
Anis begitu senang saat motor barunya tiba, Meski demikian anak itu seakan tak terlalu larut dalam antusias meski wajahnya menyiratkan rasa senang. Motor itu hanya di pandangi nya saja sesaat sebelum ia kembali mengerjakan aktivitasnya.
"Dek...kamu ga suka sama motornya?" Tanyaku.
"Suka mas ..kenapa...?" Jawabnya sambil tersenyum.
"Tapi kok aneh gitu kaya ga ada rasa gregetnya gitu, biasanya kalo orang suka itu kan trus di pakai di jajal gitu, tapi kamu cuma liat sebentar trus di cuekin." Ujarku.
"Yah memang kalo suka kudu gitu mas, yang penting kan aku bersyukur dan berjanji akan merawatnya jadi ga kudu di pamerin...pamer juga ke siapa orang semua juga sudah pada punya." Ujarnya simple saja.
Aku hanya diam, merenungi kekerdilan pengetahuan hatiku untuk memahami misteri perempuan. Bahkan itu adikku sendiri yang aku hampir hapal semua kesukaan dan yang tak di sukai nya. Namun memahami perasaannya bukan hal yang mudah.
"Gung !!!" Teriak Kang Bejo memanggilku.
"Iya Kang Bejo gimana?" Tanyaku setelah mendekatinya, sambil melihat anak buahnya yang hampir selesai memasang genting atap dua rumah kembar yang bercermin itu.
rumah kembar bercermin adalah dua rumah yang modelnya identik namun saling berhadapan sehingga berkesan seperti orang yang berdiri di depan cermin.
"Besok mulai finishing kan, sesuai gambar ini tiap kamar apakah juga akan di kasih toilet duduk semuanya?" Tanya Kang Bejo.
"Wah gini saja kang...kalo kamar kecil dalam kamar di pasang shower saja gimana kang jadi nanti wc tetap yang semula tapi di tambah lagi dengan toilet duduk. lantai bawah dan atas masing masing satu wc dengan dua toilet...gimana kang kira kira?" Tanyaku.
"Nah itu aku setuju Gung, soalnya menurutku kalo di dalam kamar tidur ada wc nya itu gimana gitu." Jawab Kang Bejo.
"Baiklah kang eksekusi rencana yang akhir saja ga nurut gambar gapapa." Ujarku.
"Okey boss !!" Jawab Kang Bejo sambil tersenyum.
Keesokan harinya aku bersiap untuk memenuhi janjiku pada Mbak Sari menemuinya di Ambarawa. Sengaja aku berangkat lebih pagi bahkan sebelum Kang Bejo dan anak buahnya datang.
Setelah berpamitan pada bapak dan Anis yang kalo hari sabtu sekolahnya sudah libur, aku segera memulai perjalananku ke Ambarawa. Jalanan cukup lengang bahkan ketika sampai di pinggiran kotamadya, meski bukan lengang sama sekali.
Sengaja aku tak melintas via jalan tol, karena ingin menikmati kuliner di daerah Boyolali untuk sarapan pagi ku. Boyolali cukup tersohor dengan kuliner soto segarnya selain susu segarnya tentunya, namun kali ini aku ingin menikmati sotonya dulu dan barangkali juga bisa untuk membungkus beberapa porsi untuk buah tangan nantinya.
Mungkin aku sangat menikmati melakukan perjalanan ini, sehingga aku merasa jadi lebih cepat sampai tujuanku, yaitu kediaman keluarga Mbak Sari.
"Assalamualaikum....!" Ujarku menyapa Mbak Sari yang tengah duduk sendirian di teras rumah.
"Walaikumsalam.....tumben sudah sampai mas kirain masih nanti sore...." Jawab Mbak Sari lalu mengulurkan tangannya padaku.
Aku yang sedang menjinjing bungkusan buah tanganku buru buru memindahkannya ke tangan satunya untuk segera membalas uluran tangan Mbak Sari, yang ternyata kemudian menyalim tanganku.
"Ibuk dimana mbak?" Tanyaku.
__ADS_1
"Katanya cuma mau nyariin aku, kok nanyain mamah." Jawabnya.
"Hehehe, apa salahnya nanyain calon mertua." Ujarku.
"Nih aku bawain soto Boyolali, sudah sarapan belum?" Tanyaku sambil menyodorkan bungkusan berisi soto dan beberapa potong lauk ayam srundeng dan ayam bakar.
"Wih...mantabbbb...!" Ujarnya senang, lalu menggamit lenganku mengajakku masuk ke dalam rumah.
Ibu Lastri mamah Mbak Sari tergopoh-gopoh dari ruang dapur ketika Mbak Sari berteriak memanggil beliau.
"Assalamualaikum ibuk...!" Sapa ku sambil menyalim tangan beliau yang masih tampak segar kulitnya di usianya yang sudah paruh baya itu, mungkin sedikit lebih tua dari bapakku tapi masih bisa di bilang sebaya.
"Walaikumsalam...kamu sudah datang nak...jam berapa dari rumah memangnya?" Jawab dan tanya beliau.
"Jam 6 dari rumah ibuk. Ibuk gimana sudah sehat pulih seperti sedia kala kan?" Tanyaku ramah.
"Iya nak Alhamdulillah meski masih suka lemas sesekali." Jawab beliau.
"Oh berarti masih perlu konsumsi suplemen vitamin ibuk nanti biar di belikan sama Mbak Sari." Ujarku.
"Ya sudah duduklah dulu nak biar di temani Sari. Ibuk masih ada sedikit kesibukan di dapur." Ujar beliau sambil tersenyum, ketika Mbak Sari telah keluar lagi dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman untukku. Aku hanya mengangguk ramah.
"Mas duduk sini saja !" Ujarnya sambil meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja. Aku lalu menurutinya dengan segera ambil duduk di sampingnya.
"Iya sudah jadi berapa biaya totalnya termasuk untuk jasa pengacaranya?" Ujarku.
"10 juta cukup nggak?" Kataku melanjutkan.
"Ishh...gila kali duit sepuluh juta di buang untuk bercerai. Santai aza mas aku ingin kasih kejutan dulu untuk kamu. Sebentar yah.." Ujarnya membuat penasaran saja.
Mbak Sari bangkit lalu melangkah ke kamarnya dan kembali dengan sebuah hp di tangannya. Beberapa saat kemudian ia mengotak atik hp yang ia pegang lalu di serahkan padaku.
Sebuah video dua orang lelaki dalam keadaan bugil total sedang bergumul di atas ranjang
"Hoekkkk ...apa apaan ini yank... menjijikkan tau nggak...kaya gitu di simpan." Ujarku sambil bergidik jijik.
"Lihat dulu yang bener Kangmas...!" Pintanya memaksaku untuk melihat video porno menjijikkan itu.
Aku melihat lebih seksama meski benar benar membuatku mual, astaga...aku bengong tak percaya yang ku lihat hingga berulang kali melihatnya untuk memastikan bahwa aku tak salah lihat.
"Ini Farhan kah?" Gumamku lirih sambil menatap Sari yang juga menatapku sambil tersenyum getir.
"Jadi Farhan kaum bengkok....?" Tanyaku, dan Sari hanya mengangguk sambil tersenyum bias.
__ADS_1
"Bagaimana kalian bisa kenal sebelumnya? Gilaa.. Farhan....ahhh ini gila..." Ujarku seperti orang linglung.
Baru aku tau ternyata aku punya saudara yang punya kelainan. Tiba tiba saja terbersit ide di kepalaku, aku harus menyimpan video menjijikkan itu.
"Sayank tolong di share ke hp ku yah...!" Ujarku pada Sari yang tiba tiba saja juga menjadi pendiam.
"Oke..tadi katanya jijik..." Ujarnya sambil meraih hp ku dan hp miliknya.
Sebentar kemudian kulihat video itu sudah masuk di hp ku dan segera ku simpan di folder aman.
"Kok bisa dapet video itu darimana yank?" Tanyaku.
"Dari Mas Riyan....katanya dia dapat dari sebuah situs apa gitu..." Jawab Mbak Sari.
"Kok kamu sepertinya akrab bener sama Mas Riyan yank..." Ujarku lagi.
"Kenapa? kamu cemburu? Dia kan kakak iparku mas." Jawab Mbak Sari mulai berubah mood.
"Terus apa pendapat kamu soal video itu, kamu ngga berpikir menyamakan aku dengan Farhan kan?" Tanyaku datar, saat ini pun mood ku juga sudah berubah.
"Nggak mas buktinya kan sudah ada kemarin itu, kamu bukan saja normal tapi di atas normal." Jawabnya.
"Entahlah yank gara gara lihat video Farhan perutku jadi mual....dan eneg gini." Gerutuku.
"Apalagi aku mas...aku sampai mandi lima kali sehari kemarin saat di kasih video itu sama Mas Riyan." Ujarnya.
"Hehehe...." Aku tersenyum sedang Mbak Sari justru cemberut dan lalu mencubit pinggangku.
Ku keluarkan segepok uang berjumlah 10 juta dari sling bag ku, lalu ku berikan pada Mbak Sari.
"Ini yank...minta Mas Riyan secepatnya mengurus perceraian kamu dengan Farhan." Ujarku.
"Ini kebanyakan mas aku butuhnya paling dua juta saja. Kan duit yang kamu kasih kemarin masih ada juga. Buat apa aku nyimpan duit kan besok aku akan ikut kamu." Ujarnya.
"Ya kalo kamu ngga ingin pegang duit sendiri kasihkan saja sama ibuk, kali aza bisa buat keperluan beliau, nanti kita akan kirim duit juga kok tiap bulannya. Yang jelas aku ingin kamu segera bercerai dengan Farhan." Ujarku.
"Ya sudah deh mas, makasih banyak yah. Please jangan seperti Farhan yah mas...." Ujarnya.
"Eh enak aza amit amit jabang bayi..." Jawabku membuat Mbak Sari tertawa semringah lalu menggelayut di dadaku. Aku pun mendekapnya dan mengecup rambut kepalanya.
"Aku mencintaimu Sari, kita akan segera menikah." Ujarku lirih sambil mengecupi kepalanya.
Mbak Sari menatapku sejenak sebelum menganggukkan kepalanya berkali kali.
__ADS_1