OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 11 Mengumpulkan Bukti


__ADS_3

Pulang dari padepokan Kyai Danuri dengan kelegaan karena satu persatu rencanaku berjalan dengan lancar. Empat bersaudara yang menamakan diri dengan julukan Empat Tangan Besi telah menyatakan kesediaan mereka dan bahkan berjanji akan slalu setia bersamaku, meski kulihat ada peran besar dari Kyai Danuri sendiri.


"Mas itu kebiasaan kalo pergi selalu pulang sore. Ngga kasihan bapak apa mas, tadi kecapekan bantuin Kang Bejo sendirian." Omel Anis yang langsung memberikan siraman rohani begitu aku membuka pintu mobil ketika sudah tiba di rumah.


"Hei bocil nih pesenan kamu !" Ujarku sambil memberikan plastik berisi bungkusan ayam bakar yang sempat ku beli saat melintas di depan pasar wetan kali dengkeng.


"Ayam bakar yah mas....asyikk..." Ujarnya sambil tersenyum dan nyengir seakan tak punya dosa. Bapak yang melihat kami hanya tersenyum melihat tingkah anak bungsunya itu.


"Gimana nak lancar urusannya?" Tanya bapak saat aku menyalim tangannya.


"Alhamdulillah pak aku sudah dapat beberapa tenaga untuk membantuku nanti di Krajan." Jawabku sambil melihat tumpukan rancangan besi besi yang sudah jadi semua.


"Bapak kalo mau bantuin Kang Bejo sekedarnya saja ga usah berat berat, orang kita bayar mereka kok." Ujarku.


"Bapak juga sekedarnya saja kok, kaya ga tau adikmu saja kamu nak hehe." Jawab bapak.


"Tapi kalo soal itu aku setuju sama Anis pak, bapak ga boleh kecapekan untuk sesuatu yang kita sudah bayar orang untuk melakukannya." Ujarku kukuh dengan pendirianku.


"Iya iya nak bapak gimana kata kalian saja." Jawab bapak melegakan aku.


"Pak gimana kalo bapak menikah lagi maaf loh pak bukan maksudku gimana tapi kemarin kan aku bertemu mamanya Mbak Sari dan masih cukup muda juga kayaknya pas kalo sama bapak." Ujarku sengaja aku buat terlihat serius.


"Entahlah nak yang jelas saat ini bapak ngga ada keinginan untuk itu lagi." Ujar bapak datar.


"Tentu itu terserah bapak kami tak akan memaksa bapak melakukan yang bapak tidak inginkan tapi kami hanya ingin bapak bahagia karena bapak berhak untuk itu." Ujarku lagi, kulihat bapak terdiam dan termenung mungkin memikirkan perkataanku.


"Sudahlah nak soal itu gampang ga usah di pikir." Ujar bapak.


"Iya pak...kalo gitu aku mau mandi dulu ya pak, maaf kalo kata kata Agung tadi kurang berkenan buat bapak." Ujarku, kulihat bapak tersenyum.


Aku baru akan beranjak saat hp ku berdering notif pesan wa masuk. Saat kulihat ternyata pesan dari Aceng yang mengirimkan gambar gambar proyek milikku yang sedang dia garap.


"Woww....amazing." Gumamku sambil mengunduh beberapa gambar yang Aceng kirim.


Hanya dua minggu saja gudang terbengkalai itu di sulapnya jadi bangunan megah dan indah terlihat rapi bahkan kulihat ada beberapa bangunan baru di sekelilingnya yang entah apa idenya soal itu.


Aku lalu memencet tombol video call


"Hallo boss Agung...gimana kira kira pendapatnya tentang gambar yang ku kirim." Ujarnya sambil senyum-senyum.


"Good job bro...eh itu nanti halamannya rapikan sekalian yah untuk tempat parkiran. Soal biaya bisa di atur." Ujarku.


"Calm boss yang penting beres...duit masih ada kok ga akan kurang klo cuma buat ngeblok halaman mah, yang ingin kutanyakan elu pengin di kasih taman nggak maksudnya sebagai penghias gitu. Soalnya ini tadi kebetulan ada yang nawarin dan ngasih harga miring." Ujar Aceng.

__ADS_1


"Udah gimana baiknya kamu aza bro toh nanti kamu juga yang akan mengelolanya." Ujarku lugas.


"Tapi nanti nambah cost dikit gapapa?" Tanyanya.


"Iya bro udah geura der lah." Ujarku membuatnya tertawa dan mengacungkan jempolnya.


"Ya sudah Ceng mau maghrib nih aku mau mandi dulu." Ujarku lagi.


"Okey boss ulah nyabun nya tapina." Ujarnya


"Dih jiga elu wae nyabun hahaha." Ujarku lalu ku tutup panggilan itu.


Ku lihat bapak senyum senyum mungkin beliau mendengarkan apa yang kami obrolkan. Ah bodo amat aku mau mandi.


Malamnya di dalam mobil yang juga kujadikan sebagai kamar darurat, aku giliran vc dengan Mbak Sari yang masih nungguin mamanya di rumah sakit. Dia bahkan mengenalkan padaku beberapa kerabat dekatnya termasuk beberapa sepupunya yang kebetulan sedang mbesuk mamanya.


Sebelum kemudian terlihat Mbak Sari keluar dari ruangan dan menuju tempat yang lebih nyaman buat privasinya mungkin.


"Mas...aku kangen..." Ujarnya lirih sambil memamerkan senyum manisnya.


"Aduh makasih tak terhingga mbak mudah mudahan bukan modus hehehe." Jawabku sambil terkekeh, jujur hatiku saat ini tengah melambung ke awang awang.


Gila memang aku mencintai istri dari sepupuku sendiri.


"Mbak kali cemberut gitu kok makin cantik banget yah bikin sakit malarindu ku tambah parah." Ujarku membuatnya tertawa kecil


"Trus kapan mau kesini lagi mas ? Besok mama sudah boleh pulang kata dokter, malam ini ngabisin jatah infus doank." Ujarnya.


"Oh gitu syukurlah kalo gitu mbak....eh biaya untuk rumah sakit sudah ada kan mbak ?" Ujarku senang.


"Ada kok mas....mama kan ada tabungan juga. Mas kapan jemput aku ?" Ujar Mbak Sari.


"Tentu saja kapan saja mbak ingin di jemput aku mah siyap...tapi kan ibuk belum kondusif kondisinya paling ngga mbak masih perlu nemanin beberapa hari lagi lah, besok klo longgar aku kesana deh." Ujarku.


"Hah beneran kan mas..?" Tanyanya.


"Iya klo longgar tapinya mbak, soalnya besok aku ada rencana ke bank dulu." Ujarku.


"Ngapain mas..ngga pinjem duit kan ?" Tanya Mbak Sari seperti mencemaskanku.


"Nggak kok mbak...duitku masih aman bahkan masih cukup untuk bayar sewa kamar hotel beberapa tahun hehehe." Ujarku menggodanya.


"Iihh...gitu yah....eh udah dulu yah mas Mbak Wati nyariin." Ujarnya.

__ADS_1


"Iya sayank ingat klo butuh apa apa colling aku yah jangan colling Mas Farhan." Ujarku.


"Hihihi iya iya sayank....i m yours now." Ujarnya sambil tersenyum sangat manis, lalu menutup panggilan.


Boommm...hatiku meledak gila... sensasi orang jatuh cinta benar benar dahsyat, haruskah aku merebut kamu dari Mas Farhan mbak. Alamat ga bisa tidur malam ini.


Benar saja sejak abis vc dengan Mbak Sari pikiran ku tak pernah berhenti mengangankan dirinya, Inikah rasanya orang jatuh cinta dan kasmaran, ah aku ingin dia di dekatku saat ini juga.


Aku terbangun ketika bapak mengetuk mobilku, dan ketika aku benar benar sudah bangun meski mataku masih terasa sepat, kulihat Kang Bejo dan anak buahnya sedang menikmati sarapan nasi bungkus bikinan Bude Marni.


Barulah agak siang aku berangkat ke bank himbara tempat aku investasikan sejumlah uangku dalam bentuk deposito dan tabungan biasa. Sebagai salah satu investor yang mungkin sedikit di perhitungkan karena nilai uang yang aku investasikan harusnya aku langsung bisa menemui manajer bank tersebut.


"Maaf pak ada yang bisa saya bantu?" Ujar sekuriti saat menyambut kedatangan ku.


"Maaf pak yang jadi manajer di sini sekarang siapa yah karena sudah lima tahun saya belum kesini lagi?" Tanyaku sopan.


"Oh Pak Hendra Saputra bapak apakah ada perlu dengan beliau ?" Tanya sekuriti itu tak kalah ramah.


"Bolehkah saya bertemu beliau pak, oh iya ini kartu nama saya tolong ya pak buat di sampaikan bahwa saya ingin bertemu dengan Pak Hendra." Ucapku sopan.


"Baiklah tunggu sebentar ya pak barangkali beliau berminat menemui bapak." Ujar sekuriti itu.


Aku masih berdiri meski ada tempat duduk kosong yang di sediakan buat para nasabah, namun tak lama kemudian sekuriti itu telah keluar bersama seorang pria paruh baya yang langsung tersenyum menemui aku.


"Selamat datang kembali di Indonesia Pak Agung oh iya gimana kabarnya pak sehat kan?" Ujar manajer itu ramah khas bankir. Sebagai manajer bank dia tentu tau persis berapa jumlah uangku yang kutanam di bank tempatnya bekerja.


"Alhamdulillah Pak Hendra, mohon maaf apakah boleh saya minta waktu bapak sebentar." Ujarku tanpa basa basi.


"Oh tentu pak mari kalo gitu ke ruangan saya saja." Ajaknya ramah, aku pun mengikutinya ke ruangannya.


"Iya pak ada yang bapak perlukan maaf ?" Tanyanya setelah mempersilahkan aku duduk.


"Iya pak saya ada sedikit masalah dengan kerabat saya yang menggelapkan sedikit uang milik saya, jumlahnya sedikit hanya sekitar 3 jutaan sebulan tapi itu berlangsung selama lima tahun, jadi maksud saya bolehkah saya minta salinan data transaksi saya yang dari Jepang yang melibatkan rekening ini." Ujarku sambil menyerahkan catatan rekening atas nama Mas Harno.


"Oh tentu bisa pak tapi sedikit memerlukan waktu." Ujar manajer.


Aku segera mengeluarkan buku cek bank yang lain lalu menuliskan sebuah nominal dan menyerahkan nya pada manajer.


"Saya mohon bantuannya pak." Ujarku


"Baiklah pak besok bapak akan dapat salinan datanya. Pak Agung bisa datang seperti kapan saja asal besok." Jawab manajer.


"Oh trimakasih banyak bantuannya pak." Ujarku lalu menjabat tangannya sekaligus mohon diri.

__ADS_1


"Kena sekarang kau Harno." Kataku dalam hati.


__ADS_2