
Pembicaraan kami terjeda sesaat setelah Nyai Danuri keluar dari dalam rumah sambil membawa tepak yang di atasnya berisi beberapa piring makanan dan dua gelas minuman teh.
"Minumlah nak mumpung masih hangat !" Ujar Nyai Danuri padaku setelah beliau selesai menyuguhkan makanan kecil dan minuman yang di bawanya dari dalam rumah.
"Trimakasih Nyai Guru rasa rasanya sudah lama sekali aku tidak makan goreng singkong seperti ini, aku pasti akan memakannya." Jawabku sambil tersenyum.
"Iya nak... silahkan. Oh iya panggil aku ibuk atau mamak saja nak, biar kamu ngga merasa sungkan lagi." Ujar Nyai Danuri sambil duduk di sebelah Kyai Danuri menemani kami yang makan makanan suguhan beliau.
"Baiklah ibuk, lagipula Kyai dan Nyai Guru juga telah aku anggap sebagai orang tuaku yang lain selain ibu bapakku sendiri." Jawabku.
Kedua orang tua pasutri yang slalu bisa menjaga kualitas cinta mereka tetap hangat dan romantis itu ternyata menyukai kue pukis yang tadi aku bawakan buat mereka sementara aku pun lahap dengan goreng singkong yang bagaimana cara Nyai Danuri menggorengnya tapi rasanya sangat empuk dan renyah, apalagi itu juga masih hangat.
Setelah acara ngeteh bareng guruku di pagi menjelang siang hari ini selesai aku bermaksud mohon diri.
"Guru maafkan aku sambil menunggu waktu satu bulan berlalu, bolehkah aku ke Subang dulu. Temanku sudah mengabarkan kalo tempat usaha kami sudah selesai di persiapkan." Ujarku, bagaimana juga aku harus mengefisienkan setiap waktu yang ada kalo aku tak mau kehilangan momentum.
"Baik nak mudah mudahan usahamu lancar, oh iya nanti pulanglah paling tidak tiga hari sebelum hari weton lahirmu dan mulai saat ini kembali latihlah ilmu pernapasan setidaknya dua jam setiap harinya." Ujar Kyai Danuri.
"Baik guru aku akan datang tiga hari sebelum jumat kliwon bulan depan." Ujarku
"Apakah empat tangan besi juga akan kau ajak ke Subang sekalian nak?" Tanya Nyai Danuri kemudian.
"Tentu ibuk...aku akan sangat memerlukan bantuan mereka saat saat ini." Jawabku.
"Baiklah nak kami doakan kalian semua akan sukses di hari depan kalian." Ujar Nyai Danuri lagi.
"Aminnn trimakasih ibuk, aku pun senantiasa berdoa smoga Guru berdua slalu penuh nikmat sehat dan barokah, aku mohon jika memerlukan kami Guru bisa menelpon, insyaallah kami bisa segera pulang meski hanya salah seorang atau dua orang dari kami." Ujarku.
Kemudian aku bangkit dan menyalim tangan beliau berdua, sebelum aku benar benar pergi dari padepokan. Untuk melanjutkan rencanaku hari ini bertemu para kolega usaha mendiang ibuku.
__ADS_1
Aku langsung menuju pasar sandang terbesar kotamadya yang berlokasi di kawasan sekitar keraton kasunanan. Ada beberapa kios yang slalu di jadikan langganan oleh ibuku.
"Mbak...." Ujarku menyapa karyawati kios yang baru saja selesai melayani pembelinya.
"Ya mas, mau mencari apa ? Eh kok rasanya pernah kenal tapi di mana ya mas ?" Jawab mbak karyawati itu sambil menatapku lekat lekat.
"Di dalam mimpi.." Sahut karyawati lain teman mbak itu bergurau. Mbak yang ku sapa itu hanya nyengir.
"Iya mbak di sini kok, dulu aku sering nganter ibuku belanja disini." Ujarku.
"Oh iya Ibu Yati yah mas? Tapi kayanya sudah lama mas Ibu Yati ngga belanja kesini." Ujar mbak itu ramah.
"Maaf mbak ibuku sudah meninggal setengah tahun yang lalu." Ujarku.
"Oh ya ampun inalillahi...turut berduka cita ya mas maaf aku tidak tau soal itu." Ujarnya terlihat tulus.
"Iya mbak gapapa orang aku saja juga tidak menjumpai saat saat terakhir ibuku sendiri." Ucapku lirih.
"Iya mbak, nah aku bermaksud meneruskan usaha ibuku itu mbak, dagang sandang di perantauan. Tapi aku nanti ngambilnya ga sedikit istilahnya partai besar gitu, kira kira toko di sini bisa ngasih suplai secara kontinyu ngga mbak dan pastinya ngasih harga yang spesial buatku?" Tanyaku sopan.
"Oh klo itu mas bicara langsung sama boss nya aza ya mas. Sebentar aku panggilkan." Ujar mbak itu lalu menemui seorang lelaki keturunan paruh baya yang duduk di depan meja kerjanya bersama wanita keturunan yang juga sudah paruh baya.
Kulihat boss berusia paruh baya yang terlihat cuek dengan penampilannya yang hanya mengenakan kaos polos dan celana pendek warna senada itu bangkit dan menemui aku.
"Selamat siang mas ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sambil tersenyum sopan.
Akupun segera mengutarakan niat kedatanganku kesini padanya yang intinya murni bisnis. Dari pertemuan itu aku baru paham bahwa ternyata pria paruh baya keturunan yang tampak sederhana itu ternyata juragan vendor sandang yang memproduksi sandang yang banyak kami gunakan dan cukup punya pasar menjanjikan karena kwalitasnya memang bagus.
"Kalo harus ngirim ke Subang, nanti ada tambahan ongkosnya gimana mas? tapi yah meski begitu tetap tertutup oleh rabat yang akan di berikan juga." Ujar pria paruh baya itu sopan.
__ADS_1
"Tentu boss, kalo ngga ada yang ngambil kesini nanti saya akan telpon boss untuk mengirimkan." Balasku tak kalah ramah.
"Ya kalo ngambil mending ke pabriknya saja di Pekalongan mas lebih dekat dari Subang." Ujarnya.
"Baik boss, insyaallah dalam waktu dekat ini kami akan hubungi boss, paling lambat dalam seminggu lah. Maaf bolehkah saya menyimpan nomor telepon boss yang bisa kami hubungi nantinya?" Ujarku.
"Oh iya tentu tentu harus itu mas...sebentar, saya ambil dulu mas... Wik....tolong ambilkan kartu nama!" Ujar pria paruh baya yang cukup menarik sikapnya itu.
Ternyata yang di panggil Wik itu mbak yang tadi melayaniku duluan. Dia dengan sigap melakukan perintah boss nya.
"Ini mas nomor kami jangan sungkan untuk menghubungi nya yah hehehe." Ujarnya sambil memberikan sebuah kartu nama premium berwarna emas padaku.
Yang kulihat berisi nomor telepon dan nama serta sebuah vendor sekaligus merk sandang batik yang cukup populer.
"Wah boss maaf saya bahkan belum sempat bikin kartu seperti ini, bahkan nama tempat usahaku nantinya juga aku belum pikirkan." Ujarku sembari tersenyum, membuatnya tertawa kecil.
"Gapapa mas nanti klo sudah bikin tolong aku di kasih yah..." Ujarnya bergurau.
"Tentu boss...siyap 86." Jawabku.
"Iya iya...Wik...tolong ambilkan minum buat mas ini." Ujar pria paruh baya itu sambil menoleh ke belakang.
"Oh tak perlu repot Boss Hadi, trimakasih sudah meluangkan waktunya. Kalo gitu saya mohon diri dulu tapi nanti kami akan segera menghubungi boss." Ujarku.
"Oh baiklah mas kami harap bisa kerjasama secepatnya sama mas..siapa yah kok saya belum di kenalkan namanya?" Ujarnya sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Agung. itu nama saya Pak Bos Hadi." Jawabku seraya menyebut nama beliau yang ku ketahui dari kartu nama yang ia berikan.
"Oh baiklah Mas Agung kami akan slalu menunggu kerjasama dengan anda." Ujarnya.
__ADS_1
"Tentu boss....toko ini sudah lama menjadi apa yang menjadi sumber hidup buat keluarga kami, dan saya harap akan terus begitu." Ujarku, kulihat pria paruh baya itu menatapku terharu.
Kami berjabat tangan sejenak sebelum aku mohon diri untuk menemui beberapa kolega ibuku lainnya. Karena aku berencana ingin suplai kain batik tetap dari daerah ku sendiri, sedang yang lain nanti aku akan ambil dari Tanah Abang dan Bandung untuk mode busananya.