
Beberapa saat kemudian terdengar notif dari aplikasi banking ku yang lain uang masuk sebesar satu koma dua miliar.
"Baiklah Nona Laura sebagai bentuk penghargaan dan ucapan terimakasih dariku maukah kamu juga menuliskan nomer rekening kamu? mungkin ada sedikit hadiah untukmu dari kami, meskipun hanya sekedar buat beli permen saja." Ujarku sambil tersenyum ramah.
"Apakah kau mencoba merayuku?" Tanya wanita muda yang mengaku bernama Laura itu.
"Tidak, hanya ingin sedikit berbagi saja, aku baru saja mendapatkan sepotong kue yang begitu manis dari sini, dan kau sudah membantuku jadi kurasa adalah hal yang wajar jika aku hanya ingin sedikit berterima kasih padamu." Kataku masih tetap dengan di dukung senyumku meski aku mulai merasa ilfil dengan sikap wanita itu.
"Boss sebaiknya kita segera bergegas." Bisik Doni padaku.
"Baiklah nona temanku ini sedang terburu buru, jadi aku ingin menawarkan lagi untuk memberikan sedikit dariku yah anggap saja seperti semacam uang tips gitu." Ujarku mulai sedikit dingin.
"Kalo mau memberikan sedikit tips beri saja uang cash di dompetmu, kamu punya uang cash kan?" Jawab perempuan itu terdengar ketus dan terlihat judes wajahnya.
Tak mau berlama-lama lagi aku segera merogoh dompetku dan mengambil semua lembar uang yang tinggal tersisa sekitar sepuluh lembar uang ratusan ribu saja di dompet dan lalu ku berikan padanya dengan meletakkan di atas meja di depannya.
"Maaf uang di dompetku isinya hanya sedikit saja nona mudah mudahan berkenan menerima, terima kasih." Ujarku kemudian berlalu meninggalkan nya.
"Bagaimana bisa kamu bisa sesabar itu dengan wanita judes semacam itu boss ?" Ujar Doni geram, aku yakin wanita itu juga mendengarnya.
"Dia profesional aku suka itu, untuk ketidak ramahan sikapnya itu kerugiannya karena sebenarnya dia bisa dapat lebih tadi." Jawabku.
Baru saja kami ingin menuju pintu keluar lewat tangga, beberapa orang terlihat mendatangi kami, dan itu adalah pria flamboyan manajer meja dadu tadi bersama anak buahnya.
"Apakah tuan tuan sudah tidak kerasan dengan permainan yang kami sediakan?" Tanya pria flamboyan itu terdengar sangat ramah namun tidak dengan sorot matanya.
"Oh tentu pak, andai ada waktu lagi kami akan sering kesini, tapi sayangnya temanku hari ini aku dan temanku agak sedikit terburu buru jadi kami ingin memanfaatkan waktu untuk yang lain mumpung kami di sini kalo tidak mau jadi menyesal nanti setelah di rumah." Ujarku.
"Oh begitu, jadi tuan tuan benar benar ingin merasakan pengalaman di spa dan sauna kami, begitu ?" Tanya pria flamboyan itu lagi.
"Begitulah pak, apakah ada masalah di tempat itu ?" Ujarku mulai sedikit kurang sabar karena waktuku banyak terbuang percuma untuk hal hal yang tak berguna semacam ini.
__ADS_1
"Oh tidak tuan tuan...sama sekali tak ada masalah tapi barangkali saya bisa menunjukkan jalan yang lebih efektif dari pada lewat tangga ini." Ujar pria flamboyan itu.
"Oh benarkah dimana pak? boleh kami ikut melewatinya ?" Tanyaku.
Pria flamboyan itu menunjuk sebuah sudut lain yang kulihat seksama ternyata sebuah lift.
"Dari sana tuan tuan bisa langsung ke lantai paling atas untuk menikmati surga dunia yang kami sediakan." Ujar pria flamboyan itu kemudian sambil tertawa ramah.
"Surga dunia ?" Tanyaku.
"Tentu, bahkan ada beberapa pelayan kami dari kalangan public figur yang siyap memanjakan anda sekalian." Kata pria flamboyan itu dengan tawa semakin renyah.
Aku ingin menjawab lagi sebelum Doni ikut menyahut.
"Baiklah pak boss, kami akan mempertimbangkan saran istimewa anda, kalo gitu ijinkan kami bergegas karena waktu kami tidak cukup banyak hari ini." Ujar Doni tampak tegas.
"Oh tentu tentu silahkan silahkan maaf bila sudah terlalu menyita banyak waktu tuan tuan." Ujar pria flamboyan itu.
Sebelum kami pergi menuju lift dan Doni segera memencet tombol angka satu setelah kami berada di dalamnya.
"Mas nomor rekening kamu, aku transfer sekarang biar enak kalo kamu tidak hanya ingin sekedar spa saja." Ujarku.
"Aku lupa boss, nanti boss bayar aza sekalian di muka biar enak." Jawab Doni yang terlihat agak segan dengan rencanaku untuk transit sejenak di spa.
"Jangan khawatir mas, nanti aku akan bilang sama Teh Yanah kalo besok dia ngambek apabila hari ini kamu tak jadi mengantarnya berkunjung ke tempat ibunya." Ujarku.
"Eh bukan begitu boss..." Kata Doni terlihat gugup.
"Kurasa kamu benar benar telah jatuh cinta padanya kan ?" Tanyaku sambil terkekeh melihat wajah Doni yang seperti kepiting rebus sekarang.
Hanya sekejap saja, kami telah berada di lantai satu yang tak lama kemudian kami di sambut oleh seorang wanita sangat cantik bergaya oriental mungkin seumuran Teh Yanah busananya begitu terlihat normal saja sebuah dress warna merah terang motif bunga bunga bercorak emas, namun belahan samping bawah hingga ke pinggulnya nyaris mengekspos bagian intimnya.
__ADS_1
"Selamat datang di beauty spa dan sauna kami tuan tuan, apakah ada yang bisa kami bantu?" Ujar wanita itu sambil tersenyum manis sekali.
Aku dan Doni sama sama terpana sejenak melihat kecantikan sejati yang terpampang nyata di depan kami ini.
"Oh iya nona, kami memang berniat untuk menikmati fasilitas spa di tempat ini." Jawabku ramah.
"Hanya spa biasa ataukah yang plus plus ? kalo gitu mari saya antar dulu biar anda berdua bisa memilih terapis spa kami." Ujar wanita itu sambil tersenyum melihat kami yang terlihat bengong.
Wanita itu kemudian membawa kami ke tempat customer servis mereka yang juga sama sama wanita berparas sangat cantik nyaris tanpa cela sama sekali.
Lalu dengan ramahnya wanita itu menjelaskan semua aturan main untuk menggunakan spa di tempat itu, mulai dari kami yang wajib menjadi member dulu dengan membayar sejumlah uang yang untuk VIP dan standar sangat jauh beda selisihnya.
"Kami pilih VIP." Ujarku pasti.
"Baiklah pak untuk member VIP biaya registrasinya sebesar sepuluh juta yah per member." Ujar wanita itu tanpa basa basi.
Aku segera menyerahkan kartu debit platinum ku.
"Maaf boleh pinjam sebentar id card nya pak !" Ujar wanita itu lagi.
Lagi lagi aku dan Doni merogoh dompet dan memberikan id card kami pada wanita itu, yang segera memprosesnya dengan peralatan elektronik.
"Tolong nomer pin nya pak, oh iya ini apakah sekalian untuk dua orang pak ?" Ujar wanita itu, aku hanya mengangguk.
Sebentar kemudian wanita itu memberikan struk transaksi dimana 20 juta telah terpotong dari deposit rekening ku. Dan kemudian wanita itu memberikan lagi id card kami serta sebuah kartu VIP member berwarna hitam keunguan bermotif bunga mawar hologram yang cukup menarik.
"Terimakasih sudah menjadi member kami, nah selanjutnya tuan tuan sekalian bebas boleh memilih terapis kami yang manapun dengan dikenakan biaya per jam nya bervariasi untuk setiap terapisnya." Ujar wanita itu sembari menyodorkan tiga buah buku pada kami.
Buku itu ternyata berisi foto foto terapis yang sudah di klasifikasi kan menurut usia terapisnya, dimana maksimal terapis kulihat usianya 35 tahun namun justru tarif per jam nya sedikit lebih tinggi dari beberapa terapis yang lebih muda usianya.
Rupanya Doni dan aku memiliki orientasi yang sama untuk memilih cewek buat kami. Ya kami sama sama penyuka wanita yang lebih dewasa dari kami untuk melayani kami.
__ADS_1