OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 80 Keuntungan Kami Berapa


__ADS_3

Mang Darom hanya tersenyum dan mengangguk saja mendengar penuturan yang keluar dari mulutku.


"Oh iya boss tadi Pak Somad yang mau gadaikan sawahnya datang lagi kesini." Ujar Mang Darom.


"Apa katanya Mang ?" Tanyaku.


"Tadi ngomongnya seh sama Kang Ujang tapi saya dengar tadi Pak Somad nawarin jika boss mau gadai sekarang, musim panen nanti boss sudah dapat merasakan bagi hasilnya." Ujar Mang Darom.


"Baiklah Mang, ini juga kami mau kesana sekarang tadi mampir cuma mau nanya Mang Darom sudah makan siang apa belum saja cuma itu." Ujarku.


"Sudah kok boss, kebetulan mulai hari ini istri saya bersedia memberi bekal makan siang daripada saya mondar mandir katanya hehehe." Ujar Mang Darom tampak bahagia raut wajahnya.


"Iya Mang, oh iya nanti misalnya sedang butuh apa atau apa duit barangkali buat bayar sekolah anak, dan Amang belum gajian jangan sungkan untuk ngebon dulu ke saya atau Aceng juga bisa nanti tinggal potong gaji pas gajian." Ujarku, semakin trenyuh melihat wajah sendu memelas Mang Darom meskipun dia mencoba untuk selalu semringah.


"Iya boss trimakasih pasti boss, tapi saat ini masih cukup kok boss, trimakasih perhatian dari boss kami akan slalu doakan supaya boss slalu sehat dan lancar rezekinya hingga sukses terus." Ujar Mang Darom semringah.


"Iya Mang trimakasih banyak atas doanya." Balasku.


Tak lama kemudian Mang Syarif dan Mang Ujang telah datang sambil membawa masing masing dua karung gabah di motornya yang di modif lebih jangkung dari motor standard. Kata mereka motor modif seperti itu di gunakan untuk kuli ngangkut hasil panen terutama yang sawahnya di tengah tengah lahan pertanian yang jauh dari jalan.


Meskipun musim paceklik tapi rata rata mereka mampu menggiling tak kurang dari tiga puluh karung gabah sehari karena mereka menggunakan sistem jemput bola yang cukup membantu orang awam yang kerepotan menggiling gabahnya.


Beberapa saat kami masih sempat ngobrol meskipun kemudian kami segera harus meninggalkan tempat itu untuk kemudian pergi ke tempat Pak Somad.


"Sepertinya kamu sangat bersimpatik sama Mang Darom bro? apakah karena wajahnya yang memelas itu ?" Tanya Aceng saat kami sedang melaju ke tempat Pak Somad.


"Bisa ya bisa tidak, masalahnya aku selalu simpatik sama semua teman temanku Ceng bukan karena wajah memelas atau apapun juga." Kataku.


"Syukurlah kalo bukan karena yang lain mah hehehe." Ujar Aceng seolah meledekku.


"Apa maksudmu Ceng ? Kau tidak berpikir aku hanya pura pura bersimpatik pada semua teman teman kan?" Tanyaku agak kesal.


"Woyy kalem bro woles woles...maksudku tadi soal Mang Darom aku pikir kau hanya kasihan sama dia karena istrinya kaya gitu kan kelakuannya." Ujar Aceng terdengar sangat serius.

__ADS_1


"Coba bikin lebih jelas, kelakuan apa maksudnya ?" Tanyaku agak kaget karena seakan Aceng pun juga sudah tau tentang affair antara Doni dan Teh Yanah.


"Sudahlah nanti juga kamu pasti tau kok, tinggal kebijaksanaan kamu aza untuk menyikapi hal ini gimana, agak rumit juga sih menurutku." Kata Aceng sangat santai.


"Kalo kamu sudah tau juga lebih baik diam saja dulu Ceng, kita nggak perlu merusak kebersamaan yang sudah terlanjur terjalin dengan baik ini." Ujarku.


"Nah gitu donk ! itu baru namanya good boss." Kata Aceng sambil tersenyum bias.


Kini kami sudah mulai memasuki jalan yang mengarah ke kediaman keluarga Pak Somad.


"Asalamualaikum !!! Sampurasun !!!" Ujar kami bareng intinya mengucapkan salam.


"Walaikumsalam...! Rampes..." Jawab Pak Somad dan istrinya juga serempak.


"Akhirnya boss besar datang juga hehehe mari mari silahkan duduk...!" Ujar Pak Somad terlihat bersuka hati dan gembira.


Kami pun mencoba membalas sikap ramah tuan rumah dengan mengikuti segala keinginannya. Kami duduk di kursi panjang di sisi kiri sedang Pak Somad di sisi seberang kami.


"Benar Jang Aceng..Jang Boss, bapak memang berniat gadein sawah yang tak jauh lokasinya dari penggilingan padi kalian, bapak rasa Jang Aceng juga sudah tau kalo bapak punya sedikit petakan sawah disana." Ujar Pak Somad.


"Maaf nih Pak, apakah boleh kami lihat dulu sertifikat sawahnya maaf bukan apa apa hanya sekedar melihat saja tanpa maksud apapun." Ujar Aceng lagi.


"Oh tentu tentu, sebentar biar bapak ambilkan, dan nggak perlu minta maaf adalah wajar jika ingin bersikap hati hati." Balas Pak Somad sambil beranjak menuju ke dalam rumahnya.


Tak lama kemudian Pak Somad telah keluar sambil membawa beberapa buku sertifikat yang berwarna hijau muda itu.


"Tolong Jang Aceng bapak, agak bingung..Jang Aceng bisa lihat sendiri sertifikat sawah bapak yang ada di ujung desa yang juga dekat tempat penggilingan padi kalian, luas semuanya ada satu hektar dua puluh lima are atau satu hektar lebih seperempat gitulah jelasnya." Ujar Pak Somad sambil meletakkan setumpuk sertifikat hak milik yang aku lihat ada tiga buah jumlahnya.


"Iya yang ini ! " Ujar Aceng sambil menunjukkan sertifikat atas nama Somad Salahudin.


"Jadi bapak ingin menggadaikan sawahnya berapa dan berapa lama waktunya ?" Ujar Aceng sangat santai.


Orang ini meskipun kadang kalo sedang usil kelihatan menyebalkan tapi kalo sudah urusan bicara negosiasi sangat bisa diandalkan sahabatku yang satu ini.

__ADS_1


"Bapak butuh duit 100 juta Jang, buat biaya kuliah anak bapak yang kukuh ingin belajar ke Bandung jurusan keperawatan. Namanya orang tua ya begitu bukan nak meski sedang tak punya kalo anak butuh ya cuma bisa serong kiri serong kanan kalo nggak ya gadein apa yang ada bukan begitu.. hehehe." Ujar Pak Somad.


"100 juta...lalu kira kira berapa lama Pak Somad bisa menebusnya ?" Tanya Aceng.


"Kasih waktu bapak paling lama empat kali musim panen Jang, untuk menebusnya bukankah kalo belum bapak tebus dengan sendirinya Ujang juga tetap akan dapat keuntungannya." Ujar Pak Somad.


"Kata Mang Ujang, Pak Somad minta syarat ingin yang menggarap sawahnya juga bukan begitu pak ?" Tanya Aceng lagi mulai mengintimidasi.


"Iya Jang, sawah itu sawah warisan yang oleh karuhun berpesan agar supaya sebisa mungkin pihak keturunannya saja yang mengolah sawah itu." Ujar Pak Somad terlihat jujur.


"Misalnya kami nggak keberatan bapak yang tetap menggarap sawahnya lalu gimana bagi hasil keuntungan buat kami ?" Tanya Aceng.


"Sepertigaan Jang seperti biasanya seperti untuk penggarap sepertiga bagian modal dan sepertiga bagian yang punyanya dalam hal ini Ujang selaku pihak yang menggadai sawah saya." Jawab Pak Somad.


"Misalnya nih pak maaf kalo gagal panen gimana atau barangkali hasil sedang kurang maksimal, apakah kami juga harus ikut menanggung kerugian juga ?" Ujar Aceng melontarkan pertanyaan inti yang sebenarnya membuat aku tidak tega melihat raut wajah Pak Somad yang kemudian terlihat murung.


"Maaf pak sekali lagi maafkan kami, bukan apa apa kami hanya ingin melihat kebijaksanaan bapak saja dalam hal ini, sebab barangkali tiap orang kan peruntungan nya beda beda." Kata Aceng lagi menambahkan.


"Jadi kalo dari pihak Ujang bagaimana kebijaksanaan nya coba bapak di beri paham ?" Ujar Pak Somad terdengar berat mungkin beliau merasa saat ini sedang berjalan tidak sesuai yang di harapkan nya.


"Begini saja pak saya tanya dulu berapa hasil panennya jika sedang bagus hasilnya ?" Tanya Aceng.


"Sekitar 10 ton kadang bisa lebih tapi kalo hasil bagus memang tak pernah kurang dari 10 ton." Jawab Pak Somad apa adanya.


"Misalnya kita ambil jeleknya saja harga gabah 500 kalo 10 ton berarti 50 juta yah pak, nah di bagi tiga berarti sekitar 17 jutaan kurang sedikit bukan begitu pak ?" Tanya Aceng.


"Iya benar Jang..." Jawab Pak Somad.


"Nah jika gagal panen dalam hal ini puso yang artinya tak ada hasilnya atau berkurang separuhnya, bagaimana kalo kami menetapkan standard bawah bagi hasil yaitu 10 juta kira kira bapak keberatan tidak ?" Kata Aceng benar benar jenius.


"Baiklah Jang bapak tidak keberatan, kalian memang cerdas. hehehe.." Ujar Pak Somad.


"Yah sebenernya kami bukan tak mau rugi kalo kamu sendiri yang nggarap tentu rugi juga bukan masalah pak orang namanya kan rezeki ada yang ngatur, tapi bapak bersikeras untuk tetap menggarap jadi kami tak salah bukan jika meminta jaminan dari bapak agar tetap ada keuntungan, maksudnya sebagai motivasi bapak agar bersikap bijaksana." Ujar Aceng.

__ADS_1


__ADS_2