OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 137 Tak Tau Balas Budi


__ADS_3

"Agung kemana kok malah nggak kelihatan batang hidungnya setelah minta budenya di rawat di ruang VIP ?" Tanya Joyo dengan agak gusar pada Sumarno yang juga sebenarnya sedikit panik dengan kondisi Sumarni saudara tua satu satunya yang ia miliki.


"Ia memang masih ada sedikit urusan Kang, tapi jangan khawatir duitnya aku yang pegang kalo pihak rumah sakit nagih ongkos biaya perawatan, tinggal ngomong saja." Kata Sumarno.


"Bukan begitu Lek, tapi ah sudahlah." Ujar joyo dengan pikiran yang sudah kemana mana.


"Kalo saran ku Kang, telponlah Farhan ! suruh pulang nengok mamaknya meski sebentar." Kata Sumarno lirih.


"Sudah ratusan kali Retno ku suruh nelpon dia, tapi hp nya sudah nggak bisa dihubungi, pusing aku makin tua bukannya makin mapan malah makin blangsak kaya gini anak anakku nggak ada yang beres semua." Kata Joyo Sudiro mengeluh.


Sumarno hanya diam saja tak menanggapi apapun, apalagi ketika Anis yang datang bersama Partini temannya yang juga tetangganya datang membawakan makanan yang ia masak dari rumah.


"Assalamualaikum !" Ujar Anis menyapa bapak dan pakdenya itu dengan ramah yang juga diikuti temannya.


"Walaikumsalam...masuk nduk!, sudah pulang sekolahnya kalian?" Ujar Sumarno bapaknya Anis dengan senyum yang tersungging ramah.


"Sudah Pak jam 2 tadi karena itu aku bisa nengok bude." Kata Anis setelah bergantian mencium tangan bapak dan uwaknya itu.


"Kau masak sendiri atau beli ini tadi nduk ?" Tanya Joyo setelah melihat Anis meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja nakas fasilitas rumah sakit.


"Masak sendiri lah pakde." Jawab Anis sambil tersenyum.


"Oh iya gimana kondisi Bude Marni sekarang pakde?" Tanya Anis lagi.


"Sudah agak mendingan bisa tidur." Ujar Joyo agak seadanya.


"Oh syukurlah." Kata Anis dan Partini bareng.


"Doakan saja budemu cepat pulih nduk !" Sambung Sumarno bapaknya Anis.

__ADS_1


"Bapak dan Pakde makan dulu gih, mumpung masih hangat ini tadi aku sama Tini yang masak di bantuin sama Mbak Retno juga." Ujar Anis.


"Ya sudah ayolah kalo gitu, Pakde Joyo mau makan tidak?" Ujar Sumarno sembari menyebut kakak iparnya itu dengan bahasa anaknya.


"Kalian juga makan sekalian ya nduk ?" Kata Sumarno lagi.


"Kami mau ke supermarket dulu Pak, nanti kami kesini lagi buat ambil peralatannya." Ujar Anis setelah dibisiki beberapa kata oleh sahabatnya itu.


"Ya sudah tapi hati hati loh ya !" Kata Sumarno.


"Ya Pak." Jawab Anis sambil kembali mencium tangan bapaknya untuk berpamitan diikuti juga oleh Partini yang melakukan hal yang sama.


"Makasih ya nduk Tini, sudah bantuin Anis tadi." Ujar Sumarno pada anak perempuan Paidi yang juga tetangga rumahnya itu meski beda lingkungan rt.


"Iya Lek sama sama. Mudah mudahan Lek Sumarni lekas diberikan kesembuhan lagi." Jawab Partini yang merupakan anak keenam sekaligus yang paling bungsu di keluarganya yang semuanya perempuan.


"Aminn !!! makasih doanya ya nak, selanjutnya kalo jalan hati hati loh yah !" Sambung Sumarno lagi.


Selepas kepergian kedua anak perempuan itu, yang salah satunya anak gadis Sumarno sendiri suasana kamar itu kembali suram dan penuh kegundahan, meski sesaat kemudian baik Sumarno maupun Joyo Sudiro telah sibuk dengan makanan yang dibawakan oleh Anis tadi.


"Menurutmu Farhan kemana perginya Kang ?" Tanya Sumarno di sela sela mereka mengunyah makanan.


"Ya kalo aku tau sudah dari kemarin kemarin aku seret pulang anak itu." Jawab Joyo Sudiro dengan gayanya yang selalu ketus dan tidak ramah.


"Bukan begitu setidaknya kan ada petunjuk kira kira Farhan kemana perginya." Balas Sumarno.


Selanjutnya Joyo Sudiro tak berucap menanggapi lagi, melainkan melanjutkan menyantap makanan yang di buatkan keponakannya itu dengan lahap, meski siang tadi juga sudah makan nasi bungkus dari warung makan depan rumah sakit yang dibelikan oleh Sumarno.


Dalam pada itu Sari yang tengah bersantai santai setelah mengecek pembukuan yang dikirimkan oleh Imas serta menghubungi beberapa supplier tetap mereka untuk kembali mengirimkan stok barang yang menipis, dikejutkan dengan kehadiran mobil yang ia ketahui milik Rahmat yang sudah masuk ke pelataran rumahnya.

__ADS_1


"Hai Sar ! apa kabar hari ini ?" Sapa Rahmat disertai senyum manisnya.


Rahmat datang seorang diri setelah seharian terus saja terbayang bayang akan wajah Sari yang selalu memenuhi imajinasi pikirannya. Dan begitu Riyan menghubungi bahwa Sari sudah bersedia dengan undangan makan malam yang ia rencanakan ia langsung buru buru ke tempat Sari setelah menyelesaikan beberapa kerjaan di firma hukum tempatnya bekerja.


"Baik mas, eh maaf Mas Rahmat sendirian kesini ? ada perlu apa ?" Tanya Sari mencoba ramah menyambut kedatangan tamu yang sebenarnya tak diinginkan olehnya itu.


"Aku memang sengaja kesini ingin menemui kamu Sar, karena aku dengar kamu bersedia hadir atas undangan makan malamku." Kata Rahmat lugas disertai senyum manis dari wajah tampannya.


"Iya aku memang telah bersedia tapi itu semua demi kakakku yang tadi pagi merengek rengek minta bantuan ku. Aku pikir tak etis bukan seorang wanita yang telah bertunangan menerima undangan dari seorang lelaki yang bukan siapa siapanya." Kata Sari tak kalah lugas dan sempat membuat perubahan pada mimik wajah Rahmat.


"Jadi kapan kamu akan menikahnya Sar ?" Ujar Rahmat lirih, ia seperti sudah mendapat penolakan bahkan sebelum ia mengutarakan maksud hatinya.


"Mungkin sebulan lagi mas, jadi tolong setelah ini jangan datang datang lagi kesini yah, aku mohon maaf bukan apa apa cuma ingin menghindari fitnah saja." Kata Sari.


"Baiklah Sar, tapi nanti malam aku jemput yah." Kata Rahmat seolah masih ingin berdiplomasi.


"Tidak mas, sebaiknya jangan, please atau aku nggak jadi menerima undangan makan malam ini." Balas Sari tegas.


"Tapi apa nggak kasihan kakakmu yang mesti memutar kesini untuk menjemputmu, sedangkan aku lebih dekat." Kata Rahmat masih gigih.


"Biarlah itu juga kalo mereka mau aku menghadiri makan malam itu, kalo nggak juga nggak masalah kok." Kata Sari mulai ketus.


Rahmat yang mencoba menyabarkan hatinya sejak semula namun sikap Sari tadi membuatnya cukup muak, karena ia tak terbiasa ditolak apalagi oleh orang orang yang pernah menggunakan jasanya.


"Sepertinya tunangan kamu itu telah membuatmu keblinger yah Sar, sampai sampai untuk sekedar membalas budi saja lupa." Ujar Rahmat yang sudah tak tahan dengan sikap Sari itu.


"Aku akui mas, kalo mas menganggapku bukan orang baik yang tak bisa balas budi terserah, tapi aku rasa aku tak berhutang apapun karena aku tidak gratis dengan pertolongan itu." Ujar Sari sengit.


"Baiklah sekedar cukup untuk tau pribadi kamu saja Sar, kalo gitu aku permisi." Ujar Rahmat dengan muka merah menahan amarah.

__ADS_1


Dengan kasarnya Rahmat membuka dan menutup pintu mobilnya dan segera berlalu dari tempat itu tanpa basa basi lagi, sementara Sari hanya bisa menatap kepergian orang itu dengan tatapan nanar. Ia sangat terpaksa sebenarnya bersikap seperti itu.


__ADS_2