
"Segera kumpul ke toko sekarang, darurat !!!"
Begitu bunyi pesan suara yang di kirim Doni via aplikasi pesan instan grup empat tangan besi.Tak lama kemudian hp Doni berbunyi.
"Don...memang boss nggak di situ, ada apa ?" Tanya Suranto yang bereaksi cepat menanggapi pesan Doni.
"Ah nggak ada siapa siapa orang toko saja aku yang buka gembok gerbangnya." Jawab Doni.
"Lah, tadi belum lama aku lihat boss kesitu kok." Ujar Suranto.
"Sudah, buruan kesini ! jangan banyak cing cong dulu ini di samping ada yang berkelahi aku nggak bisa ngurusin soalnya ada yang lagi masang kamera." Ujar Doni agak setengah kesal lalu mematikan panggilan dari Suranto yang juga kakak sepupunya sendiri.
Sementara itu suasana mencekam dengan hiruk pikuk ratapan dan teriakan di sebelah pagar semakin kencang terdengar. Trimo dan Riko datang lebih dulu dari Suranto yang memang sedang di jalan saat ini karena mengantar beberapa kru orkes musik yang minta bantuan untuk mengambil beberapa peralatan.
"Don !" Ada apa ?" Tanya Riko, setelah berada di dalam komplek toko bersama Trimo yang seakan tenang tenang saja.
"Kalian ini kok kurang tanggap apa gimana, itu di sebelah ada kisruh sampai jerit jerit begitu kok masih tanya aza." Ujar Doni sambil memegangi tangga yang sedang di gunakan oleh teknisi pemasang kamera cctv yang akan di pakai untuk memantau kondisi luar komplek toko.
"Masalahnya itu tadi boss sudah bilang Don, kalo ada yang bikin onar di luar toko biarin saja tapi kalo di dalam barulah kita bergerak." Timpal Trimo.
"Ya tapinya itu emaknya Nenih yang teriak teriak tadi emangnya kalian nggak berempati sama Mas Anto? Ujar Doni, merujuk pada kenyataan bahwa Nenih adalah kakak dari Roni yang juga bagian dari toko karena Roni telah tercatat sebagai karyawan toko juga.
Lebih dari itu, Nenih adalah kekasih dari Suranto yang hubungan mereka semakin lama semakin mesra dan serius.
"Memang boss dimana sekarang? tadi pamit ke toko soalnya." Ujar Riko.
"Ya mana tau, orang baru datang saja aku langsung masang kamera di apotek, udah gitu sampai sini juga sudah di gembok gerbangnya." Kata Doni.
"Sebaiknya kita tolong saja Rik, kasihan emaknya Teh Nenih, lagipula Teh Nenihnya kan juga bantuin di tempat kita juga." Kata Trimo.
__ADS_1
"Baiklah ayo, tapi nanti kita semua harus tanggung jawab jika boss marah." Jawab Riko agak sungkan sebenarnya.
Baru saja mereka membuka gerbang hendak keluar, Agung telah berada di hadapan mereka meski masih di dalam mobilnya.
"Itu sebelah ramai ramai apaan ?" Tanya Agung.
"Orang berkelahi boss." Jawab Riko.
"Lekas tengok mas ! barangkali bikin rusuh di rumah Teh Nenih." Ujar Agung, sambil melajukan mobilnya masuk ke dalam toko setelah Trimo membuka gerbangnya lebar lebar.
"Iya boss ini juga kita mau kesana." Jawab Riko.
Sepuluh menit yang lalu, Agung yang terlambat menyadari ada pesan SOS dari Doni, karena sedang asyik terlibat romantisme dengan Tyas buru buru menyudahi aktivitas yang bikin candu itu lalu buru buru melajukan mobilnya kembali meski harus memutar lewat desa desa kecil sekitarnya yang jalannya kurang begitu memadai.
"Ak, besok aku harus berangkat lagi ke Artemis." Kata Tyas sambil membenahi pakaian dan rambutnya yang tadi sempat di acak acak oleh Agung.
"Ya kalo jadi member VIP Aak nanti bisa booking aku keluar daerah kalo Aak mau, teman temanku banyak malah yang punya sugar daddy para pejabat dan pengusaha kaya." Ujar Tyas.
"Kamu juga begitu kan Sayank ?" Tanya Agung.
"Kalo aku mau begitu Ak, sudah kaya raya aku." Jawab Tyas menyangkal.
"Lah kamu kan juga kaya raya Sayank, punya mobil bagus gitu kok." Kata Agung sambil tersenyum.
"Lah itu hasil nabung selama 9 tahun Ak, tadinya belinya malah kredit ini baru juga lunas setengah tahun yang lalu." Kata Tyas.
"Memang selama di Artemis belum pernah di booking keluar daerah ?" Tanya Agung lagi sambil mengelus tangan Tyas.
"Hihihi pernah seh Ak dua kali orang yang booking aku sama orangnya dua kali itu, pernah jadi menteri kabinet ketujuh tapi sekarang sudah pensiun soalnya sudah tuwir." Ujar Tyas bercerita.
__ADS_1
"Kalo yang booking biasa sering ?" Tanya Agung lagi.
"Kalo pas awal awal bercerai dulu iya memangnya Ak, bahkan bisa di bilang aku itu primadona tapi hanya setahun saja aku melayani plus plus karena aku kena penyakit, sampai membuat aku hampir mati saat itu." Kata Tyas.
"Memang dulu pernah sakit apa ?" Tanya Agung sebenarnya agak sungkan bertanya seperti itu.
"Sipilis Ak, saat itu bobotku bahkan susut hingga 15 kilo yang membuat aku seperti tinggal tulang dan kulit saja." Ujar Tyas sepertinya tidak bohong.
"Kalo bisa sekarang kalo nggak perlu perlu banget nggak usah melayani plus plus yah." Pinta Agung sambil mengusap pipi Tyas.
"Iya Ak, sejak kena penyakit itu aku memang sudah tak melayani bookingan lagi kok, meski tetap saja ada yang menawarkan rupiah yang cukup banyak nilainya tapi aku sudah tak melayani gituan lagi." Kata Tyas.
Perjalanan yang sangat singkat itu segera menemui muaranya yaitu di Pasar Krajan dimana Tyas minta di turunkan disitu, sementara Agung segera melanjutkan lagi perjalanannya yang tinggal sejengkal saja itu kembali ke tokonya.
Agung kembali bergegas keluar lagi begitu, memarkir mobilnya lalu menyusul Trimo dan Riko yang ternyata sudah melerai perkelahian frontal antara dua pemuda seumuran Roni dan Dion.
Dalam pada itu Agung juga melihat kaca jendela depan rumah orang tua Teh Nenih itu telah pecah berantakan, membuat ibu Teh Nenih menangis tersedu sambil meratap memilukan.
Agung yang menjadi kurang sabar langsung menarik salah seorang pemuda yang terlihat alot untuk di pisahkan dari perkelahiannya lalu membantingnya dengan agak bengis, sementara Riko menahan lawan pemuda yang dihempaskan oleh Agung tadi.
Dan Trimo mengawasi teman teman pemuda yang berkelahi itu yang tampaknya kurang terima karena perkelahian itu di pisahkan begitu saja.
"Jadi kalian tetap kekeh mau teman kalian tetap berkelahi, baik....tapi kaca tetanggaku itu silahkan di ganti dulu sama persis dengan yang baru saja kalian pecahkan." Ujar Agung sangat keras.
Para pemuda tanggung itu hanya diam tak menjawab namun mereka langsung berhenti menyemangati kawannya yang sedang berkelahi itu.
"Kamu siapa namamu? aku belum pernah lihat kamu sebelumnya di desa ini." Kata Agung sangat tegas kepada pemuda yang baru saja ia banting hingga meringis kesakitan.
"Namaku Ryan Ak, dari Kampung Hegar." Jawab pemuda itu tampak takut takut.
__ADS_1