
"Apakah harus seribet kaya gitu Gung, kami perlu duit secepatnya untuk membawa kakakmu ke rumah sakit." Ujar Bude Marni.
"Nggak ribet bude, gini saja besok biar di belikan Anis kwitansi dan materai, bude undang saja pengurus lingkungan untuk jadi saksi. Setelah kwitansi nya dikirim padaku lewat foto hp, maka duit Mas Harno akan segera aku kirimkan saat itu juga." Ujarku.
"Memang sawah itu hanya akan kau hargai 200 juta saja Gung ? nggak bisa lebih ?" Tanya Bude Marni membuatku kesal.
"Sawah itu memang harganya empat ratus jutaan lebih bude bahkan mungkin bisa lima ratus juta kalo ada yang benar benar berminat tapi ingat Mas Harno juga menghargainya sebesar 200 juta saja itupun hahh...males aku ngomongnya sudah untung masih ku beri lebih, tapi kalo kalian memang bersikeras untuk tetap serakah silahkan saja, tapi jangan salahkan nasib jika kalian akan jadi blangsak karena menjual sawah warisan." Ujarku.
"Sediakan saja duit 185 juta malam ini aku tunggu sampai jam 10 malam ini lepas dari itu denda pelanggaran atas perjanjian akan aku aktifkan." Kataku lagi menambahkan.
"Denda apa lagi ini, kamu itu kok lama lama jadi kurang ajar begitu, memang kamu lupa siapa yang ngasuh kamu waktu kecil." Ujar Bude Marni ngegas.
"Soal denda dan perjanjian tanyakan saja pada Mas Harno dan Mbak Retno, bude nggak perlu ngegas kalo belum mengetahui dengan jelas urusannya, bude pikir sertifikat sawah bisa aku pegang tanpa ada aturan aturan apapun." Ujarku tenang.
"Aduh sudahlah, nih Nis hp mu kepalaku mau pecah rasanya." Kata Bude Marni.
Tak berapa lama kemudian panggilan video itu di akhiri. Dadaku pun rasanya sedikit pepat, aku tau pasti berurusan dengan keluarga budeku itu tak pernah gampang.
Aku tertegun sejenak saat kurasakan tangan lembut mengusap punggungku lalu memelukku erat erat dari belakang.
"Bro bukannya ingin kepo tapi kau ada masalah apa dengan keluarga mu ?" Tanya Aceng yang juga sudah mendekati aku bersama Dewi adiknya.
"Rumit Ceng, keluargaku sudah bermasalah sejak aku masih di Jepang." Jawabku lirih.
"Terserah padamu kami yakin kamu bisa menyelesaikan semua masalah itu, jika kau perlu pulkam dulu gapapa, jangan cemas urusan di sini biar kami handle." Ujar Aceng.
"Iya, hari senin nanti aku akan pulkam dulu." Kataku.
"Ibu boss juga pulkam ?" Tanya Aceng.
"Tentu saja dia akan ikut kemanapun aku pergi, bahkan kalo Dewi dan Imas juga mau ikut sekalian gapapa kok biar kamu sama tangan besi saja disini." Ujarku sambil terkekeh, sementara sebuah cubitan kecil dari Sari segera mendera pinggangku sementara Dewi dan Imas juga ikut tersenyum.
"Sengkek Lu, sedang bermasalah saja rese apalagi nggak..." Ujar Aceng sambil nyengir kuda membuat kami semua tertawa ngakak.
__ADS_1
"Sudahlah ayo kita pulang, itu kasihan Mas Riko sudah lama nungguin." Ujar Dewi.
Kulihat Riko sedang santai berdiri bersandar di tiang teras toko sambil menikmati rokoknya.
"Ya sudah aku pamit pulang duluan yah !" Ujar Imas yang hari ini memang bawa motor sendiri.
"Kalo butuh pengawalan bilang saja sama Riko, Teh !" Ujarku pada Imas.
"Nggak perlu kok masih ramai juga." Jawabnya sambil tersenyum lalu bergegas melangkah keluar menuju motornya.
Riko segera menutup pintu toko dan mematikan lampunya begitu kami keluar untuk kemudian pulang.
Malam itu aku memenuhi janjiku mentransfer sejumlah uang ke rekening Anto yang memang sudah tercatat di riwayat aplikasi banking ku.
"Hallo boss, maaf apa boss kirim duit 20 juta ke rekeningku?" Tanya Suranto setelah panggilan telponnya aku terima.
"Iya mas, tolong di bagi empat sama rata yah, buat beli nasi uduk." Ujarku bergurau.
"Iya boss makasih banyak." Ujarnya.
Rasanya tubuhku benar benar enak dan nyaman mungkin efek minyak terapi dan pijatan yang di lakukan Tyas beneran cocok untukku.
Aku tak sadar lagi setelah itu karena begitu bangun tepat saat adzan subuh berkumandang jam empat pagi, kulihat Sari telah berbaring di sampingku dengan baju tidurnya yang tersingkap sana sini memamerkan bentuk tubuhnya yang sempurna selevel dengan Tyas yang memiliki pesona luar biasa.
Aku benahi selimut Sari untuk mengcover tubuhnya secara penuh menutup kaki sampai batas lehernya sebelum aku beranjak dari peraduan lalu merendam diriku dalam bathub penuh air, begitulah aku melatih pernafasan ku beberapa hari terakhir ini, cukup satu jam menahan nafas dengan setiap lima belas menit mengambil nafas panjang.
Hal itu membuat tubuhku ternyata semakin enteng dan dipenuhi energi yang melimpah yang mengalir melalui pembuluh darahku, dan percaya atau tidak akibat positif yang di hasilkan dengan cara seperti ini sepuluh kali lipat lebih efektif dari sekedar berlatih dengan treadmill selama lima jam.
Dan yang paling penting latihan menahan nafas dengan cara seperti ini akan membantu proses detoksifikasi alami tubuh lebih efektif.
"Mas, apakah kau di dalam... aku mau pipis !" Ujar Sari berteriak dari luar pintu kamar kecil.
Belum sempat aku menjawab, pintu kamar kecil telah terbuka, dan tak lama kemudian terdengar suara mendesis dari kloset jongkok yang ada di sudut ruangan.
__ADS_1
Sejak aku dan Sari melakukan hubungan intim di hotel Bandungan beberapa waktu lalu, dia memang sudah tak sungkan lagi untuk memamerkan segalanya yang ada pada dirinya kepadaku, seolah dia begitu yakin bahwa kami akan benar benar segera menjadi pasangan suami istri.
Untuk beberapa waktu lamanya aku masih tetap berendam dan tak menghiraukan aktivitas kekasihku itu sesudah ia membuang hajat kecilnya.
Sebelum dering hp Sari berbunyi nyaring memecah kesunyian fajar menjelang pagi hari itu.
Mulanya Sari menerima panggilan itu dengan biasa saja sebelum ia ikut berteriak histeris, membuatku mau tak mau segera melompat dari bathub dan mengakhiri latihanku, untuk kemudian melilitkan handuk di pinggangku dan menghampiri Sari.
"Sayank ada apa...?" Tanyaku ikut panik.
"Bapaknya Teh Imas jatuh di kamar mandi mas dan sekarang pingsan." Ujar Sari.
Aku segera meminta hp nya.
"Hallo Teh, gimana kondisi Pak Haji Obi sekarang ?" Tanyaku agak keras.
"Tolong Ak, tolong ! bapak aku Ak...!!" Ujar Imas meratap sambil menangis tersedu sedu.
"Baik baik kami segera kesana sekarang !" Ujarku lalu menutup panggilan.
"Yank, bergegaslah ! Kita harus menolong Pak Haji Obi." Ujarku pada Sari.
"Sebaiknya mas sama Aceng saja yang nganter ke rumah sakit nanti kalo semua kesana toko jadi kacau." Ujar Sari ada benarnya.
Buru buru aku mengenakan bajuku seadanya.
"Tolong hubungi Dewi Yank, minta dia bangunin Aceng !" Ujarku pada Sari yang terlihat bengong sesaat.
Sari segera mengerjakan yang ku minta namun setelah beberapa saat lamanya panggilan Sari sama sekali tak ada respon.
"Ya sudah nanti tolong bilang ke Aceng untuk menyusul ku yah Yank." Kataku.
Setelah ritual kecup kecup sebentar dengan kekasihku itu, aku segera keluar rumah dan menstater mobilku untuk kemudian berlalu ke tempat Pak Haji Obi.
__ADS_1
Sampai di kediaman orang yang konon yang terkaya di kampung sebelah itu, aku segera menelpon Imas untuk mengabarkan kalo aku sudah berada di depan gerbang rumahnya.