
Setelah membayar makan malam, kami segera pergi dan tak berniat kemanapun lagi selain pulang ke rumah dan kemudian menghabiskan waktu di peraduan.
Aku hanya mengangguk dan mengiyakan saja setiap kali Sari berbicara dan memberikan pendapatnya tentang beberapa hal yang menyangkut hubungan kami dalam berbagai sudut pandangnya, meskipun tak lama kemudian Sari segera tertidur pulas sambil mendekapku setelah rasa kantuk dan lelah menyergapnya di tunjang dengan hujan deras yang mengguyur untuk pertama kalinya sejak kami tiba disini.
Aku membuka beberapa pesan instan masuk yang banyaknya dari Imas yang mengirimkan foto sexy nya dalam beberapa pose dengan di sertai tulisan boring dan miss you. Aku hanya membalas "bakda subuh aku ke rumahmu."
Keesokan paginya aku terbangun ketika suara adzan berkumandang dan sudah tak mendapati Sari di sampingku lagi, namun dari suara suara khas dari dapur aku tau jika wanitaku itu telah memulai aktivitasnya.
Seperti biasa aku segera bangun melaksanakan aktivitasku lalu segera memakai celana training dan sepatu sport.
"Yank, aku lari dulu yah !" Ujarku sambil mendekapnya dari belakang dan menciumnya sejenak.
"Iya...hati hati...yah Sayank !" Pesan Sari, tanpa ekspresi apapun karena fokus dengan aktivitasnya yang saat ini sedang menumis bumbu.
Wanitaku ini begitu baik dan lembut selain kecantikan luar dalam yang terpancar dari hampir semua bagian tubuhnya nyaris sempurna, namun saat ini dalam angan anganku menginginkan sesuatu yang lain lagi dari kecantikan yang berbeda, seakan aku ini orang yang kurang bersyukur.
Udara pagi hari minggu di awal bulan ke sepuluh dalam kalender tahun masehi ini. Masih terasa sangat lembab sisa hujan semalam, meskipun langit pagi fajar sangat cerah. Jalanan juga masih sangat sepi meski di pasar kecil Kampung Krajan sudah terasa bergeliat dalam aktivitas ketika aku melewatinya.
Beberapa orang menyapaku dengan ramah, meski aku tak mengenal nama nama mereka. Aku pun menanggapi dengan lebih ramah.
"Bik kue gonjingnya 15 ribu yah." Ujarku sambil mengulurkan dua lembar uang sejumlah itu pada wanita paruh baya penjual kue gonjing yang rumahnya di sebelah Teh Nenih, dia adalah ibunya Dion.
"Oh Alhamdulillah ada penglaris dari Aak boss." Jawabnya semringah.
Tak berapa lama pesananku selesai di buatkan dan di kemas dalam wadah kertas dan di wadahi lagi dengan plastik kecil.
"Wah ini nggak kebanyakan Bik ?" Tanyaku, karena aku merasa ibunya Dion memberikan kue gonjingnya agak berlebih.
"Gapapa boss, buat penglaris soalnya." Jawab wanita yang aku perkirakan sudah berusia di atas setengah abad itu dengan wajah yang semringah.
"Iya kalo begitu makasih banyak yah Bik, mudah mudahan dagangan Bibik laris manis dan duitnya kumpul." Ujarku lalu kembali mohon diri.
__ADS_1
Dan setelah memasukkan kue gonjing yang masih hangat itu ke waist bag aku kembali melanjutkan jogging pagiku langsung mengarah ke rumah Imas di kampung sebelah yang ada di seberang bulak persawahan sepanjang setengah kilo itu.
Jalan bulak itu masih sangat sepi dan basah. Saat melintas di depan tempat penggilingan padi ku gerbang pagarnya tergembok rapat, aku berhenti sejenak untuk menghubungi Imas.
"Ak, dimana sekarang?" Tanyanya setelah menerima panggilanku.
"Bukalah gerbangnya !" Ujarku, lirih saja setelah itu aku matikan panggilan.
Setelah berjalan beberapa saat melintasi area pekarangan kebun rambutan dan melewati beberapa rumah penduduk yang masih tertutup rapat aku sampai di depan gerbang rumah Imas, dimana dia pas membuka gerbang pagarnya.
Begitu aku masuk tanpa basa basi lagi Imas kembali menutup rapat pintu gerbangnya dan langsung memelukku erat erat.
"Sepagi ini kau sudah wangi saja, memang sudah mandi ?" Tanyaku.
"Sudah donk Sayank...yuk ke dalam saja !" Jawabnya sambil tersenyum semringah.
Kami pun berjalan berangkulan sambil sesekali menyempatkan untuk berciuman.
"Nggak tau Ak, sebenarnya bapak juga sudah nggak betah di tempat Ak Ahmad minta di antar pulang tapi kan bapak masih harus rutin kontrol selama tiga bulan ini jadi yah gimana lagi." Jawab Imas.
"Ini ku bawain kue gonjing..." Kataku.
"Aduh itu kesukaanku Ak...makasih banyak Aak Sayank..." Ujar Imas yang telah duduk di pangkuanku setelah ku rengkuh tubuhnya.
"Sudah aku bilang kita harus main aman kenapa nekat banget, kamu nggak kasihan sama aku?" Ujarku sambil mencumbuinya.
"Maaf Ak, abisnya aku gabut udah gitu kangen banget sama Aak, disini aku sendiri kesepian sementara Aak enak enakan sama Mbak Sari." Kata Imas.
"Aku nggak mau tau pokoknya ke depan kamu harus berhati-hati jangan sembarangan kirim pesan kalo nggak aku dulu yang mulai." Ujarku sambil memilin butir kecil buah dadanya yang membuat Imas menggelinjang.
"Tapi kalo aku kangen Aak gimana ?" Tanyanya sambil menatapku dengan wajahnya yang sangat cantik jelita itu dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Ya gimana lagi, kamu harus bersabar Sayank, kan posisimu memang di belakang Sari, biar gimanapun aku juga tak ingin menyakiti Sari, jadi tolong ngertiin hal ini yah, dan ke depan aku nggak ingin kamu menyinggung apapun soal hubungan kita apalagi di depan Sari." Ujarku lirih, karena bagaimanapun juga aku harus menjaga perasaannya.
"Apakah hubungan kita yang seperti ini memang nggak ada masa depannya Ak ?" Tanya Imas sambil menatapku sementara kedua tangannya di lingkarkan di leherku.
Saat ini posisinya adalah duduk menghadapku di atas pangkuanku.
"Soal itu aku juga belum bisa memastikan Imas, sebab itu soal takdir, kalo di tanya apakah aku menginginkan kamu tentu saja aku akan menjawabnya iya." Ujarku sambil membelai pipinya.
"Tapi kalo Mbak Sari nggak mau berbagi gimana Ak?" Tanya Imas.
"Nanti biar aku yang ngatur soal itu, untuk sementara jangan bikin hal hal yang berpotensi bikin kisruh diantara kalian yah." Ujarku.
"Kok sepertinya bau baunya aku hanya akan jadi madu kamu saja Ak?" Kata Imas.
"Entahlah istilahnya apa tapi yang jelas, kamu harus bersabar jika ingin aku jadi milikmu Sayank." Ujarku sambil menciumi pipinya.
Aku sama sekali menolak saat Imas bermaksud mengajakku berciuman bibir karena aku belum mandi meskipun mulutku selalu bersih.
"Ih kenapa seh nolak, jijik yah sama aku ?" Ujar Imas sepertinya nggak suka penolakan dariku saat ia begitu gencar ingin mengajak berciuman bibir.
"Aku belum mandi Sayank..." Kataku sambil mencium telinganya yang membuatnya blingsatan.
"Secelup dua celup dulu yuk Ak...!" Kata Imas sambil mendesah dan menggeliat ketika aku intens mencumbuinya.
"Jangan Sayank, belum waktunya. Untuk sekarang kita begini saja yah." Ujarku.
"Ahh, memang sudah puas kaya gini saja ?" Tanya Imas menggodaku.
"Ya di cukupkan dulu lah, nanti kalo sudah waktunya mau model gimana juga aku nggak akan mundur." Ujarku.
Imas benar benar memaksa untuk mencium bibirku yang akhirnya membuatku mengalah dan melayaninya.
__ADS_1
Setidaknya kami melakukan hal seperti itu selama setengah jam sebelum aku pamit untuk pulang dan memintanya segera bersiap untuk bantu bantu di rumah Mih Onah.