OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 35 Pertemuan Kembali


__ADS_3

Keesokan paginya setelah membantu sedikit aktivitas Kang Bejo yang kini telah dalam tahap finishing rumahku, sementara sebagian anak buahnya yang lain sedang menggali tanah untuk membuat septic tank.


"Gung kemarin pegawai Boss Suryo bilang cat yang kamu inginkan tak tersedia di tokonya." Ujar Kang Bejo.


"Oh gapapa Kang nanti biar aku cari sendiri saja. Memang kapan mulai ngecatnya Kang ?" Ujarku.


"Ya ini saja belum kelar ngaci Gung...paling dua hari lagi lah." Kata Kang Bejo.


"Oh siyap Kang." Ujarku sambil tersenyum dan mengacungkan jempol ku.


Kang Bejo lalu tak banyak cakap lagi karena segera terlibat membantu pegawai BTL yang sedang mengerjakan instalasi listrik rumah ku yang dayanya ku tambah. Sementara rumah Anis tetap akan memakai kwh dari bekas rumah yang dulu.


Menjelang siang aku yang ingat akan janji bertemu dengan Yesi segera bersiap mandi dan merapikan diri.


"Hari ini kamu mau kemana lagi nak?" Tanya bapakku seolah menyindirku.


"Beli cat pak di tempatnya Boss Suryo nggak ada katanya." Ujarku mengingat besok aku sudah akan berangkat ke Subang jadi mau tak mau aku harus menyiapkan semua hari ini juga.


"Memang besok jadi berangkat ke Subang nya ?" Tanya beliau lagi.


"Iya pak, ini saja Aceng sudah menelpon terus." Ujarku.


"Ya sudah terserah bagaimana baiknya kamu saja." Ujar beliau. Aku hanya mengangguk.


"Oh iya nak duit konsumsi sudah nipis itu gimana? apa perlu bapak ambil duit di bank ?" Ujar beliau lagi.


"Ga perlu lah pak, sebentar." Ujarku lalu meraih jaket yang ku centelkan di paku tiang rumah bedeng.


Ku ambil segepok uang hasil judi semalam dan ku berikan pada bapak.


"Aku belum ngambil duit di bank pak, pake duit ini saja dulu." Kataku.


"Makasih nak." Ujar beliau dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum saja.


Bapak menerima uang itu dan tak bertanya apapun kemudian beliau menyimpan uang itu sendiri di lemari beliau.


Selesai mandi dan merapikan diri ala kadarnya aku segera memanaskan mobil sejenak sebelum melajukan nya pelan pelan. Jam 10 tepat aku sampai di depan pasar kecamatan, dan segera memarkirkan kendaraanku di parkiran yang agak teduh di depan bangunan yang cukup menghalangi sinar matahari.


"Yes...kamu dimana?" Ujarku setelah panggilan telpon ku di angkatnya.


"Sudah di Bakso Jumbo Gung." Ujarnya. Kumatikan panggilan, lalu melangkah ke tempat yang ia sebut.

__ADS_1


"Sepagi ini sudah ramai saja tempat ini." Pikirku sambil mencari cari keberadaan Yesi.


Akhirnya mataku tertuju pada dua orang wanita sebaya yang duduk berdampingan dan saling tersenyum padaku sambil melambaikan tangan mereka.


"Yesi... Widya...kok kalian...?" Ujarku setelah aku menghampiri mereka dan duduk di depan mereka.


"Loh kalian sudah kenal?" Ujar Yesi yang hari ini memang tampil sangat cantik.


Yesi sedikit cemberut ketika aku dan Widya hanya mengangguk sambil tersenyum senyum saja untuk menjawab pertanyaan darinya.


"Widya temanku sejak SMK...Yes.. tepatnya aku mengenalnya ketika kami hampir lulus SMK." Ujarku.


Widya sendiri hanya mengangguk dan tersenyum.


"Lalu hubungan kalian apa ?" Tanyaku.


"Dia adik kakak ipar ku." Jawab mereka bersamaan.


"Ohhh....gitu. Jadi yang punya counter fotocopy di sana itu kakak kalian ?" Tanyaku lagi.


"Yupz. Jadi Yesi ini adik dari Mas Toni Gung suami dari Mbak Ndari kakakku." Ujar Widya.


Yesi hanya mengangguk namun raut mukanya tampak kurang begitu senang.


"Sudah...tapi kamu belum...Gung." Ujar Widya yang pembawaannya memang ramah dan mudah bergaul.


Beda jauh dengan Yesi yang sangat mudah sensi dan tidak mudah beradaptasi. Aku pikir seiring kedewasaan usianya sifatnya sudah berubah namun ternyata masih sama.


Tak lama kemudian baso pesanan Yesi dan Widya sudah datang, aku kemudian pesan juga pada pelayanannya itu.


"Baik bakso jumbo satu minumnya ?" Tanya pelayan itu.


"Teh lemon hangat saja mas." Jawabku.


"Ayo di makan ! tar malah keburu dingin." Ujarku sambil tersenyum menatap mereka.


"Tar aza bareng kamu." Jawab Yesi.


"Aku juga deh hihihi." Ujar Widya terkekeh.


"Kamu sudah punya pacar lagi Gung ?" Tanya Yesi tiba tiba serius.

__ADS_1


"Menurut kamu gimana Yes ?" Jawabku justru balik bertanya, Widya memilih diam saja menyimak kami.


"Jawab saja punya apa tidak ga usah muter muter !" Ujar Yesi.


"Aku sedang mencari istri." Jawabku lirih namun lugas sambil tersenyum.


"Kamu sendiri gimana bukankah semalam aku sudah tanya duluan soal ini ?" Ujarku lagi.


"Saat ini aku masih single, tapi aku orang tuaku berencana menjodohkan aku dengan seseorang Gung, aku bingung." Ujar wanita yang pernah jadi cinta monyet ku itu.


"Ya kalo kamu suka jalani saja, bukankah orang tua itu slalu memilih yang terbaik buat anaknya." Ujarku menanggapi.


"Entahlah Gung aku bingung." Kata Yesi terdengar mengeluh.


"Kalo bingung kamu bisa shalat minta petunjuk dan mohon yang terbaik soal keputusan orang tua kamu itu Yes." Ujarku.


Yesi hendak berkata lagi sebelum terjeda karena pelayan yang datang mengantar pesanan ku.


"Ya sudah ayo di makan dulu !" Ujarku.


Sejenak kami pun sibuk fokus menyantap bakso yang besarnya hampir memenuhi mangkok wadahnya itu. Bakso itu disajikan di iris iris hingga menyerupai bunga teratai dan rasanya memang cukup enak, pantas saja kalo tempat ini slalu di penuhi oleh pengunjung.


"Gung habis ini kita bicara empat mata dulu boleh nggak ?" Ujar Yesi, aku menatapnya lalu beralih ke Widya yang terlihat kecewa.


"Maaf ya Wid...." Kata Yesi pada Widya.


"Iya gapapa Yes, kalian bisa lanjut ngobrol aku juga masih ada kerjaan kok di counter." Ujar Widya dengan matanya tampak berkaca kaca. Aku jelas paham dia sangat kecewa.


Namun aku tak bisa berbuat apapun karena memang hari ini acara ku dengan Yesi. Aku pun sungkan untuk berbuat sesuatu yang membuat Yesi tersinggung karena tau benar wataknya gimana.


"Kapan kapan kita bisa makan bareng lagi kok Wid." Ujarku berusaha menghibur hatinya.


Widya hanya diam namun kulihat air matanya telah meleleh, dia lalu berdiri dan hendak pergi sebelum aku memegang tangannya.


"Duduk dulu Wid. santai lanjutin makannya dulu !" Ujarku menatapnya.


"Maaf aku hanya mengganggu kalian saja." Ujar Widya lirih sambil menahan isak tangisnya.


"Tidak...kok bukankah Yesi yang mengajakmu ?" Ujarku sambil melirik Yesi yang menjadi muram juga raut wajah cantiknya. Menekankan bahwa Widya adalah tanggung jawab Yesi.


"Wid please duduk lagi yah, habisin dulu makanannya." Ujarku, Widya akhirnya menuruti kemauanku untuk duduk kembali namun setelah hanya diam saja tak menyentuh bakso yang masih tersisa separuhnya itu.

__ADS_1


Yesi menatap Widya dengan tatapan aneh tapi jelas tatapan itu bisa diartikan muak atau benci atau apapun yang jelas ada semacam ketidaksenangan disana.


__ADS_2