
"Dah buruan ! sudah pada nungguin noh...ngamar mulu !" Ujar Aceng pura pura menggerutu.
Aku dan Sari hanya tertawa geli, apalagi melihat tampang Aceng saat dia menggerutu, kelihatan lucu.
"Lah suka suka gue donk mau ngamar atau nggak da ngamar juga sama calon bini sorangan." Ujarku sambil tersenyum meledeknya.
"Ya sudah terserah elu tapi sekedar info yah tar ba'da isya orang orang dah pada ngumpul untuk doa bersama, setelah itu lanjut acara intern kita yang pastinya akan membuat kita sibuk, dan..." Ujar Aceng yang segera aku potong.
"Udah udah ceramah mulu elu...ayo yank kita take a our dinner." Ujarku pada Sari yang hanya tersenyum dan mengangguk.
Sementara Aceng segera ngaleyos sembari cengengesan setelah merasa berhasil meledekku.
Malam ini aku dan Sari makan malam bersama keluarga Aceng saja tanpa di temani empat tangan besi yang mungkin memilih makan malam berempat saja atau juga mungkin mereka merasa malu jika harus terus menerus numpang makan gratis meskipun hal itu bukanlah sebuah masalah.
Sempat kulihat tumpukan kotak nasi yang mungkin ada ratusan buah jumlahnya sudah di kemas dan tertata rapi di sudut ruangan, sementara di atas meja terdapat tumpeng nasi kuning yang di tutupi dengan plastik bening untuk menjaga agar tetap steril.
Di acara makan malam itu pula Mih Onah memperkenalkan adik kandungnya yang rumahnya ada di desa sebelah yang beberapa kilometer jaraknya di sebelah selatan Kampung Krajan karena mengikuti suaminya.
Masih cukup muda mungkin usianya berkisar 35 atau 36 tahunan gitu, beliau juga hadir bersama suami dan kedua anaknya yang masih paling gede baru bersekolah di SMP.
"Yanah kenalin mereka itu yang akan jadi juragan kamu nantinya." Ujar Mih Onah sambil menunjuk aku dan Sari dengan mengarahkan jempolnya pada kami berdua.
"Salam kenal Ak sareng Teteh...Sari yah tadi siang kan kita sudah kenalan ya teh." Ujarnya ramah sambil tersenyum dan menatap kami.
Sari hanya membalas dengan tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mas kenalin beliau namanya Ibu Yanah yang akan jadi kepala pantry kita kedepannya." Ujar Sari padaku.
Aku pun dengan ramah segera menangkupkan kedua tanganku untuk berjabat tangan dengan cara orang sini pada umumnya yaitu dengan hanya sedikit menyentuhkan sedikit ujung jari masing masing saja. Namun saat sama suami Teh Yanah aku berjabat tangan seperti biasa umumnya.
"Namaku Agung Teh Yanah, selamat bergabung yah eteh semoga betah." Ujarku ramah.
"Trimakasih banyak Ak, mudah mudahan masakan saya nanti bisa di terima." Ujarnya sambil tersenyum semringah mencoba bergurau.
"Ini yang di hidangkan di depan kita ini hasil karya Bik Yanah loh, jadi silahkan di tes saja cocok apa nggak rasanya." Tukas Dewi ikut nimbrung.
"Ya sudah ayo mulai makannya, ngobrolnya nanti lagi !" Ujar Pak Suryadi sambil mulai mengambil piringnya, sekaligus menandai di mulainya acara makan malam kami.
Dan hanya berselang sesaat saja setelah kami selesai makan malam, adzan isya telah berkumandang bersahutan dari masjid dan musholla terdekat, yang membuat kami para lelaki segera ke mushola terdekat untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang makhluk terhadap penciptanya.
"Ada apa seh Ceng buru buru amat?" Tanyaku setelah berada di luar mushola.
"Gini Gung, tadi Mang Darom nanya dia boleh ikut kerja sama kamu nggak ? kan kebetulan juga kita butuh tenaga untuk mengelola penggilingan padi kan, gimana bro setuju nggak ?" Tanya Aceng.
"Okey tapi kalo bisa jangan cuma di penggilingan saja Ceng, serabutan saja bantu sana sini misalnya di sawah apa kebun ada kerjaan gitu supaya sedikit ngringanin kerjaan Pak Suryadi." Ujarku.
"Oke joss aku setuju, nanti aku akan ngomong sama mamang, oh iya satu lagi bro kita ke depannya butuh mesin traktor untuk mengolah sawah dan kebun juga gimana di anggar nggak ?" Tanyanya.
"Tentu... masukkan ke pembukuan penggilingan saja juga hasil bersih dari sawah dan kebun nanti masuknya ke pembukuan penggilingan juga." Ujarku.
"Siap boss. Lalu Mang Darom nanti baiknya kita gaji berapa ?" Kata Aceng lirih.
__ADS_1
"Yang lain di bayar berapa ?" Ganti aku yang tanya.
"Di penggilingan ada 2 orang tenaga tetap yang ikut dari dulu sama Haji Obi, mereka bilang di bayar cepek seharinya oleh pak haji kalo yang tenaga lepas semacam yang bantu bantu jemur padi gitu di bayar 70 ribu perak sehari." Ujar Aceng sambil berjalan pulang.
"Mang Darom gaji pokoknya samain saja sama yang dua tenaga tetap itu nanti tambahan bonus di kasih sendiri saja di belakang biar tak ada kecemburuan, tapi nanti gaji yang dua orang itu tambahin dikit yah jadiin 120 atau 130 gitu gapapa biar mereka setia sama kita." Kataku memberi pengarahan ke Aceng.
"Joss...!!" Kata Aceng.
Beberapa saat kami sampai di rumah ternyata beberapa orang ternyata sudah hadir dan duduk di atas alas tikar yang di gelar di teras pendopo rumah Aceng.
Mereka langsung berdiri menyambut kami dan menyalami kami satu persatu dengan senyum yang terkembang dari bibir mereka. Setelah di beritahu Aceng barulah aku tau mereka juga karyawan ku yang bekerja di penggilingan padi yang dua di antaranya tenaga tetap lama sejak Pak Haji Obi masih jadi owner penggilingan padinya.
Beberapa saat kemudian orang orang mulai berdatangan, kami pun segera sibuk menyambut para tetangga dekat yang sengaja di undang oleh Pak Suryadi itu, termasuk pengurus lingkungan dan pengurus masjid lingkungan setempat.
Dalam waktu sekejap saja pendopo teras rumah Aceng telah penuh dengan orang orang yang hadir. Suasana semakin ramai ketika sebuah mobil suv datang dan berhenti di dekat rumah kami yang ternyata penumpangnya adalah Haji Obi bersama dua anak dan satu menantunya, yang juga membawa dua anak kecil bersama mereka.
Kami segera menyambut kedatangan keluarga yang termasuk golongan elite di wilayah ini, sementara Imas yang langsung di sambut Dewi dan Sari sendiri bergegas mengajak kakak iparnya ke dalam rumah melalui pintu samping.
"Jadi anak muda luar biasa inilah yang mengakuisisi beberapa aset kita." Ujar Haji Obi sambil menatap lelaki yang mungkin sebaya dengan Mas Riyan suami Mbak Wati itu, sambil menepuk nepuk bahuku setelah aku menyalim tangan beliau.
"Oh jadi inilah boss nya Imas itu yah, ternyata memang masih sangat muda, oh iya namaku Ahmad, Mas Agung kakaknya Imas kebetulan aku anak Pak Haji Obi ini yang urutan kedua." Ujarnya ramah.
"Salam kenal dan salam hormat Ak Ahmad." Jawabku juga setelah aku tak sungkan menyalim tangannya karena aku tau dia jauh lebih tua secara usia dari pada aku sendiri yang baru jalan 25 tahun.
Barulah beberapa saat kemudian acara di mulai setelah diawali terlebih dahulu oleh Pak Suryadi yang mengucapkan selamat datang sekaligus mengutarakan tujuan beliau menyelenggarakan acara ini.
__ADS_1