OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 61 Rencana Rencana


__ADS_3

"Gung ! apa nggak sebaiknya pas malam pembukaan toko nanti kita adakan dulu acara hiburan untuk masyarakat sekitar, hitung hitung sebagai pengenalan dan promosi gitu ?" Ujar Aceng menyela pembicaraan kami.


Namun hampir semua orang kulihat sangat antusias dengan gagasan dari Aceng tersebut.


"Ide bagus juga kira kira hiburan macam apa trus anggarannya berapa ?" Tanyaku.


"Ga usah aneh aneh hiburan orkes music saja sudah kalo cuma semalam paling banter juga cuma 5 juta perak saja sama perijinan ke aparat kepolisian dan desa paling habis 500 ribu saja." Ujar Aceng terdengar serius.


"Lalu bakar bakar nya kapan ?" Tanyaku lagi.


"Nanti malam saja sekalian, kita tadi sudah masak banyak kok kalo pengin bakar ikan ya tinggal beli saja berapa kilo gitu di empangnya Mang Jaya." Tukas Dewi.


"Setuju nggak ibu boss ?" Ujar Dewi kemudian sambil menatap Sari.


"Ya kalo kami gimana kalian saja kalo semua oke ya hayuh aza." Ujar Sari tampak tegas.


"Gimana rekan rekan setuju malam ini bakar bakar?" Tanyaku.


"Setujuuuuuuu.....!!!!" Jawab semuanya serempak dengan senyum merekah yang terkembang dari mereka semua.


"Okey Aceng tugas kau lagi boss beli ikan segar dan pendukungnya gimana oke ?" Tanyaku ke Aceng.


"Oke siapa takut...tapi omong omong hiburannya jadi nggak ini ?" Kata Aceng.


"Lah kan sudah jadi tadi, itu kamu juga yang ngaturnya bossku hehehe." Kataku.


"Trus kapan waktunya kasih info yang spesifik donk !" Ujarnya Aceng lagi.


Kali ini aku kebingungan menjawabnya.


"Gimana kalo malam sebelum pembukaan toko saja, jadi mulai besok kita semua sudah aktif kerja mengatur dan menyiapkan semuanya." Ujar Nimas yang akhirnya ikut membuka suaranya.


"Bagaimana ibu boss?" Kata Imas kemudian sambil menatap Sari.


Sari hanya tersenyum sambil mengacungi jempol untuk Imas, lalu kedua bidadari tak bersayap itu saling tersenyum satu sama lain.


"Kalo gitu Teh Imas tolong undang sekalian Pak Haji Obi yah barangkali beliau berkenan hadir dan barangkali juga ada sedikit saran dari beliau gitu." Ujarku pada Imas.

__ADS_1


"Bapakku itu gampang gampang susah sih mas, tapi mungkin kersa datang juga kalo Mas Agung sendiri yang mengundangnya." Jawab Imas, membuatku ragu.


Aku menatap Aceng sejenak, kebetulan pula dia juga menatapku sambil tersenyum cengengesan.


"Aku lagi nih, okey dah." Ujar Aceng.


"Baiklah karena waktu sudah mulai senja mari kita akhiri dulu pertemuan di sini untuk kemudian kita istirahat sejenak sebelum nanti malam kita berkumpul lagi, oh iya mengingat acara nanti cukup penting dan akan ada door prize nya juga jadi kalo bisa jangan ada yang absen yah." Ujarku sambil tersenyum ramah dan memandang ke arah kawan kawanku itu.


"Okey boss !!!!!" Jawab mereka serempak.


"Tunggu tunggu...!!!" Kata Aceng, ketika semuanya ingin membubarkan diri.


"Apalagi Ceng...?" Tanyaku.


"Toss dulu donk ! masa lupa." Ujar Aceng.


"Sini cewek cewek ikut juga yah !" Kata Aceng yang lalu memberikan penjelasannya pada wanita wanita itu, yang mereka tanggapi dengan senyum mereka yang terkembang dari bibir manis mereka.


"Baik boss dan ibu boss bilang saudara gitu yah paham kan lalu kita semua jawab sampai mati yess, oke paham yah semua?" Ujar Aceng sangat semangat.


Kami semua hanya saling tersenyum dan mengangguk, lalu saling merapat bentuk lingkaran dan meluruskan tangan kanan kami sambil mengepalkannya.


"Sampai mati yess !!!" Jawab mereka serempak lalu kami tertawa bersama sebelum membubarkan diri dengan hanya tinggal empat tangan besi saja yang tetap tinggal karena mereka lah pengurus tempat ini.


Aku berjalan bersama Sari mengiringi Dewi dan ketujuh gadis anak buahnya yang berjalan duluan karena ketujuh gadis itu menempatkan kendaraan mereka di rumah Dewi.


Aceng mengantar Imas menggunakan mobil box yang tadi di pakai mereka ke Bandung.


Waktu berlalu begitu cepatnya meski begitu aku sempat melihat pekerjaan Sari yang membuat daftar harga barang dagangan kami meski baru barang barang yang dari jawa tengah saja.


"Yank kamu mengambil selisihnya 15 persen lebih yah ?" Tanyaku pada Sari, meski aku paham dengan harga yang di buat Sari itu masih tetap sebanding dengan apabila kami berbelanja di pusat sandang


"Ya kalo kita nggak mau rugi yah harus ambil untung donk mas, ingat kau menggaji karyawan kamu berapa?" Jawab Sari mengutarakan alasan yang sangat masuk akal.


Aku akan menghabiskan uang untuk gaji saja untuk sebulan kerja mungkin mencapai 80 jutaan yang sebenarnya sudah aku siapkan dari uang hasil bagi salah satu dari dua deposito senilai masing masing 25 miliar yang ku simpan di dua bank himbara yang berbeda.


Uang uang itu pun ku dapat dengan tak begitu sulit karena hasil dari keahlian bakat judi yang aku punya jadi kenapa aku harus pelit mengeluarkannya begitulah pikirku waktu sebelum berencana membuka usaha saat itu.

__ADS_1


Belum lagi pendapatan ku yang akan dan sudah ku dapat dari hasil aset yang lain sawah dan kebun serta penggilingan padi yang aku pun sudah ada rencana untuk menjadi pemasok beras kedepannya.


"Jangan cemas sayank pengeluaran gaji buat kawan kawan kita itu hanyalah segelintir saja yang nantinya bisa kita dapatkan." Kataku santai sambil tersenyum manis pada kekasihku itu.


Tuing...tuingg..tuing...tuingg..!!! bunyi dering hp ku.


"Halo asalamualaikum nduk ada apa? gimana rumah sudah kelar belum?" Tanyaku pada Anis adikku yang entah mengapa menghubungi aku di waktu maghrib begini karena biasanya dia menghubungi kami ketika dia sudah menyelesaikan belajarnya.


"Walaikumsalam mas, gawat mas gawat...Pakde Joyo dan Bude Marni ngamuk bapak mas." Ujar adikku itu.


"Ngamuk gimana nduk ?" Tanyaku meski akupun sudah bisa memastikan gara gara tadi aku nagih uang ke Mas Harno.


"Mas Agung di bilang tak tau diri, rampok dan lainnya segala macam nama hewan di sebut." Ujar Anis yang mau tak mau menggugah emosiku juga.


"Sekarang mereka masih ada di situ nduk, berikan hp nya biar aku bicara sama mereka !" Ujarku dengan menahan emosi dalam dadaku.


"Mereka baru saja pergi mas, tapi omongan mereka itu kasar sekali belum lagi fitnah pada mas yang sudah tersebar di kampung kita juga keterlaluan." Kata adikku itu juga seolah sedang melampiaskan emosi yang di rasakannya.


"Tenang nduk kamu nggak usah cemas nanti gampang kok di luruskan, sekarang bapak mana nduk ?" Tanyaku tenang.


"Bapak lagi mandi mas, tadi sempat nggedumel juga kesal pada bude karena bikin kisruh pas sore sore wayah mau maghrib." Ujar Anis.


"Ya sudah bilang saja sama bapak untuk nggak usah memikirkan masalah itu, anggap saja Pakde Joyo hanya seekor anjing yang menggonggong." Ujarku.


"Mbak Sari mana mas? katanya kerasan yah di sana mas, aku jadi pengin ikut ke situ mas.." Ujar adikku itu.


Sari yang berada di dekatku dan ikut mendengarkan hanya tersenyum senyum saja setelah tadi sempat tegang juga wajah cantiknya.


"Mbak kamu lagi mandi...mas juga mau mandi... dulu nduk soalnya nanti malam mau ngadain pesta bakar bakar ikan...." Ujarku.


"Aahhh bakar ikan penginnnnn....!!!" Kata Adikku, membuat aku dan Sari hanya saling tersenyum.


"Makanya cepat gede jangan jadi bocil terus biar bisa melanglang buana..." Ujarku menggoda adikku tersayang itu, aku yakin raut wajahnya saat ini seperti apa hahaha.


"Awas yah mas nanti, kalo aku sudah bisa cari duit sendiri..." Katanya lalu menutup panggilan secara sepihak, kalo sudah begitu aku yakin Anis sedang kesal banget.


"Kamu tuh mas jahat bener sama adik sendiri, orang lagi bad mood masih di godain juga." Ujar Sari menyalahkan aku.

__ADS_1


Ah tiba tiba jadi nyesel juga.


__ADS_2