
"Ceng tolong umumkan hari ini toko akan tutup jam tujuh !" Ujarku pada Aceng yang sibuk menggantikan Riko menjadi pengemas barang.
"Loh memang kenapa? stok barang saja masih banyak kok, hanya sprei saja kan yang kosong ?" Jawab Aceng sambil sibuk mengemas barang yang di beli pengunjung.
"Kita meeting dan makan bersama sekalian." Ujarku.
Tanpa banyak cakap lagi Aceng segera pergi ke ruang office dimana multimedia dan sound berada di tempat itu juga, setelah ia menyerahkan barang yang selesai ia packing pada yang punyanya.
Aku lalu menggantikan tugasnya sebelum kembali di ambil alih oleh Riko yang baru selesai sembahyang.
Tak berapa lama kemudian dari speaker yang terletak di atas tiap tiap sudut ruangan terdengar suara Aceng yang menyampaikan pengumumannya, yang membuat para pengunjung langsung bereaksi cepat untuk segera mendapatkan barang yang di butuhkan mereka, namun ada juga beberapa pengunjung yang memilih mengurungkan niatnya untuk berbelanja.
"Ak, memang benar mau tutup jam tujuh ?" Tanya Imas yang entah sejak kapan tiba tiba telah di dekatku.
"Yupz, kita perlu meeting sejenak sambil makan malam bersama, tolong yah info ke yang lain." Jawabku.
"Okey boss siyap...!" Ujar Imas yang lalu mendekati Dewi dan berbisik sesuatu padanya, namun aku tak mempedulikannya.
Tiba tiba Roni datang menemui ku.
"Ak Agung...memang benar toko mau tutup jam tujuh?" Tanyanya.
"Benar Ron, kenapa? kamu kalo mau pulang sekarang gapapa kok..itu kendaraannya juga sudah mulai tipis." Ujarku.
"Gapapa Ak sampai selesai saja, aku sama Dion sudah berkomitmen untuk jaga dan mengatur parkiran dari awal sampai toko tutup kok Ak." Katanya, membuatku langsung tersenyum.
"Baguslah barangkali juga nanti aku bisa pertimbangkan kalian untuk naik pangkat juga." Ujarku.
"Oh ya Ak, pangkat apa kira kira Ak ?" Tanyanya yang langsung membuatku auto ngakak.
"Kamu lihat akang akang itu !" Ujarku pada Roni sambil menunjuk Riko yang sedang mengemas barang milik pembeli yang sudah di keluar dari kasir.
"Akang itu gajinya jelas lebih tinggi loh dari kamu meski kerjaannya hanya ngemas ngemas barang kaya gitu, bahkan teteh teteh yang di situ gajinya nanti lebih tinggi dari kamu." Ujarku.
__ADS_1
"Gapapa kok Ak, kami sudah bersyukur dapat gaji seratus ribu sehari dari Aak." Ujar Roni yang membuatku terhenyak.
"Oh gitu yah, ya sudah kalo segitu sudah cukup buat kalian, oh iya nanti jangan pulang dulu kalo gitu yah nanti makan malam bersama bareng kami dulu." Ujarku.
"Ah nggak Ak makasih banyak, tapi besok saja kalo Aak ngasih kami jatah makan siang akan kami ambil tapi kalo sekarang biarlah kami makan di rumah saja Ak." Ujar Roni, pemuda yang kata Nenih kakaknya itu baru lulus SMA kemarin saat Nenih bercanda meminta pekerjaan padaku buat adiknya.
"Ya sudah deh tengsin aku di tolak sama kamu terus." Kataku bergurau.
Beberapa saat kemudian Roni telah kembali pada tugasnya yang selain merapikan motor yang parkir, mereka juga membantu pengunjung untuk mengeluarkan motor dan menata barang belanjaan mereka.
Aku jadi merasa tak rugi memberikan pekerjaan buat mereka meski hanya terlihat sepele saja.
Jam lima tepat Hendi dan Farid juga sudah menyelesaikan pekerjaan mereka membuatkan kamar kecil untuk menambah fasilitas yang telah ada namun jauh dari mencukupi itu.
"Ak kami sudah selesai, tolong di lihat dulu barangkali masih butuh perbaikan !" Ujar Suhendi sangat ramah.
"Oh iya silahkan istirahat dulu kalo begitu, sambil nunggu Aceng." Ujarku yang kemudian melakukan yang mereka minta.
"Iya bagus, aku puas dengan pekerjaan mamang berdua. Setelah ini kalian akan di panggil untuk proyek penggilingan yah." Ujarku.
"Siyap Ak !" Jawab mereka serempak.
"Akan ku panggilkan Aceng dulu yah, kalo mamang berdua kersa bisa ke pantry dulu barangkali butuh kopi atau minum teh." Ujarku.
"Nggak usah Ak, kami sudah cukup kenyang Ak makasih, tapi sebenarnya masih ada yang saya ketahui tentang tawaran Aceng tadi siang kira kira Aak bersedia tidak ?" Tanya Suhendi tampak begitu sangat berharap.
"Baiklah aku bersedia tapi untuk lebih jelasnya nanti kita akan bicarakan semuanya bersama teman teman kalian, kita perlu data data kalian dulu juga keterampilan apa saja yang sanggup kalian kerjakan sehingga kita bisa cari proyek yang sesuai." Ujarku.
"Semua pekerjaan bangunan kami bisa Ak baik batu, kayu, baja...bisa kita lakukan semua." Farid lah yang menjawabnya.
"Okey tunggu sebentar yah !" Ujarku.
Kemudian aku pergi ke office dan menelpon Aceng.
__ADS_1
"Ceng Lu dimana ?" Tanyaku setelah panggilan ku di angkatnya.
"Di gudang bantuin Suranto bongkar stok." Jawabnya.
"Hendi dan Farid akan kamu bayar berapa?" Tanyaku.
"Kasih saja masing masing seratus lima puluh." Jawab Aceng, yang lalu segera ku putus panggilan itu sepihak.
Setelah itu aku kembali masuk ke dalam toko dan keluar dengan membawa dua buah kaos distro bersize L.
"Mang maaf tadi Aceng bilang ingin bayar mamang berdua berapa..?" Tanyaku.
"Oh itu, biasanya kami di kasih 150 sehari Ak." Jawab Suhendi terlihat jujur.
"Baiklah ini aku beri kalian 500 buat berdua yah dan ini anggap saja souvernir dari toko ini di mana mamang berdua ikut membangunnya." Ujarku sambil menyerahkan lima lembar uang ratusan ribu dan dua buah kaos distro itu pada Hendi untuk di bagi sama Farid.
"Trimakasih banyak Ak !!!" Ujar mereka tampak sangat bahagia.
"Sama sama kami juga mengucapkan banyak terimakasih ke mamang berdua, nanti kalo sudah saatnya mamang berdua akan kami panggil kembali." Ujarku sambil tersenyum.
Mereka menjabat tanganku erat erat sambil tersenyum semringah sebelum berpamitan untuk kembali ke rumah masing masing.
Waktu kemudian berlalu dengan cepatnya, maghrib kemudian datang dan terlewati begitu saja, toko juga sudah mulai sepi imbas pengumuman yang di buat Aceng tadi.
Para pegawai ku mulai merapi rapikan barang dagangan sekaligus menambah stok etalase dari gudang yang secara teratur di kirimkan oleh Doni dan Suranto melalui permintaan dari Imas.
Sedangkan spg juga slalu mencatat barang barang yang keluar untuk memudahkan Imas dan Sari untuk mendata ulang inventaris yang menjadi dasar untuk kami saat akan belanja barang lagi.
Aku melihat Sari tampak berbincang bincang dengan Suci dan Izah dua pegawai baru kami yang langsung nyetel dengan yang lain.
Mereka terlihat gembira meskipun gurat wajah kecapekan sangat jelas terlihat.
Beberapa spg terlihat bergiliran untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang makhluk, sebelum mereka berkumpul di teras toko sambil menunggu Dewi yang masih sibuk menghitung pemasukan di bantu Sari dan Imas.
__ADS_1