OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 59 Kembalikan Uangku


__ADS_3

Aku baru saja selesai sembahyang subuh ketika Doni dan Anto, terdengar sedang bercakap cakap di teras rumah. Sari, entah mengapa sejak kami bersama dia menjadi sangat rajin memasak dan melakukan aktifitas rumah tangga yang lain.


"Wah sepagi ini kalian sudah bersiap aza, masuklah kita sarapan dulu !" Ujarku, setelah aku membuka pintu depan lebar lebar.


"Memang sudah matang boss wayah gini ?" Tanya Doni sambil ngeloyor ke belakang.


"Mbak Sari aku numpang pipis yah...!" Ujarnya sekaligus menyapa kekasihku yang sedang sibuk di depan kompor itu.


"Eh iya Mas Doni silahkan...!" Jawab Sari ramah namun hanya sekilas saja menoleh pada Doni karena perhatiannya segera teralihkan pada penggorengannya.


"Sebenarnya kemarin aku ingin kalian bawa saudara perempuan kalian atau pacar pacar kalian gitu untuk bantu bantu di toko gitu, jadi kan Dewi nggak begitu repot nyari karyawan." Ujarku basa basi pada Anto.


"Adik perempuanku cuma dua boss yang satu di bawa Arman ke Mojosongo kampungnya sekarang sudah netap disana, yang satunya masih sekolah smp yang bungsu itupun sudah di larang kemana mana oleh ibu bapakku." Jawab Suranto yang aku sangat yakin ia jujur berkata apa adanya.


Tak lama kemudian Doni sudah bergabung bersama kami duduk di ruang tamu.


"Doni itu boss sebenarnya ada pacarnya tapi nggak mau bawa." Kata Suranto lagi.


"Bukan nggak mau bawa ya kalo yang lain pada bawa aku juga bawa. Lah ini yang lain sudah punya tujuan untuk jadiin pacarku tukang masak buat mereka doank hohoho ney ney ney..." Ujar Doni sambil mencibirkan bibirnya lucu.


Mau tak mau aku tertawa geli juga, kalo urusan bikin orang tertawa mereka memang paling jago kok. Heran juga kenapa mereka nggak bikin grup lawak dan ikut audisi lawak talent yang ada di tv tv itu.


Beberapa saat lamanya kami ngobrol di temani minum kopi sachet bergambar kucing yang aman di minum dalam segala suasana, sebelum Sari menyuguhkan hasil masakannya ayam goreng komplit dengan lalapan dan sambal terasi.


"Mas...tolong colling Trimo dan Riko donk biar ikut sarapan sama kita." Kataku.


"Tadi katanya mereka pengin sarapan nasi uduk boss katanya supaya cepat paham bahasa sunda." Jawab Doni, sambil menyendok nasi putih hangat yang baru di keduk Sari dari magic com.


"Mbak Sari ayo ikut sarapan juga mbak...!" Ujarnya kemudian.


"Oh iya mas silahkan duluan, aku belakangan saja." Jawab Sari lalu kembali ke belakang.


Setengah jam kemudian kami sudah bersiap siap jalan, hari sudah mulai terang meski sang surya belum menampakkan wujudnya, dan hanya semburat cahaya kemerahan yang tampak di ufuk timur.


Kami berpamitan juga pada kedua orang tua Aceng serta Dewi yang sudah berada di teras pendopo rumah mereka.


"Jangan lupa oleh olehnya yah Gung." Kata Dewi, aku hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


Sebelum kami naik ke mobil box carry, dimana Suranto duduk di belakang kemudi, aku di tengah dan Doni di pinggir dekat pintu.


Suranto menggunakan petunjuk maps dari hp nya sehingga tak perlu tanya tanya jalan lagi padaku, apalagi seluruh jalan yang di ambil asalkan selanjutnya ke arah barat pasti berujung ke Jakarta.

__ADS_1


"Mobilnya masih mantab benar boss nih, kemarin dapat beli berapa boss ?" Tanya Anto.


"400 dapat dua " Jawabku singkat saja.


"Hahhh...beneran boss murah banget..." Ujar Anto tampak antusias.


"Ya begitulah biasa BU alias lagi butuh uang yang punyanya, daripada di sita sama bank kan." Ujarku.


"Iya iya bener bener." Kata Anto.


kulirik sesaat Doni ternyata sudah menyandarkan kepalanya dengan matanya sudah terpejam.


"Biasa boss, Doni kalo sudah kenyang perutnya bawaannya merem." Ujar Anto, aku hanya mengangguk tak mau mengganggu orang yang sedang ngantuk.


Sampai di Jakarta setelah menghabiskan waktu lebih dari dua jam aku langsung cari data data grosir recommended di Tanah Abang menggunakan aplikasi hp ku yang aku download atas petunjuk dari Imas semalam.


Namun selain itu aku juga akan menggunakan ilmu dari mendiang ibuku bahwa untuk menemukan tempat yang berkualitas dan bisa di percaya ikuti saja keramaian para pembelinya.


Setelah lebih dari tiga jam kami seperti kalap berbelanja sandang bahkan beberapa di antaranya produk impor yang dari segi model memang cukup bagus, bahkan Doni dan Suranto tak terhitung hilir mudik naik turun membawa belanjaan hingga memenuhi box mobil kami.


Dari situ aku juga berhasil menjalin kerjasama dengan beberapa toko yang seperti Batik Unggul, memiliki basis produksi mereka sendiri yang memungkinkan aku mendapat perlakuan khusus.


"Sudah penuh boss nggak muat lagi." Ujar Doni yang sudah terlihat capek mondar mandir ngangkut barang barang yang di kemas menggunakan karung berukuran super besar itu.


Mereka hanya mengangguk tak berucap apapun.


"Baiklah mari kita cari tempat untuk isi perut dulu." Ujarku, lagi lagi mereka hanya mengangguk.


"Di sana saja boss !" Ujar Doni sambil menunjuk sebuah restoran masakan Minang yang berada tak jauh dari tempat kami memarkirkan mobil.


"Okey ayolah..." Jawabku.


"Setelah ini kemana lagi kita boss? pulangkah?" Tanya Suranto padaku, selesai kami bersantap siang.


"Cari masjid dulu setelah itu ke tempat saudaraku dulu buat nagih uang." Jawabku.


Dua orang ini tak banyak membantah dan seolah selalu patuh padaku. Hehehe guruku memang tak pernah salah menilai dan memilih orang.


Dengan sebuah petunjuk alamat yang kuberikan bahkan Doni yang kini menggantikan Suranto untuk mengemudi tak kesulitan untuk menemukan tempat kediaman Mas Harno yang siang itu ternyata siang itu kebetulan juga ada di rumah sedang bersantai dengan istri dan anak balitanya yang baru berumur tiga tahun.


Aku tau pasti umur anaknya itu tiga tahun karena pas Mbak Retno melahirkan, Mas Harno menghubungi aku untuk minta bantuan dana padaku.

__ADS_1


"Hallo Asalamualaikum !!!" Ujarku sambil melangkah tegap diikuti Doni dan Anto di belakangku.


Mas Harno dan Mbak Retno tampak kaget melihat kedatangan kami.


"Wa walaikumsalam...kapan datang dari Jepang kamu, katanya lama nggak akan pulang kamu ?" Ujarnya saat aku selesai menyalim tangan kakak sepupuku itu suami istri.


"Kamu makin cakep saja Gung." Ujar Mbak Retno sambil tersenyum.


Aku pun ikut tertawa kecil sebelum lalu aku mengkode Doni untuk mengambil oleh oleh yang tadi sudah kusiapkan untuk keluarga kakak sepupuku itu.


Doni dengan tanggap kembali ke mobil lalu balik lagi dengan membawa dua plastik bungkusan di tangannya.


"Oh iya mbak, ini oleh oleh yang tak seberapa dariku." Ujarku sambil menyerahkan dua bungkusan plastik yang di bawa Doni pada Mbak Retno.


"Aih trimakasih banyak ya Gung." Kata Mbak Retno sambil kemudian berlalu membawa bungkusan oleh oleh dariku itu ke dalam rumahnya.


"Kamu mau ngapain kesini ?" Tanya Mas Harno terdengar sengak dan arogan.


Aku lalu mengambil kertas copy salinan data transaksi bank kemudian ku lemparkan ke muka Mas Harno.


"Kau tau untuk apa aku datang kemari kan? Kembalikan uangku !!!" Ujarku dengan nada geram.


"Apa kau mengigau duit apa memang aku pernah pinjam duit sama kamu apa dasar orang gila." Ujar Mas Harno sangat pedas.


"Ayolah mas bersikap pintarlah bacalah kertas itu, kalo kau tetap bersikeras tak mengakui korup duitku maka urusannya akan rumit di pengadilan, kau mau di penjara ?" Ujarku.


"Apa kau benar benar sudah gila? dasar bocah tengik datang datang bikin kisruh saja !!!" Ujar Mas Harno membentak aku.


"Kalo mau cepat beres urusannya kembalikan sawah bapakku nanti akan aku tambah sedikit uang untung buat kamu." Ujarku tak bersikap segan lagi pada kakak sepupuku yang paling sulung itu.


"Enak saja sawah itu sudah aku beli goblok !!" Balas Mas Harno sangat pedas.


"Iya tapi kau beli dengan uang bapakku juga yang kau korup dari kirimanku tiap bulan, setan..!!!" Kataku ganti membentaknya.


"Aku nggak punya duit sekarang." Ujar Mas Harno setelah beberapa saat membisu.


"Baik aku kasih waktu lagi sepuluh hari mulai hari ini, sekarang berikan aku jaminannya !" Ujarku tegas.


"Apa maksudmu ?" Kata Mas Harno pura pura bodoh.


"Jaminan...kau boleh pilih sertifikat sawah itu sendiri apa istrimu yang aku bawa terserah." Kataku sambil tersenyum meledeknya.

__ADS_1


"Dasar edan kamu !!! belum cukupkah kamu merebut istri Farhan sekarang istriku juga ingin kau rebut juga, kamu itu manusia apa hewan ?!!!" Ujar Mas Harno benar benar emosi.


"Aku bilang jaminan, setelah kamu kembalikan uangku bukankah jaminan itu dengan sendirinya akan balik ke tanganmu lagi." Kataku diplomatis.


__ADS_2