OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 88 Citizen Underground


__ADS_3

Aku tertegun beberapa saat lamanya, sebelum aku berpamitan kepada ibu tetangga dekatnya Mas Harno itu


"Kalo begitu saya mohon diri ibu." Ujarku sopan.


"Tunggu ! mas ini apakah baru saja datang dari Jawa?" Tanya ibu tetangga Mas Harno itu.


"Bukan ibu, saya dari Subang kebetulan saja tadi bersama teman saya sedang ada urusan di Tanah Abang jadi sekalian mampir ke sini." Jawabku ramah.


"Oh ya sudah, kirain mas habis dari Jawa sengaja nyusul Mas Harno, kan kasihan kalo datang dari jauh jauh trus nggak ketemu sama orangnya." Ujar Ibu yang sudah paruh baya itu tampak simpatik.


"Trimakasih ibu, kalo begitu saya mohon pamit." Ujarku lagi untuk kesekian kalinya berpamitan.


"Baiklah mas, hati hati yah !" Ujarnya.


"Iya ibu, trimakasih mari bu saya permisi." Ujarku sembari kemudian melangkah pergi.


"Kasihan jauh jauh datang malah kecele." Masih terdengar ibu tetangga itu bergumam.


"Bagaimana mana boss?" Tanya Doni begitu aku sudah duduk di kabin jok sebelahnya lagi.


"Ya sudah langsung pulang." Ujarku.


"Sayang sekali padahal istri kakak boss itu cantik sekali." Kata Doni entah apa maksudnya.


"Kamu tuh yah, heran aku apakah di otakmu itu isinya cuma perempuan mulu." Ujarku sambil tersenyum, Doni malah tertawa ngakak.


Harus aku akui Mbak Retno memang cukup cantik parasnya meskipun lebih condong di sebut manis ayu dengan kulit sawo matang yang bersih terawat, meskipun terakhir aku lihat tubuhnya tak segemoy saat Mas Harno menyuntingnya tepat seminggu sebelum aku berangkat ke Jepang.


"Namanya juga normal boss, bukankah lelaki itu tertariknya hanya dengan wanita cantik hehehe." Ujarnya setelah berhenti tertawa.


"Tapi itu kurang ajar namanya kalo suka melototin tiap wanita apalagi istri orang." Ujarku seolah menyindirnya atau menyindir diriku sendiri yang juga tak jauh beda dengan Doni.


Untungnya Doni segera diam dan fokus mengemudikan mobilnya kembali menyusuri jalan padat lalu lintas di tengah pemukiman.


"Cewek Jakarta cantik cantik yah bos ?" Ujar Doni sambil tersenyum semringah.


"Ya begitulah, tau penduduk asli apa pendatang ceweknya, namanya juga Jakarta." Jawabku agak ketus menanggapi.


"Boss kalo sedang bad mood gitu ternyata bisa rese juga yah." Ujar Doni sambil tersenyum dan menatapku namun aku cuek.


Ia mungkin tau benar aku jadi kecewa karena urusanku dengan Mas Harno telah tertunda.

__ADS_1


"Boss mumpung belum terlalu sore gimana kalo kita healing dulu boss." Ujar Doni


"Kamu tau nggak kasino di daerah sini?" Tanyaku.


"Maksudnya tempat judi gitu boss ?" Ujar Doni.


"Iya...tau nggak...?" Tanyaku lagi.


"Yang ecek ecek apa yang kelas kakap boss isinya para cukong tambang dan pejabat ?" Jawab Doni.


"Cukong lah ngapain ecek ecek." Jawabku tiba tiba saja jadi antusias lagi.


Yang namanya penjudi itu memang bagaimanapun juga, tangannya selalu gatal pengen megang kartu judi bawaannya. Begitu pun aku.


"Tapi boss taruhannya bisa milyaran loh boss." Ujar Doni agak cemas.


"Sudah buruan cuzz kesana !" Kataku santai.


"Beneran ini boss?" Tanya Doni seolah tak percaya dengan keinginanku.


"Kok nanya nanya terus seh, sudah buruan kesana saja !" Ujarku agak kesal.


"Iya iya siyap siyap..." Kata Doni.


Doni berhenti di gerbang pos sekuriti lalu turun dari mobil dan berlari ke kantor sekuriti itu, cukup lama mungkin lebih dari lima menit sebelum keluar dengan sebuah kartu berwarna hitam di tangannya lalu kembali masuk mobil dan kembali duduk di balik kemudi dengan semringah.


"Sepertinya kau sering berkeliaran ke sini mas ?" Ujarku.


"cuma beberapa kali boss hehehe itu juga karena kakakku adalah salah satu keamanan di sini." Jawab Doni lalu melajukan kendaraan kami meskipun kemudian akan terlihat seperti barang rongsok saja ketika sudah berada di parkiran bersama kendaraan lain yang tergolong kendaraan mewah.


"Ayo boss, nanti sebaiknya boss tidak hilang kendali diri yah hati hati, di sini tempat berkumpul segala hewan buas ibukota yang sebenarnya." Kata Doni.


"Baiklah kamu jangan jauh jauh dari tempatku, mari kita coba peruntungan kita hari ini seperti apa ?" Ujarku sambil tersenyum.


Doni kulihat hanya tersenyum bias saja sambil mengangguk tak berucap apapun, aku tau dia mengkhawatirkan aku akan kehilangan uangku disini yang membuatku bangkrut dan itu berarti dia juga akan kehilangan sumber penghasilannya.


"Jangan cemas mas kita akan baik baik saja." Bisikku di dekat telinganya.


Di pintu masuk sebelum Doni menunjukkan kartu hitam yang di bawanya pada seorang pria bertubuh tinggi besar dan berpakaian safari sangat rapi dengan rambut klimis dimana ia kemudian mengarahkan kami ke ruang sebelah yang merupakan jalan ke ruang bawah tanah.


Aku sempat melihat puluhan cewek cewek cantik berpakaian sangat minim sepertinya layaknya bidadari saja, mereka duduk dan ngobrol santai di sebuah lounge.

__ADS_1


"Yang boss lihat tadi adalah terapis spa disini boss." Ujar Doni berbisik, aku mengangguk saja.


Tak lama kemudian perjalanan kami menyusuri tangga ke bawah berujung pada sebuah ruangan yang besar dengan berbagai peralatan permainan judi yang lengkap, dengan penghuninya sangat ramai.


"Kamu mau bermain mas ?" Tanyaku.


Doni menggelengkan kepalanya dengan pasti. Tak lama kemudian seorang perempuan berwajah cantik dengan busana layaknya seorang pekerja kantoran menghampiri kami.


"Selamat datang di Artemis Underground apakah om om ingin bermain ?" Tanyanya ramah.


"Betul mbak." Jawabku santai.


"Jenis permainan apa yang anda inginkan, saya menyarankan untuk tidak memilih lebih dari tiga permainan." Ujar wanita itu sambil tersenyum ramah.


"Baik mbak, dimana kami bisa menukar koin?" Tanyaku.


"Mari biar saya antar !" Ujar wanita itu kemudian berlalu dan membawa kami ke sebuah tempat di sudut ruangan yang di jaga dua wanita berpakaian sangat minim.


"Di sini hanya menyediakan koin yang bernilai lima juta dan sepuluh juta Om, dengan minimal transaksi penukaran koin sebesar seratus juta, apakah anda ingin tetap bertransaksi ?" Tanya wanita itu lagi.


"Baik aku tukar koin sepuluh juta sebesar dua ratus juta mbak, bisa pake kartu debit ?" Ujarku.


"Oh bisa Om." Jawab wanita itu sambil tersenyum ramah.


Tak lama kemudian aku sudah mendapatkan dua puluh keping koin yang satu kepingnya bernilai sepuluh juta. Wow benar benar sebuah tempat untuk membuang uang yang sangat baik bukan.


Di Jepang aku lebih banyak menghasilkan uang dari sebuah permainan dadu, barangkali aku juga bisa melakukan hal yang sama di sini.


"Kamu mau main mas, ini aku akan beri tiga koin untukmu." Ujarku pada Doni.


"Ah nggak boss, aku kurang suka main ginian." Jawab Doni.


"Baiklah kalo gitu mari kita ke meja dadu dulu." Ujarku.


Di tempat itu kulihat cukup sepi peminat hanya terlihat dua orang saja di depan meja bandar. Aku sengaja mengamati permainan itu beberapa kali putaran dulu untuk memastikan apakah ada kecurangan atau tidak.


Setelah beberapa putaran terlihat natural saja, meski begitu kulihat bandar sudah meraup sejumlah keuntungan besar.


"Boleh saya ikut memasang taruhan saya ?" Tanyaku sopan pada seorang bandar pria yang masih terlihat muda mungkin usianya antara 35 sampai 40 tahunan.


Kali ini hanya aku saja yang bermain karena dua orang yang sebelumnya telah mundur setelah kalah di putaran terakhir tadi.

__ADS_1


Bandar itu segera mengocok gelas dadu yang terbuat dari bahan stainless itu, sesuatu yang sepotong kue saja buatku untuk mengidentifikasi suara dadu itu.


"Silahkan memasang !" Ujar bandar itu sambil tersenyum setelah ia selesai meletakkan kocokan dadunya.


__ADS_2