
Ternyata percakapan kami berlanjut meski sempat terjeda oleh makan bersama dan sembahyang setelah kami semua di persilahkan membersihkan diri masing masing sebelumnya. Aku terpaksa harus mengundur niat untuk mohon diri karena, semua anggota keluarga dan kerabat Mbak Sari memaksa kami untuk tinggal sejenak.
"Jadi gimana Nduk Sari sikapmu ke depan atas perlakuan suamimu apakah kau terima atau akan menuntutnya, tolong di jawab jujur sebab di sini juga ada pihak keluarga suamimu, barangkali Mas Agung perlu tau apa yang jadi sikap dan kehendakmu?" Ujar kepala kampung bertanya pada Mbak Sari.
"Saya hanya akan menuntutnya untuk bercerai pak kadus dan tak mengganggu saya lagi dalam bentuk apapun di kemudian hari." Ujar Mbak Sari tegas.
"Apakah kau akan menuntutnya secara pidana juga?" Tanya Pak Kadus lagi.
"Tergantung sikap Mas Farhan nanti gimana pak kalo dia mau menceraikan saya secepatnya dan berjanji tak akan mengganggu hidup saya, mungkin saya akan memaafkan." Jawab Mbak Sari membuatku paham akan kata hatinya.
"Lantas bagaimana hubungan kamu dengan anak mas Agung ini nduk? bapak lihat kalian begitu akrab tadi." Tanya Pak Kadus lagi seolah menginterogasi Mbak Sari.
Jujur saja saat ini aku sangat tegang demi mendengar jawaban Mbak Sari. Apalagi Mbak Sari terlihat tak segera menjawabnya melainkan justru menundukkan kepalanya.
"Jawablah nduk apa adanya saja biar, aku dan juga keluarga kamu atau bahkan para tetangga jadi paham meski mungkin sedikit mengganggu privasi kamu." Ujar Pak Kadus lagi.
"Beliau insyaallah calon suami saya nantinya pak." Jawab Mbak Sari lirih sambil melirik kepadaku.
"Nah begitu kan, sekarang buat Mas Agung, bapak boleh kah bertanya apa benar kata kata Ambarsari tadi?" Tanya Pak Kadus kepadaku.
"Benar bapak...saya memang berniat menikahi Sari setelah urusannya dengan Mas Farhan selesai." Ujarku tegang karena seolah semua mata menatap tajam kepadaku.
"Ini memang rumit pak, tapi dari yang saya tau dari Sari memang ada kesalahan besar tentang pernikahannya dengan Farhan yang baru tiga bulan itu." Sahut Ibu Lastri mama Mbak Sari tiba tiba, membuat Pak Kadus mengurungkan niatnya untuk kembali bicara.
"Maksudnya bagaimana? kesalahan gimana?" Tanya Pak Kadus kemudian.
"Kami tidak saling mencintai pak, dan juga saya memang bukan menantu yang diinginkan oleh keluarga Mas Farhan." Jawab Mbak Sari tegas.
Pak Kadus mengangguk lalu terdiam seolah tengah menyelami persoalan pernikahan Mbak Sari yang memang bisa di bilang rumit.
"Jadi intinya sekarang Ambarsari ingin bercerai dengan suaminya lalu menikah lagi dengan adik sepupu dari suaminya begitu kan?" Tanya Pak Kadus yang membuat orang orang yang hadir langsung meledak tertawanya.
__ADS_1
Aku sendiri hanya tersenyum bias, aku tak bisa cuek karena aku memang malu, apalagi empat tangan besi kawanku juga ikut tertawa seolah meledekku.
"Memang begitu pak, itu juga kalo di restui keluarga di Ambarawa sini." Akulah yang berucap sesaat setelah suasana telah hening kembali.
"Baiklah, tentu saja kita semua akan mendukung penuh apa yang menjadi hal baik buat warga kami, bukan begitu sederek sederek?" Ujar Pak Kadus sambil tersenyum hangat.
"setujuuu !!!" Teriak semua yang hadir kecuali aku dan Mbak Sari yang hanya saling pandang dan tersenyum.
Akhirnya baru setelah jam menunjukkan pukul 11 malam lewat 5 menit, kami di perbolehkan pulang. Aku mengantarkan empat tangan besi sampai ke tempat tinggal mereka di Pengging, lebih dulu sebelum aku lanjut pulang ke rumah.
Sampai di rumah ternyata bapak masih menungguku dengan duduk tiduran di depan rumah darurat kami.
"Bapak belum istirahat?" Ujarku setelah aku menyalim tangan beliau yang sangat aku hormati itu.
"Mana bisa bapak tidur sementara kamu masih berkeliaran di luar." Jawab bapak menyindirku, mungkin beliau kecewa dengan kelakuanku.
"Maaf pak, Mas Farhan bikin rusuh lagi tadi. Dia menculik istrinya sendiri dan berusaha memeras aku karena mungkin tak terima aku nagih uang pada Mas Harno kemarin." Ujarku lirih.
"La ini aku baru pulang dari Ambarawa setelah mengantarkan Mbak Sari yang di sekap Mas Farhan di gudang tua dekat pelabuhan Semarang." Jawabku.
"Sudah gilakah anak itu?" Ujar bapak bergumam saja.
"Sekarang orang orang Ambarawa sudah marah dan tak akan menerima Mas Farhan lagi disana dan juga Mbak Sari akan menggugat cerai." Ujarku.
"Ck..ck..ck...Farhan Farhan lakon kok kaya gitu amat. Tapi harusnya kamu juga tak perlu ikut campur nak." Ujar bapakku.
"Mana bisa aku diam saja pak." Jawabku.
"Kenapa? toh Sari bukan siapa siapa kamu kan?" Tanya bapak.
"Dia bakal istriku pak, calon mantu bapak." Jawabku yang lagi lagi membuat bapak bengong.
__ADS_1
"Apa? apa nak...Sari calon istrimu? Kau akan menikahi istri kakakmu sendiri ? apa kamu juga sudah tidak waras juga seperti kakakmu itu?" Ujar bapak bertanya bertubi tubi.
"Jangan samain aku sama pengecut sampah itu pak. Tadi saja dia mau membunuhku dan bahkan ingin menjual Mbak Sari senilai 100 juta saja pada seorang mucikari kawannya." Ujarku.
"Ampun ampun...." Kata bapak.
"Trus gimana sikap keluarga Sari?" Tanya bapak kemudian.
"Ya ngga gimana gimana pak, seharusnya mereka bisa saja menuntut Farhan agar di penjara, tapi mereka masih memaafkan karena memandangku sebagai adiknya." Jawabku.
"Maksud bapak apa keluarga Sari mengetahui hubungan kalian?" Tanya bapak.
"Ya tentu pak bahkan mereka semua sudah setuju dan mendukung penuh hubungan kami." Jawabku.
"Jadi berita kemarin soal kamu berbuat serong sama Sari itu benar nak?" Tanya bapak yang membuatku mati kutu, aku paling tidak bisa berbohong kepada beliau. Jadi aku hanya mengangguk saja.
"Maafkan aku pak, aku tak bisa menahan diriku. Aku mencintainya dan Sari juga tak menolaknya bahkan menantang aku...ya gimana..kucing mana saja juga tak akan bisa nolak jika di beri ikan." Ujarku.
"Baiklah kamu memang harus menikah dengan Sari kalo gitu..." Ujar bapak terdengar pasrah.
"Iya pak restu dan dukungan bapak sangat penting buatku dan yang penting bapak mengerti jika hubungan Mas Farhan dengan Mbak Sari memang tak akan bisa di selamatkan lagi." Kataku senang.
"Ya tapi bapak harus bilang apa sama budemu nak, bahkan mungkin sama orang orang..." Ujar bapak mengeluh.
"Bapak ngga usah bilang apapun, cuek saja kan bisa." Ujarku.
"Memang nya kamu ingin hidup sendiri kaya di hutan. Hidup di sini itu susah nak diam saja bisa salah apalagi banyak tingkah." Ujar bapak seolah masih berat pikirannya.
"Sudahlah pak mending sekarang istirahat dulu, capek aku tadi siang berkelahi dengan Farhan dan begundalnya." Ujarku.
"Kau apakan dia?" Tanya bapak.
__ADS_1
"Tadi mungkin pingsan trus aku ngga tau selanjutnya. Sudahlah pak ngga usah di pikirkan, aku yakin Farhan baik baik saja." Ujarku lalu pamit kembali ke mobil untuk beristirahat.