
Beberapa saat di bawah guyuran air shower yang menyiram tubuhku aku merenungi diriku, kenapa aku bisa seliar ini. Aku memang penyuka kaum hawa dan mendambakan salah satu saja dari mereka untuk menjadi pendamping hidupku, tapi sayangnya aku begitu mudah terlena oleh kecantikan yang tiada habisnya.
Mungkin juga aku tak beda jauh dengan Doni yang di pagi hari bilang sumpah mati mencintai Teh Yanah tapi sorenya mendapati kenyataan bahwa ia tak mampu menahan nafsunya ketika melihat kecantikan yang lain.
Tok..tokkk...tokkk...!!! terdengar pintu kamar kecilku di ketuk. Mana ada selain Sari yang berani melakukan hal ini padaku.
"Iya sebentar..." Ujarku dari dalam.
Tak lama kemudian aku menyudahi acara mandi malamku yang membuat badanku rasanya menjadi lebih segar, meski aroma terapi dari liquid yang di lumurkan Tyas ke badanku tak sepenuhnya hilang namun sudah bercampur dengan aroma sabun cair yang mungkin tak akan membuat curiga Sari lagi.
Aku keluar dengan disambut tatapan tajam kekasihku itu yang kini berada tepat di depanku.
"Kamu mau mandi juga Yank ?" Tanyaku.
Sari tak menjawab namun terus menatapku dengan sorot mata yang aneh. Aku pun segera memeluk tubuhnya erat erat, namun Sari segera berontak dan menepis tanganku.
"Katakan mas tadi habis dari mana saja ?" Ujar Sari terdengar keras, tampak sekali ia sedang menahan emosinya.
"Tentu saja belanja bukankah kau lihat sendiri sayank, Roni juga ku suruh bantuin nurunin barang kan." Jawabku.
"Lalu urusan Mas Harno gimana ?" Tanya Sari.
"Zonk Sayank...blank...dia kena stroke sudah pulkam tadi pagi jadi aku tak sempat menemuinya." Jawabku jujur apa adanya.
"Lalu kenapa bisa pulang selarut ini, tadi saat Anis ngebel kamu lagi dimana dan sedang apa ?" Tanya Sari sambil menatapku tajam membuat keringatku rasanya kembali bercucuran meskipun aku bara saja mandi.
"Oh itu, tadi aku sedang pijit refleksi tuna netra Yank, Doni yang recommended." Ujarku.
Kulihat Sari masih hendak berkata, namun urung saat terdengar suara kasak kusuk beberapa wanita menghampiri kami.
"Loh boss dan bu boss kok di sini ngapain? apakah mau mandi juga?" Tanya Yeyen sementara Aliyah dan Dita tampak senyum senyum di belakangnya.
__ADS_1
"Oh ini abis mandi, kalian mau mandi ?" Sebuah pertanyaan bodoh terucap dariku, karena jelas jelas mereka membawa handuk masing masing yang berarti ada keinginan untuk mandi.
"Hehehe iya boss...kamar mandinya kosong kan boss, apa ibu boss juga mau mandi juga ?" Kata Yeyen lagi.
"Ah nggak kok, silahkan saja kalo kalian mau mandi !" Ujar Sari sambil tersenyum.
"Iya bu boss makasih...!" Jawab mereka bertiga serempak.
"Baiklah silahkan ! kami permisi dulu." Ujarku menambahkan seraya menarik tangan Sari untuk mengajaknya menyingkir.
Ketiga karyawan cantikku itu mepet ke dinding kaca untuk memberi jalan pada kami yang memang cukup sempit dan hanya bisa di lalui satu orang saja itu.
Sampai di halaman, kulihat parkiran sudah sepi Dion dan Roni juga sudah tak terlihat, sementara mobil box sudah terparkir di tempatnya cuma satu meski saat aku melongok ke atas mobil yang tadi kupakai belanja juga sudah tak ada yang berarti sedang di pakai Doni untuk mengantar Teh Yanah.
"Sekarang jelaskan yang benar dan jujur, karena kalo sampai bohong aku sumpahin kamu sial selamanya." Ujar Sari terdengar sangat ketus.
"Sayank please, aku buat apa membohongi kamu nggak ada untungnya juga, lagian memang aku mau apa..tadi itu cuma pijat biasa saja tuna netra langganan Doni dulu katanya, jangan berpikir aneh aneh Yank, kalo aku mau gituan juga cuma sama kamu saja dan sekarang kamu tau kan aku lagi berpantang itu." Ujarku sangat lirih agar hanya Sari saja yang mendengarnya.
"Iya sayank maaf, tadi aku agak kecewa soalnya saat mengetahui Mas Harno telah pulkam tanpa memberi kabar apapun." Ujarku tulus sambil memegang tangan kekasihku itu.
"Baiklah tapi jangan di ulangi yah, kalo mau apa apa harus tanya tanya dulu nggak boleh semau gue." Kata Sari mulai lirih.
"Okey sayank..." Ujarku semringah, namun saat aku hendak memeluk Sari, ia langsung berkelit menolak ku.
"Sudah nanti saja malu, aku mau bantuin Dewi dulu." Ujar Sari sembari langsung berlalu sambil menyembunyikan senyumnya saat ia melihatku hanya tertegun.
"Yeyyy...ada yang tengsin niyeee......!!!" Seru Rasti meledek aku, di barengi sorakan dari cewek cewek karyawan ku itu. Aku hanya tersenyum malu.
"Wah berani bener ngeledek boss, pengen gaji kalian di potong apa." Ujarku bercanda sambil pura pura terlihat ngambek.
"Eh enak aza main potong gaji, mau di laporin bu boss apa kalo boss semena mena sama kita." Timpal Mumun.
__ADS_1
"Waduh nggak usah lapor lapor, besok kita libur cuy gimana kalo kita makan makan lagi ?" Ujarku.
"Kok libur boss...nggak usah libur atuh boss nanti premi kita hangus." Ujar Nia terlihat serius membuatku jadi tertawa ngakak.
"Kalian itu sampai segitunya yah, tenang cuy kalo aku yang nyuruh libur itu berarti nggak ada pengaruh ke gaji kalian, masih muda pada sensi bener hehehe." Ujarku.
"Yah kalo libur sekalian saja pas acara pembukaan toko, di resmikan oleh pengurus lingkungan gitu biar terkesan resmi, lagipula Pak Wakil dan Rt sudah pada nanyain jadi nggak pembukaannya." Tukas Aceng yang duduk tak jauh bersama ketiga anggota tangan besi.
"Ya sudah tentukan saja waktunya kan aku sudah masrahin ke kamu." Ujarku pada Aceng.
"Malam minggu saja, besok aku urus dulu perijinannya ke polsek." Kata Aceng.
"Ya sudah deal, segera kondisikan saja sama yang lain." Kataku.
"Boss, boleh nggak kalo kami usul pas hari H kita semua pake seragam yang sama gitu nggak usah mewah mewah seragam kaos juga bisa kok boss." Kata Mumun.
"Setuju boss kita bisa pete pete kok." Kata Rasti.
"Pete pete apaan seh ?" Tanyaku.
"Patungannnnn.....!!!!" Teriak gadis gadis itu serempak sambil tertawa.
"Wah ide bagus, kalian ada kenalan konveksi nggak, kalo ada silahkan pesan dua lusin untuk member kita, nanti semua aku yang bayar." Ujarku.
"Ada boss kebetulan bibiku sendiri." Ujar Nia.
"Ya sudah tawarin saja bikin kaos seragam dua lusin dulu, ukurannya variasi saja kalo yang cowok kebanyakan xl kali yah soalnya badannya gede gede semua." Kataku.
"Desain nya gimana boss ?" Tanya Nia.
"Dah lah terserah kalian saja, nanti harganya berapa minta padaku, pokoknya bahan kaosnya yang bagus masalah harga kita nurut." Ujarku.
__ADS_1
"Okey boss siyap..." Ujar Nia semringah sambil mengacungkan jempolnya padaku.