OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 74 Awas Kalo Ngecewain


__ADS_3

Beberapa saat kami masih berbincang, sebelum Pak Suryadi meminta kami untuk segera beristirahat, mungkin setelah beliau melihat aku dan Aceng bergantian menguap.


Capek dan letih jelas tak bisa aku pungkiri karena memang daya tahan tubuh manusia penuh dengan keterbatasan, betapapun aku masih ingin mengecek ini itu namun anggota tubuhku sudah tak sanggup di ajak kompromi lagi, akhirnya aku tepar tidur bersandar di sofa.


"Mas...tidur di kamar saja gih..." Terdengar suara lembut kekasihku sambil tangannya membelai rambut kepalaku yang belum begitu panjang.


Beberapa saat kemudian kurasakan sebuah kecupan lembut di bibir dan keningku, membuatku terpaksa kembali membuka mataku.


Bidadariku itu hanya tersenyum entah mengolok aku yang kecapekan dan melihat aku terlihat kepayahan, entah juga karena yang lain.


"Hari ini untung kita 120 juta lebih." Bisiknya lembut di telingaku, karena aku masih enggan untuk segera sadar sepenuhnya.


"Hahhh.. apa yank...? 120 juta lebih?" Ujarku pura pura terkejut sambil membuka mataku lebar lebar.


Aku pun sebenarnya sudah bisa memperkirakan keuntungan yang aku dapat dengan hanya dari melihat nominal pendapatan saja, karena aku hanya mengambil keuntungan rata rata 15 persen saja untuk setiap item yang di jual.


Bahkan khusus untuk beberapa item keuntungan yang aku ambil di atas 20 persen. Biasanya item barang itu merupakan barang yang tergolong mewah meski dengan untung segitu harga jual kami masih tetap berada di bawah harga jual di mall.


"Iya mas artinya gaji semua karyawan bulan ini telah tertutupi dari hanya satu hari penjualan saja, bukankah ini amazing." Ujar Sari sambil mengecupi bibir dan pipiku seperti layaknya orang sedang gemas.


"Baguslah berarti untung selanjutnya bisa untuk modal kita nikah kan, beli cincin kawin, beli baju pengantin, beli macam macam seserahan, beli mobil untuk kamu, beli..." Ujarku yang langsung di potong oleh kekasihku itu.


"Sudah nggak usah ngelantur mas, kita nikah sederhana saja di KUA, jadi nggak perlu aneh aneh segala." Ujarnya.


"Jadi gimana maksud kamu mas kawinnya nanti cukup seperangkat alat shalat gitu saja kah ?" Ujarku menggodanya.


"Ya nggak gitu juga mas cinta, maksudku itu banyak kebutuhan yang perlu kita pikirkan kedepannya, bukan melulu soal nikah saja kan." Ujar Sari.


"Ya sudah atur saja gimana baiknya toh kamu juga yang akan pegang duit di dompetku nantinya. Oh iya Yank gimana penawaran Mang Ujang tadi kira kira di ambil nggak ?" Tanyaku.


"Ada untungnya nggak itu...?" Tanya Sari.


"Ya ada lah Yank, masa nggak ada apalagi duit juga bakal balik tak kurang sepeserpun. Lagipula Yank aku sedang memikirkan proyek baru kita." Ujarku.


"Proyek apa lagi mas, yang ini saja juga belum apa apa kok sudah mau sana sini seh mas." Tukas Sari.


"Aku ingin membuka peluang untuk jadi pemasok beras Yank, kira kira Mbak Wati bisa diajak kerjasama tidak yah kira kira Yank...bikin jaringan gitu ?" Ujarku.


"Ya nggak tau mas, coba tanya saja nanti." Jawab Sari sambil ndusel ndusel merapatkan tubuhnya padaku.


"Aku belum mandi loh Yank, kok kamu malah ndusel ndusel seh bau keringatku baru tau rasa." Ujarku.


"Entah perasaanku saja atau gimana yah mas aku merasa keringatmu baunya enak loh." Ujar kekasihku itu sambil senyum senyum dan menciumi pipi dan leherku.


"Idih mana ada keringat bau enak Yank. Eh gimana Yank perlu nggak kita menambah orang tenaga penjualan gitu tadi kita keteter banget loh sampai istirahat saja hanya secukupnya saja." Kataku.


"Iya juga seh tapi sebaiknya ngomong Dewi dulu kalo mau nambah orang sekalian biar dia juga yang carinya seperti yang kemarin kalo bisa." Ujar Sari.

__ADS_1


"Jadi kamu puas dengan kinerja yang bertujuh ini ?" Tanyaku.


"Puas banget mas, secara keseluruhan semua karyawan kita aku puas, mereka rajin semuanya." Ujar Sari.


"Lalu perlukah kita membuat kamar mandi beberapa lagi gitu Yank khusus buat intern saja, biar kalo pulang tinggal tidur saja karena badan sudah bersih?" Tanyaku lagi.


"Tempatnya dimana lagi mas, memangnya masih ada tempat." Kata Sari datar.


Benar juga kata Sari, kupikir Aceng sudah membuat bangunan tempat usaha dengan bentuk fisik dan fungsinya yang sudah sempurna, namun ternyata selalu ada saja hal yang kurang justru setelah di gunakan.


"Ya sudah Yank aku mau mandi dulu !" Ujarku.


"Iya deh." Jawab Sari sambil menguap.


"Sudah bobok sana ke kamar saja sekalian !" Ujarku lalu beranjak ke belakang.


"Yank di rumah ada mie instan nggak ?" Tanyaku sambil membuka kulkas untuk mengambil air minum.


"Ada juga mie telur mas, kenapa ? mas lapar ?" Ujar Sari sambil beranjak menghampiri ku.


"Iya Yank." Jawabku.


"Ya sudah sana mandi dulu biar aku bikinkan mau mie rebus apa goreng ?" Tanyanya.


"Apa aza lah yank, yang kamu juga mau." Jawabku sambil tersenyum senang.


Tinggal dua minggu lagi sebelum aku menjalani lelaku, namun aku justru membuang tenagaku bukan untuk berlatih pernapasan namun untuk kerja keras yang lain.


Dua hari lagi seharusnya batas waktu yang kuberikan pada Mas Harno untuk mengembalikan uangku selesai, namun sampai sekarang dia belum juga menghubungiku.


"Mas buruan mandinya, mau ngelamun apa mandi seh." Ujar Sari sambil terdengar sedang menumis bumbu karena baunya tercium enak.


Akhirnya aku buru buru menyelesaikan acara mandi yang sudah terlalu larut untuk dilakukan ini, namun setelah mandi justru badanku terasa lebih segar lagi.


Baru enak enak makan mie godok buatan Sari yang rasanya tak kalah dengan mie yang ada di restoran Chinese food, hp Sari berdering sehingga membuatnya terpaksa beranjak sebentar untuk mengambil hp yang ia letakkan di meja kamar.


"Iya mbak tumben larut banget ngebelnya ?" Ujar Sari sambil berjalan kembali ke tempatnya semula.


"Kangen tau, kamu itu mentang mentang sudah jadi nyonya besar trus lupa sama mamah, katanya kamu nggak pernah ngebel yah ? jahat bener." Ujar Mbak Wati yang aku dengar karena panggilan itu di loud speaker oleh Sari.


"Oh memang mbak nginep di Ambarawa sekarang ? Sebenarnya aku juga kangen banget sama mamah mbak tapi kerjaan banyak banget." Ujar Sari sambil mengunyah mie rebus nya.


"Loh kamu kan jadi boss nya ngapain pake kerja keras segala kan sudah bayar orang buat ngerjain nya." Ujar Mbak Wati.


"Gitu mau ongkang ongkang kaki doank..eh mamah mana mbak aku pengen ngomong sama mamah." Ujar Sari sambil terus menikmati hidangannya.


"Ya ampun kamu memang lagi makan ya Sar ? nggak sopan banget punya adik satu aza." Ujar Mbak Wati.

__ADS_1


"Iya makan mie godok mbak gara gara Mas Agung pengin makan mie jadi kepengin juga akunya hihihi." Ujar Sari sambil terdengar mendesis kepedasan mungkin makan irisan cabai rawit yang di tambahkan nya.


"Ah penginnn....kamu tuh bikin mbak ngiler saja ih." Kata Mbak Wati.


"Mamah mana mbak ?" Ujar Sari.


"Lagi ngobrol sama Bude Mah, lagi ngomongin masalah Yura yang mau nikah sekaligus acara mendak dua tahun almarhum bapak." Ujar Mbak Wati.


"Oh Mbak Yura sudah mau nikah mbak dapat orang mana dia ?" Tanya Sari.


"Temanggung katanya, kamu pulangnya kapan ? kemarin katanya sebulan lagi pulang gitu kan." Ujar Mbak Wati.


"Ya iya mbak tapi ini kan baru dua minggu juga belum genap mbak." Ujar Sari sambil meneguk air minum setelahnya karena hidangannya sudah selesai.


"Kamu sudah hamil belum nduk...?" Tanya Mbak Wati.


"Hah apaan mbak hamil? boro boro di senggol saja nggak pernah kok hamil." Jawab Sari sambil melirik aku yang hanya senyum senyum saja mendengar dua kakak beradik ini terlibat obrolan akrab.


"Prett !!! masa seh dua minggu kumpul belum pernah di senggol sekali juga ?" Ujar Mbak Wati, yang membuat aku ketar ketir karena mulai membicarakan aku juga.


"Kalo nggak percaya ya sudah...emang begitu kok kenyataannya." Ujar Sari seakan malah memprovokasi kakaknya.


"Jangan jangan .." Ujar Mbak Wati.


"Jangan jangan apa mbak ?" Kata Sari bertanya.


"Agung juga sama dengan Farhan nanti Sar hahahaha." Ujar Mbak Wati sambil terkekeh.


Akhirnya apa yang kucemaskan terbukti terjadi juga.


"Noh ngomong sendiri sama orangnya mbak." Kata Sari yang lalu menyerahkan hp nya padaku, kemudian membawa piring piring bekas makan kami ke belakang.


"Asalamualaikum Mbak Wati gimana kabar mbak sekeluarga...?" Ujarku sopan menyapa calon iparku itu.


"Eh baik mas baik ..gimana usahanya lancar kan ?" Tanya Mbak Wati agak sungkan gimana.


"Alhamdulillah mbak lancar kok semuanya, Bayu sudah bobok mbak ?" Tanyaku.


"Sudah bobok di kamar sama bapaknya." Jawab Mbak Wati.


"Memang beneran mas Sari belum pernah kamu sentuh ?" Tanya Mbak Wati, berani benar nanyain hal kaya gituan.


"Bohong dia mbak...orang sehari saja nggak di sentuh dia ngambek." Ujarku bercanda sambil tertawa ngakak dalam hati.


"Hah...tapi kok belum hamil juga, eh ingat yah nanti kamu harus bertanggung jawab sama adikku loh yah, awas kalo seperti yang kemarin." Ujar Mbak Wati terdengar serius.


"Iya mbak siyap jangan khawatir mbak, bahkan kalo mau ngadain pesta pernikahan sekarang juga pun kita siyap kok mbak." Ujarku yang membuat Mbak Wati tertawa ngakak.

__ADS_1


__ADS_2