OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 133 Memulai Lelaku


__ADS_3

Agung berjalan gontai menuju parkiran rumah sakit, tadi sebelum menemui Irfan, Ia telah berpamitan pada bapaknya untuk pergi ke padepokan karang sejagat menemui gurunya.


Setelah melajukan mobilnya keluar dari kompleks rumah sakit daerah yang cukup luas itu, Agung menyempatkan mampir di sebuah toko sembako di samping pasar kecil di jalur perlintasan menuju kotamadya. Tak lupa ia membeli beberapa bungkus kue pukis kesukaan gurunya suami istri.


Setelah memenuhi bagasi mobilnya dengan barang barang bahan kebutuhan pokok yang kebanyakan di peruntukan untuk kebutuhan mengisi perut itu, Agung melanjutkan perjalanannya menuju sebuah daerah di kawasan lereng merapi sebelah selatan yang apabila di tempuh dari kampungnya justru lebih dekat.


Hampir sejam Agung berkendara melintasi jalur perkampungan dan persawahan yang cukup padat karena bertepatan dengan musim panen hingga akhirnya tiba di depan padepokan karang sejagat dimana seperti biasa gurunya suami istri sedang berada di pendopo.


Kedua pasutri berusia senja yang masih tampak belum kehilangan sisi romantisme dari hubungan mereka yang telah terjalin lebih dari 40 tahunan itu saling tersenyum begitu melihat kedatangan Agung.


"Guru...!" Sapa Agung sambil meletakkan barang barang bawaannya yang kebanyakan bahan pokok makanan itu lalu menjabat dan mencium tangan kedua pasangan orang tua itu.


"Bagaimana keadaan guru berdua apakah selalu sehat seperti doa saya setiap hari?" Tanya Agung ramah dan sopan.


"Seperti yang kamu lihat nak, kami selalu diberkahi dengan karunia nikmat sehat yang memadai." Jawab Kyai Danuri sambil terkekeh yang selama ini jadi ciri khasnya.


"Kamu itu kalo kesini slalu repot bawa apa apa nak, oh iya kapan kamu datang dari Subang?" Timpal Nyai Danuri sambil tersenyum.


"Kemarin petang guru, maaf baru bisa sowan sekarang." Jawab Agung sambil menunduk.


"Iya nak lagipula kamu tepat waktu kan kenapa harus minta maaf ? budemu bagaimana apakah sudah sembuh?" Ujar Kyai Danuri sambil kembali duduk di bale bambu bikinannya sendiri.


"Alhamdulillah sudah ada perkembangan guru meskipun masih jauh dari sembuh." Jawab Agung sedikit heran tiba tiba Kyai Danuri bertanya tentang budenya.

__ADS_1


"Kau tentu kurang berkenan bukan jika bude dan kakak sepupumu di bawa kesini?" Tanya Kyai Danuri tiba tiba terdengar agak sinis.


"Tentu bukan maksud saya begitu guru, selama ini saya memang sengaja tidak memberikan saran apapun tentang pengobatan mereka karena.." Ujar Agung yang terputus karena segera di potong gurunya itu.


"Karena kau masih sakit hati dengan perlakuan mereka padamu kan ? lagipula istri kakakmu juga sepertinya cukup menarik bagimu tampaknya." Kata gurunya benar benar membuat Agung langsung down dan terdiam beberapa saat.


"Sudahlah nak, duduklah dulu bareng bapakmu aku akan ke dalam dulu membawa barang barang yang kau bawa ini." Ujar Nyai Danuri sambil tersenyum lalu berlalu dan mengemasi barang barang buah tangan dari Agung lalu membawanya ke dalam rumahnya.


"Apa perlu saya bantu membawanya Ibuk...?" Tanya Agung dengan sopan.


"Nggak usah, biar ibuk yang bereskan sendiri saja. Kamu duduklah sama bapakmu saja, bukankah hari ini kamu telah puasa?" Ujar Nyai Danuri menjawab sekaligus bertanya.


Agung hanya mengangguk sambil tersenyum saja, sementara Nyai Danuri segera berlalu.


"Mohon maaf guru saya kurang begitu paham sikap batin saya yang manakah yang membuat guru risau dan merasa khawatir, karena jika begitu biarlah guru mewariskan ilmu itu pada murid yang lain saja , saya akan ikhlas menerima keputusan guru." Ujar Agung.


"Aku sudah bilang sejak awal kamu ke tempat ini dan beberapa kali lagi setelahnya bahwa godaan terbesarmu adalah perempuan nak dan jika kau tak bisa mengatasinya masalah itu bisa membawa kehancuran untukmu sendiri." Ujar Kyai Danuri lagi dan terlihat tak ada kesan bergurau sama sekali.


"Guru memang soal perempuan cukup rumit bagi saya, tapi sebulan ini saya telah berhasil menahan diri dari upaya yang membuat saya jatuh meskipun saya akui sebulan ini justru saya banyak berhubungan dengan beberapa perempuan tapi saya masih bisa menjaganya." Ujar Agung sambil menunduk.


"Apakah kau berani berjanji untuk hanya berhubungan dengan seorang perempuan saja ?" Tanya Kyai Danuri.


Agung terdiam, pertanyaan itu benar benar sangat sulit baginya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika perempuan yang saya percayai itu justru mengkhianati saya Guru?" Tanya Agung setelah diam beberapa saat lamanya.


"Setidaknya kamu tidak tamak dengan menginginkan perempuan yang bukan hak kamu." Ujar Kyai Danuri.


"Kalo itu saya berani janji guru, tapi bukankah jika yang terjadi sebaliknya saya tak bisa di salahkan Guru." Kata Agung.


"Terserah tapi yang jelas aku sangat berpantang jika kau sampai merebut perempuan yang jadi istri orang." Ujar Kyai Danuri.


Beberapa saat kemudian mereka masih bercakap-cakap sampai kemudian Kyai Danuri menyuruh Agung untuk beristirahat di sebuah bilik kamar sebelum sorenya Kyai Danuri kembali menilik ilmu silat dari dasar sampai puncak yang telah di pelajari Agung dari Perguruan Karang Sejagat.


Keesokan harinya selama seharian Agung melatih pernafasan dari fajar sampai tenggelam matahari dan hanya keluar kamar untuk berbuka saja dan hari ketiganya di padepokan Kyai Danuri mulai memberikan petunjuk petunjuk tentang ilmu kejayaan yang termasuk dalam golongan ilmu yang dimiliki para raja jawa.


Selama seharian Kyai Danuri yang juga ikut puasa hari kamis lebih banyak mengajarkan banyak pengetahuan hidup pada murid kesayangannya itu dan pada akhir hari sebelum mereka berbuka Kyai sepuh yang konon masih ada keturunan darah biru dari trah Tuban itu mulai mengajarkan apa yang terkandung dalam kitab warisan yang selama lebih dari 50 tahun di simpan dan di jaganya itu.


Barulah setelah mereka berbuka, Agung di suruh mandi keramas di sebuah sendang dan kemudian barulah ia di bawa oleh gurunya itu masuk ke dalam sebuah bangunan ruang dalam rumahnya yang ternyata terdapat sebuah pintu rahasia yang menutup sebuah gua yang di dalamnya terdapat kubangan air sedalam lutut orang dewasa.


"Nah selama tujuh hari tujuh malam kedepan kamu akan mencari jati diri mu di tempat ini nak. Silahkan kau mengamalkan apa yang telah kamu pelajari dari kitab tadi, ingat pasrahkan dirimu sepenuhnya pada Yang Maha Agung karena dengan begitu kamu akan tetap sadar bahwa segala kekuatan itu hanya bersumber padaNya." Ujar Kyai Danuri memberi wejangan terakhirnya.


Sebelum kemudian kyai sepuh itu beranjak dan meninggalkan Agung sendirian di dalam gua yang gelap gulita tanpa penerangan apapun itu.


Perasaan aneh segera menghampiri Agung sesaat, namun ia segera kembali ke dalam fokusnya bahwa ia memiliki tujuan untuk berada di tempat itu.


Setelah mengucapkan salam dan tujuannya Agung yang telah dalam keadaan telanjang bulat perlahan segera memasuki kubangan air yang sebenarnya sangat bening itu, namun karena keadaan gelap lah saja yang membuatnya hanya mampu merasakan dinginnya air murni itu.

__ADS_1


__ADS_2