OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 9 Lekas Sembuh Ibuk


__ADS_3

Setengah jam telah berlalu dan matahari sudah jauh condong ke barat ketika kami sampai di pelataran parkir RSUD Ungaran yang sore itu cukup pepat oleh kendaraan pengunjung. Namun tak seperti tadi pagi dimana Mbak Sari sangat buru buru, kali ini dia begitu rileks berjalan sambil menggandeng tanganku.


Kami langsung menuju ruang ICU yang mana tadi mama Mbak Sari di rawat, namun ketika sampai disana kata suster penjaga, mama Mbak Sari telah di pindah ke kamar perawatan kelas 2 di lantai dua.


"Mbak maaf nanti abis mbesuk mama mbak, aku langsung pamit pulang yah." Ujarku sambil berjalan, di tanganku aku menjinjing tas plastik berisi makanan yang kami beli tadi.


"Trus aku gimana mas?" Tanyanya.


"Sebaiknya mbak di sini aza dulu nungguin mama mbak...nanti kalo mama mbak udah sembuh dan boleh di bawa pulang, barulah mbak telpon aku nanti aku jemput." Jawabku.


"Beneran yah mas." Ujarnya.


"Iya mbak pasti tapi nanti aku di kasih jatah lagi yah." Ucapku lirih berbisik.


"Ihhh ..gila kok jadi kecanduan gitu hihihii." Katanya sambil tertawa kecil.


"Enaknya nagih seh bikin mau lagi dan lagi.." Balasku bergurau. Mbak Sari justru tertawa agak keras lalu mencubit pinggangku.


"Mas kalo jadi gimana? tadi kamu keluarnya di dalam loh...banyak banget lagi.mana aku juga lagi subur." Ujarnya.


"Kalo jadi ya aminn deh brarti nanti kita akan punya buah hati kan." Ujarku santai.


"Kamu bercanda nggak seh mas. Ini serius loh." Kata Mbak Sari agak keras.


"Iya tuan putri hamba juga serius kan tadi katanya aku harus tanggung jawab kalo ada apa apa, ya sudah pokoknya aku akan selalu ada di sampingmu dalam keadaan apapun untuk memastikan kenyamanan engkau tuan putri." Ujarku.


"Hihihi bisa aza kamu mas, apa baiknya aku cerai saja yah ma Mas Farhan trus nikah sama kamu." Kata Mbak Sari slengean.


"Aku menanti kesempatan itu datang mbak tapi kalo bisa Mas Farhan lah yang harus mengawalinya bukan kamu duluan yang menuntut, paham kan kira kira maksudku apa?" Ujarku lirih karena takut terdengar orang yang berlalu lalang.


"Iya mas...aku paham." Ujar Mbak Sari sekaligus mengakhirinya percakapan kami karena sudah sampai di bangsal tempat mamanya di rawat.

__ADS_1


Namun di ruangan yang di bagi menjadi dua bilik itu, terlihat sangat lengang. Dan benar saja yang nungguin mama Mbak Sari hanya ada seorang wanita paruh baya yang bisa kuperkirakan beliau adalah budenya Mbak Sari yang saat itu sedang bersandar di sekat pembatas dengan matanya yang terkantuk kantuk. Mama Mbak Sari sendiri yang tengah tertidur pulas, langsung terbangun ketika kedatangan kami.


"Kamu sudah datang nduk." Ujar Mama Mbak Sari terlihat tampak sudah agak segar dan nggak pucat lagi wajahnya.


"Iya mah...gimana keadaan Mama sekarang?" Tanya Mbak Sari sambil beringsut melangkah mendekati mamanya dengan melangkahi kaki budenya yang tidur selonjoran sementara badannya bersandar di dinding sekat.


"Sudah mendingan nduk, maaf jadi membuatmu repot ya nak." Kata Mama Mbak Sari lirih. Sementara Mbak Sari memegang megang kening mamanya lalu mengusap keringat yang membasahi wajah dan leher mamanya.


"Itu siapa nduk temanmu kah...dimana Farhan?" Ujar Mama Mbak Sari lagi sambil menatapku.


"Saya Agung...Ibuk adik sepupu Mas Farhan." Akulah yang menjawab sambil tersenyum dan mengangguk sopan. Mama Mbak Sari tersenyum membalasku.


"Mas Farhan masih di Surabaya Mah, belum pulang " Timpal Mbak Sari.


"Oh iya Mbak Wati sama Pakde Wardi kemana Mah?" Tanya Mbak Sari lagi


"Pulang tadi di jemput suaminya katanya si Bayu rewel, kalo Pakde ikut mereka juga tapi nanti malam akan kesini lagi katanya." Jawab Mama Mbak Sari.


"Sudah nduk tadi dapat ransum dari rumah sakit kan." Jawab Mama Mbak Sari sambil menatapku sehingga aku pun mendekat.


"Trimakasih ya mas sudah mengantar Sari kesini dan membuat Mas Agung repot." Ujar Mama Mbak Sari kepadaku.


"Tentu sama sekali tidak merepotkan kok ibuk, dan syukurlah ibuk sudah baikan mudah mudahan dengan perawatan intensif beberapa hari lagi, kondisi kesehatan ibuk segera pulih total." Ujarku sambil tersenyum ramah.


"Aminnn.... makasih sudah mendoakan ibuk mas." Jawab Mama Mbak Sari juga berusaha tersenyum.


"Ibuk mohon maaf jika kali ini saya tak bisa lebih lama menemani Mbak Sari disini, tapi saya tetap slalu berdoa semoga ibuk lekas pulih dan di beri anugerah nikmat sehat seperti sedia kala." Ujarku sambil mencium buku tangan Mama Mbak Sari lalu meletakkan sejumlah uang di genggaman tangan beliau.


"Aminn...loh ini apa nak...ga usah...kok ngasih ibuk uang juga ini gimana..." Ujar Mama Mbak Sari agak heboh.


"Hanya sedikit ibuk mohon maaf smoga ibuk berkenan. Oh iya saya tadi ada titipan salam hormat dari keluarga di Tawangsari ibuk mereka semua juga berdoa smoga ibuk lekas sembuh dan sehat seperti sedia kala." Ujarku sambil tersenyum ramah. Kulihat Mama Mbak Sari terharu dan berkaca kaca.

__ADS_1


"Trimakasih banyak ya nak...maaf banyak merepotkan." Ujar wanita paruh baya itu.


"Loh ada tamu tow....eh kamu nduk Sari tadi katanya kamu jemput bude yah wkwkwkk." Ujar Bude Mbak Sari sambil beringsut bangun. Mbak Sari hanya cuek sejenak sebelum menjawab.


"Bude bisa bisanya ngeprank Sari seh jahat bener." Ujar Mbak Sari pura pura cemberut.


"wkwkwkk tadi takut ngrepotin kamu kok nduk, maafin bude yah. La ini bojomu nduk?" Tanya budenya Mbak Sari lagi.


"Eh iya bude." Jawab Mbak Sari sambil terkekeh membuat mamanya menatapnya.


Aku pun segera menyalim buku tangan bude Mbak Sari yang sudah agak keriput karena usia.


"Saya Agung bude adiknya Mas Farhan." Ujarku sopan.


"Oh iya kan dasar Sari bocah gemblung orang adiknya kok di bilang bojone, pantesan yang ini lebih tampan kok." Ujar budenya Mbak Sari membuat kami tertawa.


Aku pun segera kembali mengutarakan mohon diri sekali lagi, meskipun kulihat Mbak Sari tampak berat aku tinggalkan. Bahkan memaksa ikut mengantarku sampai depan, dan bahkan sampai ke dalam mobil untuk sekedar berciuman sejenak. Sepertinya dia beneran jatuh cinta padaku.


"Sudah yah mbak kalo gini terus aku jadi berat ninggalin mbak." Ujarku sambil mengusap pipinya.


"Ya sudah nggak usah pergi." Katanya sambil masih memelukku. Aku hanya diam menahan perasaan yang bergejolak ini.


"Tapi aku harus pulang mbak, tapi jika Bude Marni nanti ngajak kesini aku pasti siap, sebelum nanti menjemput mbak pulang lagi." Ujarku dengan dada yang bergemuruh karena Mbak Sari sana sekali tak mau melepaskan pelukannya.


"Jangan bawa mamak kesini mas, kalo ayahmu boleh itung itung ngapelin mamaku hihihii, mamaku kan janda." Ujar Mbak Sari malah bercanda.


"Biar sehat dulu donk mbak kasihan mama mbak kalo bapakku ngajakin ke Bandungan." Jawabku yang membuat kami serempak tertawa ngakak.


Akhirnya meski berat hati kami saling mengikhlaskan untuk berpisah sesaat. Sungguh hal yang sangat menyiksa berpisah saat sedang cinta cintanya, pepatah itu mungkin sangat tepat untuk kami saat ini.


"Mulai sekarang harus sering komunikasi yah mas." Pinta Mbak Sari dari luar pintu mobil. Aku hanya mengangguk, sebelum melajukan mobilku meninggalkan sejuta kenangan yang tertinggal di tempat ini.

__ADS_1


__ADS_2