
Sepekan sudah Agung menjalani lelaku pati geni yang disyaratkan oleh kyai Danuri untuk mewarisi ilmu kejayaan turun temurun yang sebenarnya tak dimiliki oleh Kyai Danuri sendiri meskipun ia pernah mengatakan juga mewarisinya.
Sepekan dalam almanak jawa berarti lima hari yang juga artinya masih tersisa dua hari dua malam lagi yang harus di lalui oleh Agung.
Pada titik ini Agung merasa tubuhnya sudah sangat ringan meskipun sebenarnya sangat rapuh, halusinasi yang dialaminya sudah semakin parah hingga membuatnya merasa setengah kesadarannya berada di alam bawahnya.
Kini yang mendatangi dirinya bukan saja orang orang yang pernah dekat dengannya saja. Namun satu persatu orang orang berpakaian sederhana dari masa lalu juga hadir dalam benaknya yang terus saja memutar berbagai memori.
Awalnya Agung melihat seorang tua yang berdiri gagah di atas sebuah puncak bukit dengan angin badai dan gemuruh disekitarnya, tiba tiba saja sebuah lidah cahaya dengan cepat datang menuju ke arahnya seolah hendak menyambarnya namun dengan gerakan yang memukau, lidah cahaya itu ditangkap oleh pria tua itu dan dihempaskan begitu saja hingga menghantam batu batu padas yang berserakan di bukit itu hingga hancur lebur.
Agung terpukau akan hal itu namun hanya sekejap kemudian ia telah kembali ke dalam fokusnya lagi. Tak lama setelah peristiwa itu hadir pula seorang pemuda tampan dan tubuh gagah tampak sedang bermain main di bawah sebuah pohon yang sangat besar lagi lagi, hanya sesaat kemudian pohon besar itu telah tumbang setelah berderak bergetar hebat diterpa pukulan beruntun dalam gerakan cepat.
Tak hanya tumbang tapi hampir seluruh daun yang rimbun pohon itu rontok dan batangnya mengering seperti baru dipanggang. Setelah itu dengan langkah ringan pemuda gagah itu langsung melenggang pergi.
Ternyata gambaran itu belum berakhir dan kali ini dalam benaknya Agung melihat dua orang wanita cantik dengan busana layaknya seorang pendekar terlihat sedang bertarung di hadapan seorang pemuda tampan yang terpaku menyaksikan pertarungan kedua wanita berparas cantik itu.
Satu wanita yang membiarkan rambutnya terburai panjang cantik alami yang diikat rapi kuncir kuda bersenjatakan tongkat perak sepanjang satu meter berkepala tengkorak kecil sementara wanita yang satunya lagi tampil anggun dengan rambutnya yang disanggul rapi bersenjatakan sepasang pedang tipis.
Mereka bertempur sambil sesekali saling tertawa dan bercanda satu sama lain namun gerakan yang mereka lakukan sama sekali tak menampakkan kalo mereka sedang bercanda.
Entah kenapa tiba tiba saja Agung merasakan bukan hanya sekedar menyaksikan hal itu dalam benaknya saja melainkan benar benar hadir melihat langsung di tempat indah itu.
Belum habis rasa terkejutnya mendapati keadaan dirinya, tiba tiba saja rasa terkejutnya semakin bertambah ketika pemuda tampan yang berbusana batik lurik bermotif kawung dengan hitam sebagai warna dominan, sudah hadir dengan senyum terkulum di bibirnya.
"Kamu siapa anak muda ?" Tanya pemuda tampan nan gagah itu sambil mengurai sesuatu yang membelit pinggangnya yang ternyata sebuah cambuk pecut yang terbuat dari janget.
__ADS_1
"Maaf tuan, namaku Agung aku juga tidak tau kenapa bisa hadir di tempat ini." Jawab Agung dengan nada panik dan bingung.
Agung tak menyangka pemuda tampan itu justru tertawa terbahak-bahak hingga menyita perhatian kedua wanita yang tengah bertempur itu.
"Namamu Agung ?" Tanya pemuda tampan itu lagi.
"Benar tuan, itu nama saya." Jawab Agung sambil ikut tersenyum saat merasakan ternyata pria yang dihadapinya itu cukup ramah.
"Aneh sekali." Ujar pemuda tampan itu tampak sedang berpikir.
"Apa yang aneh kakang? siapa dia ?" Tanya wanita cantik manis yang rambutnya terburai meskipun di kuncir kuda.
"Dia mengaku bernama Agung, Mirah...apakah kau percaya ?" Ujar pemuda itu sambil terkekeh.
"Oh Menoreh. Tapi saya sedang..ehm anu tuan maaf saya memang bukan orang asli sini, saya juga kurang tau kenapa tiba tiba saja berada disini." Ujar Agung.
"Hahaha, bukankah kau sedang melakukan lelaku untuk mendapatkan ilmu kebal bumi sejati." Ujar pemuda itu tampak serius kali ini.
"Eh iya tuan, memang benar tapi maaf tuan bertiga ini siapa kalo saya boleh tau?" Ujar Agung lagi sambil melirik mereka bertiga dengan perasaan minder.
"Namaku juga Agung. Agung Sedayu tepatnya, dan mereka berdua ini adalah istri istriku Sekar Mirah dan Pandan Wangi. Dan kamu kalo boleh tau kenapa kamu mencoba untuk bermain main ilmu dalam kitab para raja, siapa kamu sebenarnya ?" Ujar pemuda tampan gagah yang mengaku bernama Agung Sedayu itu.
"Nama saya seperti yang saya sebut tadi di awal tuan Agung Sedayu asal saya dari padepokan karang sejagat, adapun saya menjalani lelaku ini semata karena menjalankan perintah Kyai Danuri guru saya." Ujar Agung berkata jujur apa adanya.
"Padepokan Karang Sejagat ! rasanya belum pernah dengar nama padepokan itu, dimanakah padepokan itu anak muda ? apakah masih di wilayah Mataram juga?" Tanya Agung Sedayu dengan tatapan berwibawa.
__ADS_1
"Mataram ? mungkin benar tuan karena padepokan kami letaknya di lereng selatan gunung merapi." Jawab Agung apa adanya.
"Aneh sekali, Mirah apakah kau pernah dengar padepokan karang sejagat di sekitar lereng selatan merapi ?" Tanya Agung Sedayu sambil tersenyum dan menatap wanita cantik di sebelah kirinya yang rambutnya dibiarkan terburai melambai lambai tertiup angin sepoi yang berhembus.
"Padepokan karang sejagat di sebelah selatan merapi kakang ? entahlah rasanya aku belum pernah dengar." Jawab Sekar Mirah sambil berpikir.
"Waktu di Sangkal Putung aku sering diajak berkeliling oleh Kakang Swandaru namun rasanya aku juga belum pernah mendengar padepokan karang sejagat pimpinan Kyai Danuri." Sambung wanita yang satunya lagi yang berada di sebelah kanan Agung Sedayu.
"Swandaru...? rasanya aku tidak asing dengan nama itu nyonya, oh iya saya tau itu nama sebuah gedung pemerintahan di Klaten kan ?" Kata Agung antusias.
"Jangan kurang ajar kamu Swandaru adalah nama mendiang kakakku tau." Sahut Sekar Mirah agak murka, wajahnya yang semula cantik berseri mendadak terlihat judes dan jutek.
"Maaf nyonya bukan maksudku tapi aku memang sering melihat gedung swandaru geni di Klaten." Ujar Agung masih dengan alibinya.
"Baiklah sekarang tolong perlihatkan gerakan jurus jurus padepokan mu anak muda barangkali aku bisa mengenali ilmu kamu dari aliran mana !" Ujar Agung Sedayu cukup bijaksana.
"Wangi ! tolong kamu temani anak muda ini berlatih beberapa jurus saja sebentar." Kata Agung Sedayu sedikit berbisik pada wanita yang bernama Pandan Wangi.
"Baiklah kakang, marilah anak muda !" Ujar Pandan Wangi yang lalu melangkah menjauh beberapa langkah lalu mengambil posisi kuda kudanya.
Agung yang merasa ditantang segera menjurai hormat pada Agung Sedayu dan kemudian menghampiri Pandan Wangi yang terlihat menawan meskipun terbalut busana yang jauh dari kata feminin.
Beberapa saat kemudian setelah saling menjurai hormat Agung segera memasang kuda kudanya dan kemudian menyerang Pandan Wangi dengan dasar dasar jurus padepokan karang sejagat yang mengutamakan kualitas pada teknik pukulan kombinasi untuk menyerang sekaligus bertahan.
Sekejap kemudian beberapa jurus telah terlalui baik Pandan Wangi maupun Agung sendiri cukup berimbang namun ketika memasuki jurus ke empat puluh Agung mulai kewalahan ketika mendapat serangan tak kasat mata yang bertubi tubi mengincar bagian tengah tubuhnya.
__ADS_1