
Pada akhirnya sesuatu yang busuk pasti akan tercium baunya.
"Gila.... bagaimana bisa ?.....kenapa Mang Darom sampai bisa datang ke pantry segala ?" Tanyaku.
"Rumit mas jelasinnya, kamu dimana sekarang cepatlah ke toko...!" Ujar Sari sudah mengeluarkan titahnya yang harus segera di patuhi
"Baik baik, suruh mereka menunggu aku beberapa saat dan tahan jangan sampai ada yang saling ribut dulu." Ujarku.
"Baik mas, tapi buruan !" Ujar Sari.
Aku segera mengakhiri panggilan itu dan mengantongi kembali hp ku. Lalu aku turun dari dari mobil dan menghampiri mobil Tyas yang juga ikut menepi di pinggir jalan tepat di belakangku.
"Teh, maaf di toko sedang ada masalah jadi hari ini aku kayaknya ga jadi ke kolam renangnya." Ujarku.
"Yah..." Ujar Tyas terlihat sangat kecewa.
"Gini saja besok toko kan libur, kami sedang mau bikin acara untuk persiapan grand opening, gimana kalo besok Teteh datang ikut sama Suci gabung kami bantu bantu gitu." Ujarku.
"Hemmm, iya deh gampang lah gimana besok." Ujar Tyas masih terlihat kecewa.
"Baiklah Teh, aku tinggal dulu yah...sampai jumpa besok." Ujarku, yang memang buru buru dan harus segera bergegas pulang kembali ke toko.
Tanpa menunggu tanggapan dari Tyas aku segera berlalu menghampiri mobilku lagi dan beberapa saat kemudian aku sudah putar balik dan meninggalkan Tyas yang terlihat hanya pasrah memandang kepergianku.
Meskipun kemudian perjalanan kembali juga memakan waktu tak lebih dari sepuluh menit saja namun dengan kondisi buru buru, waktu selama itu serasa seperti satu tahun lamanya.
Namun begitu aku sampai toko, kulihat suasana seperti biasa ramai dan tertib seperti tak terjadi kericuhan apapun. Aku pun segera bergegas naik ke pantry lewat jalan layang.
Disana aku melihat Mang Darom yang terlihat geram bersama dua anak perempuannya tak jauh dari mereka adalah Teh Yanah yang terlihat sembab mukanya dan di sisi lain Doni yang tampak tegang juga wajahnya sambil menatap tajam ke arah Mang Darom.
Sementara di sisi yang lain kulihat Sari duduk di dekat Aceng, hal yang juga menggelitik pikiranku, apalagi setelah melihat kedatanganku mereka berdua langsung berdiri seolah berlomba hendak menghampiriku.
__ADS_1
"Sedang ada rapat apa ini disini ?" Ujarku agak dingin, jelas aku merasa tidak suka dengan kondisi semacam ini.
"Bajingan itu telah terang terangan selingkuh boss." Ujar Mang Darom padaku dengan nada agak sengit.
"Lebih jelasnya siapa yang Mang Darom maksud dengan bajingan itu?" Tanyaku.
"Yanah istri saya boss dengan Doni mereka telah mencurangi saya, bahkan mungkin bayi yang di kandung Yanah itu hasil perbuatan mereka juga." Kata Mang Darom tak segan segan.
"Baiklah saya ingin masalah ini selesai hari ini juga dan tak berlarut larut baiklah, mari yang berkepentingan ikut saya ke office, atau yang tidak berkepentingan silahkan pergi dari pantry." Ujarku sambil melirik Aceng dan Sari.
Tanpa banyak bicara Aceng segera turun sambil tersenyum bias, sementara Sari juga terlihat hanya menatapku seolah ingin minta ijin untuk tetap tinggal.
Namun aku sama sekali tak menghiraukannya.
"Jadi silahkan di konfirmasi dulu apa benar tuduhan yang di sangkakan pada kalian itu, silahkan di utarakan dengan jujur apa adanya." Ujarku sambil menatap Doni dan Teh Yanah bergantian.
"Memang benar boss, aku dan Yanah memang sudah cukup serius berhubungan." Kata Doni sangat santai.
"Baiklah, Mang Darom sudah dengar sendiri mereka mengakuinya, jadi dalam hal ini karena Mang Darom merasa tersakiti silahkan putuskan hukuman apa yang Mang Darom inginkan untuk mereka berdua." Ujarku tak bertele-tele.
Namun Mang Darom justru tertunduk dan terdiam sambil memeluk erat erat dua buah hatinya yang wajah mereka masih sangat polos. Sesaat kemudian kulihat mata Mang Darom tampak berkaca kaca.
"Mang boleh saya bicara dulu empat mata sama Mang Darom." Ujarku pada Mang Darom yang sudah tampak sangat memelas wajahnya itu.
"Dedek... berdua duduk di sini dulu sebentar yah tadi dedek berdua sudah makan belum? Om mau bicara sama bapak Dedek dulu sebentar saja boleh kan ?" Ujarku lembut pada dua anak perempuan Mang Darom yang berwajah manis itu.
Anak anak itu hanya mengangguk.
"Dedek mau makan apa ? mie apa nasi ayam ?" Tanyaku, namun dua anak manis itu sama sekali tak menjawabnya dan hanya saling tatap satu sama lainnya.
"Teh, tolong siapkan makan buat anak anak manis ini." Ujarku pada Teh Yanah yang juga ibu dari anak anak itu sendiri.
__ADS_1
Teh Yanah hanya mengangguk sambil terisak dan berlinang air mata lalu menghampiri anak anaknya yang tampak enggan, meski akhirnya menurut di ajak sama mamahnya itu.
Aku lalu mengajak Mang Darom keluar dari ruang pantry itu.
"Mang tolong pertimbangkan baik baik keputusan Mang Darom bagaimanapun juga dalam hal ini semuanya bukan salah Teh Yanah sepenuhnya kan?" Ujarku sangat lirih.
"Boss bisa berkata begitu, karena boss nggak ngalamin di khianati." Kata Mang Darom geram.
"Tapi bagaimana dengan Mang Darom sendiri apa yang Amang lakukan di kamar Mih Onah tadi pagi? kebetulan aku sendiri yang mengetahuinya." Ujarku.
Mang Darom terhenyak seakan tak percaya dengan perkataanku.
"Maaf aku bukan bermaksud apa apa dalam hal ini tapi toh semuanya bersalah jadi buat apa harus di ributkan, dalam hal ini aku netral tak membela kepentingan siapapun karena semuanya sama bekerja padaku dan aku tak ingin ada kerusuhan apapun diantara pegawai ku." Ujarku lagi.
"Jadi boss tau aku dan Ceu Onah...?" Kata Mang Darom, sementara aku hanya meletakkan jari telunjukku di depan mulutku.
"Iya dan aku bisa menyimpannya asal kalian bisa bermain lebih aman kedepannya, selanjutnya jangan pikirkan Teh Yanah karena aku juga tau dia saat ini sudah hamil anak Doni, Mang Darom ikhlaskan saja aku nanti akan bantu meningkatkan ekonomi Mang Darom biar gampang cari wanita lagi, bagaimana aku rasa itu cukup adil kan?" Ujarku sangat lirih.
"Tapi boss ?" Kata Mang Darom.
"Aku hanya berusaha bijaksana Mang, jujur saja Teh Yanah mungkin tak akan bisa Amang pertahankan mengingat hubungannya dengan Doni sudah terlalu jauh." Kataku lagi.
"Iya tapi anak saya boss, mereka masih terlalu kecil untuk di tinggalkan mamahnya." Kata Mang Darom lirih.
"Mau bagaimana lagi, tapi itu terserah Mang Darom bagaimana, aku hanya bisa ngasih solusi seperti itu menurutku kalo sudah rusak ya di ganti lagipula Mang Darom juga nggak terlalu rugi juga kan?" Ujarku sambil menatapnya agak tajam.
"Aduh kenapa bisa gini amat nasib saya boss, padahal saya sangat mencintai Yanah." Kata Mang Darom terdengar sendu.
"Sudahlah mari masuk lagi, lalu ambil keputusan Mang Darom. Ingat yang tadi dari saya itu cuma sekedar saran saja Mang, bukan suatu keharusan." Kataku, sambil melangkah ke dalam di ikuti Mang Darom.
Di dalam Teh Yanah tampak sibuk menyuapi anaknya yang masih kecil sementara yang agak gedean makan mie rebus sendiri.
__ADS_1
Doni masih juga duduk di tempatnya semula, meskipun kali ini lebih banyak menundukkan kepalanya, sementara Sari entah sudah kemana.