OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 123 Penyesalan


__ADS_3

"Sayank siapa yang ninggal ?" Tanya Agung santai.


"Tyas, Mas...nggak nyangka yah kemarin masih bercanda, orangnya juga asyik dan sangat cantik. Sayang sekali yah Mas..." Ujar Sari menanggapi.


"Tyas siapa maksud kamu yang ninggal Sayank ?" Tanya Agung lagi ingin benar benar memastikan pendengarannya.


"Tyas kakaknya Suci Mas, emangnya siapa lagi? lagian kamu kok heboh gitu ?" Ujar Sari.


"Eh, nggak gitu juga Yank, hanya saja kalo beneran ninggal kan sayang sekali Yank, kasihan juga anaknya akan sebatang kara." Kata Agung datar.


Hatinya kini sedang penuh gejolak antara rasa tak percaya, sedih dan entah satu lagi apa namanya yang jelas masih ada rasa ketidakpercayaan yang besar atas berita itu.


"Kok kamu tau Tyas punya anak, jangan jangan perasaanku selama ini benar Mas, ada sesuatu antara kamu dan Tyas yang di sembunyikan dariku?" Kata Sari.


"Kok ngomongnya gitu seh Yank...jadi itu Tyas gimana kondisinya sekarang ?" Ujar Agung agak meradang.


"Kan sudah di bilang inalillahi wa innailaihi rojiun Mas gimana seh ?" Kata Sari agak ngegas.


"Coba sini lihat beritanya! atau kalo nggak coba calling Suci saja Yank." Kata Agung lagi.


"Mas,! kamu kenapa seh aneh banget kok seperti lebay gitu dengar Tyas meninggal. Memang Mas apanya Tyas seh, kaya kehilangan banget." Ujar Sari menggerutu.


"Entahlah Yank, aku merasa sedih dengarnya... mungkin penyebab meninggalnya itu yang bikin aku sedih Yank." Ujar Agung beralibi, namun hatinya saat ini benar benar kacau balau.


Tiba tiba saja terbesit penyesalan yang teramat dalam hatinya, pertemuannya kemarin dengan Tyas ternyata pertemuan yang terakhir kalinya untuk selamanya. Dan yang membuatnya sangat menyesal adalah karena tak bisa menuruti keinginan Tyas.


Agung berusaha menahan segala kesedihannya agar tak tampak di mata Sari dengan bersikap tegar dan masa bodoh namun raut mukanya jelas tak mampu membodohi kekasihnya itu meskipun Sari juga tak mempermasalahkan hal itu.

__ADS_1


"Sepertinya Tyas memang teman spesial buat kamu kan Mas, benar kan ?" Ujar Sari.


"Dia teman biasa saja seperti yang lain, tapi aku sedih karena sedikit banyak sudah tau cerita hidupnya yang selalu lebih banyak menderita daripada mendapat kebahagiaan." Kata Agung lirih.


Kali ini ia sudah bisa menenangkan dirinya setelah memanjatkan doa doa dalam hatinya kepada Yang Maha Kuasa untuk Tyas.


"Sepertinya kau mengenal Tyas jauh lebih banyak dari yang aku pikirkan Mas." Ujar Sari semakin dongkol, meskipun dia juga ikut bersedih atas apa yang di alami Tyas namun hatinya juga kesal karena Agung sepertinya sangat memperhatikan Tyas begitu banyak.


"Maafkan aku Sayank jika hal ini membuat hatimu kurang nyaman, tapi percayalah bahwa aku hanya bersimpatik saja terutama dengan seorang wanita kuat yang begitu tabah menjalani hidupnya.


"Bagaimana kamu bisa tau, kalo Tyas banyak menderita Mas?" Tanya Sari tajam sambil menatap dan mengamati wajah Agung secara cermat.


"Dia membesarkan seorang anak seorang diri sejak dalam kandungannya sementara lelaki tak bertanggung jawab yang menghamilinya itu memilih menikahi wanita lain, apakah kehidupan seperti itu dambaan setiap wanita?" Jawab Agung.


"Seandainya yang Mas bilang itu benar, lalu darimana Mas tau kenyataan tentang Tyas seperti itu ? hal itulah yang membuat aku heran Mas." Ujar Sari yang kini juga sudah berkaca kaca dan sesaat kemudian mengeluarkan butiran butiran bening yang membasahi wajah cantiknya.


"Sumpah demi Tuhan dan RasulNya Mas, tolong jawab dengan jujur pertanyaan ku ini, apakah kau berhubungan dengan Tyas ?" Tanya Sari sangat kritis.


"Sebagai teman iya, di luar itu hanya Tuhan yang tau sebab aku tak bisa membaca isi hati seseorang." Jawab Agung diplomatis.


Lalu beberapa saat kemudian Sari terdiam dan perjalanan sudah memasuki wilayah Secang, sebuah daerah yang cukup berkembang baik dan ramai tentunya dengan panorama alam yang sangat indah memikat.


"Maafkan aku Sayank jika aku terlalu posesif terhadap kamu, kuharap kau tau apa alasannya aku begitu." Ujar Sari lirih sambil menatap Agung dengan sendu.


"Nggak tau Yank, memang apa alasannya ?" Ujar Agung santai.


"Iihh nyebelin....Au ah..." Kata Sari malu malu.

__ADS_1


"Aku ingin mengingatkan sekali lagi Sayank dan tak bosan bosannya bahwa hubungan kita ini tak bisa di perbandingkan dengan hubungan kita sama orang lain, khusus untukku kau adalah satu satunya alasan aku untuk berbuat dalam hidupku, jadi jangan susah susah mengkhawatirkan sesuatu yang sebenarnya sangat tak sepadan untuk kau cemaskan." Ujar Agung.


Sari kini bisa tersenyum lebar, ia lalu mengangguk dan menyeka air matanya yang membuat lembab wajah ayunya itu.


"Aku sangat mencintaimu Mas, itulah alasan aku selalu cemburu karena aku sama sekali tak ikhlas kau memperhatikan yang lain." Ujar Sari sambil menatap Agung yang kembali tampak cuek dan dingin.


"Iya Sayank aku paham kok, tapi kalo bisa jangan buang buang waktu dan energi kamu untuk hal semacam ini lagi yah, apalagi orang lain yang merusak pikiranmu itu telah tiada." Ujar Agung sambil berdesir hatinya untung saja ia memakai kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang mulai merah karena terlalu bertahan menahan air mata agar tidak keluar.


Sari hanya tersenyum dan lalu mengangguk. Sementara perjalanan sudah mendekati ujungnya buat Sari karena kini kendaraan yang mereka tumpangi sudah memasuki lereng sebelah barat bukit Telomoyo dan tak sampai lima menit saja mereka sudah sampai di kediaman Ibu Sulastri mamahnya Sari.


Seperti yang di perkirakan hampir semua keluarga besar Sari telah berkumpul di rumah bermodel gaya klasik namun sangat nyaman di tempati itu.


Agung kembali memakai jurus kamuflase untuk menyembunyikan kondisi jiwanya yang sangat rapuh saat ini dengan menampilkan wajah ceria dan banyak tertawa meskipun sebenarnya hatinya ingin menjerit dan menangis.


Sari sebenarnya ingin Agung beristirahat sejenak untuk melepas lelah di kamarnya, namun Agung lebih memilih segera ke belakang untuk mengeluarkan segala kesedihannya yang tak mungkin bisa di tahan lagi,


Sambil menatap cermin Agung melihat wajahnya yang kemerahan karena air matanya langsung berurai keluar dan tumpah tak tertahankan lagi meskipun ia sama sekali tak bersuara sedikitpun atas tangisan itu.


Cukup lama Agung menghabiskan waktu di kamar kecil itu, dan baru keluar setelah Sari memanggilnya itupun setelah Agung beberapa kali membasuh mukanya untuk menyamarkan kemerahan di wajah dan matanya.


Penyesalan yang teramat dalam lah yang membuat hatinya rasanya bagaikan tercabik cabik remuk redam.


Entah kenapa begitu Ia mendapatkan Sari, Agung lalu memeluknya erat erat, meskipun beberapa pasang mata memperhatikan hal itu.


"Mas, kenapa ?" Tanya Sari sambil membalas pelukan lelaki yang di cintainya itu.


"Ijinkan aku memelukmu sebentar saja Yank." Ucap Agung sangat lirih.

__ADS_1


Sari hanya mengangguk sambil tersenyum manis, hatinya benar benar bahagia saat ini.


__ADS_2