OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 125 Di Tunggu Bapak


__ADS_3

"Lihatlah Agil dek, kondisinya mencerminkan kondisi kami saat ini." Ujar Retno lirih.


"Sabar yah mbak, aku sudah pernah bilang kan mbak kalo mbak butuh duit untuk mbak dan Agil jangan pernah merasa sungkan ?" Ujar Agung.sambil tersenyum ramah.


"Sejujurnya lebih dari itu Dek...aku butuh sebuah pekerjaan." Kata Retno dengan raut muka memelas.


"Baiklah mbak, jika ingin kerja di toko baju kecil kecilan, Mbak Retno boleh ikut aku tapi ya gitu aku masih akan di kampung setidaknya selama dua minggu ke depan." Kata Agung.


"Tentu...tentu yang penting dari kamu sudah ada kepastian gini kan aku bisa lega Dek..." Ujar Retno semringah.


"Oh iya mbak, gimana kondisi Mas Harno dan Bude Marni ?" Tanya Agung.


"Susah Dek, bapaknya Agil memang sedikit ada perkembangan bisa bangun dan duduk kalo di bantu tapi selainnya itu belum ada perkembangan berarti." Ujar Retno.


"La nanti jika Mbak Retno nggak di sini lalu yang ngurusin Mas Harno siapa ?" Tanya Agung lagi.


Mendapatkan pertanyaan yang demikian Retno Wulandari hanya terdiam, itu hal yang selama ini memang slalu membuat dilema pikirannya. Di satu sisi ia kasihan pada suaminya jika ia meninggalkan meski hanya untuk bekerja namun di sisi lainnya penindasan yang di lakukan mertuanya membuatnya muak dan ingin segera pergi begitu saja.


"Entahlah Dek, kalo rencana awal Mamak yang mau merawat Mas Harno tapi kini Mamak sendiri juga malah lebih parah kondisinya jelas tak bisa di harapkan kalo itu." Jawab Retno.


"Iya lalu apakah mbak akan tinggalkan mereka begitu saja...?" Tanya Agung lagi.


"Menurut kamu baiknya gimana Dek? yang jelas aku sudah nggak betah tinggal bersama Pak Joyo." Ujar Retno dengan mantab.


"Kalo menurutku mbak menyewa seseorang yang merawat Mas Harno dan bude, nanti aku akan bantu membayar uang jasanya." Ujar Agung.


"Aku sudah bilang begitu tapi Pak Joyo nggak setuju," Balas Retno.


"Ya sudah, nanti bisa di pikirkan lagi mbak, lagipula masih ada dua minggu waktu buat mbak pikir pikir." Kata Agung.


"Baiklah Dek, kalo gitu aku pulang dulu yah." Ujar Retno.


"Sebentar mbak, aku bukan mengusir Mbak loh," Kata Agung sambil tersenyum.


"Iya Dek gapapa kok." Jawab Retno cepat.

__ADS_1


Agung lalu mengeluarkan hp nya dari saku celana kargo pendek yang ia pakai lalu menghubungi seseorang.


"Nduk Nis, itu peuyeum gorengnya sudah ada yang mateng belum?" Tanya Agung, yang ternyata memanggil Anis adiknya.


"Sudah kok Mas, sebentar." Jawab Anis.


"Ini Mbak Retno ada di sini." Ujar Agung.


"Iya tunggu sebentar." Balas Anis sembari menutup panggilan.


Tak lama kemudian dari rumah Anis sendiri di sebelahnya, Anis muncul melalui pintu belakang sambil membawa dua piring besar peuyeum goreng.


Retno yang juga sudah akrab dengan Anis, tanpa sungkan segera mencicipi peuyeum goreng yang telah di sajikan Anis. Sementara Agil yang akrab sama Anis langsung meronta turun dari pangkuan mamahnya lalu menghambur ke arah Anis.


Anis sendiri langsung menggendong Agil sambil menyiapkan oleh oleh yang akan di berikan pada Retno.


Agung sendiri begitu Retno di temani Anis, ia langsung berpamitan untuk mandi di kamarnya di lantai atas.


Namun sebelum itu di kamarnya ia menghubungi Aceng dan Dewi via panggilan konferensi membahas perihal Tyas.


"Terserah kamu, mau kamu liburkan boleh nggak juga nggak apa apa, yang penting ada perwakilan dari pihak manajemen untuk berbela sungkawa ke tempat Teh Tyas." Jawab Agung.


"Baiklah kami memang sudah berencana besok setelah istirahat makan siang, aku dan beberapa orang akan kesana sebentar untuk melayat, tapi aku sudah bilang kecuali Suci dan Izah semua wajib masuk seperti biasa." Ujar Dewi menambahkan.


"Baiklah atur saja gimana baiknya, oh iya tolong berikan uang bela sungkawa yang layak yah, ambilkan dari pendapatan kemarin dulu nanti masukkan ke dalam laporan keuangan mingguan !" Kata Agung.


"Oke !!!" Jawab Aceng dan Dewi serempak.


"Baiklah terimakasih, kurasa sekian dulu, aku mau mandi lalu istirahat kalian juga istirahatlah !" Ujar Agung lagi, sementara Aceng dan Dewi terlihat menganggukkan kepalanya.


Aceng menutup panggilan video konferensi itu duluan.


"Gung tunggu sebentar !" Ujar Dewi, sesaat sebelum Agung juga mematikan panggilan.


"Ya Dew, ada apa lagi ?" Tanya Agung.

__ADS_1


"Maaf Gung tadi belum lama Mbak Sari nelpon aku, dia nanya ada hubungan apa antara kamu dan Teh Tyas, memang hubungan kalian apa?" Tanya Dewi.


Agung pun sudah memperkirakan hal ini, mengingat Dewi cukup dekat dengan Sari.


"Hanya teman lama Dew, memang kenapa?" Jawab Agung santai.


"Nggak apa apa kok, soalnya tadi dia bilang kamu baper banget saat dengar berita kematian Teh Tyas." Kata Dewi.


"Aku hanya kasihan sama anaknya saja Dew, lebih dari itu hampir seluruh hidupnya di lewatkan dengan banyak penderitaan daripada kesenangan." Kata Agung.


"Hihihi kau hanya tau sebatas itu saja Gung, asal kau tau Teh Tyas itu bekerja di Spa, kau tau kan artinya jadi anggapan bahwa dia tidak ada kesenangan hampir di seluruh hidupnya terlalu naif." Ujar Dewi.


Agung hampir saja keceplosan karena tak terima pernyataan dari Dewi itu, namun akal sehatnya masih mampu berpikir bening sehingga ia memilih untuk diam sejenak, sebelum kemudian segera mengakhiri panggilan video itu dengan sekali lagi beralasan ingin segera membersihkan diri lalu istirahat.


Malam nanti ia berencana menjenguk budenya ke rumah sakit sebelum besok sudah akan ke padepokan karang sejagat guna meminta petunjuk Kyai Danuri untuk menempa dirinya, sebelum lelaku yang akan di mulai malam jumat nanti.


Hari sudah petang ketika Agung baru saja selesai membersihkan diri dengan mandi jamas karena terhitung mulai besok pagi ia akan memulai menjalani puasa permulaan selama tiga hari ke depan.


"Mas ! Mas Agung.... makan malam sudah siap !" Teriak Anis sambil mendekati kamarnya.


Agung membuka pintu bertepatan dengan Anis yang juga hampir mengetuk pintu kamarnya.


"Eh hihi..Mas di tunggu bapak untuk makan bersama." Kata Anis.


"Di sini apa di tempatmu?" Tanya Agung.


"Ya di istanaku lah." Jawab Anis.


"Baiklah duluan saja aku mau merapikan rambut dulu sebentar." Ujar Agung.


"Buruan tapinya !" Ujar Anis sambil berlalu pergi lewat pintu belakang yang menghubungkan dapur dengan dapur di rumah mereka.


Agung tau, bahwa bapaknya sudah menunggu untuk mendengar laporannya tentang apa yang di lakukan olehnya selama hampir empat minggu ini. Karena tadi sore ia belum sempat menceritakan pada bapaknya keburu oleh tetangga tetangga dekat yang berdatangan dan membuat Anis sibuk untuk sekedar membagi oleh oleh yang di bawanya.


Sampai di ruang makan rumah Anis yang di tata sangat rapi oleh adiknya itu, Agung segera bergabung duduk setelah menyalim tangan bapaknya yang kini kelihatan lebih segar itu.

__ADS_1


__ADS_2