OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 43 Desas Desus


__ADS_3

Belum juga kami sampai di rumah sekembalinya dari rumah Yu Suminah, kami kembali mendapati Sriyanto yang kali ini bersama Tohir, seorang paruh baya yang kerja di rumah orang tua Sriyanto sebagai buruh serabutan tetap. Mereka sedang berbincang dengan Bapak.


"Gung di cari Mas Sriyanto ini..." Ujar Bapak padaku.


Aku pun segera bergabung bersama mereka, sementara Anis lebih memilih masuk ke dalam rumah darurat setelah menyapa Sriyanto dan Tohir ala kadarnya.


"Kata bapakmu besok kau akan berangkat ke Subang ya Gung ?" Tanya Sriyanto terdengar ramah.


"Ya begitulah.....mas." Jawabku santai.


"kalo gitu kita agak awal saja yah, hitung hitung terakhiran." Ujar Sriyanto sambil tersenyum mengintimidasi.


Sepertinya aku tak mungkin bisa menghindar lagi, jadi apa boleh buat.


"Memang yang lain sudah ngumpul apa mas ?" Tanyaku.


"Ini mereka semua sedang menanti kamu." Jawab Sriyanto.


"Baiklah kalo gitu silahkan duluan mas, aku nyusul !" Ujarku kemudian.


"Baiklah kalo gitu, kami duluan yah tapi kalo kamu nggak segera kesana pasti akan di susul lagi loh yah." Ujar Sriyanto terdengar mengancam.


Tanpa menunggu jawabanku, Sriyanto segera berpamitan pada Bapak dan mengajak Tohir kacungnya pergi.


"Mereka ngajak kamu main judi lagi nak ?" Tanya Bapak lirih.


"Iya pak, mungkin tak terima duitnya aku kuras semalam." Jawabku tak kalah pelan.


"Sebaiknya kurangi bergaul sama mereka nak, mereka bukan orang yang bisa di ajak main main loh." Ujar Bapak menasehati ku.


"Bergaul akrab mah tidak pak, hanya iseng saja kok. Tapi kalo aku tak melayani mereka malam ini, aku akan di cap sebagai pengecut selamanya kan pak." Jawabku lalu ke dalam rumah darurat.


"Nduk pinjam motormu sebentar yah !" Ujarku kepada adikku yang sudah tenggelam dalam buku buku pelajarannya.


"Jangan lama lama loh mas, ingat besok mas akan melakukan perjalanan !" Kata Anis juga ikut memberikan petuahnya padaku.


"Iya boss paling sejam dua jam paling lama kok." Jawabku sambil tersenyum pada adikku tersayang itu.


"Aku pamit dulu pak...!" Pamitku pada Bapak sambil menutup pintu mobil yang ku juga ku fungsikan sebagai brankas sekaligus tempat tidurku selain kendaraanku tentunya.


"Jangan malam malam pulangnya !" Ujar Bapak. Aku hanya mengangguk.


Aku langsung menuju pos ronda ujung kampung yang biasa digunakan sebagai kasino bagi para penggila judi kartu di kampungku.


Sampai di sana ternyata formasi penjudinya sudah komplit hadir semua.


"Wah ternyata datang juga, baru juga di omongin hehehe. Eh Gung dengar dengar kamu mau mengawini istrinya Farhan yah ?" Ujar Lik Wiro membuatku muak meski aku sekuat mungkin harus menahan diri dan emosiku.


Peraturan pertama buat penjudi adalah menahan diri dari segala bentuk intimidasi dari lawan main.

__ADS_1


"Halah berita hoax gitu di percaya Lik." Jawabku santai. Mereka hanya senyum senyum saja bikin muak.


"Hayo dimana ini kalangannya? aku hanya punya waktu paling lama dua jam saja atau duitku habis sebelum itu." Ujarku lagi.


"Wuih sabar dong... kalem bro belum juga adzan isya loh ini." Kata Pak Sonto mencoba bercanda.


"Kita ganti main remi yah Gung gimana?" Ujar Lik Pardi


"Terserah saja tapi waktuku paling banyak dua jam saja ini, karena besok saya pamit mau berangkat ke Subang dulu bos bos..." Ujarku.


"Lah ngapain buru buru Gung, rumahmu memang sudah jadi ?" Ujar Lik Wiro.


"Dapat panggilan dadakan dari bossku Lik." Jawabku asal saja.


"Remi atau QQ ini ?" Ujar Sriyanto yang kelihatannya memang sudah tak sabar ingin memegang kartu.


"Sudah qiu qiu saja." Sahut Lik Pardi sambil duduk bersila di dekat Sriyanto di ikuti kami satu persatu untuk membentuk kalangan.


Malam ini kalangannya baru kami saja karena sebenarnya saat ini masihlah terlampau sore waktunya buat berjudi.


"Cepek gopek sejuta okey ?" Ujar Pak Sonto yang menginginkan langsung main dalam taruhan tertinggi.


Tentu saja aku senang sekali namun aku tetap berusaha memperlihatkan ekspresi wajahku tetap datar dan biasa saja.


Hampir semua orang di hadapanku ini termasuk orang orang berduit di kampungku yang juga orang orang dari keturunan balungan gede yang mendapatkan warisan berlimpah dari leluhurnya, tentu saja tanpa bicara pun mereka akan langsung sepakat.


Sriyanto dengan semangat mengocok kartu sambil tersenyum semringah setelah melihat kami semua melemparkan uang ratusan ribu ke tengah.


Namun aku tetap mencoba membumi dengan tak ikut permainan terutama jika aku mendapatkan kartu kartu mati. Dari lima putaran permainan aku sudah memenangkan empat di antaranya, dan menyapu bersih lima putaran berikutnya.


"Aku mau pulang dulu." Ujar Sriyanto dengan wajah memerah bengap karena duitnya sudah habis.


Setiap permainan dengan taruhan besar jelas akan menguras berapapun uang yang ada dalam waktu singkat jika kita tak pernah memenangkan satupun permainan.


Dan tak sampai sejam mereka semua menyatakan menyerah padaku.


"Kau belajar judi dari mana sih Gung..?" Tanya Lik Pardi yang kali ini mungkin benar benar menyadari jika aku bukanlah lawannya.


"Belajar dari Pakde Joyo..Lik.." Jawabku bercanda.


"Ini Sejuta buat dibagi berempat yah Lik." Ujarku sambil memberikan sejumlah duit pada Lik Pardi, setelah aku selesai menghitung jumlah uang kemenangan yang kudapatkan mencapai tiga puluh empat juta.


Artinya modal judi mereka berempat rata rata delapan sampai sembilan juta seorangnya. Aku segera pergi dari tempat itu setelah menaruh setumpuk duit itu ke dalam jok motor dan transit dulu di tempat Mas Paiman.


"Mas mie ayamnya masih adakah?" Tanyaku sambil melihat lihat dagangan dia yang lain di atas mejanya, barangkali masih ada tahu pong goreng asin kesukaanku.


"Masih banyak boss kenapa mau di borong ?" Jawabnya semringah.


"Bikinin tiga bungkus saja mas, kalo kebanyakan nanti malah mubazir." Kataku sambil mencomot telur puyuh tusuk bacem dan memakannya langsung.

__ADS_1


"Mas ini telurnya ku beli semua boleh nggak?" Tanyaku menggodanya.


"Sama piring piring wadahnya sekalian juga boleh kok boss..." Jawabnya membuatku tertawa.


Tak lama kemudian datanglah sebuah motor yang sorot lampunya menyilaukan mataku karena berhenti tepat di hadapanku. Ternyata yang datang adalah si kembang desa Arini yang saat ini kerja di sebuah bank swasta kotamadya dari info yang kudengar dari Anis bersama Mbak Tuti kakaknya yang juga mantan kembang desa yang dulu sering kami jadikan fetish khayalan kami yang dulu masih remaja tanggung.


"Wih ada boss Jepang, asyik boleh donk minta di traktir..." Ujar Mbak Tuti sambil tersenyum menyapaku.


"Oh boleh mbak boleh sama bakul mie nya sekalian juga boleh kok kata Mas Paiman tadi lagi ngasih diskon gede soalnya." Jawabku becanda membuat Arini dan Mbak Tuti tertawa serempak.


Aku yang mengikuti gaya tertawa mereka justru membuat mereka semakin terpingkal-pingkal.


"Wah kalo bakulnya jangan deh mas takut Lik Tarmi nya marah." Timpal Arini sambil memamerkan senyumnya yang menawan.


"Mas Paiman di kampung kita kok banyak cewek cakepnya ya sekarang ?" Ujarku, membuat dua wanita cantik beda generasi itu menjadi salting.


"Dari dulu juga cewek kampung kita mah cakep cakep boss...!" Ujar Mas Paiman sambil sibuk finishing mie ayam yang ku pesan.


"Iya nih gara gara kelamaan di Jepang kali jadi ga tau kondisi di kampung sendiri." Timpal Arini.


"Eh memang benar mas desas desus yang beredar itu?" Tanya Mbak Tuti lirih padaku.


"Desas desus apa seh mbak...?" Jawabku balik bertanya.


"Itu mas maaf memang benar mas merebut istrinya Mas Farhan ?" Tanya Mbak Tuti lagi.


"Saya akan menjawabnya dengan jelas tapi katakan dulu dari siapa mbak dapat berita itu ?" Ujarku.


"Oh dari siapa Rin ?" Tanya Mbak Tuti pada Arini.


"Dari Lik Manto mas." Ujar Arini.


"Yang benar itu mbak, Mas Farhan telah membuang istrinya sendiri dan kebetulan aku hanya menemukannya saja." Jawabku santai.


"Maksudnya gimana sih mas ?" Tanya Arini mulai kepo.


"Nanti juga kalian semua akan tau kok. Maaf aku tak bisa cerita aib keluarga yah." Ujarku sambil mengedipkan satu mataku pada mereka.


"Mas berapa jadinya sekalian pesanan bidadari bidadari cantik ini." Ujarku pada Mas Paiman.


"Tambah telur tusuk lima yah ?" Ujar Mas Paiman.


"Enam mas, tadi kumakan satu." Kataku.


"Jadi dua empat tambah delapan belas, empat dua boss..." Kata Mas Paiman.


"Nih sisanya buat mereka saja mas..." Ujarku sambil memberikan selembar duit ratusan pada Mas Paiman.


"Eh mas ga usah tadi cuma bercanda kok." Ujar Mbak Tuti pura pura menolak pemberian ku.

__ADS_1


"Serius juga gapapa kok mbak santai saja, hehehe yuk duluan yah nona nona." Ujarku sambil melambaikan tanganku.


__ADS_2