OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 105 Wanita Itu Tyas


__ADS_3

"Oh kuy lah..aku traktir yah..." Ujarku.


"Harus donk Ak, Yuk !" Ujar Tyas.


Tyas lalu tanpa sungkan menggamit lenganku dan mengajakku masuk ke dalam kios bakso yang bertuliskan dari daerah asal Mbak Retno itu.


"Eh Ak, itu memang benar yang tadi itu calon istri Aak?" Tanya Tyas setelah kami duduk dan memesan menu makanan pada penjaga warung bakso itu.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum saja.


"Cantik banget seh Ak, tapi ngeri posesif nya, udah gitu belagu lagi." Ujar Tyas mengutarakan uneg unegnya.


"Ya wajar seh, justru kalau nggak gitu malah aneh dan di pertanyakan kan... hehehe" Jawabku santai.


"Brarti Aak saja yang dasarnya nakal." Kata Tyas dengan agak cemberut tapi membuatnya terlihat semakin cantik.


"Ya gimana yah? normal kan Teh, kalau lelaki suka dengan perempuan perempuan cantik." Ujarku sambil terkekeh.


"Ya kalau gini seh bukan normal lagi tapi buaya buntung namanya...kucing garong..." Ujar Tyas agak ketus.


Aku cuma tertawa tergelak, ternyata Tyas orangnya asyik juga bercandanya, tidak terlalu kaku dan terlihat lebih apa adanya.


"Btw Teteh kan sudah berkeluarga nih kan ceritanya trus aku boleh nanya nggak kenapa suami Teteh bisa ngijinin Teteh kerja di Artemis ?" Tanyaku agak lirih.


"Hihihi gimana yah terlalu rumit untuk di ceritakan Ak." Kata Tyas sambil tersenyum getir.


"Ya sudah mari kita nikmati basonya dulu Teh." Ujarku, setelah pesanan kami selesai di sajikan.


Beberapa saat kemudian kami sudah mulai menikmati bakso sebesar bola tenis yang hampir memenuhi mangkok itu.


"Aku tuh sebenernya hanyalah single parent biasa anakku satu sudah kelas 5 SD sekarang, tapi aku tak pernah menikah dengan orang yang menjadi ayah anakku itu." Ujar Tyas sambil tersenyum getir, di sela sela mengunyah baksonya.


"Sayang sekali ternyata ada lelaki yang begitu bodoh seperti itu juga yah." Gumamku pelan.


"Ya nggak juga seh Ak, dulu kan aku belum seperti sekarang ini Ak." Kata Tyas santai tanpa ekspresi karena terlihat lebih menikmati baksonya.


"Ya meskipun dulunya nggak secantik sekarang misalnya tapi tetap saja bodoh lelaki yang menyia nyiakan seorang wanita yang bahkan telah memberikan seorang buah hati buatnya." Ujarku.


"Bagaimana kalo Aak saja yang jadi lelaki pintarnya hihihii, aku akan sangat bersyukur jika Aak memilihku jadi pendamping Aak." Ujar Tyas sangat santai dan cuek.

__ADS_1


Cewek ini sepertinya sudah terbiasa berbicara serius tapi raut wajahnya tetap terkesan biasa saja meskipun tidak dingin.


"Hehehe bisa aza Teteh kalo bercanda, tentu saja aku tak akan mungkin bisa menolak tawaran menggiurkan seperti itu, tapi kalo cuma bercanda buat apa ?" Ujarku.


"Aku serius kok Ak." Ujar Tyas.


"Jadi beneran Teh ?" Tanyaku lagi.


"Iya Ak, buat apa aku becanda aku juga wanita normal kok butuh lelaki yang bisa menjadi pengayom buatku dan anakku tentunya." Ujarnya.


"Tapi Teh, aku bukan menolak tapi masalahnya aku sudah terikat saat ini dan Teteh tau kan wanita yang telah mengikatku, kalo belum pastilah aku sendiri yang akan menembak Teteh." Jawabku lirih.


"Hihihi iya seh, aku tau Aak akan ngomong begitu dan itulah yang aku suka darimu." Kata Tyas lugas tanpa takut malu karena terdengar oleh banyak orang.


"Kita baru berjumpa kemarin, rasanya Teteh mulai main modus yah." Kataku.


"Kalo modus seh nggak kok, dari awal memang aku suka kok sama kamu Ak meski aku pun juga tau hasilnya akan bikin aku tetap kecewa juga, aku juga sadar diri kok aku ini siapa." Kata Tyas mulai melow.


Dan tak ku sangka, dia benar benar nangis beneran, meskipun bisa di samarkan dengan berpura pura kepedasan.


"Teh, tapi aku bukan menolak tapi lebih ke gimana yah ada seseorang yang lebih dulu gitu daripada Teteh." Kataku.


"Ya ada lah Teh untungnya meski cuma sedikit asal bisa untuk gaji karyawan juga sudah signifikan kok buatku." Kataku diplomatis.


"Aku tadi lihat baju batik danar sama persis sama yang di Mall Taman Mawar tapi harganya bedanya lebih murah hampir 70 ribuan, ini benar apa nggak kok murah amat..." Ujar Tyas sambil tersenyum.


"Oh itu hehehe... namanya juga toko masih baru Teh, cari muka dikit dulu kan." Ujarku sambil terkekeh.


"Teteh berangkat ke Jakarta lagi kapan ?" Tanyaku.


"Minggu malam Ak paling, kenapa?" Kata Tyas.


"Ah nggak kok, berarti minggu siang masih bisa datang kan, acara peresmian pembukaan tokoku ?" Tanyaku.


"Iya donk, tadi aku juga di kasih undangan kok sama Suci." Jawab Tyas.


"Oh benarkah ?" Tanyaku lagi.


Tyas lalu mengambil sebuah kertas undangan berwarna biru muda yang sebenarnya adalah kode undian berhadiah yang di berikan oleh kasir untuk setiap transaksi lebih dari 300 ribu mata uang.

__ADS_1


"Memang tadi abis borong apa saja Teh ?" Tanyaku.


"Lumayan seh Ak, baju buat anakku dan nenek serta kakekku." Jawab Tyas lalu menyeruput air jus jambu setelah menyelesaikan baksonya sampai habis.


"Dan aku sendiri tentunya hihihi." Kata Tyas menambahkan.


"Tadi Teteh di kasih diskon nggak sama Suci ?" Tanyaku.


"Ya nggaklah Ak, orang harga sudah segitu kok masih mau ngasih diskon segala " Kata Tyas.


"Ya sudah ini semua aku yang traktir juga jika Teteh masih ada pesanan untuk di bawa pulang biar aku bayar sekalian." Ujarku.


"Oke Ak, aku nambah tiga yah Ak boleh kan ?" Tanya Tyas sambil tersenyum manis.


"Iya silahkan Teh, pesan saja terserah berapa saja kalo teteh mau." Kataku serius.


"Tiga saja kok Ak, sudah cukup." Kata Tyas.


"Okey.... silahkan !" Ujarku


"Abis ini Aak akan kemana ?" Tanya Tyas setelah ia kembali memesan tiga bungkus bakso untuk di bawa pulang.


"Ke kolam renang mungkin Teh, ada apa ?" Jawabku.


"Oh baiklah aku ikut yah, boleh kan ?" Tanyanya.


"Tentu saja boleh, mana ada hak buat aku melarang." Jawabku ringan.


Benar saja setelah kami serempak keluar dari warung baso itu, kulihat mobil putih milik Tyas beneran membuntuti kendaraanku.


Hp ku berdering ketika aku tengah fokus memperhatikan Tyas yang berada di belakangku.


"Halo Yank gimana ?" Ujarku setelah tau Sari lah yang menelponku.


"Mas kamu di mana sekarang? cepat pulang kondisi agak kacau, Doni sedang bertengkar dengan Mang Darom di pantry." Ujar Sari.


"Hah...!!! memang apa yang terjadi sebelumnya Yank ?" Tanyaku.


"Mang Darom memergoki Doni sedang pacaran dengan Teh Yanah." Kata Sari.

__ADS_1


__ADS_2