
Kenapa rata rata penjudi itu terbiasa bersikap kejam dan cenderung licik, karena itu adalah syarat mutlak jika kita tak mau ditindas lawan permainan kita.
Filosofi permainan hanyalah menang atau kalah, menindas atau ditindas, menginjak atau diinjak. Sekali terbawa perasaan maka habislah kita.
"Gimana Gung sepakat?" Tanya Pak Sonto yang aku hitung sudah kehilangan duit cukup banyak, karena dialah yang sering terlibat permainan sampai batas dengan bentrok denganku yang mana dia selalu yang berada di pihak yang kalah.
"Tentu saja sepakat tapi tentu saja tetap ada batasnya bukan? aku tau kalian semua punya duit tak terbatas jadi jangan sampai ada hutang di antara okey." Ujarku dengan senyum mengintimidasi.
"Pasang awal Cepek..beli kartu maksimal Gopek dan terakhir tak terbatas." Ujar Lik Pardi yang sudah terlihat bengap mukanya, menawarkan solusi.
Pada akhirnya seorang diantara kami memilih keluar dari arena kalangan, mungkin pikirannya masih bening sehingga tak mau mengambil resiko kehilangan uang lagi yang cukup banyak nantinya. Dan kini kami tinggal berlima saja.
Karena aku yang jadi bandar bahkan sejak aku mulai bermain, aku mengalungkan selembar ratusan ribu ke tengah dan lalu di ikuti yang lain. Tanpa banyak cakap aku langsung mengocok kartu dengan normal saja dan kemudian setelah cukup ku letakkan kartu itu di tengah.
"Apakah tidak ada yang mau motong?" Ujarku setelah beberapa saat keempat penjudi senior di hadapanku itu hanya diam saja.
Bisa kupastikan mereka semua sangat tegang. Tanpa kami sadari kini hampir semua orang di ruangan itu, telah berkerumun di belakang kami untuk menyaksikan putaran judi yang mungkin bernilai paling besar di kampung ini.
Aku segera membagikan kartu yang telah di potong satu kartu yang paling atas saja oleh Lik Wiro itu. Aku sengaja membaginya pelan pelan dan terkesan hati hati supaya jangan sampai ada kartu yang terbuka tak sengaja. Namun sebenarnya aku mampu melihat nilai semua kartu yang ku bagi melalui sebuah tanda mikro yang terlihat di permukaan belakang kartu.
Setiap pabrikan memang tidak selalu sama namun untuk kartu yang kami gunakan saat aku telah sangat mengenalinya luar dalam.
Kartuku sendiri bernilai balak enam, balak kosong dan kartu bernilai sebelas yang berpotensi bernilai murni besar seandainya aku dapat kartu bernilai besar nantinya untuk kartu keempat. Sementara yang lain hanya kartu dari Sriyanto saja yang sudah memiliki qiu.
"Aku mengalungkan lima lembar uang ratusan ke tengah. Lima ratus !!" Ujarku untuk membeli kartu keempat tanpa melihatnya lebih dulu seperti yang lain.
Aku paham kali ini aku berpotensi melawan Sriyanto yang pasti akan habis habisan setelah melihat kartu yang di milikinya, sayangnya duitnya sudah tidak cukup memadai lagi.
"Ikut terakhir ini..." Ujar Pak Sonto sambil melemparkan lima lembar uang ratusan ribunya yang tinggal beberapa saja yang tersisa di depannya.
"Anjing !! modar aja lah." Ujar Lik Wiro frustasi.
__ADS_1
Sriyanto merogoh dompetnya dan mengeluarkan empat lembar uang ratusan yang tersisa untuk di tambahkan dengan empat lembar uang yang tersisa di depannya, lalu melempar lima lembar uang itu ke tengah. Mukanya sudah merah padam dan mungkin setelah ini dia juga akan bertengkar dengan istrinya di rumah.
Lik Pardi juga kurang lebih sama dengan yang lain kondisinya meskipun tegang namun sebagai penjudi kawakan ia terlihat tenang, lalu ikut melemparkan lima lembar uang ratusan ke tengah. Kini jumlah di tengah adalah dua juta lima ratus ribu.
Aku lalu membagi kartu keempat dengan kartu bagian ku sengaja langsung kubuka. Balak lima artinya fix kartu ku kali ini tak tertandingi.
"Tiga ratus !" Ujarku sambil melempar tiga lembar uang dari tumpukan uang di depanku yang mungkin tersisa tujuh sampai delapan jutaan jumlahnya.
"Lima ratus...!" Ujar Pak Sonto mantab meski aku tau kartu miliknya sama sekali tak ada qiu nya.
Sriyanto mulai panik karena duitnya tak cukup meski ia merasa kartu miliknya sangat baik karena berhasil qiu qiu.
"Gung pinjam dua ratus saja !" Ujarnya dengan suara berat, aku paham ia menekan jauh rasa gengsinya demi taruhan kali ini yang ia sangat yakin akan dapat memenanginya sekaligus memulihkan kekalahan sebelumnya.
"Siyap boss..." Jawabku sambil memberikan duit yang di minta bandar padi muda yang cukup sukses itu.
Sriyanto segera melemparkan semua duitnya yang tersisa di depannya setelah digenapi dengan uang dariku.
Aku lalu menambahkan dua lembar uang ratusan lagi ke tengah untuk melengkapi uang taruhan.
Lalu perlahan kubuka kartu kartu yang ku miliki.
"Murni gede... ada lawan ?" Ujarku santai...
"Bajingan....Anjing..!!!" Ujar Pak Sonto sang boss dengan banyak usaha di kampung ku termasuk toko kelontong yang di kelola istrinya.
Sriyanto terhenyak seakan tak percaya dengan kenyataan yang di hadapinya memilih bungkam lalu merebahkan tubuhnya sembari memejamkan matanya.
Sementara aku meraup semua duit yang ada di hadapanku dengan tatapan yang bermacam ekspresi dari semua orang, ada yang kagum ada yang marah ada yang dengki dan sebagainya.
Setelah itu aku membagi uang itu lagi pada lawan lawan mainku tadi masing-masing tiga lembar uang ratusan ribu yang membuat mereka sedikit lega dengan kemurahan hatiku, meski aku yakin mereka tetap menghujat aku dalam hati mereka.
__ADS_1
Sementara kepada yang lain aku memberi mereka masing masing selembar uang ratusan namun untuk Kang Pujo tuan rumah aku memberinya tiga lembar uang ratusan ribu.
"Makasih Gung !! tapi hutangku ?" Ujar Sriyanto.
"Anggap saja lunas lah utang judi ini." Kataku sembari memasukkan tumpukan duit tebal yang berjumlah lebih dari sepuluh juta itu ke saku jaket ku.
"Dah aku permisi yah kapan kapan kita main lagi." Ujarku sekaligus berpamitan.
Namun kemudian Pak Sonto menyusul ku dan mengatakan ingin pulang bareng denganku karena rumah kami memang searah. Kami pun melangkah sambil ngobrol akrab.
Mula mula ia mengagumi kemampuan berjudi ku, lalu berbicara tentang macam macam, aku paham dia kecewa karena banyak kehilangan uang atas kekalahannya namun aku juga kagum karena ia seolah tak mempermasalahkannya.
"Maaf pak gara gara aku bapak kalah banyak." Ujarku.
"Namanya juga judi Gung, kalo ga mau duitnya kalah ya di simpan saja di bank hahahaha..." Ujarnya bergurau.
"Bapak kelihatan cuma iseng saja judi ini ?" Tanyaku.
"Ya harus gitu kan, judi itu hanyalah permainan hanya orang bodoh saja yang menggantungkan hidup dari berjudi." Jawabnya penuh nalar.
"Iya sih pak...omong omong gimana kabar Arif pak ?" Ujarku menanyakan anak Pak Sonto yang umurnya beberapa tahun di bawahku.
"Masih kuliah di Jogja Gung, sebulan sekali pulangnya dia." Jawabnya.
"Oh sudah semester berapa Arif kuliahnya pak ?" Tanyaku.
"Semester 4 sekarang Gung. Kita berpisah disini ya Gung !" Ujar Pak Sonto ketika kami tiba di sebuah pertigaan.
"Oh iya pak baiklah saya duluan kalo gitu pak." Jawabku sambil melihat Pak Sonto yang matanya terus memandang rumah kecil di samping kanan kami yang ku ketahui itu rumah Yu Darsih istri dari Kang Salam.
Aku tak berpikir apapun kecuali kembali meneruskan perjalanan yang tinggal beberapa jengkal lagi itu.
__ADS_1