
"Baiklah sekarang silahkan berembug dulu yang baik dalam hal ini Mang Darom dan Teh Yanah sebelum mengambil keputusan dan Doni bagaimanapun juga karena telah terlibat dalam urusan ini hendaknya bersedia bertanggung jawab dengan apapun yang mereka putuskan, bagaimana?" Ujarku.
"Aku sudah memutuskan boss, aku tetap akan mempertahankan hubungan pernikahan aku dan Yanah setidaknya sampai dia melahirkan anaknya, setelah itu aku akan menceraikannya dan ketika itu terjadi aku ingin Dik Doni bertanggung jawab dengan menikahi Yanah." Ujar Mang Darom terdengar tegas.
"Bagaimana Teh Yanah?" Ujarku kepada Teh Yanah yang berlinang air mata sambil menyuapi anak perempuan yang paling bungsunya.
Teh Yanah hanya mengangguk saja dengan menundukkan kepalanya tanpa berani sekalipun menatap aku ataupun Mang Darom suaminya, sementara itu air matanya terus saja berlinang dan menetes dengan derasnya.
"Doni gimana?" Tanyaku kepada Doni.
"Kenapa nggak di ceraikan saja sekarang toh aku juga nggak bakal menolak untuk menikahi Yanah sekarang juga." kata Doni benar benar terdengar sangat memprovokasi.
Sekilas kulihat raut wajah Mang Darom yang tampak memerah karena menahan emosi, namun sebelum pria paruh baya itu menyahut, aku lebih dahulu berkata.
"Bagaimanapun kita semua orang beragama Don, dan Mang Darom tentu tak mungkin menceraikan istrinya yang tengah dalam keadaan hamil." Kataku.
Doni hanya terdiam membisu setelahnya.
"Namun biar suasana kondusif aku menyarankan mulai sekarang Mang Darom bebas untuk berhubungan dengan wanita yang manapun juga yang Amang kehendaki namun juga membebaskan Teh Yanah dan Doni untuk berhubungan lebih serius, biar waktu kalian lebih efektif. Gimana kira kira ?" Ujarku.
"Tentu boss aku setuju, nah sekarang mohon ijinkan aku mohon pamit boss sekaligus hari ini mohon ijin untuk tidak bekerja di penggilingan dulu." Kata Mang Darom agak sendu.
"Baiklah Mang, silahkan begitu juga besok juga libur tapi kalo bisa besok Mang Darom ikut bantu bantu yah kita akan menyembelih seekor domba soalnya." Ujarku.
"Baiklah boss, aku mengerti." Kata Mang Darom lalu mengajak dua buah hatinya untuk pergi dari tempat ini meskipun si bungsu belum sepenuhnya menyelesaikan makanannya.
Namun ternyata kedua anak perempuan yang masih bersekolah di SD itu sangat patuh pada bapaknya dan memilih mengikuti bapaknya.
Setelah itu aku pun juga pergi berlalu bukan lewat jalur dalam toko namun kembali lewat jalan layang dan langsung bergegas menuju office, aku tak menghiraukan Aceng yang berdiri di teras dan tersenyum padaku.
__ADS_1
Namun ketika melihat Sari sedang duduk berdua di office bersama Imas, aku segera mengurungkan niatku untuk ke office dan memilih berbalik untuk pergi meninggalkan toko dengan mobilku.
"Bro...maafkan aku terlalu lancang tadi telah duduk dekat dengan Mbak Sari, tapi aku sama sekali tak ada maksud apapun." Ujar Aceng, namun dengan hatiku yang sudah terlanjur terbakar emosi aku hanya bersikap acuh tak acuh menanggapinya.
"Jadi kurasa aku sudah paham maksudmu agar aku melepaskan Sari kan, karena kau juga menyukainya ?" Ujarku ketus sambil fokus mengemudikan mobilku untuk keluar dari lingkup sempit karena jalan hampir tertutup oleh banyaknya motor yang parkir hingga Dion terpaksa mengatur ulang tata parkirnya.
"Sama sekali tidak Gung, aku tadi memang di minta Mbak Sari untuk menjaga Mang Darom dan Doni jangan sampai berkelahi dan bikin onar tapi aku sama sekali tak punya pikiran untuk menyukai apa yang harusnya jadi milikmu seperti yang kamu pikirkan." Kata Aceng terdengar serius.
"Lalu apa maksudmu ingin aku melepaskan Sari ? Tanyaku.
"Imas adalah satu satunya alasan itu." Kata Aceng lirih setelah menoleh ke kanan kiri dan belakang untuk memastikan rak ada yang mencuri dengar.
"Memang apa untungnya buatmu mengurusi hal semacam itu ?" Kataku dengan menatap Aceng dengan tajamnya.
"Nope bro....aku sudah melepaskan Imas, namun sebenarnya aku ingin minta bantuan kamu untuk menembak seseorang bro." Kata Aceng sambil cengengesan seperti gayanya biasanya.
"Siapa Sari kah ?" Tanyaku sinis.
"Lalu siapa yang kamu inginkan cepatlah ngomong jangan bertele-tele !" Kataku tegas.
"Eka....bro, anaknya Pak Somad." Kata Aceng lirih dengan senyum malu malu.
"Dia kan masih bau kencur, baru juga mau masuk kuliah nggak salah kamu ?" Tanyaku mulai lunak.
"Iya bro aku paham tapi entahlah aku tiba tiba saja selalu gelisah memikirkannya akhir akhir ini, kurasa aku memang beneran suka padanya bro." Kata Aceng terlihat sungguh sungguh dan sorot matanya sama sekali tak menampakkan kebohongan.
"Lalu kau ingin aku membantu gimana ?" Tanyaku.
"Nemenin aku seperti kemarin pas nembak Imas itu." Ujar Aceng.
__ADS_1
"Baiklah kapan ?" Tanyaku lagi.
"Kalo bisa nanti malam bro, soalnya beberapa hari lagi dia akan ke Bandung." Jawab Aceng.
"Baiklah kondisikan saja jika waktunya yang kamu inginkan telah tiba, aku mau ke penggilingan dulu, kamu urus di sini." Ujarku.
"Siyap boss !!" Kata Aceng semringah.
Aku segera menutup kaca pintu mobilku dan segera berlalu setelah jalanku sudah di sterilkan oleh Dion.
Namun aku bukan ke penggilingan namun meneruskan kembali niatku untuk ke kolam renang, yang di sore hari justru malah di padati oleh pengunjung yang rata rata anak sekolahan.
Dalam pada itu di office Sari yang usai menangis tersedu sedu mulai mengutarakan curahan hatinya kepada Imas tentang masalah yang di alaminya dengan Agung.
"Aku tak mengerti kenapa aku di perlakukan seperti ini Teh, aku bahkan mulai merasa asing dengan sikapnya." Kata Sari.
Imas terdiam sesaat, sebelum menanggapi.
"Menurut Mbak Sari kira kira kenapa Ak Agung bersikap seperti itu ?" Tanya Imas.
"Entahlah Teh, mungkin dia sudah bosan denganku dan sedang mencoba bermain main dengan perempuan lain." Ujar Sari yang membuat Imas terhenyak.
Bagaimanapun baru siang tadi Imas berhasil menggoda Agung hingga nyaris menaklukkannya, meskipun pada akhirnya dia sama sekali tak mencapai apa yang diinginkannya.
"Bagaimana Mbak Sari bisa berpikir seperti itu, karena menurutku Ak Agung itu sangat baik dan idealis. Bahkan saat bapakku memaksanya untuk bisa menerimaku jadi istrinya dia tetap bilang bahwa tak mungkin ninggalin Mbak Sari apapun keadaannya." Ujar Imas jujur.
"Jadi Teteh juga suka sama calon suamiku ?" Tanya Sari agak keras.
"Jujur iya mbak, tapi bukan berarti aku harus mendapatkan Ak Agung juga kan, seperti kataku tadi Ak Agung hanya mencintai Mbak Sari saja betapapun kami mencoba menggodanya. Dan khusus untuk ini aku dan keluargaku mohon maaf pada Mbak Sari." Ujar Imas terdengar serius dengan mata mulai berkaca kaca.
__ADS_1
"Tapi kenapa Teh, kenapa bisa mencintai Mas Agung bukankah dari awal Teh Imas tau kalo Mas Agung itu calon suamiku?" Tanya Sari getir.
"Sekali lagi aku minta maaf mbak untuk itu, tapi bukankah mbak juga paham kalo cinta itu tak pernah bisa di bohongi, aku hanya bisa berkata aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ak Agung mbak." Kata Imas yang membuat Sari langsung termenung.