya berobat aku kasih pinjaman berapa maunya dengan aturan lagi yang benar." Ujarku.


"Maksudnya kamu ingin bunga kalo kami pinjam duit darimu nak ?" Kata Bude Marni.


"Bukan minta bunga bude, aturan yang ku maksud itu tentunya hitam di atas putih tentang perjanjian hutang kalo di atas 20 juta pinjamnya." Ujarku.


"Tapi kami butuh duit nya secepatnya itu nak." Ujar Bude Marni.

__ADS_1


"Besok aku transfer duit yang 25 juta ke Mas Harno tapi tolong bikin dulu surat jual beli sawah yang intinya Bapakku membeli kembali sawah yang kemarin di jual ke Mas Harno, tentunya dengan saksi saksi dan tanda tangan di atas materai." Ujarku.


__ADS_2