OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 36 Kenapa Ga Nikah Denganku Saja


__ADS_3

Setelah itu suasana mendadak menjadi serba canggung dan hening buat mereka bertiga meskipun tempat itu semakin siang semakin ramai dan sesak dengan pengunjung.


Widya lebih banyak hanya terdiam dan menundukkan kepalanya sambil sesekali melirik orang orang yang berlalu lalang datang dan pergi. Sementara Yesi juga hanya sibuk mengaduk aduk es teh miliknya tanpa sekalipun berucap sesuatu.


"Sebaiknya segera kita habiskan bakso ini lalu cari tempat ngobrol yang enak gimana ?" Ujarku, lalu dengan cueknya aku kembali menyantap hidangan baso di depanku.


Namun mereka berdua sama sekali tak menghiraukan perkataanku.


"Pokoknya kalian baru boleh pergi setelah menghabiskan bakso kalian." Ujarku lagi santai sambil tersenyum setelah mengunyah dan menelan makananku.


"Suka suka aku lah, orang di bayar ini juga." Ujar Yesi menggerutu.


"Iya benar Yesi pasti kita bayar kok makanan yang kita pesan ini, tapi pernahkah kau memikirkan perasaan pembuat bakso nya kalo nanti hanya untuk di buang. Setidaknya kita harus saling menghargai lah Yes..." Ujarku lirih.


Tiba tiba saja Widya kembali memegang sendok di mangkok baksonya lalu mulai kembali menyuap makanan itu ke dalam mulutnya. Yesi pun kembali memakan baksonya yang sempat akan dibiarkannya juga. Bahkan sampai bersih dan tinggal menyisakan sedikit mie saja di dalam mangkok baksonya. Begitu pula Widya dan aku sendiri yang menghabiskan makananku lebih cepat dari mereka berdua.


"Nah gitu kan jadi kenyang, masa baso enak begini kok hanya mau di buang, sayang kan?" Ujarku senang melihat muka mereka berdua tak lagi jutek.


"Gung aku duluan yah." Ujar Widya sambil hendak berdiri.


"Tunggu Wid, kita keluar sama sama saja ini semua biar aku yang bayar." Ujarku.


"Ga usah Gung aku bayar sendiri saja." Tolak Widya.


"Eit ga boleh nolak ingat tidak tempo hari aku pernah bilang mau traktir kamu ?" Kataku serius.


"Iya Gung tapi masalahnya kakakku juga minta di bawain bakso tadi." Ujar Widya merasa tak enak denganku.


"Oh gitu aza silahkan saja pesan lagi berapa, aku yang bayar." Ujarku.


"Ga usah Gung beneran kok, banyak soalnya." Ujar Widya lagi.


"Sepuluh ? lebih apa ?" Tanyaku.


"Tiga Gung." Jawab Widya lirih.


"Oh hehehe cuma tiga sudah ayo di hitung biar aku bayar semua, aku habis menang lotre soalnya." Ujarku sambil tertawa.


"Beneran Gung ?" Tanya Widya mungkin kurang percaya padaku.


Mungkin dia sudah memperhitungkan duit yang harus ku keluarkan karena seporsi baso saja harganya 25 ribu an.


"Ayo Yes kita cabut sekarang !" Ujarku sambil menowel tangan Yesi.


"Eh iya iya..." Jawabnya, lalu ikut berdiri bersama kami.


Aku membayar semua biaya makan kami berikut yang di pesan Widya untuk kakaknya.

__ADS_1


"Kalian duluan saja Yes, biar aku pulang sendirian nanti." Ujar Widya yang menunggu pesanan bakso buat kakaknya.


"Baiklah kalo gitu, ini kunci motornya." Kata Yesi sambil memberikan kontak motornya pada Widya.


"Yuk Gung !" Ujar Yesi padaku.


"Okey...Wid duluan yah...nanti kalo butuh apa apa colling saja." Ujarku.


"Iya Gung makasih yah. Hati hati !" Jawab Widya, aku hanya mengangguk dan tersenyum.


"Motormu di mana Gung?" Tanya Yesi.


"Disana ! Yuk !" Jawabku.


Aku melangkah duluan sementara Yesi mengikuti tepat di belakangku.


"Yesi, kita mau kemana? ke rumahmu kah ?" Tanyaku sambil menoleh ke arahnya.


"Kemana saja asal jangan ke rumahku Gung." Jawab Yesi tegas. Aku hanya terdiam.


"Motormu dimana sih Gung? Kalo masih jauh ambil saja dulu aku tunggu di sini !" Ujar Yesi lagi.


"Ini...!" Ujarku


"Ini mobil kamu Gung?" Tanya Yesi antusias.


"Iihhh di tanyain juga, serius tau ?" Ujar Yesi cemberut.


"Silahkan naik dulu bossku...tanya jawabnya nanti saja." Ujarku sambil membukakan pintu buat Yesi.


Yesi hanya tersenyum semringah.


"Sebelum melaju tolong pasang safety belt nya dulu bossku !" Ujarku lagi.


"Oh iya..." Jawab Yesi lalu memasang sabuk pengamannya.


"Kita mau kemana ini tujuannya ?" Tanyaku sekali lagi.


"Terserah kamu saja Gung." Ujar Yesi sambil tersenyum senyum.


Aku lalu melajukan mobilku ke jalan raya dan berbelok ke utara ke arah kabupaten dan kotamadya.


"Kita mau kemana ini Gung?" Tanya Yesi.


"Beli cat." Ujarku singkat.


"Jangan becanda terus donk !" Ujar Yesi protes.

__ADS_1


"Lah kan tadi katanya terserah aku, ya sudah aku mau ke kotamadya beli cat." Jawabku sambil tertawa kecil.


Yesi cemberut dan diam saja entah setuju atau tidak aku belum paham isi hatinya.


"Sebenarnya kok tiba tiba ingin ketemu denganku ada apa seh Yes...maksudku tumben gitu...kan sudah lama sekali kita tak pernah ada koneksi." Ujarku.


"Ya gitu Gung, sebenarnya aku sedang menyingkir dari rumahku, jujur saja aku kurang sreg dengan perjodohan ku." Ujar Yesi sambil menghela napas.


"Kenapa tak menolak saja jika kamu ga suka di jodohkan, trus kenalin pria pilihan kamu sendiri yang kau inginkan. Bagaimana juga sebuah pernikahan adalah sesuatu yang sakral kan, kalo bisa sekali saja seumur hidup." Ujarku.


"Entahlah Gung aku bingung, lelaki yang kucintai tak pernah peka dengan kondisiku." Ujar Yesi seolah mengeluh.


"Memang kalo boleh tau kamu akan di jodohkan oleh ortu dengan siapa ?" Tanyaku.


"Orang di kampung ku juga sebaya sama Mas Toni, usianya sudah 30 tahun dan profesinya adalah pengajar honorer di SMA negeri, orang tuanya juga termasuk mampu di kampung ku tapi aku kurang mencintainya." Kata Yesi lirih.


"Apakah sebelumnya ada sesuatu yang membuat keluarga kalian terikat ?" Tanyaku lagi.


"Entahlah Gung aku kurang paham dengan urusan orang tuaku." Jawabnya.


"Lalu maaf Yes, kamu kemarin mencari ku untuk persoalan apa ?" Tanyaku yang membuatnya langsung menoleh padaku.


"Kamu sudah ada pacar atau calon istri gitu Gung?" Tanya Yesi entah kenapa membuatku gugup.


"Rumit Yes." Ujarku.


"Kenapa ?" Tanya Yesi sambil menatapku.


"Aku mencintai wanita yang sudah bersuami Yes." Ujarku.


"Apa Gung.. hahahaha parah kamu Gung. Memang gimana ceritanya seh Gung kok bisa gitu?" Tanya Yesi mulai terlihat cerah wajahnya.


"Makanya aku bilang rumit Yes...ruwet ruwet..." Ujarku mungkin agak bohong tapi jelas niyat ku hanya ingin menghibur Yesi sambil mengatakan aku sudah mempunyai wanita lain yang ku cintai.


"Ternyata kamu parah Gung, ga nyangka aku..diem diem gitu kamu orangnya ganas juga." Kata Yesi dengan senyumnya yang terus terkembang.


"Iya gitulah Yes, kalo lagi kenthip bisa makan orang aku..." Ujarku bergurau lagi membuat Yesi semakin tertawa ngakak.


"Gila gila kamu ini Gung...memangnya ga ada cewek lain apa hingga wanita bersuami mau di embat juga?" Tanya Yesi kemudian.


"Ya namanya cinta Yes...kalo ingin sembarangan mungut perempuan ya banyak berceceran di jalan jalan." Ujarku, Yesi kembali tertawa ngakak.


Aku pun ikut tersenyum bahagia melihatnya tampak begitu ceria seperti itu.


"Gung kenapa nggak menikah denganku saja?" Kata Yesi setelah ketawanya reda.


Kini akulah yang ganti pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2