
"Fyuhhh....."
Akhirnya sampai juga di sesi akhir perjalanan kami yang berujung di halaman parkir RSUD Ungaran. Lega adalah satu kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini, mengemudi dalam keadaan perut kosong di tambah suasana jalan yang bikin senewen karena semrawutnya lalu lintas jelas membuat siapapun yang mengalami akan labil.
"Ayo mas temani aku dulu!" Ujar Mbak Sari seakan sudah benar benar akrab denganku.
"Iya mbak...iya .." Jawabku tak bisa menolak keinginan dari bidadari tak bersayap yang merupakan istri dari sepupuku itu, meski sebenarnya aku ingin segera cari tempat makan untuk mengisi perutku yang telah meronta ronta.
Sesaat kemudian Mbak Sari mulai mengeluarkan hp nya yang lalu di pakainya untuk menelpon seseorang.
"Hallo mbak mama di rawat di mana, aku sudah di depan RSUD." Ujar Mbak Sari saat mulai bicara di telpon.
"Oh masih di ICU...okey." Ujar Mbak Sari lalu menutup panggilan dan kembali memasukkan hp nya ke tas nya.
"Ayo mas!" Ajak Mbak Sari sambil menarik tanganku, mungkin karena melihatku bengong.
Lagi lagi aku hanya menurut seperti seekor kerbau yang pasrah di giring kemanapun oleh majikannya. Aku pun segera berjalan cepat untuk mengimbangi Mbak Sari yang seakan ingin terbang saja untuk segera mendapati kondisi mamanya itu.
Sampai di ruang emergency, kami langsung di sambut seorang pria yang sudah cukup senja usianya yang kemudian aku tau beliau adalah pakde dari Mbak Sari karena ia menyebutnya demikian.
"Masuklah nduk mbakmu sudah nunggu mamamu di dalam!" Ujar pria tua yang di panggil pakde oleh Mbak Sari itu setelah satu persatu dari kami bergantian menyalim tangannya.
Mbak Sari segera masuk ke dalam ruangan yang di sterilkan itu setelah mendapat ijin dari suster penjaga, kulihat dari kaca ia kembali menangis tersedu saat berpelukan dengan wanita yang mungkin sekali adalah kakaknya karena kulihat parasnya juga sangat cantik walaupun agak jauh terlihat lebih keibuan.
"Kamu siapa nak? maaf maksud bapak kamu siapanya Farhan?" Tanya pria tua yang mungkin seumuran sama Pakde Joyo.
"Saya adik sepupu Mas Farhan pakde, kebetulan kakak saya itu belum pulang karena masih ada kerjaan di luar kota." Jawabku ramah.
"Baiklah mari duduk disini!" Kata pria tua itu sambil menghempaskan tubuhnya di kursi panjang yang terbuat dari besi itu.
"Maaf pakde saya mohon diri untuk cari sarapan dulu, dari rumah tadi belum sempat sarapan takutnya nanti Mbak Sari juga sakit." Ujarku menolak secara halus ajakan pakdenya Mbak Sari yang mungkin ingin ngajak ngobrol aku.
__ADS_1
"Oh iya nak silahkan kebetulan semua juga belum pada sarapan juga kok hehehe, kalo kamu mau di samping luar rumah sakit ini ada yang jual nasi pecel yang enak, kamu jalan keluar dulu lalu belok kanan nanti ada jalan kecil di sekitar situ tempatnya." Ujar pria tua itu.
"Oh baiklah pakde trimakasih, nanti biar saya bawain sekalian buat pakde." Ujarku lalu pamit dan benar benar segera pergi menuju tempat yang di maksud pakdenya Mbak Sari itu.
Ternyata benar di samping tempat ini ada tempat makan sederhana yang cukup ramai dengan pembeli, membuatku ikut berdesakan dengan pengunjung yang lain, hingga harus sabar menunggu beberapa lama lagi untuk sekedar bisa mengisi perut yang sudah akut laparnya.
Puas mengisi perut dengan nasi pecel di tambah sayap ayam goreng kremes dan setusuk telur puyuh dan minum sebotol air mineral, aku segera bergegas kembali ke rumah sakit sambil membawa sekantong plastik berisi empat bungkus nasi pecel komplit dan beberapa potong gorengan juga beberapa botol air mineral.
Tak lupa aku menarik sedikit uang tunai dari sebuah ATM bank himbara yang kebetulan pula ada di dekat tempat itu. Sampai di depan ruang ICU ternyata Mbak Sari dan juga kakaknya tengah duduk berdampingan di sebelah pakdenya, mereka langsung menatapku.
"Mbak ini aku beli sarapan." Ujarku sambil menyerahkan plastik yang kubawa.
Tak di sangka pakde lah yang menerimanya dan langsung mengambil satu bungkusan makanannya tanpa banyak basa-basi lalu menyerahkan sisanya pada Mbak Sari.
"Mas...aku boleh minta tolong lagi ngga?" Ujar Mbak Sari.
"Boleh mbak tentu saja selama aku mampu." Jawabku diplomatis.
"Oh tentu saja bisa mbak, tapi mbak sarapan aza dulu dari rumah juga belum sarapan kan?" Kataku yang kemudian Mbak Sari mengangguk dan lalu membuka bungkusan makanannya dan menyerahkan sisanya ke kakaknya.
"Oh iya mas kenalkan ini mbak ayuku namanya Mbak Wati." Ujar Mbak Sari sambil menoleh ke arah kakaknya yang mengulumkan senyum manisnya padaku dan mengulurkan tangannya mengajakku berjabat tangan.
Aku pun menyambutnya dengan hangat.
"Salam kenal Mbak Wati aku Agung adiknya Mas Farhan." Ujarku ramah.
"Salam kenal yah Mas Agung. Oh iya trimakasih banyak yah beliin kita sarapan, mudah mudahan amal baiknya di balas sama Yang Di Atas." Ujar Mbak Wati tak kalah ramah.
"Aminn...bukan apa apa kok mbak." Jawabku sambil tersenyum. Sementara kulihat pakde telah menyelesaikan makanannya dan meminta air minum di plastik yang di pegang Mbak Wati.
Tak lama kemudian setelah Mbak Sari selesai sarapan, dia bergegas mengajakku menjemput bude nya yang akan ikut menunggui mamanya di karenakan Mbak Wati tak bisa lama menunggui karena terkait pekerjaannya.
__ADS_1
"Woww....kerennnn....!!!" Ujarku kagum ketika melintas di jalan berkelok naik turun dimana jalan itu justru terletak di atas pemukiman membuatku serasa melintasi negeri di atas awan. Di tambah panorama alam mempesona yang di hiasi pohon pohon pinus yang segar benar benar sangat indah.
"Bagus kan mas. Oh iya tempat tinggalku di balik bukit itu mas." Ujar Mbak Sari sambil menunjuk suatu tempat.
Mbak Sari tampak semringah mungkin setelah memastikan mamanya baik baik saja hanya kelelahan semata masalahnya. Aku pun merasa senang melihat ia kembali tersenyum memperlihatkan kecantikannya yang paripurna.
"Oh jadi di sini yah candi gedong songo itu?" Gumamku saat aku melihat papan selamat datang di atas gerbang yang juga berbentuk seperti candi.
"Ini tempat mainku saat aku kecil mas." Ujar Mbak Sari sambil tersenyum manis sekali.
Sebelum aku menanggapi, dia telah memberiku petunjuk jalan yang harus ku lintasi yang tak lama kemudian sampailah kami di depan sebuah rumah berukuran tak terlalu besar dimana bude Mbak Sari tinggal.
Namun saat Mbak Sari turun dan memanggil budenya nihil jawaban bahkan pintu rumahnya pun tampak tertutup rapat, membuatnya tampak frustasi sebelum tetangga budenya memberi tau bahwa budenya telah berangkat ke Ungaran untuk mbesuk saudaranya yang di rawat.
"Lah tadi kenapa minta di jemput seh klo bisa pergi sendiri. Dasar nenek nenek.." Gerutu Mbak Sari dengan muka cemberut namun justru membuatnya semakin terlihat manis. Aku pun hanya bisa tertawa.
"Kok malah ketawa seh mas bukannya bantuin mikir." Ujar Mbak Sari menumpahkan rasa kesalnya padaku
"Ya sudah balik lagi ke RS aza mbak." Ujarku sambil tersenyum karena suka melihat wajahnya yang cantik saat ngambek.
"Nggak..maless...mumpung di sini kita refreshing sekalian mas ngilangin suntuk." Ujar Mbak Sari membuat aku bingung.
"Trus nanti klo di cariin Mbak Wati gimana mbak?" Tanyaku.
"Biarin aza salah sendiri mempermainkanku. Sudah ayo jalan lagi mas!" Ujar Mbak Sari setelah duduk di sebelah ku dan mengenakan seat belt nya.
"Siyap tuan putri...akan kemana tujuan selanjutnya tuan putri?" Jawabku yang membuat Mbak Sari tertawa kecil.
"Di sini ada tempat bagus mas ada air terjunnya juga pengen lihat nggak?" Tanyanya sambil tersenyum dan menatapku.
"Siyap." Jawabku
__ADS_1
Entah gimana perasaanku sekarang tapi aku jelas sangat senang, aku yakin Mas Farhan bakal pingsan kalo tau ini.