OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 71 Bayangan Persoalan


__ADS_3

Aku hanya membalas dengan banyak emoticon ngakak. Sebenarnya aku tak ingin memberikan hati untuk gadis ini sejak awal. Namun semakin lama aku mengenalnya, pribadinya semakin menarik minatku untuk lebih jauh lagi mengenalnya secara pribadi.


Aku paham ini yang nantinya bakal di sebut main api tapi resiko ini harus aku ambil jika tak mau usahaku hancur dan sia sia gara gara masalah wanita dan segala sangkut pautnya.


"Ihh kok cuma ngakak aza seh Ak...tadi Aak mau tanya soal apa ?" Pesan masuk dari Imas.


"Maaf Teh, mau nanya perkembangan hubungan Teh Imas sama Aceng gimana ?" Balasan dariku to the point.


"Mau tau aza apa mau tau banget Ak ?" Reply darinya fast respon.


"Mau tau aza deh." Balasku.


"Sebenarnya hubungan kami sulit Ak, sama sekali nggak ada chemistry apapun antara aku dan Ak Aceng." Balasan dari Nimas Dewi Hapsari yang apa adanya itu justru membuatku tertegun.


Aku tak menyangka gadis ini begitu terus terang dan blak blakan sangat apa adanya.


"Kok diam Ak ? Aak marah yah ?" Pesan dari Imas lagi.


"Bukan marah seh Teh, lebih ke prihatin saja. Gimana juga kalian adalah orang dekatku kan." Balasan dariku.


"Susah Ak aku sama sekali tak ada perasaan lebih ke Ak Aceng, justru aku jatuh cintanya sama orang lain." Reply dari Imas kali ini benar benar membuatku terhenyak, aku specless.


Aku bukannya terlalu percaya diri berlebihan tapi kurasa Pak Haji Obi benar, orang lain yang di cintai oleh Imas itu adalah aku. Walaupun aku juga kurang paham bagaimana perasaan itu ada padanya sedangkan bertemu denganku saja baru sejak kemarin tempo hari saja.


Haruskah aku mematahkan harapan gadis itu sebelum berkembang ataukah aku berikan padanya harapan palsu dengan resiko yang sama, resiko yang sama sama membuat hancur usaha yang baru saja ku rintis dengan susah payah itu.


"Ak....sudah ngantuk yah..." Pesan masuk dari Imas lagi.


"Iya Teh...maaf tiba tiba ketiduran, emoticon senyum." Balasan dariku.


"Ya sudah deh, selamat malam Ak, silahkan beristirahat." Pesan dari Imas. Aku yakin sekarang mood nya sedang turun.


"Iya selamat malam juga Teh, sampai jumpa besok." Balasan dariku, yang kemudian di balas lagi dengan jempol saja olehnya.


Aku segera menghapus seluruh riwayat percakapan kami dengan menghapus data storage yang membuat semua riwayat pesan bersih.


Segera saja ku taruh hp di meja sampingku, lalu ku pandangi sejenak wajah kekasihku yang tengah terlelap begitu pulas begitu cantik dan damai.

__ADS_1


Kemudian ku coba untuk memejamkan mata, namun bayangan bayangan persoalan seakan datang silih berganti mulai dari wajah Doni dan Teh Yanah yang tertawa tawa riang disisi lain terbayang pula wajah lugu nan sendu Mang Darom yang sedang bersama anak anaknya seakan terus hadir terpatri dalam benakku dan tak mau menyingkir.


Bayangan Aceng yang memaki dan mencelaku habis habisan juga segera singgah di pikiranku ketika tak sengaja aku berpikir tentang Imas.


Terpikir olehku untuk melakukan latihan pernapasan tapi dengan semrawutnya pikiranku jelas ini bukan suasana yang kondusif yang hasilnya kebanyakan akan sia sia saja.


Pada akhirnya aku tetap tak bergeming dari peraduan dan mencoba untuk mengistirahatkan pikiran dan hatiku meskipun aku rasa baru benar benar tertidur pulas setelah dini hari.


Keesokan harinya aku memulai aktivitas dengan lesu dan tak bersemangat seperti biasanya. Dewi benar benar mewujudkan perkataannya kemarin dengan mulai membuka pelayanan penjualan, meskipun juga harus membagi anak buahnya yang masih harus melanjutkan sisa kerjaan kemarin yang belum rampung sepenuhnya.


Sari lebih banyak menghabiskan waktu di office untuk membuat data data inventaris modal sebagai dasar untuk membuat pembukuan dalam hal ini dia begitu kompak dengan Imas yang juga capable dalam bidang itu.


Aceng dan empat tangan besi lebih banyak berkutat di gudang untuk membantu anak buah Dewi yang masih mengisi etalase tertentu yang belum komplit terisi item dagangan.


Aku lebih banyak hanya melihat mereka beraktivitas dan itu membuatku bosan juga ternyata.


"Ceng kamu handle disini dulu yah, barangkali nanti masih ada kiriman dari Jawa yang datang." Ujarku, aku memang berniat pergi ke pabrik penggilingan sejenak.


"Kau mau kemana?" Tanya Aceng sambil menghampiriku.


"Nengok penggilingan sebentar, nanti barangkali barang dari sekar tanjung datang kamu terima dan lalu cek seperti biasa nanti datanya bisa kamu kasih ke Sari untuk di masukkan ke data inventaris." Kataku.


"Kurang tidur doank, memang mikirin apa ? mikirin kerjaan juga sudah kalian handle semua kan." Jawabku lalu aku ngeloyor pergi ke bawah lagi, mampir ke office sebentar.


"Yank aku mau ke penggilingan dulu yah." Ujarku yang kumaksudkan kepada Sari, karena ternyata Imas juga masih berada di office juga.


"Mau kemana mas ?" Tanya Sari sementara Imas hanya menatapku seakan juga melontarkan pertanyaan yang sama padaku.


"Ke penggilingan sebentar." Jawabku dari balik pintu saja meski sebenarnya aku ingin menghampiri Sari untuk sekedar minta ciumannya sedikit saja namun aku urungkan niatku itu.


Sampai di penggilingan padi kulihat juga sudah beroperasi, dua orang karyawan yang semuanya telah berumur sebaya dengan bapakku langsung menyambut kedatangan ku dengan semringah, apalagi karena aku juga membawakan mereka makanan ringan berupa gorengan yang tadi sempat ku beli di pedagang gorengan depan pasar.


Aku baru saja mau menanyakan seorang tenaga tetap yang lain namun ku urungkan karena yang ingin kutanyakan telah datang sambil membawa dua karung gabah sebagai muatan di motor butut yang sudah di modif sedemikian rupa olehnya.


Sementara karyawan serabutan kebanyakan hanya masuk ketika musim panen dimana jemuran padi sedang banyak, kalo pas musim tanam gini biasanya mereka beralih kerjaan jadi buruh kerja di sawah.


"Boss ..!" Sapa karyawan yang baru datang itu padaku.

__ADS_1


"Iya pak... silahkan ini saya bawa gorengan di buat pake sarapan dulu pak." Ujarku.


"Trimakasih banyak boss..." Jawabnya semringah


Namun mereka tetap belum menghentikan aktivitas, dan barulah mereka berhenti dan memadamkan mesin diesel penggilingan ketika dua karung yang di bawa oleh karyawan tadi di selesaikan.


Sementara mereka bertiga menikmati gorengan, aku menggunakan waktuku untuk mengecek pembukuan mereka.yang sudah tersusun sistematis sejak Pak Haji Obi masih jadi pemiliknya.


Kulihat pembukuan ini cukup rapi dengan sistem pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara harian, bahkan ada juga catatan gabah giling yang di catat secara detail, Meskipun tetap ada selisih untung hariannya namun nilainya terhitung sangat kecil.


"Maaf boss kalo musim paceklik gini memang agak sepi." Ujar salah satu dari mereka.


"Gapapa pak di syukuri saja yang penting masih ada rezeki buat kita meski tak besar jumlahnya." Kataku.


"Oh iya ini kalo makan siang bagaimana? pulang ke rumah yah ?" Tanyaku.


"Iya boss da rumah saya dekat." Ujar salah satunya yang aku sudah mengenalnya bernama Pak Syarif.


"Kalo Mang Darom gimana pulang juga ?" Tanyaku kepada suami Teh Yanah itu.


"Hehehe kalo saya mah numpang makan di Ceu Onah boss." Ujar Kang Darom sambil tersenyum ramah.


"Kalo bapak, maaf hapunten bapak siapa namanya saya khilaf." Tanyaku kepada karyawan yang bagian cari gabah untuk di giling.


"Saya biasa di panggil Ujang boss panggil saja saya Mang Ujang, kalo waktu makan ya pulang juga ke rumah boss, saya kan rumahnya hanya bersebelahan sama Syarif." Jawabnya.


"Kang Ujang itu kakak saya boss tepatnya kakak ipar saya." Tukas Pak Syarif menimpali.


"Oh begitu, iya baiklah sebenarnya saya ada rencana dengan penggilingan ini bapak bapak. Saya bermaksud membuat basis produksi beras kecil kecilan melalui tempat ini, mungkin ke depan usaha di sini akan berkembang tidak sekedar melayani jasa penggilingan saja namun juga memproduksi dan menjual beras secara mandiri." Ujarku.


"Wah bagus itu boss bagus banget..." Ujar Mang Ujang tampak antusias.


"Kapan akan dilaksanakan itu boss ? Bertanya Pak Syarif.


"Insyaallah secepatnya pak, jadi nanti bapak bapak nggak perlu cemas soal kerjaan, saya jamin bakalan ada terus bahkan kita akan membutuhkan banyak tenaga tambahan lagi, jadi kedepannya sistem upah bapak bapak semua akan di terapkan seperti yang di toko ada gaji pokok dan bonus bonus lainnya juga." Ujarku


Mereka menjadi berbinar binar terlihat senang.

__ADS_1


"Apakah nanti istri saya bisa bekerja di sini juga boss ?" Tanya Pak Syarif.


"Tentu saja pak jika berkenan, mungkin bisa jemur padi mungkin bisa proses nampihan beras, atau mungkin jadi juru masak karena kedepan kita juga akan bikin pantry atau dapur umum juga di sini." Ujarku membuat mereka semakin antusias.


__ADS_2