OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 14 Anti Klimaks


__ADS_3

Aku tercekat menatap kepergian Mas Farhan yang sesekali masih memandang ke arah kami dengan tatapan matanya yang menyiratkan kebencian. Aku paham setelah ini semua tak akan lagi sama.


Ternyata Bude Marni tak pernah secuek yang kupikirkan. Beliau ternyata tetap mencoba membaca dan memahami situasi akan menantunya. Dalam hal ini mungkin aku lah yang terlampau bodoh.


Kudekati Mbak Sari yang masih terisak menangis dan bersandar di dinding ruang tengah rumahnya.


"Mbak maafkan aku!" Ucapku setelah aku ikut duduk di lantai dan menghadapnya.


"Aku tak masalah mas, aku memang sudah tak ingin berhubungan dengan kakakmu. Tapi yang ku sesali adalah Mas Farhan pasti akan memusuhimu setelah ini." Ucapnya lirih sambil menatapku dengan wajah pilu.


"Biarlah mbak, aku juga ga masalah soal itu karena dari dulu saudara saudaraku itu pun selalu memusuhi aku." Jawabku enteng. Mbak Sari menatapku dalam dalam seakan ingin tau maksud perkataan ku.


"Sejak dari kanak kanak aku memang hampir tidak pernah merasakan arti persaudaraan dengan sepupu sepupuku, hubungan saudara di antara kami sangat bias dan rentan karena slalu di balut oleh perasaan iri dan dengki." Ujarku.


"Iya mas aku telah sedikit paham memangnya soal itu, watak kalian memang bertolak belakang." Ujar Mbak Sari mengamini perkataanku.


"Mbak tau kemarin aku ke bank buat apa? buat minta salinan transaksi mengenai duit yang aku transfer dari Jepang lewat rekening Mas Harno dan dia menggelapkan lebih dari separuhnya." Ujarku lagi. kali ini Mbak Sari tampak antusias mendengarkan aku.


"Benarkah mas?" Tanyanya mungkin tak percaya pada beritaku itu.


"Aku slalu mengirimkan duit senilai 5 jutaan sebulan selama lima tahun dan mbak tau yang berapa yang di kasihkan pada bapakku? hanya 2 juta saja padahal aku pun sudah ngasih jatah sendiri ke dia di luar itu." Ujarku melanjutkan ceritaku.


Mbak Sari termenung sesaat seperti sedang mengingat sesuatu.


"Sudahlah mbak ngga perlu di pikirkan karena ngga penting buat mbak." Ujarku lagi sambil tersenyum meski bibirku agak sedikit nyeri mungkin ada sedikit sobek di bagian dalam akibat pukulan Mas Farhan tadi.


"Aku percaya padamu mas...meski soal itu terserah bagaimana mas mengatasinya, tapi saat ini yang ku cemaskan Mas Farhan tidak berhenti begitu saja untuk menyakiti mas." Ujar Mbak Sari terlihat sebuah kekhawatiran di matanya yang kini sudah mengering dan tak basah oleh air matanya lagi.


"Mas Farhan takkan bisa menyakiti aku mbak, tadi aku diam bukan karena tak berani tapi karena aku sadar aku lah yang salah, jadi ku anggap itu sebagai hukuman darinya." Ujarku.


"Tapi dia sopir mas, dan aku tau dia temannya banyak aku takut dia berbuat licik padamu nanti." katanya penuh kecemasan.

__ADS_1


"Biarlah mbak...tenang saja kalo dia mengeroyok aku bersama teman temannya aku takkan diam lagi. Justru mbak yang kucemaskan jika nanti menganiaya Mbak Sari." Ujarku.


"Dia tak akan berani macam macam di sini mas, aku yakin itu. Mungkin dia masih akan mencoba membujukku tapi rasaku untuknya sudah mati jadi satu satunya jalan buat kami memang hanya perpisahan." Ucap Mbak Sari sangat enteng.


Aku pun bingung bagaimana mungkin wanita yang terlihat begitu lembut dan rapuh bisa setenang itu.


"Untuk sementara aku akan tinggal di sini bersama mama mas, jadi jika mas ingin ketemu aku mungkin harus tambah sedikit modal. hihihiii." Ujarnya mulai bisa tertawa.


"Iya mbak aku terima dengan senang hati tantangan dari mbak...aku berharap itu juga kode untukku kan." Ujarku sambil tersenyum. Dan Mbak Sari hanya menganggukkan kepalanya.


"Tapi mungkin dalam waktu dekat aku harus pergi mbak, aku telah membuat sebuah tempat usaha di perantauan yang dalam waktu dekat ini akan selesai pembangunannya." Tuturku, namun tak kusangka Mbak Sari justru tersenyum semringah.


"Selama itu baik aku akan slalu mendukungmu mas." Ujarnya.


"Baiklah mbak....mungkin setelah semua berjalan aku akan menjemput mbak, dan membawa mbak ke perantauan jika mbak juga menginginkan." Ujarku berharap.


Mbak Sari tersenyum dan terdiam sambil memutar mutarkan bola mata indahnya sejenak.


"Iya aku akan menunggu mas tapi paling tidak mas harus tau tata caranya kan?" Jawabnya.


"Kurasa sebaiknya aku segera mohon pamit mbak, meskipun hari ini berakhir anti ******* buatku tapi aku berharap ini hanya awal mula dari terciptanya bahtera kehidupan kita." Ujarku melanjutkan.


"Begitu cepat mas ingin pergi, yakin?" Ujarnya menggodaku dengan senyum manisnya.


"Iya mbak sebaiknya memang begitu, oh iya tolong sampaikan beribu maaf buat ibuk yah mbak karena aku telah membuat kegaduhan di sini, mungkin nanti beliau akan malu dengan para tetangga karenanya." Ujarku tulus.


"Jangan cemas mas di sini itu beda jauh dengan Tawangsari, di sini dari sejak jaman dahulu telah di ajarkan untuk menghormati hak dan privasi orang lain. Di sini semua orang akan diam meski dengar teriakan apapun kecuali minta tolong. Contohnya mama kan beliau tetap diam meski beliau lihat pertikaian kita tadi." Ujar Mbak Sari panjang lebar.


Dimana mana setiap daerah memiliki adat istiadat dan aturan sendiri sendiri, bukankah lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya.


"Iya mbak bagaimanapun aku tetap merasa wajib minta maaf karena hadirku disini ternyata membuat kegaduhan." Ujarku.

__ADS_1


"Baiklah mas kalo gitu nanti aku akan sampaikan pada mama." Ujar Mbak Sari.


"Memang sudah beneran mau pulang Nak?" Ujar mama Mbak Sari yang tiba tiba saja sudah berdiri di belakang kami.


"Oh Ibuk kenapa bangun? Bukankah Ibuk masih harus banyak istirahat? Ibuk saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Ibuk dan Mbak Sari karena ternyata kedatangan saya di sini berbuah keonaran yang mengganggu Ibuk." Ujarku setelah menghampiri beliau dan kembali mencium buku tangannya.


"Ibuk ga akan masalah kok nak selama Sari senang dan tak masalah juga, jadi ngga usah cemas yah. Sari juga sudah cerita hubungan kalian yang meski sisip tapi justru membawa kebaikan, jadi ibuk akan memberi restu buat kalian selama kalian bertanggungjawab." Ujar mama Mbak Sari membuatku senang hati, aku auto semringah.


"Trimakasih banyak ibuk mohon maaf saya tak bisa menahan diri terhadap Mbak Sari." Ucapku.


"Iya yang penting bertanggungjawab." Jawab mama Mbak Sari singkat.


"Iya ibuk mudah mudahan saya tak bikin kecewa ibuk dan Mbak Sari nantinya." Ujarku lagi.


"Harus donk. Oh iya nak kamu boleh pulang setidaknya setelah makan siang yah. Sari kamu ke rawa dulu nduk !" Ujar mama Mbak Sari.


"Baik Mah ..mas anterin ke rawa yah." Ujar Mbak Sari.


Aku hanya mengangguk karena belum paham.


Mbak Sari masuk ke kamarnya lalu kembali dengan dompet di tangannya.


"Ayo mas !" Ajaknya, aku mengangguk.


"Ibuk kami pamit dulu !" Pamitku pada mama Mbak Sari.


"Iya hati hati !" Jawab beliau.


Mbak Sari lalu menjadi navigator yang mengarahkan kemana aku harus melajukan kendaraanku. Sungguh tak bosan aku takjub dengan pemandangan di sekitar ku yang berhias dengan bukit yang indah dan pemandangan hijau terhampar sangat sejuk.


"Kita ke rawa yah mbak? mau apa seh sebenarnya?" Tanyaku.

__ADS_1


"Beli ikan donk masa ke rawa ngapain ?" Jawabnya membuatku nyengir.


Baru aku paham ternyata yang di maksud rawa adalah Danau Rawapening yang sangat indah mempesona dari dekat.


__ADS_2