OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 18 Berpikir Cermat Bertindak Tepat


__ADS_3

Karena terlalu fokus mengintai pria muda itu, dengan menerobos gerumbul tanaman rumpun liar, aku tak sadar ketika ada seekor ular hijau yang hampir saja mematuk tanganku andai saja aku tak sempat berkelit lebih cepat.


Namun saat aku berkelit tadi membuatku tak sengaja menginjak daun daun kering dan kayu ranting kering yang membuat suara kemrisik. Pria muda itu kulihat sempat menoleh ke arah gerumbul di mana aku berada, sebelum perhatiannya justru teralihkan dengan kedatangan Andi yang ku suruh mengikuti aku.


Pria muda itu terlihat jadi gugup dan salah tingkah, namun tetap berdiri dan justru kemudian menghampiri Andi yang juga terlihat bingung dan salah tingkah.


"Siapa kamu? mengapa berkeliaran di tempat ini?" Ujar pria muda itu dengan tatapan mengintimidasi Andi.


Aku mulai bergerak merayap memutar untuk menghindari ular hijau sebesar jempol kakiku yang masih bertengger di tempatnya semula di antara daun daun rumpun liar itu.


"Aku mencari temanku, katanya tadi mau berak di tempat ini, tapi sudah terlalu lama ku tunggu ga kembali juga, kami harus segera balik ke Jakarta soalnya." Jawab Andi cukup pintar memberi alasan.


"Aku tidak lihat ada siapapun di sini, mungkin kawanmu sudah balik." Jawab pria muda.


"Belum...aku masih di sini." Ujarku dari balik gerumbul tanaman perdu lalu melangkah mendekati mereka.


"Siapa sebenarnya kalian? apa yang kalian cari di tempat ini. Aku tau kalian bukan sopir yang sedang bongkar muat kan?" Tanya pria itu, rupanya cukup pintar juga dia membaca kondisi.


"Aku memang hanya kenek, temanku itu yang sopir." Jawabku santai sambil tersenyum.


"Bohong !!! aku kenal hampir semua sopir sopir yang transit di pelabuhan ini tapi aku tak pernah mengenal kalian. Oh aku ingat bukankah kalian yang tadi makan di rumah makan seberang jalan itu?" Ujar pria muda itu ternyata memang cukup cerdas otaknya untuk menyimpan ingatannya.


"Hehehe itu kamu tau..." Ujar Andi yang menjawab.


"Katakan sebenarnya apa yang kalian cari disini?" Bentak pria muda itu seakan tak gentar sama sekali dengan kami.


"Baiklah kami akan katakan tujuan kami, aku sedang mencari istriku." Jawabku tenang sambil melangkah lebih rapat pada pria muda itu.


"Apakah istrimu salah satu wanita murahan yang cari duit di sini?" Tanya pria muda itu sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Bukan tapi dia di culik tadi pagi." Jawabku, dan seperti dugaanku pria muda itu agak terkejut.


"Kau salah tempat kalo gitu carilah di tempat lain." Ujar pria muda itu lagi kemudian mulai melangkah mundur.


"Tidak. Aku tak salah, karena menurut petunjuk dari penculiknya istriku memang di sekitar tempat ini." Ujarku lagi sambil melangkah mendekat dan lebih dekat.


Pria muda itu terlihat panik lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya kemudian berlari, namun aku yang sudah siap langsung memotong dengan menyrimpung kakinya yang membuatnya langsung jatuh terjerembab.


Pria muda itu meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya yang mungkin sakit karena terantuk sesuatu. Aku menginjak punggungnya dengan keras ketika ia mencoba bangkit.


"Katakan di mana kalian sembunyikan Sari?" Tanyaku tanpa basa basi lagi.


"Aku tidak tau maksudmu apa?" Ujarnya terlihat ketakutan di wajahnya.


Aku mencengkeram kerah bajunya, lalu menarik tubuh pria muda itu dan menghempaskannya kepada Andi yang langsung meringkusnya dengan kuncian.


"Plakkk... plakkkk...." Aku tampar pipi wajahnya kanan kiri dan lalu menonjok hidungnya hingga berdarah.


"Baiklah kalo kau tak tau, aku akan mulai dengan memuntir satu tanganmu dulu hingga patah." Ujarku lalu mencengkram lengan kiri pria muda yang masih dikunci oleh Andi yang kemudian di lepaskan.


"Baiklah aku akan katakan, wanita itu ada di gudang itu." Ujarnya benar benar ketakutan dengan upaya intimidasi dariku.


"Ada berapa orang kawanmu di sana ?" Tanyaku lagi sambil memuntir lengannya hingga dia meringis kesakitan.


"Em... empat orang..." Jawabnya sambil meringis.


"Mas bungkam mulutnya dengan kencang." Ujarku pada Andi yang segera menjejalkan tangan pria itu ke dalam mulutnya sendiri lalu menguncinya.


"Jebughhh....."

__ADS_1


Kulihat mata pria muda itu terbelalak dan menjerit tercekat hingga hanya terdengar melenguh pendek sebelum tubuhnya lunglai dan pingsan saat aku menendang keras perut bagian bawahnya.


Andi segera melemparkan tubuh pria muda yang sudah pingsan itu ke dekat gerumbul perdu, aku mengambil hp di saku celana pria muda itu, sebelum bergegas bersama Andi menuju gedung gudang yang sudah terbengkalai itu.


"Boss teman teman gimana? perlu di panggilkah?" Tanya Andi.


"Ga usah...kita selesaikan sendiri saja hanya empat orang kan tadi katanya." Jawabku, Andi mengangguk.


Kami kemudian berjalan mengendap.


"Mas nanti kalo ada kesempatan tolong ambil foto foto tempat ini dan kalo bisa merekam apapun yang bisa di jadikan sebagai bukti." Ujarku pelan sambil kami melangkah mengendap endap.


"Baik boss. kau brilian...aku setuju." Jawab Andi.


Sengaja kami masuk gudang itu dengan memanjat pagar samping lalu memutar kembali ke belakang untuk memasukinya.


Namun saat kami berhasil masuk ternyata orang orang di dalamnya langsung memergoki, karena ternyata gedung gudang itu benar benar gudang yang sebenarnya hanya terdiri dari satu ruangan yang luas.


"Hei siapa kalian...?" Tanya ke empat orang itu serempak sementara kulihat Mbak Sari yang kaki dan tangannya terikat hanya meronta ronta karena mulutnya di bungkam dengan lakban.


"Kami di suruh Farhan untuk menyuruh kalian mengambil jatah makan." Ujarku mencoba berdalih.


"Hahh mana mungkin si kopet itu mau ngeluarin duit buat ngasih kita makan." Ujar seorang di antaranya.


"Kami sudah makan bareng Farhan tadi, katakan siapa kalian ini dan kenapa bisa ada di tempat ini?" Ujar pria yang bertubuh tambun sambil berdiri dan kemudian melangkah menghampiri kami.


"Hei bangsat siapa yang ngasih ijin kamu buat mengambil gambar." Ujar pria tambun berbadan besar itu, membuatku menoleh ke Andi yang ternyata sudah mulai memainkan perannya.


Pria tambun itu berlari seolah ingin menghentikan Andi untuk mengambil gambar gambar tempat ini. Namun aku yang sudah tak mau bersabar dan banyak berhitung lagi, langsung menghantam mukanya dengan pukulan kerasku hingga pria itu terhuyung huyung sesaat sebelum jatuh terkapar.

__ADS_1


Tak sampai di situ aku segera membuatnya lumpuh dengan menginjak keras perutnya dan menendang kepalanya hingga pria berbadan besar itu langsung pingsan seketika, saat kepalanya terbentur lantai cor yang sudah rusak sana sini itu.


Ketiga rekannya yang sempat hanya terbengong lalu serempak menyerangku secara serampangan dan hanya mengandalkan otot mereka saja, hingga dengan gampang saja buatku untuk melumpuhkan satu persatu dari mereka bertiga.


__ADS_2