
Aku dan Sari baru saja menunaikan kewajiban waktu subuh, ketika hp ku berdering berulang ulang. Setelah kulihat barulah aku tau bahwa yang menelpon adalah Trimo salah satu dari empat tangan besi.
"Hallo mas...gimana..hari ini jadi kan berangkat ke Subang nya ?" Ujarku tanpa basa basi.
"Share lok boss sekarang...!" Jawabnya. Kudengar pula beberapa suara yang kurang jelas saat Trimo bicara.
"Share lok? memang kalian dimana sekarang?" Tanyaku.
"Kita sudah sampai gerbang tol Kertajati boss." Ujarnya.
"Hah... beneran? ya sudah sejalan lagi ya nanti sampai gerbang Kalijati minta turun saja aku jemput." Ujarku.
"Eh ga usah repot boss...share lok aza lokasi boss kami soalnya bawa kendaraan pribadi di antar adek ku boss.." Ujar Trimo lagi.
"Oh oke oke nanti exit saja di gerbang tol Kalijati trus ambil kanan sampai pasar Pwd trus ambil arah ke arah barat, oke aku share lok yah sekarang." Ujarku lalu ku tutup panggilan tanpa mendengar dulu jawaban darinya.
"Yank empat tangan besi sudah sampai di sini." Ujarku saat Sari menatapku lekat meminta penjelasan segera dariku.
"Hahh...trus gimana mas, apa kita masak sendiri dulu aza mas takutnya nanti ngerepotin Mih Onah jika empat tangan besi juga nebeng makan dengan mereka." Ujar Sari saat aku sedang mengirimkan lokasi tempat tinggal kami pada empat tangan besi.
"Iya deh yank, begitu juga bagus tapi gapapa kamu jadi repot?" Tanyaku.
"Ya gapapa atuh mas, cuma masak gitu aza itu kan kerjaan wanita." Ujar Sari sambil berlalu ke dapur.
Kami memang sudah memenuhi isi dapur dari kemaren kemaren meskipun Mih Onah sudah meminta kami untuk selalu makan bersama mereka namun sebagai orang yang tau diri tentu kami akan berusaha memenuhi kebutuhan perut kami sendiri meskipun beliau akan slalu ikhlas menyediakan makanan buat kami.
Untungnya peralatan masak mendiang ibuku cukup komplit sehingga Sari tak begitu kesulitan melakukan aktivitasnya apalagi dapurnya juga termasuk yang sudah di renovasi oleh Aceng kemarin itu membuat kekasihku itu terlihat nyaman saja.
"Kamu mau di bantuin nggak yank...?" Tanyaku.
"Udah nggak perlu mas, tar kamu malah ngrecokin." Jawabnya tanpa menoleh padaku.
Akupun segera masuk ke kamar dan membuka laptopku mengkoneksikan dengan hp ku, membuka email dari beberapa rekanan vendor batik yang mengirimkan katalog produk yang mereka produksi.
Tentu saja aku tak kesulitan untuk segera memesan beberapa jenis barang yang paling di sukai masyarakat disini karena aku pernah membantu ibuku berdagang bahkan dengan berkeliling dan jalan kaki hampir seharian.
Beberapa rekanan itu kebanyakan hanya vendor kecil yang bahkan menyodorkan barang produksi mereka dulu untuk di jual ibuku dan membayarnya boleh nanti saat sudah musim panen tiba, jadi saat aku langsung membeli produk mereka dalam jumlah besar dan langsung aku bayar tunai mereka merasa sangat antusias.
"Selamat pagi Pak Boss Hadi...! ini saya Agung yang kemarin datang ke toko boss di pasar sandang." Ujarku ketika panggilan telepon ku sudah di angkat beliau.
__ADS_1
"Oh iya iya mas jadi gimana? apakah tempat usahanya sudah siap?" Tanya Pak Hadi.
"Alhamdulillah sudah pak dalam beberapa hari kedepan mungkin sudah akan beroperasi, karena itu saya mohon maaf mengganggu waktu Pak Boss sepagi ini." Ujarku berusaha untuk sopan.
"Iya mas jadi apa yang bisa saya bantu?" Ujar beliau.
"Saya tentu saja berminat menjual produk batik unggul tapi maaf pak sebelum memesan bolehkah saya minta semua daftar produk yang batik unggul produksi ?" Ujarku.
"Oh tentu mas tentu nanti akan kami kirimkan katalog produk batik unggul kepada mas via email. Mas Agung ada kan email nya?" Jawab Boss vendor Batik Unggul yang merupakan pribumi keturunan itu, dimana produk vendor itu cukup di gandrungi pasar lokal sini karena kwalitasnya yang memang bagus.
"Oh ada pak, nanti setelah panggilan ini saya akan kirim email saya lewat pesan, makasih banyak kalo begitu Pak Boss." Ujarku sekaligus berniat mengakhiri panggilan.
"Iya iya juragan saya tunggu kerja samanya." Jawab Pak Hadi lalu kami sepakat mengakhiri percakapan.
Aku segera mengirim email pribadiku lewat pesan instan karena aku belum membuat email bisnis usahaku.
Dan hanya berselang sepuluh menit saja setelah aku mengirimkan email pada Pak Hadi, pihak batik unggul langsung menanggapi umpan balik dariku. Mereka bahkan mengirim produk paling mutakhir mereka yang belum di lepas ke pasaran.
Apalagi email mereka sudah di lengkapi dengan tata cara pemesanan dan berikut pilihan pembayarannya yang sangat memudahkan.
Hampir semua produk mereka langsung aku pesan bahkan dalam jumlah yang cukup besar karena semakin besar barang yang di pesan rabat yang mereka berikan juga semakin banyak, apalagi harga yang mereka tawarkan jauh di bawah dari harga jual di kios pasar sandang mereka yang ada di kotamadya.
Hampir dua miliar telah terkuras dari deposit ku setelah beberapa transaksi dengan Batik Unggul dan beberapa vendor kecil dari daerah asal ku, yang semuanya menjanjikan barang yang aku pesan akan mereka kirimkan akan sampai padaku tak lebih dari tiga hari.
Wangi tumisan masakan Sari segera menggugah perutku yang memang sedang kelaparan, karena hampir semalaman aku gunakan untuk bermeditasi mengolah pernapasan ku.
Aku melihat kalender digital dan memastikan bahwa jumat kliwon bulan depan akan jatuh 25 hari lagi yang berarti waktuku di sini hanya tiga minggu lagi sebelum aku kembali pulkam.
"Mas...!...mas...!! bantuin donk...!!!"
Ku dengar teriakan Sari dari dapur sejalan dengan bunyi suara desing yang di hasilkan penggorengan. Akupun segera melompat turun dari kasur lalu menghampiri kekasihku itu.
"Tadi katanya nggak ingin aku ngrecokin." Ujarku sambil memeluknya dari belakang dan menciumi pipi dan lehernya.
"Ih apaan seh di suruh bantuin malah peluk peluk. Aku belum mandi mas..." Ujar Sari sambil tangannya sibuk menumis bumbu bumbu yang sudah di haluskan olehnya.
"Kamu masak apa sayank qiu..?" Tanyaku sambil menciumi pipi dan lehernya membuat Sari menggelinjang meskipun tubuhnya ku peluk erat.
Sari tak menjawabnya melainkan segera memasukkan irisan cabai hijau dan potongan kecil kecil kentang ke penggorengan. Aroma yang di hasilkan dari cabai hijau itu ternyata cukup untuk membuat aku terpaksa menyingkir kalo aku tak mau batuk batuk.
__ADS_1
"Mas tolong donk ambilkan air !" Ujar Sari.
"Siyap laksanakan komandan." Jawabku lalu dengan sigap aku memenuhi permintaannya.
"Mas empat tangan besi kira kira kapan sampainya?" Tanya Sari.
"Kenapa ? kamu sudah kangen banget kah ?" Tanyaku menggodanya.
"Ih apaan seh, ini loh aku masaknya lemot gini takutnya pas mereka datang belum matang." Ujar Sari sambil mendelik menatapku.
"Ya biarin aza salah sendiri mereka ngeprank kita kemarin, bilangnya mau naik bus kan kesininya tapi malah pilih travel, buang buang duit saja." Ujarku menggerutu.
"Lah kan kamu sudah kirimkan duit ke mereka kan mas kemarin ?" Ujar Sari.
"Ya sudah dua juta malah kalo di pake buat naik bus kan perut mereka masih bisa kenyang, malah pilih travel." Kataku.
"Ya sudahlah mas, memang apa salahnya seh lagipula kan terserah mereka duit itu sudah hak mereka mau di buat apa juga yang penting kan mereka kesini sudah itu aza." Ujar Sari.
"Iya boss iya terserah kamu juga lah kalo mau belain mereka." Ujarku menggodanya.
"Iihhh siapa yang membela mereka memang apa untungnya buat aku ?" Ujar Sari sambil melotot kepadaku.
"Ya nanti kalo ada yang nyulik kamu lagi, mereka yang nyelamatin kamu." Ujarku sambil tersenyum.
"Ih amit amit mas...memang kalo aku di culik lagi, kamu sudah nggak mau selamatin aku ?" Tanya Sari sambil mendelik menatapku tajam.
"Ya kalo aku akan menjaga kamu agar tak ada seorang pun yang berani menculik kamu." Ujarku.
"Nah itu baru anak manis yang tampan, hihihi good boy....!" Ujar Sari sambil tersenyum manis sekali.
"Sekali lagi bilang good boy, kupastikan perutmu segera bengkak sayank." Ujarku gemas.
Aku memang paling tidak suka di remehin apalagi oleh seorang wanita.
"Lah omdo aza di gedein...nyenggol aza nggak pernah kok bilang mau membuat perutku bengkak. Apaan ?" Ujar Sari yang justru memprovokasi aku.
"Hahaha tunggu saja tanggal mainnya...ga ada ampun." Ujarku sambil mendekati lalu mendekapnya dan menciuminya.
"Halah prett omdo...doank modus...." Ujar Sari yang kini justru di atas angin membuatku blingsatan.
__ADS_1